
Shinobu terus melakukan meditasi dalam dunia gaib itu, mencoba untuk memperoleh Supernatural Astral agar bisa memegang semua arwah dan ruh yang ia inginkan lalu menjadikan mereka sebagai seseorang yang dapat mempercayai.
Kepercayaan yang tidak akan pernah mati, "Teruslah seperti itu, Shinobu... kau dapat menguasainya karena kau adalah salah satu dari kita, setengah tuh dan setengah Legenda."
"Kami ruh bukan saja berasal dari Manusia... tetapi ada juga yang berasal dari Manusia, rata-rata mereka adalah orang kerajaan yang begitu kuno di masa lalu."
"Kami mengikuti siapa pun yang sudah menjalani kontrak, tetapi jika kau bersedia untuk menjadi seseorang yang memegang kami maka..."
"...tunjukkan kepada kami semua bahwa dirimu memang layak untuk mendapat kepercayaan seluruh ruh yang memiliki jenis berbeda salah satunya memperoleh kesaktian."
Dukun Sakti saat ini terus memperhatikan Shinobu yang sedang meditasi, banyak sekali arwah dan ruh yang merasuki tubuhnya tetapi tidak memberikan efek apapun karena setengah rasnya itu dan bantuan The Mind.
Kerasukan tidak mempan pada dirinya, semua ruh yang masuk ke dalam tubuhnya otomatis langsung mempercayai dirinya dan akan mengikuti semua perintahnya.
"Kamu memang tidak takut ya berada di dalam alam gaib ini dalam waktu lama...? Ternyata aku terlalu meremehkan dirimu, nak." Ucap Sakti.
"Koneko dari kecil memang sudah mempelajari ilmu hitam... banyak sekali Legenda yang mati karena membaca buku... buku itu meminta mereka semua untuk membunuh diri mereka sendiri."
"Banyak sekali nyawa yang sudah aku habisi... terutama lagi Manusia, apakah kalian sanggup untuk mengikuti diriku yang kemungkinan akan membunuh banyak makhluk lebih banyak lagi?" Tanya Shinobu selagi memejamkan kedua matanya.
"Ini adalah perjalanan yang belum memuncak sampai pertengahan... teruslah bertahan... aku akan bertahan dan hidup..."
"...menjalankan tujuan yang aku anggap benar, harapan cahaya yang dapat membutakan banyak orang tetapi memberikan kebahagiaan bagi mereka yang sudah memegang kepercayaan teguh padaku."
Suara Shinobu mulai menggema seketika karena Supernatural Astral mulai ia peroleh sedikit demi sedikit, "Aku akan menyelesaikan semua tujuan yang aku inginkan... entah apapun itu, akan aku selesaikan demi bisa menghancurkan labirin yang menghasilkan banyak konflik."
"Tetapi... banyak sekali gangguan yang terjadi... satu-satunya cara aku menyelesaikan semua itu adalah menghabiskan mereka yang mencoba untuk menghalangi jalanku bersama teman-temanku." Shinobu membuka kedua matanya.
Sakti memasang tatapan kaget ketika melihat kedua mata Shinobu yang begitu putih karena ia berhasil menahan semua kerasukan dan kekuatan mistis supernatural dari seluruh ruh yang berbeda.
"Mereka menyetujuinya..." Kata Sakti sampai ia melihat seorang pria yang memakai mahkota kuno mulai mendekati Shinobu lalu memberinya sebuah usapan di bagian kepala.
"Kamu layak... sejak kamu masuk ke dalam dunia gaib itu menyelamatkan gadis tidak sopan yang bernama Hinoka itu... kamu memang sudah menarik perhatian kami semua."
"Mungkin kamu memang bersedia menjadi ratu kami semua... yang memimpin seluruh ruh sakti dan kami akan berjanji untuk terus melayani dirimu." Pria itu menghancurkan mahkotanya sendiri.
"Semua raja juga akan mematuhi dirimu, Shinobu Koneko... tunjukkan semua kelayakan yang kau bisa pada kami semua dengan terus meditasi dan membicarakan apa yang kau inginkan..."
"Baik." Shinobu kembali memejamkan kedua matanya lalu ia mencoba untuk mengumpulkan semua ruh yang ada di dunia tersebut.
__ADS_1
***
Konomi melihat harimau putih itu menghilang seketika, ia hanya bisa diam dalam posisi tanpa harus melakukan pergerakan apapun, Akang mengetahui dimana letak posisi Konomi saat ini tetapi ia mencoba untuk memastikan kembali.
"Hmm...?" Akang dapat mendengar suara tetesan air yang mulai berjatuhan sedikit demi sedikit.
"Satu... dua... tiga... melebihi tiga tetesan air... sekarang... sudah lebih dari sepuluh tetesan..." Akang terus memeriksa suara apa itu, yang ia pikirkan adalah Konomi meneteskan beberapa cairan ramuan itu.
"Ya... teruslah seperti itu... ketika harimau putih itu muncul dan mencoba untuk menyerang posisi tetesan air biasa yang aku teteskan maka aku memiliki kesempatan untuk lari..."
"...jika lari bukanlah sebuah pilihan maka akan aku langsung lawan saja harimau putih ruh itu... percuma saja melawanku dengan sesuatu yang halus karena indraku sudah terbuka semuanya."
Harimau putih itu kembali muncul lalu melompat menuju arah tetesan air yang berjatuhan itu lalu mengayunkan cakarnya, Konomi langsung bergegas maju ke depan sehingga harimau itu memfokuskan serangan lain kepada dirinya.
"Huh...!?" Konomi memasang tatapan kaget ketika melihat harimau itu bergerak cukup cepat melebihi dirinya sampai langsung menerima cakaran di bagian punggungnya yang mendorongnya sampai meja makan itu.
"Urk...!!!" Konomi menutup luka di bagian belakangnya dengan perban lalu ia mencoba untuk mengeluarkan ramuan pemulihan tetapi ia mengingat risiko tersendiri.
Suara tegukan itu kemungkinan akan bisa di dengar oleh Akang sehingga harimau putih itu kemungkinan dapat menyerang dirinya, "Kecepatan yang aku lihat tadi... melebihi harapan yang aku pikirkan sebelumnya."
"Suara yang disebabkan oleh meja itu... aku mendengar---" Konomi menarik pin granat itu lalu melemparnya ke arah yang berbeda, granat pertama ia lempar menuju arah Akang yang langsung ditangkis oleh harimau putih itu.
Luka di punggungnya memperlambat pergerakannya, langkahan yang dapat dilakukan oleh Konomi terdengar begitu keras dibandingkan suara ledakan granat tadi sampai Akang mencoba untuk tetap fokus.
"Dia memang gegabah... semakin dirinya memberontak maka semakin kuat serangan yang dilakukan Khodam itu..."
"...kalau tidak salah Vile Energy hanya akan membuat seseorang bertambah kesakitan ketika mencoba untuk melawan efek tersebut dengan energi atau tenaga." Batin Akang.
Konomi membuka tas pinggangnya lalu menjatuhkan beberapa ramuan beracun sampai Akang dapat mendeteksi suara genangan air di atas lantai, ia mulai meminta harimau putih itu untuk menghindarinya.
Harimau itu mencoba untuk menyerang Konomi tetapi dia menghilang dalam pendengaran Akang seketika, "Huh...? Langkahnya hilang..."
"...suara yang akan dengar terasa begitu sunyi... sial... Khodamku tidak akan bisa menyerang jika aku mengetahui lokasi yang harus di serang." Akang memegang erat boneka yang memiliki helai rambut Hinoka di dalamnya.
"Sepertinya Abah juga masih belum selesai menghentikan Hinoka... apa yang aku lakukan sekarang...? Melawan gadis satu ini yang memiliki perlengkapan ramuan rasanya sulit sekali."
"Gadis itu melompat... tetapi kenapa aku masih belum mendengar suara terjatuh... meja juga tidak mengeluarkan suara apapun, gadis itu menghilang begitu saja ketika melompat."
"Menghilang... tidak ada suara yang dapat aku dengar, sialan... kemana gadis itu pergi?" Batin Akang.
__ADS_1
Khodam itu langsung menyerang secara membabi buta di dalam ruangan itu sampai Konomi yang memegang erat atapnya untuk bergelantungan dapat melihatnya dari atas bahwa serangan harimau itu cukup berbahaya.
"Vile Energy sialan..." Konomi mencoba untuk menyerang Akang dari jauh tetapi harimau itu sudah pasti akan melindungi dirinya, melakukan sesuatu yang mengeluarkan suara hanya akan menyebabkan Akang mendekati keberadaannya.
Konomi mengeluarkan granat asap yang ia tarik pin tersebut lalu Akang mendengar suara pin yang tertarik dari atas langit, mendengarnya saja menyebabkan dirinya langsung sensitif dengan atap.
"Di atas...!?" Khodam itu melesat ke atas langit lalu mencoba untuk melancarkan cakarnya tetapi Konomi mulai mendarat di atas langit dengan keningnya yang menerima satu serangan cakar.
"Ck...!!!" Asap granat itu langsung menyebabkan di ruangan tersebut sampai Akang mulai menempati boneka Hinoka di atas lantai, mencoba untuk tetap fokus dengan pendengarannya.
Konomi kembali melompat ke atas lalu memegang erat atap itu agar ia bisa bergelantungan, "Harimau itu cepat sekali... tetapi bom asap itu mengeluarkan banyak sekali suara yang dapat mengganggu dirinya."
"Aku hanya perlu menumbalkan beberapa ramuan dan bom asap untuk mencegah dirinya menyerangku menggunakan harimau putih itu..." Batin Konomi.
"Hanya beberapa meter lagi... aku bisa menghentikan dirinya dengan langsung membunuh Manusia itu." Konomi memasukkan tangannya ke dalam tas pinggang itu lalu mengeluarkan sebuah botol kecil yang ia pegang menggunakan mulutnya.
"Suara gigitan kaca...! Bunuh dia!" Seru Akang sampai harimau putih itu melompat menuju arah Konomi lalu menyebabkan dirinya terkejut seketika sampai harimau itu berhasil menggigit bahu Konomi lalu merobek dagingnya.
"Aaaagggghhh...!!!" Konomi terjatuh di atas lantai sampai ia mulai bertulang di balik meja itu lalu mengeluarkan ramuan pemulihan untuk menyembuhkan luka gigitan itu.
Harimau putih itu mencoba untuk menyerang Konomi, tetapi ia langsung menarik keluar pistol di pinggangnya lalu membidik ke arah Akang untuk menembak beberapa peluru ke arah dirinya.
"Kau mencoba untuk mengulurkan waktu...!?" Percuma saja..." Semua peluru itu berhasil diterima oleh Akang, tembakan itu tidak mampu melukai dirinya yang sudah mempelajari ilmu kekebalan terhadap persenjataan.
"Secepat dan sekuat apapun dirimu... jika kau memberontak maka Vile Energy akan bereaksi sampai menyebabkan Khodamku bertambah sangat kuat sampai menembus daya tahanmu itu!"
"Sekali gigitan lagi...!!!" Harimau putih itu menabrak meja di atas Konomi sampai ia memasang tatapan kaget lalu ia berguling ke depan dan menahan wajah harimau itu yang sangat besar.
"Ga-Gawat...!!! Agggghhh...!!!" Jari-jari Konomi masuk ke dalam mulut harimau itu, ia bisa merasakan harimau tersebut menutup mulutnya sampai menggigit semua jari Konomi lalu menghabiskannya.
"Naaarrggghh...!!! Hah... Hah... Hah...!!!" Konomi melompat ke belakang lalu ia melihat Khodam itu mencoba untuk menyerang dirinya sampai menyebabkan semua meja yang menghalanginya hancur.
Akang terus mendengarkan suara kehancuran dari meja itu, ditambah lagi dengan pernafasan Konomi yang begitu berat sampai menyebabkan dirinya berada di puncak kemenangan jika ia tidak memiliki rencana lainnya.
"Hmm...!?" Akang seketika menghirup sesuatu yang aneh sampai mengganggu pikirannya.
"Hugh..."
"...asap apa yang aku hirup ini...?"
__ADS_1