
"Uraaaaaaahhhh...!!!" Teriak seluruh pasukan Rusia ketika Haruka masuk ke dalam garasi hitam dimana ia bisa melihat RSD-U di hadapan-nya, seluruh pasukan Rusia itu segera berubah menjadi tua sampai mereka segera berubah menjadi debu putih.
Haruka tidak membunuh seluruh pasukan Rusia itu karena pasukan Rusia lainnya mulai berdatangan dan membidik senapan mereka kepada Haruka, tetapi ia mengubah senapan yang mereka pegang menjadi barang rongsokan yang tidak bisa digunakan lagi.
"Lakukan pergerakan yang salah maka kalian akan aku segera bunuh tanpa rasa belas kasihan..." Haruka melebarkan mata-nya sampai seluruh pasukan Rusia itu tidak bisa bergerak tetapi mereka masih bisa berbicara.
Makarov masuk ke dalam garasi itu dan melihat banyak sekali pasukan Rusia yang tidak bisa bergerak, mereka dipenuhi dengan keringat dingin sampai tidak bisa bergerak lagi. Tetapi mereka masih bisa berbicara karena Haruka hanya menghentikan pergerakan mereka menggunakan sihir waktu-nya sendiri.
"Berhentilah menyerang, aku datang dengan damai. Aku hanya ingin mengambil RDS-U itu." Ucap Haruka.
Rambut Haruka berubah menjadi biru muda untuk sementara, ia segera menyucikan pikiran mereka dari sihir pencuci otak yang dimiliki bangsa Iblis. Seluruh pasukan Rusia itu segera sadar kembali sampai Haruka melepas sihir waktu-nya sehingga mereka terjatuh di atas lantai dengan ekspresi yang terlihat kebingungan.
"A-Apa yang terjadi...?" Tanya prajurit itu yang terlihat kebingungan.
"Mereka sudah kembali sekarang, Makarov." Haruka melangkah maju untuk menghampiri RDS-U di depannya.
Haruka sekarang sudah tidak memiliki rasa untuk membunuh pasukan Rusia lagi karena mereka bisa saja menjadi kunci kemenangan untuk Legenda ketika melawan bangsa Iblis nanti, senapan yang mereka ciptakan memang-lah berbahaya bahkan bisa menembus berbagai semesta sampai mengenai musuh yang berada di semesta lain.
Makarov bersama pasukan-nya segera merayakan sebuah pesta dimana mereka semua akhirnya berkumpul di satu tempat, Makarov-lah yang mengadakan pesta itu karena dia senang melihat seluruh pasukan-nya yang kembali. Mereka berpesta di gudang hitam dan Haruka masih sibuk menatap RDS-U itu karena ia tidak mau menghancurkan-nya dengan sengaja.
"Dua RDS-U di tempat yang sama." Haruka membelah dirinya menggunakan sihir ilusi-nya, versi kembarnya segera mengumpulkan seluruh RDS-U dari garasi yang berbeda dimana di dalam-nya masih terdapat beberapa pasukan Rusia yang otak-nya masih tercuci tetapi kembaran Haruka segera menyucikan otak mereka kembali.
Menghabiskan beberapa jam untuk Haruka mengumpulkan semua RDS-U itu, jumlahnya ternyata lebih dari yang ia harapkan. Jumlah RDS-U yang ia kumpulkan itu sebanyak 12, jika seluruh RDS-U itu hancur dengan bersamaan maka semesta Touri sudah pasti akan menjadi partikel-partikel kecil.
Haruka menciptakan sebuah portal besar di atas garasi dimana seluruh RDS-U itu mulai terhisap masuk ke dalam portal yang ia ciptakan. Ia juga tidak lupa untuk melempar Laptop yang dapatkan meluncurkan semua nuklir berbahaya itu dengan hanya kode [Universal Code: 666].
Misi Haruka sudah sepenuh-nya selesai ketika ia mengumpul semua RDS-U, tetapi ia juga tertarik dengan beberapa senjata yang digunakan oleh pasukan Rusia seperti sniper yang mereka gunakan. Seharusnya sniper itu memiliki recoil (pukulan mundur) yang besar, jika seseorang menggunakan sniper selagi berdiri lalu menarik pelatuk-nya maka orang itu sudah pasti akan terpental ke belakang.
__ADS_1
"Makarov." Haruka melangkah maju menuju Makarov yang sedang meminum sebuah botol Vodka.
"Yaaa... Haruka...?" Makarov bangkit dari atas lantai dan ia segera menghadapi Haruka dengan cara jalan yang terlihat seperti ingin jatuh.
"Apakah kau masih memiliki senjata sniper ciptaan kalian itu...?" Tanya Haruka.
Makarov segera menyuruh seorang prajurit untuk memberinya sniper yang ia minta, prajurit itu menjelaskan semua informasi yang dimiliki sniper tersebut. Bahkan Haruka sempat bingung kenapa sniper itu dinamai dengan [Barrett], ternyata nama itu mereka gunakan karena mereka menciptakan sniper itu awalnya menggunakan sniper Amerika.
Haruka melangkah keluar dan ia ditemani oleh Makarov yang terlihat mabuk, Haruka mulai menatap sebuah teropong yang dimiliki sniper itu dan ia langsung tercengang karena melihat planet Legenia melalui teleskop tersebut. Teleskop itu sepertinya dimodifikasi agar bisa melihat musuh dari berbagai planet dan semesta.
Haruka mengarahkan sniper itu ke arah semesta Zuusuatouri dan ia segera membidik sniper-nya ke arah iblis yang saat ini sedang buang air besar. Makarov baru saja melupakan sesuatu yang harus Haruka ketahui tetapi semua itu terlambat ketika Haruka menarik pelatuk-nya.
Sniper itu awalnya menembakkan peluru yang berbentuk sama seperti peluru sniper biasa tetapi seiring-nya peluru itu melesat maju maka peluru itu akan mengecil bahkan bisa saja membesar. Ketika sniper itu sudah melepaskan peluru yang melaju cepat, Haruka terpental beberapa kilometer ke belakang karena recoil yang dimiliki sniper itu sangat besar.
"Hehhh...?" Haruka terlihat kebingungan, ia bahkan tidak menyangka bahwa dirinya akan terpental jauh ke belakang oleh alat yang diciptakan manusia.
Seorang prajurit segera menghadapi Haruka dan menjelaskan informasi yang harus ia ketahui tentang bangsa Manusia, "Sumber Mana bisa kita jadikan sebagai kekuatan untuk menahan recoil senjata yang kita ciptakan, ketika kita mengalirkan sebuah mana kepada senapan yang kita pegang maka senapan yang akan kita pegang tidak akan memiliki recoil apapun bahkan berpotensi untuk memiliki bidik otomatis yang langsung mengenai musuh..."
"Kenapa kalian tidak memberitahu-ku dari awal sih..." Haruka bangkit dan ia memberikan sniper itu kepada prajurit yang memberinya informasi tentang Mana.
Prajurit itu segera mengalirkan sebuah mana ke dalam senapan tersebut sampai senapan itu dipenuhi dengan garis biru yang mengartikan bahwa prajurit itu sudah bisa mengontrol recoil senapan tersebut.
"Seperti ini, Mana sepertinya hanya bisa didapatkan sejak lahir... Jumlah Mana kita bisa bertambah melalui pelatihan militer." Prajurit itu membidik ke arah semesta Zuusuatouri dan mencoba untuk membunuh dua iblis yang sedang bercinta.
"Blyat...! Blyat...!" Prajurit itu menarik pelatuk senapan-nya dua kali sampai senapan tersebut mengeluarkan dua peluru yang menghancurkan kepala dua iblis yang ia bidik.
"Peluru yang kita tembakan melalui sniper ciptaan kita ini bisa membesar dan mengecil berdasarkan fokus kita... Kita bisa memfokuskan peluru yang kita tembak dengan hanya membayangkan ukuran-nya menjadi besar atau kecil, kecil itu untuk kecepatan peluru melesat dan besar sepertinya untuk menghancurkan satu planet sekaligus...? Di bayar dengan Mana kita yang akan habis." Prajurit itu tersenyum dan ia menyimpan kembali sniper itu ke tempat yang aman.
__ADS_1
Ia segera melangkah menuju Makarov dan mengambil sebuah surat yang ia tulis beberapa menit yang lalu, "Ini untukmu, Haruka."
Haruka mengambil surat itu dan ia membaca-nya, bahasa Rusia bisa Haruka mengerti dengan mudah karena dia sudah mengerti seluruh bahasa yang ada di semesta Touri. Surat itu menyatakan sebuah kerja sama antar manusia yang berasal dari negara Rusia dengan bangsa Legenda yang mencoba untuk menghentikan kegilaan bangsa Iblis.
"Hehehe, jadi kalian benar-benar ingin bekerja sama denganku...?" Tanya Haruka.
"Tentu saja, Makarov dengan senang hati akan memberitahu dirimu kepada presiden negara Rusia. Jika presiden setuju maka seluruh pasukan militer terkuat Rusia akan ikut bertarung bersama-mu, Haruka." Prajurit itu tersenyum dan pergi meninggalkan Haruka.
Haruka sepertinya akan pergi untuk menyusul Ophilia dan Agfi ketika dia sudah selesai berbicara dengan pasukan Rusia untuk terakhir kali-nya, keesokan harinya seluruh pasukan Makarov dan Presiden Rusia sudah berkumpul di lapangan dimana Haruka berdiri di depan mereka dan bersedia untuk memberi mereka imbalan yang besar ketika perang selesai.
Semua pasukan itu setuju dan ingin sekali bekerja sama dengan bangsa Legenda termasuk Haruka, "Dengan ini aku menyatakan Haruka sebagai pemimpin pasukan Rusia...!" Ucap presiden Rusia.
""FOR MOTHERLAND RUSSIA...!!! URAAAA...!!!"" Ucap semua pasukan Rusia.
Haruka tersenyum, "FOR MOTHERLAND RUSSIA...!!! URAAAA...!!!" Ia mengangkat kedua tangan-nya tinggi.
""Cyka blyat...!!!"" Ucap semua pasukan Rusia.
"Cyka blyat...!!!" Teriak Haruka.
Seluruh pasukan Rusia itu mulai berpesta lagi dengan meminum Vodka yang sudah disediakan oleh Presiden Rusia, sayang sekali presiden Rusia tidak bisa merayakan pesta bersama karena dia memiliki urusan penting lainnya. Haruka melihat seluruh pasukan Rusia itu yang tertidur pulas bahkan sebagian dari mereka mabuk.
"Aku penasaran dengan ini..." Haruka mengambil botol Vodka yang masih tersisa sedikit.
Haruka segera meminum-nya sampai perutnya memancarkan cahaya biru yang artinya cairan Vodka itu langsung disucikan sebelum memberi efek mabuk kepada dirinya.
"Mmmm... Enak...! Cyka blyat...!"
__ADS_1