Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 747 - Memulai Penyamaran Sebagai Pemberontak


__ADS_3

~Shinobu's POV~


Satu Minggu ini terasa begitu menyenangkan... tiada hari tanpa merasakan arti dari perjuangan dan kerja keras yang dapat memberikan kita hasil memuaskan.


Satu Minggu yang kita miliki ini digunakan untuk terus berkembang menjadi seorang Legenda pemberontak yang akan menjalankan misi apapun dan menyingkirkan mereka yang mengecewakan bangsa dan harga diri Legenda.


Latihan itu terasa begitu melelahkan tetapi bisa saja memberikan kita perasaan yang begitu menyenangkan karena kita bisa menerima banyak pengalaman baru dan sesuatu yang belum pernah kita ketahui sebelumnya.


Kita terus mempelajari sesuatu yang baru lagi dan lagi agar bisa berkembang lebih jauh, tiada batasan bagi bangsa Legenda bahkan gadis tidak normal sepertiku dapat menghancurkan batasan yang menghambat perkembanganku.


Aku mendapatkan banyak cerita dan pengalaman juga dari kedua teman dan sepupuku... mereka juga mendapatkan banyak perkembangan yang cukup untuk satu Minggu ini berkat saran Nenek yang memberitahu mereka untuk memperbaiki semua kesalahan itu.


Sepupu yang sangat aku andalkan yaitu Kakak Koizumi, dia melatih untuk menguasai segala emosi yang ia rasakan ketika bertarung sampai dirinya sekarang sempat menguasai hal itu sama pertarungan yang ia lakukan dengan Legenda Super Elite...


...berakhir begitu cepat oleh Kak Koizumi yang sangat hebat, dia dapat mengatasi musuh sebanyak dan sebesar apapun dengan mudah dengan tubuhnya yang begitu kecil.


Sungguh mengejutkan dan menakjubkan bahkan suatu saat nanti, aku ingin bisa menjadi sesosok Legenda yang jauh lebih hebat darinya agar Ayahku bisa bangga bahwa diriku mengalahkan seorang putri dari rivalnya.


Aku dengar Tante Haruka sangat marah ketika mengetahui Koizumi tidur selagi melakukan push up, sit up, dan pull up, ahahaha...


Sepupuku yang satunya lagi, walaupun dia mengerikan dan kadang aneh... aku tetap menyayangi dirinya, dia juga bahkan sudah mencoba untuk melatih fisik dan bela dirinya agar bisa di kombinasikan dengan sihir mengerikannya.


Kak Hinoka sudah tidak bisa di bilang mudah lengah lagi, mungkin karena ia ingin dipenuhi perlindungan agar bisa melengahkan kita semua karena aku sempat melihat Kak Koizumi dan Konomi selalu saja di colek oleh dirinya.


Sihir jarak ledakannya bahkan sudah bertambah lebih jauh, yang awalnya lima meter sekarang menjadi sepuluh meter, aku harap Kak Hinoka juga dapat terbiasa ketika melihat darah karena perubahan sikapnya yang sangat mendadak.


Untuk kedua teman yang mau menerima diriku, Konomi dan Ako, mereka juga sudah memperbaiki setiap kesalahan dalam seragam kombinasi dan koordinasi yang selalu gagal.


Mereka sekarang sudah dapat melakukan serangan koordinasi cukup baik bahkan setiap kesatria beregu yang mencoba untuk menantangnya akan kalah karena mereka tidak dapat menembus kerja sama dari kedua saudara itu.


Satu Minggu ini sungguh dipenuhi dengan banyak sekali pengalaman dan kenangan yang indah, kami hanya memiliki satu Minggu untuk berlatih karena Paman Arata akan menghubungi kami setelahnya.


Kemungkinan besar misi pemberontakan untuk mengurusi masalah kesatria zodiak, keributan dan masalah yang mereka sebabkan terpaksa di pertanggung jawab kan oleh Kak Koizumi.


Satu kesatria sudah gugur olehnya dan ia ingin sebelas kesatria lainnya untuk mati juga agar tidak ada lagi yang namanya pasukan atau kesatria yang mengenal sesosok raja mengerikan bernama Regulus Khan.


Halaman seratus dari jurnal kehidupan... telah selesai, aku menantikan kenangan lainnya.


~Normal POV~


Shinobu mulai menulis tanda tangannya sendiri di halaman seratus dari jurnalnya itu lalu ia menutupnya selagi menunjukkan senyuman lebar karena hobi yang ia sukai ternyata membuat dirinya semakin percaya diri.


Rasa percaya diri yang dapat membantu dirinya untuk berkembang agar bisa mendoakan lebih banyak pengalaman dan kenangan yang harus di tulis ke dalam jurnal tersebut.


Shinobu melangkah menuju ruangan penemuannya lalu ia menatap sebuah roket besar di hadapannya yang siap untuk di luncurkan ke luar angkasa sebagai cadangan yang ia butuhkan dalam keadaan darurat.


Tech saat ini sedang melakukan sentuhan akhir kepada roket tersebut sampai Shinobu bisa melihat semuanya berjalan dengan lancar karena proses yang terus berjalan.


Walaupun ia terus melakukan latihan sebagai Legenda, dirinya tetap tidak akan melewatkan waktu untuk menciptakan teknologi, alat, dan sistem baru untuk peningkatan lengan dan kaki buatannya.


"Menyalakan sistem dalam lima detik..."


"...empat..."


"...tiga..."


"...dua..."


"...satu!"


Roket itu langsung mengeluarkan beberapa layar virtual canggih yang menunjukkan beberapa informasi penting untuk Shinobu, ia mulai mengangguk dan tersenyum puas.


"B-Berhasil ya... hehehe~ dengan ini roket tersebut akan menjadi satelit untuk planet Legenia." Shinobu mulai mendekati roket tersebut lalu menyentuhnya.


"Bagaimana jika seseorang mencoba untuk menghancurkan satelit tersebut, putri kecil? Saya mengingat nyonya Kou pernah melepas sebuah satelit tetapi tidak bisa bertahan cukup lama."


"Itulah kenapa aku memasang sesuatu yang berbeda... satelit ini akan bersatu dengan luar angkasa, hampir sama seperti kamuflase..."


"...sinar matahari juga akan melindunginya berkat bantuan dari sihirku, Sunshine Blessing." Shinobu menghantam satelit itu dengan penuh tenaga sehingga warna logamnya yang perak berubah menjadi emas.


"Satelit ini akan menyerap serangan yang di terima lalu mengubahnya menjadi durabilitas baru atau logam yang bertambah lebih keras..."


"Apa yang saya harapkan dari putri sang nyonya... saya tidak menyangka Anda akan menemukan sesuatu yang begitu menakjubkan."


"H-Hentikan, Tech... aku tidak suka di puji seperti itu..." Kata Shinobu sambil menyentuh kedua jarinya karena merasa malu terus menerima pujian dari Android seperti Tech.


"Kalau begitu, kita lakukan sedikit tes..." Shinobu mundur ke belakang lalu melepaskan tangan di bagian kanannya untuk mencoba roket tersebut.


Mata kiri Shinobu langsung menunjukkan beberapa program dan sistem bahwa semua alat cadangan yang ia masukan ke dalam sudah siap untuk di gunakan.


Hanya dengan memindahkan beberapa program dan sistem menggunakan mata kirinya saja sudah mampu untuk membuka sebuah pintu di roket tersebut sampai melepaskan tangan kanan buatan yang menempel di Shinobu.


Menggantikan lengan yang sudah ia lepas tadi, "B-Baiklah...! Semuanya berjalan lancar..."


"...jika aku sempat kehilangan kedua lengan ini maka aku dapat menggunakan cadangan itu dengan memanggilnya melalui satelit." Shinobu tersenyum lebar lalu ia melompat-lompat.


Setelah itu ia memasukkan kembali lengan cadangan itu di dalam roket lalu ia melihat kapasitasnya masih banyak, terdapat lebih dari ratusan tangan dan kaki cadangan di dalamnya.


Shinobu tentunya akan menambahkannya tetapi ia ingin menciptakan lengan dan kaki baru menggunakan material serta bahan yang baru agar memiliki durabilitas baik.

__ADS_1


"Kalau begitu... lepas landas... sekarang juga." Perintah Shinobu.


Tech mengangguk lalu ia menyalakan pembakaran roket itu sampai melepaskan banyak sekali dorongan yang menyebabkan roket tersebut melesat tinggi ke atas langit sampai tiba di luar angkasa.


Bentuk roketnya mulai mengeluarkan beberapa bagian tambahan sampai menjadi satelit yang mengelilingi planet Legenia, Shinobu menggunakan mata buatannya untuk mengakses kamera di dalam satelit itu.


"Wahhhh... jadi ini... pemandangan luar angkasa yang terlihat sangat indah..." Kata Shinobu yang melihat pemandangan luar angkasa dari dekat.


Ia melihat banyak sekali planet yang besar dan kecil di sekelilingnya bahwa ia juga dapat melihat pohon emas dari jarak yang begitu dekat sampai bentuknya terlihat semakin indah.


"Hm~ dengan ini semuanya akan berjalan baik-baik saja...!" Shinobu mengangguk lalu ia mulai menutup pintu ruangan kerjanya karena ia tidak akan mengunjungi tempat itu dalam waktu yang lama.


"Tech... dalam perjalananku... aku ingin mencari tahu tentang material mistis dan legendaris yang pernah di cerita dalam sejarah."


"Apa itu?"


"Legenda mengatakan bahwa terdapat tujuh material mistis dan legendaris yang memiliki pertahanan cukup kuat..."


"...semuanya sangat cocok untuk aku jadikan sebagai lengan dan kaki buatan agar aku tidak perlu menciptakan hal yang sama beberapa kali."


"Itu terdengar menakjubkan, putri kecil. Tetapi... bagaimana jika Anda menggunakan sihir cahaya untuk menciptakan material sendiri agar Anda tidak perlu kesusahan menggantikan lengan dan kaki baru."


"Hm~ Aku sedang mencobanya... tetapi menggunakan material itu juga mungkin akan sangat membantu." Shinobu menatap lengan kanannya lalu ia memunculkan sebuah jam tangan.


Waktu hampir menunjukkan pukul 12 siang, ia bersama kedua teman dan sepupunya perlu berkumpul di kerajaan Ghisaru agar bisa memulai tujuan mereka sebagai seorang pemberontak.


Shinobu mulai menghampiri ruangan tamu lalu melangkah menuju kamarnya sehingga ia melihat Kou yang sedang meminum madu selagi berbicara dengan Megumi.


"Mama... Nenek... sudah waktunya aku untuk pergi..." Kata Shinobu yang mulai mendekati mereka.


"Iya, nak, hati-hati." Kou tersenyum lalu ia memeluk Shinobu erat selagi memberi dirinya beberapa kecupan.


Kou masih menyimpan rasa khawatir tetapi ia sendiri percaya bahwa Shinobu pasti akan menemukan cara untuk bisa menyelesaikan tugasnya sebagai seorang pemberontak yang menjalankan misi sulit.


Shinobu mulai memeluk Megumi, "Jangan sampai lengah dengan apapun ya... ingat, jika terdapat seseorang yang mengganggu dan menganggap Neko Legenda jahat kembali maka..."


"...bunuh saja. Biarkan mereka mengetahui perasaan yang di rasakan oleh semua Neko Legenda yang menunggu di alam kematian."


"Aku akan coba... aku tidak boleh lengah, menjauhi orang jahat, dan tentunya memberikan sebuah senyuman untuk orang yang kesulitan." Shinobu menatap Kou.


"Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk membantu seseorang kok... yang paling penting adalah kesanggupan dirimu."


"Jika kamu tidak dapat membantunya maka biarkan saja karena masalah akan bertambah buruk jika kamu mencoba untuk memaksakannya."


Perkataan Kou langsung Shinobu turuti, walaupun terasa begitu menyakitkan karena tidak bisa selalu menyelamatkan dan membantu beberapa orang.


"Di dalam keburukan terdapat kebaikan, dalam kebaikan terhadap keburukan juga... dan tentunya terdapat keseimbangan." Kata Megumi.


"Kamu harus mengetahui ketiga unsur itu, Koneko... kamu pasti akan menemukan jalan kekuatan yang di inginkan." Ucap Kou yang memberi dirinya pelukan lagi.


"Aku sangat menyayangi dirimu... aku harap perjalanan dan misimu yang panjang dapat berjalan dengan baik..."


"...setelah kamu pulang, berikan semua pengalaman yang kamu miliki dan tentunya berikan jurnal kehidupan itu kepadaku agar Mama bisa membacanya."


"Hm~ Baiklah, Mama..."


"Sebelum pergi..." Kou mulai menunjukkan sebuah laci di sebelah kasur itu, Shinobu mendekati lalu ia membuka sehingga melihat kotak kecil.


"Hadiah ulang tahunku..." Shinobu tersenyum.


"Bukannya sekarang waktu yang pas untuk mengenakannya?" Tanya Kou sehingga Shinobu langsung mengangguk dan membuka penutup itu.


Di dalam kotak itu terdapat banyak sekali aksesoris yang dikenakan oleh Minami lalu ia wariskan kepada Shinobu sebagai hadiah pernikahan Kou dan Shuan ketika mereka dikaruniai seorang anak.


Megumi melihatnya dan ia langsung merasa nostalgia karena semua aksesoris itu bisa di bilang hadiah ulang tahunnya kepada Minami dan semuanya terus di wariskan sampai Shinobu.


Shinobu mengambil sebuah selendang merah yang langsung ia kenakan, setelah itu ia melihat sebuah penutup mata yang tidak menarik perhatiannya sama sekali sampai Megumi mulai mengambilnya.


"Kamu tidak perlu mengenakan penutup mata ini kok, barang seperti ini bisa di bilang aib bagi tantemu." Megumi terkekeh.


"Ahaha... begitu ya..." Shinobu terkekeh lalu ia mengambil sebuah ikat kepala merah lalu mengenakannya sampai Megumi dan Kou langsung tersenyum ketika melihatnya.


"Kamu terlihat cocok sekali mengenakan ikat kepala itu bersamaan dengan selendangnya..." Megumi tersenyum.


"Sungguh calon Legenda yang layak... Mama bangga kepadamu." Kou tersenyum lalu ia menghapus air mata tangisannya.


"Kalau begitu... sampai jumpa, Mama, Nenek. Aku akan melaksanakan semua tujuanku!" Shinobu mengangguk sehingga Kou mulai menghentikan dirinya sebelum pergi keluar.


"Koneko, tunggu..."


"Mmm?" Shinobu berhenti melangkah lalu ia kembali menghampiri Kou yang membuka sebuah laci di bagian bawah dengan kode.


Laci itu langsung tersebut sehingga Shinobu melihat sebuah kacamata di dalamnya, "Kacamata ini sudah tidak bisa Mama kenakan lagi karena aku harus mewariskannya kepada seseorang..."


"...Nenekmu mewariskan kacamata ini kepada diriku dan sekarang adalah waktunya untuk mewariskan kacamata tersebut kepada dirimu yang akan menjadi Legenda penuh kebanggaan."


"Mama tidak memaksa dirimu untuk menjadi calon ratu Touriverse, tetapi... gapailah mimpi dan tujuanmu dengan mengenakan kacamata ini." Kou memberikan kacamata itu kepada Shinobu.


"Mama..." Shinobu langsung mengenakannya sehingga ia mendapatkan sambutan dari inti sistem Tech.

__ADS_1


"Terima kasih..." Shinobu tersenyum polos lalu ia memberikan sebuah kecupan di bagian pipi Kou.


"Dan... satu hal lagi..." Kou mulai mengulurkan lengan kanannya sehingga sebuah Keris mulai melancarkan ke arah dirinya sampai tiba di genggaman tangannya.


"Ini senjatamu... senjata yang bisa di bilang partnermu yang akan menemani dirimu sampai Koneko bisa menyelesaikan semua tujuan itu."


Shinobu terkejut ketika mengetahui Kou akan memberikan sebuah senjata yang bisa di bilang paling kuat jika seseorang dapat menggali potensi di dalam Keris itu lebih dalam.


"Rasanya Koneko seperti menerima hadiah ulang tahun..."


"...terima kasih." Shinobu tersenyum lembut lalu ia menggenggam Keris itu menggunakan tangan kirinya sampai ia bisa merasakan kekuatan Crimson besar di dalamnya.


"Besar sekali... kekuatannya..." Shinobu dapat mendeteksinya melalui naluri, kacamata, dan tatapannya sendiri sehingga diberikan sarung keris itu oleh Kou.


Sarung tersebut mulai ia simpan di sebelah pinggang dan ia memasukkan Keris itu dalam sarung tersebut agar ia bisa menggunakannya ketika sedang bertarung melawan seseorang.


"Semoga beruntung, tunjukkan kepada dunia bahwa kamu mampu, nak." Kou mencium kening Shinobu lalu mengelus kepalanya.


"Aku akan pergi..." Shinobu berjalan mundur selagi melambaikan tangannya kepada mereka.


"Koneko... akan berjuang...!" Shinobu mengangguk.


""Koneko!""


Shinobu melihat Megumi dan Kou tersenyum penuh harapan kepada dirinya, mereka mempercayai sebuah masa depan cerah yang akan datang karena kehadiran Legenda layak yang baru.


""Legends Never Dies...""


"Mm~ Legends Never Dies~" Shinobu mengangguk lalu ia berjalan keluar dan meninggalkan kedua orang tuanya untuk melakukan misi pemberontakan.


"Semoga dia dapat mengatasi masalah dengan baik tanpa harus mempermasalahkan dirinya lebih rumit..." Kata Kou.


"Percayalah, Kou, Shinobu adalah keturunan Comi dan Shiratori... aku yakin dia dapat mengatasi masalah apapun..."


"Hm, benar..." Kou mengangguk lalu ia menatap keluar jendela, melihat Shinobu yang sudah terbang pergi.


"...aku mempercayai dirimu, anakku tercinta."


***


Shinobu langsung berpapasan dengan kedua teman dan sepupunya yang sudah masuk ke dalam kerajaan Ghisaru, ia mulai mendarat di tengah-tengah mereka.


"Yahoo~ Koneko, terlihat cukup imut dengan penampilan baru~" Hinoka tersenyum melihat Shinobu telah datang.


Shinobu langsung tersipu ketika menerima pujian itu, "Wah, benar... kamu terlihat seperti seseorang yang berbeda sekarang"


"B-Benar... terlihat lebih emas dan bersinar... cukup keren..." Ako dan Konomi memuji dirinya sampai Shinobu menutup wajahnya karena malu.


Koizumi tersenyum lalu ia mengelus kepala Shinobu, "Kamu bertambah cukup kuat, Shinobu... sungguh gadis yang pintar."


"Mmm..."


Mereka semua segera pergi menuju ruangan kumpulan para pemberontak untuk memulai misi, mereka tidak memiliki waktu untuk berbicara sampai mendapatkan beberapa informasi dari Arata.


Arata yang menunggu di dalam ruangan pemberontak itu melihat kelima gadis itu telah datang mengenakan Kisetsu yang begitu khas dan gelap.


Terlihat seperti pemberontak asli tetapi mereka akan menyamar menjadi seorang petualang untuk memeriksa setiap kerajaan agar bisa menemukan para kesatria zodiak.


"Ingat, anak-anak. Tujuan kalian untuk mengikuti misi pemberontakan ini karena Koizumi yang memintanya..."


"...dia sudah bertanggung jawab atas satu nyawa kesatria zodiak yang hilang, itu artinya kalian harus melenyapkan sisanya."


"Harga diri Legenda yang sebenarnya itu tidak akan pernah membiarkan sebuah tujuan berhenti di tengah jalan, itu artinya masih terdapat sebelah kesatria tersisa yang perlu kalian urus."


"Dengan mengamati setiap kerajaan di planet Legenia, aku harap kalian dapat menemukan tempat persembunyian mereka atau identitas asli yang mereka miliki tentang memihak kerajaan mana."


"Kalian juga harus ingat bahwa kesatria zodiak sudah pasti mengenal tentang Koizumi dan Shinobu, lebih baik saling menjaga satu sama lain di misi ini."


"Apa yang bisa aku bantu hanyalah harapan dan semangat yang perlu kalian genggam..."


"...semoga di misi ini kalian dapat kembali dengan berita yang baik, jumlah yang sama yaitu lima tanpa harus kehilangan siapa pun."


"Kalian tidak bisa pulang sampai menunjukkan bukti bahwa kesatria zodiak sudah mati..."


"...semoga beruntung, anak-anak."


"Dan ingat..."


"Legends Never Dies."


Mereka semua mengangguk lalu berjalan pergi keluar dari tempat pemberontak itu untuk bersiap-siap menjalankan misi mencari kesatria zodiak dan memeriksa setiap kerajaan.


"Kalau begitu, para pemberontak..." Koizumi mulai berbicara lalu mereka menatap Shinobu yang mengangguk pelan dengan ekspresi tersipu.


Mereka melangkah kaki kanan ke depan secara bersamaan lalu menatap gerbang kerajaan di hadapannya.


"Legends Never Dies!" Seru Shinobu.


""Legends Never Dies!!!""

__ADS_1


__ADS_2