Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 725 - Membanggakan


__ADS_3

Shira melihat arwah dari Ayahnya pergi, setelah itu ia menghela nafasnya pelan selagi menghapus air matanya yang terus berjatuhan bahwa ia sudah berpisah dengan semua anggota keluarga yang sangat ia sayangi.


Dalam sekian lamanya, ia sudah mendapatkan semua kasih sayang dan kebenaran dari mereka sampai ia mendapatkan motivasi lain untuk tetap bertambah kuat agar bisa memenuhi ketenangan dan kebebasan yang ia maksud.


"Sampai jumpa, Ayah... tolong berikan sambutanku kepada Ibu dan Kakakku..." Shira menoleh ke belakang, melihat pemandangan cahaya yang begitu indah sampai ia bertujuan untuk datang nanti.


Realm of Light, wilayah yang cukup pas untuk ia jadikan sebagai tempat latihan tetapi dirinya masih memiliki banyak pelatihan yang belum terlaksanakan di dalam kuil cahaya itu karena masih banyak misteri yang belum terungkap.


"Untuk sekarang... aku akan menjaga Realm of Light sebaik mungkin, Ayah memperingati diriku bahwa terdapat seorang Legenda dengan kemampuan cahaya yang jauh lebih kuat dariku yaitu Shiratori Shinji..." Shira menatap kedua tapaknya.


***


Diablo bisa merasakan esensi dan keberadaan Shukaku telah hilang sepenuhnya bahwa ia memang menyelesaikan semua tujuan itu sebelum mati sebagai Legenda kebanggaan di hadapan anaknya sendiri.


Diablo telah menerima banyak kerusakan dari Haruki dan Arata sehingga semua kepuasan yang ia rasakan sudah cukup, ternyata masih banyak Legenda layak yang dapat membuatnya tertarik seperti ini.


"Shimatsu Arata...! Dan tentunya Shichiro Haruki, sudah lama sekali aku tidak menikmati pertarungan seperti ini!" Diablo melompat ke belakang lalu ia mengulurkan lengan kanannya ke depan.


"Kuro! Aku harap kau dapat melanjutkan tujuanmu itu... kita dulu bisa di bilang rekan yang begitu dekat tetapi kau telah menemukan seseorang yang begitu layak untuk mewakili dirimu." Diablo tersenyum serius.


"Dalam waktu lamanya, aku sendiri merasa senang bisa melihatmu masih sekuat ini bahkan aku yakin jika Megumi tidak menggunakan Golden Spirit maka kau sudah akan mengakhiri semuanya dengan cepat." Kuro mulai berbicara.


"Kuro, aku akan melihatmu nanti di neraka... aku sudah tidak memiliki urusan apapun denganmu tentunya karena semuanya telah di selesaikan melalui pertarungan kita yang dahsyat!" Diablo mengepalkan tinju kanannya.


"Hmph..." Kuro tersenyum, ia masih mengingat pertarungan yang berakhir dipenuhi kehancuran sampai seseorang yang menghentikan pertarungan mereka adalah para dewa kehidupan.


Pada akhirnya, Kuro memutuskan untuk menyegel dirinya sendiri untuk mencari wadah yang cocok untuk menguasai tujuh dosa besar itu seperti Arata yang sudah lama sekali menguasainya sampai hubungan mereka semakin dekat sebagai partner.


"Diablo, aku tidak menyangka kita yang dulunya bersahabat akan mengakhiri semua ini sekarang juga, sayang sekali... Arata sudah tidak mau mengandalkan diriku terlalu banyak."


Haruki mulai menatap Arata karena ia merasa penasaran dengan hubungan Kuro dan Diablo karena ia sempat mendapatkan sebuah kesempatan dari Diablo untuk mengatakan sesuatu sebelum mengakhiri pertarungan.


"Kuro, sebenarnya hubungan apa yang kau miliki dengan Diablo?" Tanya Haruki.


"Kita dulu hanya sekedar rekan, mungkin bisa di bilang sebagai sahabat dekat yang saling mengerti satu sama lain tentang dunia ini..." Kuro mulai berbicara di dalam tubuh Arata


"...sepasang sahabat dengan hobi yang sama untuk menaklukkan sesuatu sampai menciptakan banyak sekali konflik yang luar biasa."


"Kita sudah melewati banyak ras Legenda yang sudah tidak lagi terhitung jumlahnya bersama dengan ras lain yang menantang kami." Kuro tersenyum bahwa kenangan yang ia ingat itu terasa begitu tetapi mengandung banyak kejahatan di dalamnya.


"Lawan tersulit kami bisa di katakan hanya satu saja, Diablo kesulitan melawan Shukaku karena dia telah menguasai kekuatan cahaya dari bintang emas yang dapat menyegel apapun tanpa konsep serta alasan."


"Hikari... Dia hanya satu-satunya orang yang dapat membuatku kesulitan sampai dia bisa di bilang sebagai lawan terkuat yang tidak sempat aku kalahkan."


"Setelah sekian lamanya menaklukkan wilayah dan planet Yuusuatouri satu per satu, aku sudah memikirkan untuk menaklukkan sesuatu karena ujung-ujungnya kita akan dimusuhi oleh semua ras termasuk dewa itu sendiri."


"Akhirnya aku memutuskan untuk menyegel diriku di neraka bersama seluruh kekuatan itu sampai menemukan wadah yang cocok untuk menampung semua jiwa dan kekuatan dari segala dosa yang ada."


Diablo hanya bisa tertawa karena waktu-waktu itu terasa begitu menyenangkan bagi dirinya, "Aku masih penasaran sampai sekarang... kenapa kau berhenti menjadi rekanku?"


"Dan aku juga tidak mengerti kenapa kau mau menyegel dirimu sendiri hanya untuk menunggu wadah yang cocok seperti Arata." Diablo menyilangkan kedua lengannya.


"Aku tidak memberitahu alasan yang pas sejak itu ya... jika aku memberitahumu kenapa aku melakukan semua itu, semuanya tidak akan bisa berubah karena kau akan tetap menjadi iblis penakluk yang mengerikan."


"Baiklah, mungkin ini terakhir kalinya kita bertemu... alasan aku berhenti karena diriku ingin membiarkanmu mencari kemenangan yang kau anggap pantas."


"Bukan kemenangan dimana semua ras membencimu... ternyata kau mengakhiri semua kehidupan itu sebagai raja iblis dengan penuh kebanggaan, menerima kekalahan itu dari Shiratori Shukaku." Kuro merasa bangga kepada sahabatnya.


"Begitu ya, aku bisa tidur dengan nyenyak dalam waktu yang dekat... semua kemenangan itu sudah aku dapatkan, salah satunya pantas sampai diriku sudah tidak memiliki tujuan lagi."


"Menghancurkan atau membunuh diriku tidak akan merubah takdir dan fakta bahwa masalah akan berhenti muncul, masalah dan konflik akan terus berdatangan dengan cara yang berbeda..."


"...ingat itu, bangsa Legenda dengan penuh kebanggaan!" Diablo merentangkan kedua lengannya lalu ia tersenyum serius, menantikan pertarungan terakhirnya sekarang juga.


Haruki dan Arata mulai bersiap sampai Diablo hanya bisa tersenyum puas karena semua permintaan terlahirnya telah di kabulkan oleh beberapa Legenda yang layak dan penuh dengan kebanggaan.


"HAAAAHHHHHHH!!!" Diablo melepaskan teriakan terakhir sebelum mengakhiri pertarungan, ia melesat maju ke depan.


Haruka dan Arata dengan cepat melesat ke depan sehingga terjadi tabrakan antara ketiga Legenda itu, setelah itu mereka melanjutkannya dengan peperangan serangan tebasan dan tusukan.


Diablo menghantam perut Arata tetapi ia berhasil menahan lengannya sehingga wajah Diablo menerima satu tebasan dari Haruki, setelah itu mereka berdua secara bersamaan melepaskan dorongan gelombang melalui pedang yang mereka ayunkan.


Diablo terpental ke belakang lalu Haruki mulai melempar beberapa lubang hitam yang berhasil menghapus kedua kaki Diablo sehingga kedua Legenda itu mulai terbang ke atas langit.


Satu serangan yang sama mulai mereka lepaskan melalui pedang itu sehingga perut Diablo menerima banyak sekali tusukan, ia mulai melebarkan matanya sampai melepaskan tekanan yang mampu melukai tubuh mereka.


Diablo mulai menghantam wajah mereka berdua, Arata dan Haruki terus menyerang secara bersamaan sampai Diablo tertekan sampai tidak bisa melakukan apapun karena tubuhnya terus terluka.


Arata dan Haruki secara bersamaan mengangkat pedang itu lalu menusuk dadanya sampai menembus punggung, setelah itu mereka mendorongnya ke depan untuk menghapus tubuhnya sedikit demi sedikit.


"Jadi ini... bangsa Legenda di masa depan..." Diablo tersenyum serius karena ia tidak perlu melanjutkan pertarungan itu karena ia telah resmi kalah karena menerima banyak luka.


"...hebat!"


""HAAHHHHH!!!"" Arata dan Haruki mulai menebas tubuh Diablo sampai terbelah menjadi dua, setelah itu mereka melewati tubuhnya lalu terjatuh di atas tanah.


BAAAMMMM!!!


Terjadi sebuah ledakan besar di belakang mereka lalu kedua Legenda itu kembali bangkit untuk menyambut serangan lain dari Diablo karena ia sudah pasti akan terus maju dan melawan.

__ADS_1


Setelah asap yang di timbulkan dari ledakan itu menipis, mereka bisa melihat Diablo berdiri tegak dengan tubuh yang mengeluarkan beberapa partikel cahaya bahwa sudah waktunya untuk menikmati kehidupan lainnya di dalam dunia kematian.


"Selamat, Legenda... kalian telah memenangkan pertarungan secara adil, melawan mantan raja Iblis dan tentunya seorang Ancient Legenda!" Seru Diablo dengan penuh kebanggaan bahwa ia merasa begitu puas sekarang.


"Aku mengakuinya bangsa Legenda bahwa masih terdapat dari kalian yang menarik dan cocok untuk membanggakan diri kalian sendiri dengan harga diri yang tidak akan pernah mati itu..."


Tubuh Diablo perlahan-lahan menghilang karena ia sudah tidak memiliki niat untuk melanjutkannya, ia juga tidak terpengaruh dengan Holy Corpse karena Shukaku sejak awal sudah memisahkannya sejak ia pergi.


"Kuro, suatu saat nanti..."


"...kita akan melanjutkan pertarungan  yang belum terselesaikan!" Seru Diablo dengan tatapan serius sampai arwahnya yang begitu hitam keluar dari dalam tubuh Ancient Legenda itu lalu melayang ke atas langit.


Arata dan Haruki menatap arwah Diablo yang mulai menipis sampai mereka merasa begitu puas bahwa musuh yang di lawan pasti akan memiliki banyak kehormatan untuk mereka.


Contohnya seperti Zoiru dan Diablo, kedua masalah yang sempat memberi mereka rasa tertarik karena kedua orang itu selalu saja menghormati mereka yang sudah berjuang keras.


"Iblis yang telah menjadi Legenda sepenuhnya... dia salah satu dari kita."  Kata Arata.


"Kau benar..." Haruki mengangguk.


Shira muncul di sebelah mereka, ia awalnya mencoba untuk mencari Diablo tetapi ia berhasil dikalahkan oleh kedua temannya itu sehingga ia tersenyum kecil.


"Kerja bagus, kalian pasti bisa melakukannya jika bekerja sama dengan baik." Shira mulai berbicara sampai mengejutkan mereka semua.


"Bagaimana dengan Satori...? Apakah kamu sudah mengatasinya?" Tanya Kou.


"Ya... semuanya sudah terkendali seperti biasanya, perang kerajaan di Legenia telah selesai dan tentunya kita meraih kemenangan itu."


Perkataan Shira langsung membuat mereka senang sehingga semua pasukan yang bertahan langsung mengadakan pesta kecil dengan melepaskan teriakan yang penuh rasa lega.


"Maafkan aku karena sudah datang dalam waktu yang kurang tepat... jika saja aku datang lebih awal maka kehancuran yang akan terjadi hanya sedikit---"


Shizen mulai menepuk punggungnya, "Jangan merasa bersalah seperti itu! Kau sudah menghapus semua Undead yang berjumlah hampir satu juta itu dengan hanya satu serangan."


"Vanish... sudah lama sekali aku tidak melihat kemampuan dewa segalanya." Kata Haruka karena ia sendiri sudah tidak bisa menggunakannya karena tubuh mortal itu.


"Jangan-jangan...?! Kau sudah menjadi seorang Dewa!?" Tanya Arata.


"Tidak, setiap jalanan menyediakan diriku untuk menjadi seorang Dewa tetapi aku melewatinya demi mencari jalan mortal yang pas sampai sekarang aku percaya bahwa Legenda..."


"...dapat melakukan apapun yang mereka inginkan jika sudah bekerja cukup keras, mortal juga dapat memiliki kemampuan yang jauh lebih kuat dari bangsa Legenda." Shira tersenyum serius.


Haruki dan Arata mulai meninju bahu Shira, "Kau pasti akan bertambah lagi dan lagi... jangan melupakan kita, Shira."


"Haruki benar... suatu saat nanti, kita juga akan menyusul dirimu." Seru Arata dengan semangat tinggi sampai Shira tidak mau kalah.


"Baiklah...! Mari lakukan bersama, tetapi kita akhiri dulu semua itu dengan beristirahat karena itu adalah satu-satunya hal yang penting bagi Legenda." Shira menghela nafasnya karena ia sendiri merasa lelah.


"Oi...!" Arata langsung kaget ketika mendengarnya.


""AYOOOOO!!!""


Semua Legenda merayakan kemenangan besar itu dengan menikmati hidangan gratis di restoran Shimatsu, mereka semua merasa begitu lega karena masih hidup.


Ketiga Ancient Legenda yang berhasil Zenzaku hidup kan menggunakan Holy Corpse telah di kalahkan, arwah yang terjebak di dalamnya akhirnya telah melanjutkan kehidupan baru itu di dunia kematian, salah satunya surga dan neraka.


Kerajaan Ghisaru masih tetap berukuran kecil karena planet Legenia masih tetap dipenuhi dengan kerajaan berbeda dari planet lain yang akan terus datang demi menguasai suatu wilayah.


Melihatnya saja membuat Kou yakin bahwa masalah seperti ini sudah tidak dapat mereka selesaikan, yang paling inti adalah kerajaan Ghisaru akan tetap bangkit agar di jadikan sebagai tempat tinggal.


Mereka harus bersiap siaga untuk menangani masalah dan konflik lain yang akan muncul, itulah kenapa mereka semua memiliki banyak waktu untuk latihan dan memberontak kerajaan yang sudah melakukan perbuatan negatif dan berlebihan.


Kehidupan akan terus berubah, mereka harus menerima perubahan tersebut dan terus melanjutkannya demi masa depan serta generasi yang akan datang selanjutnya.


"Hahhh..." Shira menghela nafas lega bahwa ia baru saja selesai memakan banyak sekali hidangan yang di sediakan oleh Ophilia dan Arata.


Shira sempat melihat Ophilia sedang berbicara dengan Chloe, ia mulai menghampiri dirinya untuk menanyakan sesuatu yang penting.


"Ophilia." Panggil Shira.


Ophilia melirik ke belakang lalu memasang tatapan datar karena ia pasti akan meminta makanan, "Shira... ugh... apakah makanannya masih kurang...?"


"Shira, jangan meminta lebih banyak lagi!" Megumi mulai meraih tangannya sampai Shira tertawa bahwa ia sudah tidak membutuhkan makanan yang mengisi perut penuhnya.


"Tidak kok... aku hanya ingin menanyakan sesuatu yang mengganggu pikiranku." Kata Shira.


"Ehh? Apa itu?" Tanya Ophilia.


"Mungkin agak tidak sopan untuk mengatakannya... apakah kamu masih mengingat nama dari semua dewa agung yang menantikan kelahiran makhluk sihir?" Tanya Shira.


Ophilia terkejut ketika mendengarnya, ia tidak menyangka Shira akan menanyakan hal seperti itu, dirinya tidak mengingat begitu banyak dewa agung.


"Kau ingin tahu siapa?" Tanya Ophilia.


"Dewa agung cahaya."


"Ahh... aku belum pernah melihatnya... tapi aku sempat mengetahui bahwa dirinya juga ikut untuk melihat kebangkitan Akariagaru." Jawab Ophilia.


"Begitu ya... terima kasih karena sudah menjawab, kalau begitu aku masih bisa beristirahat dengan tenang." Shira berjalan mendekati Kou yang saat ini sedang bersama Shinobu.

__ADS_1


"Shinobu~" Panggil Shira sampai Shinobu mulai menatap dirinya lalu tersenyum


"Kakek..." Shinobu mendekati dirinya lalu Shira menggendong cucunya yang begitu kecil sampai ia berniat untuk melatih dirinya suatu saat nanti ketika waktunya sudah tiba.


"Ti-Tinggi..." Kata Shinobu sambil menatap lantai.


"Kakek tidak akan melepasnya kok... sebentar lagi kamu akan menjadi Legenda yang memberontak bulan? Dua tahun lagi tetapi kamu masih bisa melatih tubuh ini..." Shira mulai membahas pemberontakan itu.


"Hm...! Semoga saja aku bisa melakukannya..." Jawab Shinobu dengan tatapan khawatir.


"Jika kamu percaya dan berusaha lebih keras maka semua kemustahilan dapat kau kalahkan, ayo berjuang, Shinobu! Kakek juga akan memperhatikan dirimu..." Shira tersenyum.


"Hm! Koneko... akan berjuang!" Shinobu mengangkat lengan kanannya sampai membuat Shira tertawa, ia memiliki banyak harapan untuk keturunan terakhir Shiratori.


Megumi mulai berbisik kepada Kou, "Apakah kamu mau memberikan Shinobu hadiah dari Minami...?"


"Ahh... sudah waktunya ya, aku akan memberikannya ketika sudah pulang nanti."


"Kalau begitu, tolong jaga Shinobu dan rawat dia menjadi Legenda yang layak ya." Megumi tersenyum lalu ia memberi Kou sebuah pelukan.


"Hm! Tentu..."


"Selanjutnya adalah dirimu, Shinobu Koneko!" Seru Shira dengan penuh harapan.


"Jadilah bangsa Legenda yang layak dan penuh kebanggan untuk keturunanmu juga...!"


"Mm... Koneko coba..." Jawab Koneko yang terlihat malu dan gugup.


***


Pesta berakhir pukulan sembilan malam, semua Legenda itu mulai pulang dan memberikan ucapan selamat tinggal kepada rekan-rekan mereka.


Kou bersama Shinobu sudah sampai kabin itu dengan selamat, Shinobu yang terlihat mengantuk mulai duduk di atas kasurnya tetapi Kou mulai mengusap pipinya.


"Boleh Mama mengatakan sesuatu sebelum kamu tidur?" Tanya Kou yang mulai berlutut di hadapannya selagi mengeluarkan sebuah kotak di bawah kasur.


"Mm..." Jawab Shinobu selagi mengusap matanya.


"Mungkin ini bisa di sebut sebagai hadiah ulang tahun awal tetapi... Mama tidak berniat untuk memberikan ini sebagai hadiah utama." Kou mulai mengangkat kotak itu lalu menunjukkannya kepada Shinobu.


"Coba buka..."


Shinobu mulai melepas tali di atas kotak itu lalu membuka penutupnya sehingga ia dikejutkan dengan Kisetsu merah dan jubah emas yang terlihat begitu indah sampai ia bisa melihat ikat kepala juga.


"Uwaahhh...! Kisetsu..." Shinobu mengatakannya dengan tatapan polos sampai ia mulai mengambil semuanya lalu menatanya dengan rapi di atas kasur.


"Mama! Boleh aku memakainya sekarang...?" Tanya Shinobu dengan tatapan yang terlihat bersemangat.


"Tentu~ Semuanya sudah jadi milikmu..." Kou mulai menceritakan kisah pendek tentang Minami yang mewariskan semua itu kepada Shinobu.


Shinobu mulai memakai semua pakaian itu selagi mendengarkan percakapan Ibunya, "Semua ini bisa di bilang warisan dari tantemu yang bernama Shiratori Minami..."


"...ia sering menggunakan semua pakaian dan aksesoris ini ketika bertarung, sekarang... sudah waktunya untuk Koneko menjadi seorang Legenda yang bertarung!"


"Tante Minami... aku ingin mendengar ceritanya lebih lama lagi ketika pagi hari tiba..." Kata Shinobu dengan pipi yang memerah karena ia sudah mengenakan semua pakaian itu.


"Wahh~ terlihat begitu cocok." Kou mulai merapikan Kisetsu itu lalu ia mengambil ikat kepala itu untuk memakaikannya untuk Shinobu sampai ia terlihat seperti Legenda layak sekarang.


"Kamu terlihat seperti Minami sekarang..." Kou tersenyum.


"Koneko... akan berjuang...! Untuk menjadi Legenda..." Jawab Shinobu selagi menyentuh jarinya dengan jari yang lain.


Kou tersenyum lalu memberikan dirinya sebuah pelukan, "Besok pagi... Mama ingin mengajari dirimu tentang banyak hal sebagai Legenda..."


"Mmm!"


Tidak lama kemudian, Shinobu tertidur di sebelah Kou selagi mengenakan Kisetsu dan semua aksesoris itu, Kou melihat Shinobu tertidur dengan nyenyak karena menikmati elusan Ibunya di bagian kepala.


"Koneko..." Kou tersenyum pahit lalu ia memberikan dirinya sebuah kecupan di kening.


"...aku harap Mama bisa menjagamu lebih dekat seperti ini untuk selamanya." Kata Kou yang mulai meneteskan air matanya selagi menyentuh dadanya yang terasa sakit.


"Selamat malam..."


"...harapanku."


~Rise of Kingdom Era Arc - End~


~The Next Generation - Shinobu Koneko~


...


...


"Dewa agung cahaya... Shiratori Shinji...?" Megumi yang awalnya ingin tidur di pelukan Shira mulai dikejutkan dengan sesuatu.


"Ya... bisa di bilang dia adalah pamanku, Shukaku tadi sempat menyelesaikan sesuatu untuk mencegah kebangkitan dirinya..."


"...beliau bilang bahwa Shinji adalah Legenda yang memiliki kemampuan cahaya paling sempurna, kita harus bersiap siaga untuk kebangkitan dirinya." Shira memejamkan kedua matanya.

__ADS_1


"Hm... kau benar..."


__ADS_2