Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 838 - Menangis lah, dan lepaskan Semua yang kau Pendam


__ADS_3

Shira tidak berhasil menyusul dirinya yang menghilang begitu saja, dirinya masuk ke dalam hutan emas yang kembar sampai ia mulai berhenti berjalan seketika karena merasa bersalah.


Ternyata melihat dirinya mengeluarkan air matanya secara langsung tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan, rasanya Shira yang menyakiti dirinya walaupun berniat untuk menjadi sesosok orang tua yang mendengar curah hati dan perasaan menderitanya.


"Sial... apa yang aku lakukan--- tidak, aku sudah berhasil. Itu artinya dia sudah bisa melangkah lebih maju lagi, sekarang ia hanya perlu mencari dirinya yang bersembunyi dalam hutan."


Shira kembali bergegas masuk ke dalam hutan emas itu, mencoba untuk merasakan keberadaannya yang lumayan jauh sampai dirinya dikejutkan dengan banyak sekali perangkap yang Shinobu pasang.


Semua perangkap itu niatnya untuk menahan Shira lebih lama lagi agar dirinya tidak bisa melihat Shinobu yang akan menangis, bukannya ia yang sudah tidak menahannya melainkan semua perkataan Shira membangkitkan kembali semua ingatan buruknya.


Semua penderitaan itu datang dan menyerang secara bersamaan sampai air matanya keluar sendiri tanpa perintahnya, tubuhnya yang sudah tidak bisa menahannya tetapi pikirannya masih bisa.


Shinobu terus melewati beberapa pohon emas sampai ia langsung terjatuh karena tidak sengaja menginjak batu emas yang mengacaukan keseimbangannya untuk lari.


"Ugh... hiks..." Shinobu merangkap ke depan lalu duduk di atas tanah emas itu dengan tatapan yang murung, air matanya terus mengalir deras melalui mata kanannya.


"Mama..." Shinobu langsung merindukan Kou seketika, semua penderitaan yang dia rasakan terus ia perjuangkan sendirian, mencoba untuk menahannya tanpa menunjukkan perasaan sedih dan ingin menangis.


Shinobu adalah gadis yang kuat karena sudah bisa menahan semua kesedihan dan penderitaan itu dari bayi, janjinya untuk tidak menangis berakhir sekarang juga karena kesabarannya sudah habis.


"Mama... Mama..."


Shinobu memeluk kedua kakinya lalu wajahnya ia sandarkan dengan kedua lututnya untuk menyembunyikan ekspresi sedihnya, ia tidak bisa menghentikan semua air mata yang mengalir itu sampai ia berada di puncaknya, ingin menangis sangat keras.


Pendengaran Shinobu seketika bisa mendengar suara teriakan orang yang ia bunuh, jumlahnya banyak sekali sampai menggema di dalam telinganya sendiri, mereka semua mengatakan hal yang buruk padanya.


"Kenapa makhluk jadi-jadian sepertimu tetap melanjutkan kehidupan seperti ini...!?"


"Kau tidak pantas menampakkan rupa dan wujud mengerikan itu di hadapan kita semua...!!!"


"Ekor dan telinga itu... adalah sebuah tanda bahwa kau Legenda paling rendah!!! Kau adalah pembunuh berantai yang memiliki darah dingin...!!!"


"Seorang monster!!!"


"MONSTER!!! MONSTER!!! MONSTER!!!"


"He-Hentikan...! Hentikan...!!!" Shinobu menutup kedua telinganya, perasaannya mulai campur aduk sampai The Mind memberikan dirinya banyak gambaran terhadap semua hal yang menekan dirinya.


"Kenapa kau terus melanjutkan kehidupan ini jika dunia sendiri menolak dirimu...!? Lihatlah tampang dan penampilan dirimu...!"


"Kau hanya setengah robot dan monster, kedua hal yang sangat menakutkan ketika kehilangan kendali...!!! Semuanya orang takut melihat dirimu...!!!"


Air mata Shinobu terus mengalir melalui mata kanannya sampai ia mencoba untuk tidak menangis, ia juga berusaha sekuat mungkin untuk tidak mendengar suara yang ia dengar melalui pikirannya sendiri.


Semua itu disebabkan oleh The Mind yang mencoba untuk menguji dirinya juga, banyak sekali perkataan kasar dan merendahkan yang dapat Shinobu dengar sampai ia bergetar ketakutan.


Di tambah lagi kedua matanya ia tutup sampai pandangan yang Shinobu lihat dalam kegelapan adalah seluruh orang yang ia cintai, mereka semua sudah menghilang dan meninggalkan dirinya sendirian sampai merasa kesepian.


Tech, Shuan, dan Kou. Mereka semua meninggalkan dirinya sendirian sampai ia mengalami kehidupan penuh rasa hampa tanpa mereka, melihat mereka pergi begitu saja membuat dirinya bertambah semakin sedih.


"Kau bukanlah seorang Legenda...! Faktanya kau hanya monster dan pembunuh berantai yang menyamar menjadi salah satu dari kita...!"


"Kucing ganas jadi-jadian, meniru gaya hidup bangsa Legenda demi memanfaatkan mereka semua agar bisa dijadikan sebagai makanan!"


Mata buatannya sekarang mengeluarkan oli yang menggantikan air matanya, ia mulai menangis sedikit demi sedikit karena tidak bisa menahannya lagi.


Perasaan yang selalu ia tahan sudah terlepas sampai dirinya terus mengingat semua hal yang menyakitkan dan menderita baginya, ia melampiaskan semua itu dengan menangis layaknya seperti anak kecil yang terus memanggil 'Mama.'


"Mama... Hiks... Mama... Koneko kesepian.... Hiks..." Shinobu mulai menangis, ia tidak bisa menghentikan lagi walaupun sudah menghapus air mata itu menggunakan kedua tangannya.


"Entah kemana kamu akan pergi... Mama akan selalu berada di dekatmu, melihatmu dan tentunya menantikan dirimu menjadi sesosok Legenda yang paling kuat!" (Kou).

__ADS_1


"Putri kecil, Anda hanya perlu beristirahat dan memulihkan tubuh Anda... Biarkan saya yang mengurus pertarungan ini demi bisa melindungi dirimu!" (Tech).


"Hubungan kita tidak akan bisa terpisah... bukannya kita sudah melakukan janji kelingking bahwa kita sudah memasang segel yang tak akan hancur untuk tetap bersama?" (Ako).


"Kau tetaplah sepupu kecilku yang harus aku jaga seperti adikku sendiri... jika kamu ingin sesuatu maka langsung minta bantuanku saja, aku akan membantu semampuku." (Koizumi).


"Fisik atau rupa bukanlah sesuatu yang pantas untuk memutuskan hubungan teman kita... kami tetap menganggap dirimu sebagai teman kok." (Konomi).


"Kamu harus bisa mempertahankan tatapan polos itu! Senyuman kebahagiaan yang selalu kamu tunjukkan juga karena kita adalah sepupu yang akan menikmati waktu bersama~" (Hinoka).


Air mata Shinobu bertambah semakin deras sehingga tubuhnya bergetar ketakutan, ia juga bisa merasakan sesuatu yang begitu dingin dan halus di belakangnya, itu adalah Kou yang sempat memeluk dirinya dari belakang.


Namun, Shinobu tidak dapat melihat dan menghentikan air mata yang terus mengalir deras hampir seperti air terjun, ia sudah menghapusnya beberapa kali sampai...


"Shino---" Shira melebarkan matanya lalu menghentikan langkahnya ketika melihat Shinobu yang sedang menangis selagi menghapus air mata yang terus mengalir deras.


...


...


"Mama... Hweeehhhhhhhhh...! Mama...!" Shinobu terus menangis sampai suaranya semakin lama mulai bertambah keras, kedua lengannya juga terus menghapus air matanya yang tidak habis-habis.


"Shinobu." Shira segera mendekati cucunya yang sedang menangis.


"Jangan mendekat...!" Seru Shinobu.


Shira langsung berhenti tepat di hadapannya, ia tidak bisa melarikan diri lagi karena tertahan oleh tangisannya sendiri yang sudah tidak terkendali, bertahun-tahun lamanya ia tidak menangis dan sekarang pasti tangisannya akan berhenti cukup lama.


Shinobu menarik lengan Shira sampai ia langsung duduk tepat di sebelahnya, "Koneko tidak tahan..."


"Kenapa... kenapa dunia... semua orang memperlakukanku seperti ini...?"


Shira bisa melihat jelas wajah sedihnya itu, penuh dengan air mata yang berjatuhan sampai ia tidak bisa berkata-kata lagi bahwa efeknya akan seperti ini, ia tidak bisa menghentikan air mata yang terus mengalir itu.


"Koneko sudah... ingin membantu yang membutuhkan secara diam-diam... tapi kenapa mereka malah menerima takdir yang buruk seperti itu..."


"...setiap aku mencoba untuk membantu... kenapa mereka semua menerima penderitaan itu... hiks... apakah Koneko memang pembawa sial... virus yang menyebar penderitaannya...?"


"...mencoba untuk bersatu dengan bangsa Neko Legenda juga... mereka semua memilih untuk menjadi pelarian dengan bunuh diri... hiks... Koneko tidak ingin... bunuh diri..."


"Hanya dua teman... dua sepupu... dan semua paman dan Tante yang aku kenal... hanya mempercayai diriku... mereka pasti merasa terbeban kan oleh diriku... hiks..."


"Koneko tidak ingin sendirian... rasanya sepi... menyakitkan... menderita... aku terus di tahan... hiks... aku tidak bisa bertambah kuat... jika seperti ini... hiks..."


"Aku tidak mau... Koneko... tidak mau ditinggal lagi... Koneko ingin... semua yang Koneko cintai tetap bersamaku... hiks..."


"...aku ingin bisa... dipercayai... disayang... menerima kasih sayang seperti anak kecil... Koneko tidak mau... kembali merasakan kesepian... hiks..."


Shinobu mengingat dirinya ketika menjaga makam para Neko Legenda, dirinya diselimuti dengan perasaan kesepian.


"Koneko... ingin ditemani... tidak mau sendirian... ingin bisa dipercayai... aku ingin... hiks... aku ingin bisa... diharapkan... menjadi cahaya yang terus bersinar... hiks..."


"Koneko... ingin ditemani... hiks... Mamaaaa... aku merindukan Mama..." Sikap Shinobu terlihat seperti anak kecil sekarang, Shira merasa wajar ketika melihatnya karena ia mendapatkan kasih sayang yang sedikit.


Shira langsung menyentuh kepala Shinobu lalu mengusapnya sampai air matanya mulai mengalir sangat deras seketika.


...


...


"HWEEEEEEEEHHHHHHHHH...!!!" Suara tangisan Shinobu bertambah keras ketika menerima usapan penuh kasih sayang dari Shira.

__ADS_1


"Shinobu... maafkan Kakek, aku tidak bermaksud untuk membuatmu menjadi seperti ini... aku tidak menyangka kamu akan mengingat semua kejadian pahit itu sampai menangis seperti ini."


"Ingat apa yang Kakek katakan sejak itu...? Aku akan mengasuh dan merawat dirimu... itu artinya Kakek akan selalu menemani dirimu."


"Bukan hanya Kakek tetapi Ibumu juga sama... dia pasti dekat, memeluk dirimu agar kamu bisa tenang... semua Shiratori yang gugur juga, hidup dalam dirimu hanya untuk menemanimu."


"Dengar... melihat dirimu berjuang sendirian seperti itu sampai bisa menyelesaikan masalah sendirian membuat Kakek merasa bangga kepadamu."


"Sejak kecil aku tidak memiliki keberanian dan ketahanan seperti dirimu... walaupun dunia memperlakukan dirimu kejam, kamu tetap berusaha keras untuk bisa melanjutkan kehidupan."


"Mengetahui dirimu sekarang sudah berumur 6 tahun dan mengalahkan seorang penyihir... bahkan sampai tahu bahwa Tech sudah hancur, Kakek ingin mengasuh dirimu dan membesarkanmu."


"Cucuku yang begitu berharga... harapan terakhir dari Shiratori, harapan yang akan terus bersinar tanpa batasan apapun..."


"...menangis itu bukanlah hal yang salah, puaskan... aku akan menemani dirimu dan mendengar semua penderitaan itu. Biarkan Kakekmu yang kejam ini menemani dirimu..."


"Hweeehhhhhhhhh... Hiks... Koneko... tidak ingin sendirian lagi...!"


"Aku mengerti... Kakek akan selalu bersama---" Shinobu langsung mendekati Shira dan memeluk dirinya selagi memegang erat bajunya itu, Shira langsung menyentuh punggungnya lalu mendekati tubuhnya.


...


...


"Koneko... ingin ditemani... aku ingin tetap bersama Kakek... hiks..."


"Ya... aku mengerti, cucuku. Mari kita selalu bersama dan tentunya bertambah kuat untuk memecahkan labirin ini..." Shira mengeratkan pelukannya sampai telinganya menerima suara tangisan Shinobu yang semakin keras.


"HWAAAAAAAAHHHHHHHHH...!!!"


...


...


"Kau sudah berjuang keras, nak. Kau melakukan yang terbaik dan tetap melanjutkan kehidupanmu yang pahit, kau tetap berusaha keras tanpa menyerah sekalipun..."


"...kau sangat membanggakan bagiku, ibumu, dan tentunya seluruh keturunan Shiratori yang gugur. Mereka akan melihat dirimu sebagai gadis kecil yang bertahan sangat lama dalam kehidupan kejam ini."


"Kamu gadis yang malang ya... untuk sekarang, terima kasih karena sudah mau berjuang, cucuku." Shira langsung memberi dirinya sebuah kecupan di bagian pipi.


"Mulai sekarang sampai seterusnya... aku akan tetap bersamamu untuk selamanya..."


"HWEEEEEEHHHHHHHHH!!!" Shinobu menangis sampai teriak, Shira mulai menepuk-nepuk punggungnya pelan agar ia bisa memuaskan tangisan itu, rasanya pasti berat karena sudah menahan semuanya sendirian


***


Shira saat ini sedang menggendong Shinobu, ia berdiri di tepi pegunungan selagi menatap matahari yang akan terbenam di hadapannya, pemandangan yang begitu indah sampai ia pikir semua ini adalah kedamaian dan ketenangan yang tersisa.


"Dengan ini... dia sudah bisa melangkah maju, banyak sekali pintu yang tersedia untuk dirinya dan aku akan melatihnya dengan semua hal yang aku bisa."


"Menyerahkan semuanya kepada dirinya juga... aku harus bisa memperbesar harapan Shinobu agar ia bisa menjadi Legenda paling kuat yang bahkan ditakuti oleh para dewa dengan tingkatan apapun..."


"Kau sudah melakukan yang terbaik, cucuku. Aku menyayangi dirimu..." Shira memberi kecupan lagi di pipi Shinobu yang saat ini sedang tertidur.


"Mari kita bertambah kuat..." Shinobu mendengar perkataannya sampai air mata mengalir keluar dari mata kanannya lalu ia bisa tidur dengan tenang.


...


...


"...bersama."

__ADS_1


__ADS_2