
"Golden Spirit!!!" Shinobu menghantam pohon emas di hadapannya dengan amarah yang ia rasakan karena firasatnya bertambah semakin buruk ketika Shira pergi untuk mengurus sesuatu.
"Shinobu, tenangkan dirimu..."
"...gadis lembut sepertimu seharusnya tidak perlu menggunakan amarah sebesar itu ketika mencoba menguasai kemampuan yang didasarkan pada ketenangan dan kendali penuh."
"Paman." Shinobu mulai menurunkan kedua lengannya karena ia saat ini tidak menganggap Golden Spirit begitu penting dari sesuatu yang ia pikirkan.
"Ada apa, Shino---" Shinji memasang ekspresi kaget untuk pertama kalinya ketika melihat kedua pupil Shinobu berubah menjadi merah seperti ia mencoba untuk mengancam Shinji.
"Apakah kau baik-baik saja...? Rasanya mengandalkan amarah dalam latihan bukanlah pilihan yang baik---"
"Diam." Shinobu memotong perkataannya
"... ...?"
"Paman Shinji adalah Dewa bukan...?" Tanya Shinobu yang kembali terlihat tenang sehingga memberikan sedikit keringanan untuk Shinji mengurusi sepupunya yang bisa dibilang mengerikan ketika matanya memerah.
"Ya, mungkin saat ini aku masih bisa disebut sebagai Dewa agung cahaya, hanya saja aku tidak liar seperti dulu untuk mencari pengikut..."
"...yang lebih penting sekarang adalah menjalani hidup dengan damai---"
"Tidak mungkin, kau hanya berbohong." Shinobu mengetahui jelas tujuan dan isi pikiran dari Shinji sampai ia tidak bisa tertipu dengan apapun lagi.
Mempermainkan Shinji juga bukan pilihan yang Shinobu inginkan karena kali ini ia membahas sesuatu langsung kepada intinya sebelum Shira kembali dan mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Karena Kakak lahir dalam era yang cukup modern, aku tidak begitu yakin dirinya mengetahui perang yang pernah terjadi cukup lama sekali..."
Ketika Shinobu membahas tentang perang, firasat Shinji mulai terasa tidak enak karena ia sendiri yakin bahwa sepupunya bukan sekedar Legenda biasa jika ia adalah campuran dari Comi dan Shiratori.
"Rasanya sangat tidak berguna jika kamu sudah menguasai Touriverse, tetapi pada akhirnya Touriverse direbut karena sebuah peperangan yang kita anggap sebagai kiamat."
"Apa yang kau bicarakan, Shinobu...?"
"Potong omong kosongnya, aku tahu kau tidak berniat jahat karena mengetahui jelas firasat yang selama ini ada pada tubuhmu..."
"...mengetahui Nenek Korrina yang sudah pergi jauh sampai kau sadar dengan perubahan drastis dari Touriverse membuat dirimu mengalami kesadaran total akan kekuasaan."
"... ..."
"Ya, aku membicarakan sesuatu tentang Ragnarok. Apakah namanya tidak begitu asing untuk ingatan Dewa agung cahaya seperti dirimu yang pernah mengikuti sebanyak dua kali...?"
Shinobu mulai berkeringat dingin ketika ia membawa topik Ragnarok karena mimpinya di dalam perpustakaan tadi sempat memberikan informasi tentang Ragnarok.
Sejarah atau informasi yang sudah Shinobu baca bisa ia bayangkan dengan mudah seperti dirinya yang berada di dalam sejarah itu hanya untuk melihatnya secara langsung di hadapan kedua matanya.
Shinobu dapat melihat raut wajah Shinji yang awalnya terlihat kalem sekarang berubah drastis menjadi ketakutan sampai suara pernafasan beratnya terdengar jelas.
Shinji gemetar ketakutan sampai keringat dingin terus mengalir deras dari tubuhnya, Shinobu sendiri tidak bisa berkata-kata ketika melihat seorang Dewa agung merasa ketakutan seperti itu.
Shinobu juga mengetahui jelas dari Demetrio bahwa Shinji adalah Dewa agung yang berdarah dingin karena kekuasaan cahayanya, tetapi mendengar nama Ragnarok saja sudah membuatnya ketakutan seperti itu.
"Beraninya kau mengatakan hal itu, dasar bangsat!!!" Saking takutnya ia merasa kesal kepada Shinobu yang membawa masa lalu mengerikan yang dilupakan oleh Shinji.
Shinji mencoba untuk menyerang Shinobu tetapi ia bisa merasakan jeda yang tidak mampu membuat dirinya untuk menyentuh atau menyerang dirinya sama sekali sampai ia sadar bahwa mata merah tadi adalah tanda sebuah serangan yang tak terlihat.
__ADS_1
"Kau selama ini..."
"Jangan bermain kasar... The Mind meminta dirimu untuk tidak melukai diriku melainkan mendengar semua kata yang akan aku ucapkan." Kata Shinobu yang berhasil dilindungi oleh The Mind yang berjalan secara pasif.
"Paman Shinji... apakah itu sangat mengerikan...?" Tanya Shinobu dengan ekspresi khawatir sampai Shinji hanya bisa diam dan bergetar ketakutan.
"Sangat... dan itulah kenapa aku lebih memilih untuk tobat lalu membantu Touriverse kembali meraih puncak yang lebih tinggi dari layer ini..." Jawab Shinji.
"Layer..."
"Dengar, Shinobu... Ragnarok bisa dibilang sejarah paling mengerikan dan wajib untuk dilupakan dalam segi apapun karena saking berbahayanya..."
"...apakah kau ingin mendengarnya?" Shinji terjatuh di atas tanah karena rasa takutnya itu sampai Shinobu maju lalu ia menekan dahi pamannya sampai membuatnya kembali tenang.
"Apa yang kau lakukan...?"
"Aku hanya melakukan sedikit sentuhan di dahimu yang dapat membuatmu lebih tenang..."
"...akan sangat sulit untuk diproses jika apa yang aku dengar adalah suara ketakutan darimu."
"Kalau begitu, jelaskan apa itu Ragnarok." Kata Shinobu dengan ekspresi serius karena ia sendiri tidak bisa melupakan nama tersebut.
***
"Apa yang kau maksud dengan itu...?" Tanya mereka semua.
"Ratusan tahun lamanya aku pergi bukan menghabiskan waktu kalian tahu... lagi pula aku sendiri terlibat dengan berbagai macam hal yang bercabang."
"Tetapi kalian perlu mengetahui sesuatu yang penting tentang semua masalah dan konflik itu..."
"Dengar... aku tahu diriku sering membicarakan tentang takdir yang terukir dalam batu, tetapi hal tersebut memang nyata."
"Benar-benar nyata sampai aku pernah tersedot ke dalam sebuah ruangan dimana aku bisa melihat banyak sekali batu dengan jumlah tak terhitung, tulisan yang terukir dalam batu itu juga tak terbatas."
"Apa...? Kau berhasil masuk ke dalam sebuah ruangan dimana takdir di susun?!" Tanya Arata dengan ekspresi kaget.
"Ya... mungkin ruangan itu hanya akan memperlihatkan takdir yang tak terhitung kepada mereka yang berhasil masuk..."
"...setiap langkahan yang aku lakukan mampu memberikan diriku banyak tulisan baru, setahuku pasti takdir itu berkaitan dengan diriku dari alur waktu yang tak terbatas itu."
"Hanya saja perhatianku lebih tertarik kepada sebuah batu yang sangat besar dengan tulisan cerah lebih dari yang lainnya..." Korrina memegang dagunya sendiri.
"Karena tulisan itu sekarang aku yakin bahwa kedamaian abadi itu hanya omong kosong, bisa dibilang kita hanya sekedar tikus percobaan yang perlu bertahan hidup di dalam layer..."
"Tulisan apa yang kau baca, Korrina?" Tanya Shira.
Korrina menghisap rokoknya sampai habis lalu ia memasang ekspresi serius, "Endless Cycle... dalam arti kita terjebak di sebuah labirin yang akan terus mempertemukan kita dengan yang dinamakan sebagai masalah."
"Setiap masalah yang berhasil kita lewati hanya akan menambahkan kesulitan dari masalah tersebut, salah satunya adalah penghapusan konsep itu..."
"...sekarang kita disuguhi dengan yang dinamakan sebagai Ragnarok, akhir dari segalanya bagi mereka yang tidak dapat bertahan satu jam dalam sebuah peperangan!"
"Bukan hanya peperangan biasa karena semua penghuni bertarung hanya untuk bertahan hidup, Zephyra dapat mengetahui siapa yang menahan diri dan mencoba untuk melarikan diri...!"
"Tidak akan ada yang selamat...!!! Semuanya akan hancur pada saatnya dan menerima apa arti dari kematian itu sendiri!!!" Suara Korrina bertambah semakin kencang sehingga memberikan tekanan kepada mereka semua.
__ADS_1
Kepala Korrina menerima tekanan dan rasa ketakutan sampai setiap kata yang ia keluarkan terdengar sangat keras dan lebih cepat dari biasanya sampai menumbuhkan rasa kekhawatiran pada mereka semua.
Mereka jarang sekali melihat dirinya merasa putus asa dan ketakutan seperti ini sampai mereka juga tidak bisa membayangkan perang yang bernama Ragnarok itu, stres yang hanya bisa Korrina rasakan.
"SEJARAH MENGERIKAN AKAN KEMBALI TERULANG...!" Teriak Korrina keras selagi menjenggut rambutnya beberapa kali sampai mengejutkan teman-temannya.
Semua ingatan dan pengalaman yang ia rasakan tentang Ragnarok telah sepenuhnya terkumpul dalam pikirannya sehingga mempengaruhi mental, jiwa, perasaan, dan akal sehatnya sehingga ia terlihat seperti pasrah dengan hal tersebut.
"MORTAL YANG PERNAH MENYAKSIKAN KEJADIAN ITU AKAN MERINDING...!" Korrina langsung menabrak banyak sekali rak buku karena kedua kakinya bergetar dahsyat sehingga bergerak dengan sendirinya.
"PARA DEWA AKAN BERKERINGAT DINGIN!"
"HARI DIMANA PERANG AKBAR AKAN DI MULAI...!"
"PERANG YANG DAPAT MENEWASKAN SEPEREMPAT ATAU SELURUH POPULASI YANG TERDAPAT DI DALAM LAYER...!"
"PERANG YANG MELIBAT SEGALANYA...!"
Megumi dan Chloe berhasil menghentikan Korrina yang hampir saja kehilangan pikiran dan akal sehatnya karena dirinya yang tertekan secara keseluruhan karena ingatan Ragnarok itu.
Ingatan itu juga tercampur dengan kehilangan banyak hal di Touriverse sampai ia langsung terjatuh di atas lantai dengan ekspresi yang terlihat kesakitan karena kepalanya yang terasa berat.
"Ugh... pusing sekali..." Korrina menyentuh kepalanya sendiri lalu ia melihat Chloe menawarkan segelas bir yang langsung ia minum pelan-pelan.
Ruangan terdengar sangat sunyi, yang dapat mereka dengar hanyalah suara tegukan Korrina sampai tubuh mereka bergetar karena kekhawatiran dan ketakutan.
Getaran itu bertambah cepat sedikit demi sedikit sampai mereka bisa merasakan air keringat mengalir deras dari seluruh tubuh termasuk wajah sampai masuk ke dalam mata.
"... ..." Shira melihat semua orang yang berada di dalam ruangan.
Tidak ada satu pun sisi positif yang ia rasakan melainkan negatif karena ekspresi mereka terlihat sangat khawatir sehingga ia tidak bisa menerima yang dinamakan sebagai Endless Cycle.
"Shira... apakah kau percaya...?" Tanya Haruki.
"Apakah bukti sejauh ini bisa membuatku tidak percaya...?" Jawab Shira selagi melihat seisi ruangan beserta dirinya sendiri yang mulai menatap kedua tapak tangannya.
Kedua tapak tangannya terus bergetar secara refleks karena mendengar percakapan Korrina sampai buktinya juga terlihat begitu jelas dengan melihat mortal terkuat yaitu Kuro bersama guru yang selalu ia hormati Korrina.
Mereka semua terlihat sangat ketakutan dengan perang Ragnarok bahkan Shira juga sudah bisa membayangkan apa yang mereka rasakan ketika mengikuti Ragnarok.
Shira memberanikan diri dengan mengepalkan kedua tinjunya yang masih bergetar ketakutan, "Apakah ada cara untuk terlepas dari semua ini...?"
Shira langsung menanyakannya kepada Korrina yang duduk di atas jendela selagi menikmati rokoknya, "Bertahan dan bertarung... itu saja..."
"Kita bisa menyerang dia yang sudah mengatur semua ini seperti budak---"
"Kau akan terhapus... bahkan lebih buruk lagi dari penghapusan eksistensi, mereka yang melawan Zephyra akan hilang tanpa jejak apapun."
"Menyerah lah..."
"...ini adalah titik dimana kita bangsa Legenda menyerah dan menerimanya..."
"...tidak ada satu pun hal yang dapat kita lakukan selain..."
"...bertarung."
__ADS_1