
"Kau telah tertangkap basah, Sabrina..." Ucap Korrina selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat serius, Sabrina mulai berkeringat karena ia baru saja tertangkap basah dengan Korrina sendiri, seseorang yang sangat Sabrina benci karena ia jauh lebih hebat dan cerdas dibanding dirinya. Rencana untuk menyingkirkan Korrina berjalan gagal di akhir karena ia baru saja tertipu oleh ilusi Korrina yang baru saja menyamar menjadi Morgan, walaupun begitu Sabrina masih belum menyerah, "Hah... Memangnya kau punya bukti apa lagi, Korrina? Aku tidak melanggar peraturan apapun, seharusnya kau yang disalahkan karena sudah membunuh banyak sekali peserta di kelas empat dan memperkosa peserta di kelas empat." Sabrina mulai menatap Korrina yang sedang tersenyum mengerikan bagi Sabrina.
Senyuman itu membuatnya terkejut karena ia bisa merasakan aura pembunuh di dalam dirinya, "Masih tidak mau mengaku...? Baiklah, aku tidak peduli karena kau dan Katrina sudah pasti akan dikeluarkan dari akademi ini... Aku juga akan memberitahu ibu tentang semua keributan yang kau perbuat terhadapku, kakak. Kau telah mencemar nama baik dari keluarga Comi!" Ucap Korrina, Sabrina mencoba untuk melawannya dengan menyerangnya, tetapi Sabrina tidak bisa bergerak dan bahkan mengeluarkan sihirnya sedikitpun. Ia menoleh kepada Katrina yang mulai tertawa terbahak-bahak, "Ahaha... Hahahahaha!"
Katrina mulai berubah wujud menjadi Agfi, "Sebenarnya kau ini siapa...? Bukannya kau ini adalah kakak dari Mama-ku, itu artinya kau memiliki sihir ilusi dan kecerdasan yang melampauinya, tetapi sepertinya hal itu memanglah salah. Kau kalah karena rasa cemburu dan iri terhadap Mama." Agfi mulai menghampiri Korrina dan berdiri di sebelah selagi menatap Sabrina yang terlihat sangat terkejut karena Katrina yang menghubunginya tadi adalah sebuah jebakan yang Agfi buat agar Sabrina bisa mendatangi ruangan kepala akademi jadi ia bisa tertangkap oleh Korrina.
"Jadi... Katrina yang melakukan telepati denganku adalah kau...?" Tanya Sabrina selagi menatap Agfi dengan tatapan yang terlihat kesal, "Ya. Sepertinya kau tertipu dengan mudah oleh trik murahan seperti itu, karena kau disini... Alasan apalagi yang akan kau buat?" Tanya Agfi selagi menyilangkan kedua lengannya. Sabrina mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat kesal karena ia benar-benar ditipu balik oleh Korrina dan anaknya, "Sebenarnya rencanamu itu apa, kakak? Mencoba untuk menyingkirkanku itu adalah tindakan yang sangat tidak sopan. Ibu pasti akan menghukum-mu jika dia mendengar masalah ini." Ucap Korrina.
"Kami sudah mengetahui rencanamu dari awal, Sabrina. Mulai dari Akina yang curiga bahwa ia melihat banyak sekali Mama, termasuk dengan insiden pembunuhan yang palsu karena ilusi belaka dirimu dan Katrina. Haruki menjelaskan semuanya dan ia bisa melihat itu nyata atau ilusi menggunakan nalar-nya, Mama sudah mengetahuinya sejak awal karena ia menggunakan ilusi klon-nya untuk mengintai kalian semua. Ternyata ia mendapatkan banyak informasi dimulai dari pertarungan Haruki melawan Mama palsu dan Catherine melawan Mama palsu juga." Ucap Agfi, ia mulai berjalan menghampiri Sabrina dan berhenti di belakangnya.
Sabrina membulatkan kedua matanya dan membuka mulutnya sedikit karena Korrina selama ini mengintai mereka dan ia tidak menyadarinya, lantas karena keberadaan Korrina ia sembunyikan menggunakan ilusi yang jauh lebih kuat dari pengetahuan milik Sabrina dan Katrina, "Morgan yang berbicara dengan Katrina itu sebenarnya adalah aku yang sedang menyamar. Sepertinya ia percaya bahwa Morgan dan pemandu lainnya akan pergi, jadi ia mulai membuat beberapa masalah yang lebih besar lagi untuk menyalahkanku dan mengeluarkanku." Ucap Korrina.
"Rencana kalian tentang Katrina yang menyamar menjadi Mama hampir saja membuat kami terkecoh karena Katrina baru saja tertusuk mati oleh Akina dan untungnya ia menggunakan sihir pengembalian waktu selama sepuluh menit. Akina dan Katrina yang menyamar menjadiku berhasil membunuh peserta dari kelas empat yang bernama Irusion Sione, dan itu juga hampir membuat kami terkecoh juga, tetapi Katrina masih tetap saja hampir membunuh Akina. Hal itu sudah pelanggar besar yang Katrina buat karena... Peraturan mengatakan tentang pembunuhan akan dimaafkan jika seseorang yang membunuhnya tidak memulai duluan melainkan musuhnya yang memulainya dan menyebabkan konflik yang tidak bisa dimaklumi. Tindakan seperti itu, peserta dari akademi ini bebas melakukan apa yang mereka mau terhadapnya." Ucap Agfi yang mulai menoleh ke arah Katrina yang sedang menatapnya,
"Untung saja Ophilia dan Mirai datang untuk menyelamatkan Akina, di saat seperti itulah kami semua merasa senang bahwa Katrina... Sudah pasti akan kalah oleh Mirai dan Ophilia karena Katrina kelelahan dan kekurangan Lenergy-nya berkat menggunakan ilusi yang berlebihan. Kami terus mengawasi sampai titik ini. Yuuna yang menyamar menjadi diriku dan Mira yang menyamar menjadi Rexa, aku dan Mama merasa janggal dan bingung di bagian seperti itu. Aku kira mereka berdua adalah rekan kau karena kau pasti sudah tahu bahwa Shira mengawasi kalian sejak awal, sepertinya Yuuna benar-benar merasa kesal dengan kelasnya yang licik itu, tetapi Mira... Sepertinya dia adalah adik dari Sione yang bernama Shion, dia saat itulah kami sudah tahu bahwa kau pasti memperintah-nya." Ucap Agfi sehingga membuat Sabrina berkeringat, "Bukti tentang Shion...? Kami melihat Shion mengawasi pertarungan antara Sione melawan Akina dan Katrina, seketika Sione mati... Shion merasa kesal lalu ia melapor kepadamu dengan sihir telepati bukan? Sihir telepati dapat Mama deteksi dengan ilusi klon-nya karena ia bisa membaca pikiran dan ungkapan di dalam hati seseorang, apakah kau mengingatnya?" Tanya Agfi.
"Sepertinya iblis yang bernama Oni Majiru itu telah terkalahkan oleh Shira sendiri, itu tidak melanggar aturan karena Majiru akan menghabisi dua nyawa walaupun Mira itu Shion... Aku yakin rencana yang sama seperti Sione menusuk perut Akina dan membunuh Katrina akan terjadi. Walaupun begitu, Shiira lengah oleh Shion sehingga perutnya tertusuk dengan pedangnya. Apakah bukti itu tidak cukup?" Tanya Agfi.
"Kau tahu...? Mulutmu... Singamu kata mereka, mortal dan dewa memiliki mulut yang sangat kuat sehingga mereka bisa mengatakan apapun yang mereka inginkan dimulai dari kebenaran atau kebohongan---" Sabrina menatap Korrina yang sedang memegang sebuah kubus biru, "Aku punya bukti video dan gambar karena ilusi dari klon-ku merekaman dan mengambil gambar tentang semuanya." kubus biru itu mulai berputar sehingga menciptakan hologram yang menunjukkan Katrina dan Sabrina yang mulai membuat masalah di dalam tubuh Korrina, termasuk dengan pertarungan yang telah mereka perbuat.
Hal itu membuat Sabrina membulatkan kedua matanya sehingga ia tidak bisa mengatakan apapun lagi dari mulutnya, "Tidak ada cara lain untuk menyelamatkan Karina dan dirimu, kakak. Semuanya telah terlanjur dan aku yakin Morgan sendiri tidak akan memaafkan semua perbuatan yang kalian lakukan. Kematian Sione dan Majiru? Morgan mendapatkan informasi tentang mereka bahwa mereka telah membunuh banyak sekali nyawa yang tidak berdosa."
"Kalau begitu kenapa Morgan mendaftarkan kami semua? Bahkan seseorang yang pernah berbuat jahat atau kriminalpun ada!"
"Morgan menguji kita semua... Menguji semua petarung yang layak walaupun mereka memiliki julukan atau informasi buruk, kita semua dikumpulkan agar seseorang mampu memberi hukuman berat terhadap perbuatan jahat yang pernah kita lakukan. Sepertinya kematian dari Sione dan Majiru itu tidak akan merugikan siapapun melainkan keuntungan bagi Morgan sendiri karena ia dari awal sudah khawatir bahwa akademi ini akan berjalan tidak lancar." Korrina memejamkan kedua matanya dan Sabrina masih belum ingin mengaku kalah, "T-Tunggu sebentar, aku akan..." Korrina mendeteksi Sabrina yang mencoba untuk menggunakan ilusi.
Korrina mulai menunjuk Sabrina, "Crimson Break!" Telapak tangan kanan Korrina bersinar merah darah sehingga ilusi yang Sabrina coba keluarkan langsung hancur, "Kau memiliki keberanian yang melampaui batas karena sudah menggunakan ilusi untuk menipu Mama dan mencoba untuk menggunakan ilusi di depannya walaupun dia memiliki sihir kuno warisan Papa yang bernama Crimson, sihir yang mampu merusak ilusi juga." Ucap Agfi, Sabrina menghampiri Korrina dengan tatapan yang terlihat kesal lalu ia mencoba untuk menyerang Korrina, tetapi Korrina hanya bisa diam.
"Kau!!!" Sabrina mulai memegang kerah baju Korrina dan setelah itu ia menatap wajah Korrina dengan tatapan yang terlihat kesal, "Mencoba untuk melawanku...? Apakah kau membutuhkan bukti bahwa Morgan dan pemandu lainnya bekerja sama denganku." Korrina menjentikkan jarinya sehingga ilusi ruangan-nya hancur, Morgan dan beberapa pemandu lainnya mulai mengepung Sabrina dari segala arah. Setelah melihat itu Sabrina sadar bahwa Korrina juga menggunakan ilusi ruangan untuk menyembunyikan Morgan dan pemandu lainnya untuk membuat Sabrina dan Katrina yakin bahwa Morgan dan pemandu lainnya telah pergi meninggalkan akademi jadi mereka dengan bebas bisa melakukan apapun yang mereka mau.
Sabrina sudah tidak bisa membuat alasan apapun termasuk pergerakan apapun, Shion dan Katrina saat ini juga dikepung oleh beberapa pemandu dan peserta dari kelas tiga, semua rencana ini sudah Korrina rancang seketika ia sadar bahwa Akina mengatakan sesuatu yang aneh, "Kau sudah kalah, Sabrina." Korrina langsung memegang kerah baju Sabrina dan Sabrina mulai menatap kedua mata Korrina yang berubah menjadi warna merah darah, "Crimson Nightmare!" Sabrina langsung menatap kedua mata itu sehingga ia mulai teriak ketakutan, "AHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!" Korrina melepasnya sehingga Sabrina berlutut di depannya selagi teriak ketakutan karena penglihatannya memperlihatkan sebuah ketakutan dan kesakitan.
"Dulu aku menghormatimu, kakak... Kau membuatku kuat seperti ini, tetapi sepertinya kau akan dikeluarkan." Ucap Korrina, Morgan menghampiri Sabrina dengan sangat sebuah dokumen dirinya yang sudah dicap dengan tulisan DIKELUARKAN, "Dengan ini... Majiru, Sione, Sabrina, Katrina, dan Shion akan dikeluarkan dari akademi ini." Ucap Morgan.
***
Ketika matahari terbit di timur, semua peserta telah berkumpul di aula karena Morgan baru saja memanggil mereka, semua peserta termasuk dengan murid-murid di akademi itu berkumpul di satu tempat. Morgan mengumumkan bahwa Sione, Majiru, Katrina, Sabrina, dan Shion telah resmi dikeluarkan dari akademi ini, mereka semua dibawa pulang oleh beberapa pemandu dan mereka tidak bisa menyerang karena Korrina menyegel sihir dan kekuatan mereka untuk sementara.
Disaat itulah, masalah akademi pertama Shira telah berakhir dan ia merasa lega bahwa semuanya telah berakhir, sihir ilusi bisa disebut sebagai sesuatu yang sangat Shira benci karena ia tidak tahan untuk melihat apa itu yang nyata dan apa itu yang ilusi, Shira sudah berusaha keras untuk tidak mengingat masalah kemarin dan sihir ilusi itu, ia berjanji bahwa suatu saat ia akan menemukan sesuatu yang dapat menghancurkan ilusi dengan menggunakan kekuatannya sendiri.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Korrina menyuruh Shira untuk datang ke kamar-nya karena ia ingin memberi Shira sebuah hadiah karena sudah menang melawan seorang iblis yang memiliki marga Oni, dia mengalahkannya menggunakan sihir Enchantment Testament Light juga dan hal itu sudah tentu pasti akan membuat Korrina terkesan, Shira berhenti di depan pintu kamar Korrina lalu ia mulai mengetuk pintu-nya, "Permisi---"
BWOOOSSHHH!!!
Shira langsung menunjukkan ekspresi poker face ketika ia baru saja di transfer ke ilusi ruangan milik Korrina, ia bisa tahu karena ia hampir melihatnya beberapa kali di masalah tentang Sabrina dan Katrina, "Hahhh...." Shira menghela nafasnya lalu ia menatap Korrina yang sedang berdiri di depannya selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat seperti mengejek, "Hahaha, maafkan aku karena sudah menggunakan ilusi lagi di depanmu, Shira." Ucap Korrina.
"Tak apa." Jawab Shira singkat, Korrina menatap lengan kiri Shira yang terlihat seperti tidak bisa digerakkan, "Soal lengan kiri-mu itu... Apakah kau tidak bisa menggerakkannya karena kau menggunakan sihir Enchantment Testament Light ketika melawan Majiru?" Tanya Korrina dengan memiringkan kepalanya ke kiri, "Begitulah... Sepertinya tubuhku masih belum siap untuk menggunakan sihir itu, Korrina. Aku masih harus terus berjuang dan berusaha."
"Jika kau mengatakan itu maka kau sudah siap untuk menerima hadiah besar-ku, besar tetapi sulit untuk digunakan. Kau mengerti apa yang aku maksud~" Korrina mengedipkan mata kirinya sehingga membuat Shira menunjukkan ekspresi yang terlihat kebingungan, Korrina menjentikkan jarinya sehingga beberapa pedang mulai muncul disekitar mereka, Shira melihat sekeliling lalu ia bisa melihat sebanyak dua puluh empat pedang.
"P-Pedang... Tunggu..." Shira membulatkan kedua matanya ketika ia melihat pedang Excalibur, itu artinya semua pedang yang terkumpul di tempat itu adalah pedang legendaris, "Apakah semua ini nyata?" Tanya Shira.
"Aku pernah melihat semua pedang-pedang yang ada disini dan bahkan menemukannya saja pernah, aku tidak tertarik untuk membawanya melainkan aku hanya meniru-nya saja menggunakan sihir ilusi-ku yang bernama Illusion of Object's Reality." Shira menghela nafasnya berat dan menunjukkan ekspresi poker face-nya lagi, "Jadi semuanya ini palsu gitu...? Dasar ilusi."
"Jangan salah paham dulu, Shira. Semua ini adalah asli karena ilusi yang aku gunakan itu hanyalah contoh, aku menciptakan semua pedang ini dengan bahan-bahan yang dibutuhkan. Aku hanya menggunakan ilusi itu untuk menciptakan semua pedang-pedang legendaris ini. Aku sudah melakukannya sejak awal sih karena hobiku yang selalu menciptakan barang-barang legendaris, aku tidak tertarik untuk mencuri atau membawanya melainkan menciptakannya sendiri." Korrina terkekeh selagi menggaruk-garuk rambutnya.
"B-Begitu ya." Shira merasa cukup terkesan mendengarnya, "Jadi... semua pedang yang aku ciptakan ini memiliki cerita mereka masing-masing... Kebanyakan dari Yuutouri karena manusia selalu saja membuat sejarah yang terdengar menarik sih, mereka bahkan bisa menciptakan sesuatu yang mitos dan mitologi." Korrina terkekeh.
"Baiklah, kita mulai dari pedang ini." Korrina menarik sebuah pedang yang berada di belakangnya lalu ia mulai menciptakan sebuah kotak panjang yang memiliki lambang cahaya, "Aku akan menciptakan sebuah pedang kuat khusus untukmu. Pedang itu tidak akan bisa diangkat dengan mudah bahkan digunakan semau-mu... Pedang itu membutuhkan usaha dan kerja keras yang besar untuk bisa menggunakannya dan menjadikannya milikmu." Ucap Korrina.
"Pedang Harpē, Pedang Harpē ini berasal dari mitologi Yunani di mana Cronus, putra Uranus, menggunakannya untuk mengebiri ayahnya. Pedang dikenali oleh sabit melengkung yang menonjol di dekat ujung pisau. Perseus juga menggunakan harpa untuk memenggal Medusa." Ucap Korrina, Shira tidak mengenal banyak tentang mitologi apapun itu jadi dia hanya ingin mendengarnya saja karena ia juga menyukai cerita sejarah, ia duduk sila di depan Korrina selagi mendengarkan penjelasan Korrina.
Korrina menarik pedang yang ketiga, "Carnwennan... Legenda dari raja Arthur dalam dongeng Yuutouri, tetapi jarang tempat raja Arthur dipertimbangkan dalam dongeng yang pernah manusia ciptakan. Di dalamnya, Raja Arthur memegang senjata ajaib bernama Carnwennan, belati yang terkenal untuk membuat tuannya menjadi sebuah bayangan. Arthur menggunakannya untuk mengiris penyihir Orddu menjadi dua. Legenda ini mendaftarkan dua benda lain yang diberikan kepada Arthur oleh para dewa di mulai dari tombak Rhongomiant dan pedang Excalibur." Korrina memasukkan pedang itu ke dalam kotak.
Korrina menarik pedang keempat lalu ia tersenyum, "Semua mortal atau ras pasti mengenal pedang legendaris yang bernama Excalibur ini, hahaha... Senjata Raja Arthur yang sangat terkenal, Excalibur, sering dikaitkan dengan Pedang Batu, pedang yang bersarang di batu besar yang hanya bisa ditarik oleh raja Inggris yang sebenarnya. Pedang Excalibur memiliki kekuatan untuk membutakan musuh-musuhnya dan sarungnya dapat mencegah pemakainya berdarah yang disebabkan oleh luka yang ditimbulkan dalam pertempuran." Korrina memasukkan Excalibur ke dalam kotak itu lalu ia menarik pedang kelima.
"Pedang Attila... Prajurit bar-bar yang legendaris bernama Attila, Legenda mengatakan ia diberi senjata oleh para dewa sendiri. Pedang Attila digunakan oleh komandan militer besar dalam pertempuran dan sebagai simbol bantuan ilahi. Sebuah pedang yang diklaim sebagai senjata legendaris disimpan di museum yang terletak di semesta Yuutouri tapi entah itu dimana, meskipun pedang ini tampaknya telah dibuat setidaknya setengah milenium setelah Attila meninggal." Korrina memasukkan pedang itu ke dalam kotak sehingga kotak itu mulai bersinar cerah dan melayang di depannya, kotak itu mulai menggabungkan semua pedang yang Korrina masukan, "Nama kotak ini adalah Mystical's Reborn. Dimana aku bisa menggabungkan senjata apapun sesuka hatiku, aku menciptakan kotak ini juga sih, ahaha." Korrina terkekeh.
Shira sudah dikejutkan oleh banyak sekali pedang legendaris dan sekarang kotak yang menggabungkan semua pedang legendaris itu menjadi satu, H-Hebat..."
Korrina menarik pedang keenam, "Varunastra... Diciptakan oleh Varuna, dewa air dan lautan, Varunastra adalah senjata mitologi yang dapat mengambil bentuk apa pun. Terbuat dari air, senjata serba guna itu dikatakan untuk langsung membunuh prajurit yang tidak berpengalaman yang menggunakannya secara salah." Korrina memasukkan senjata itu lalu ia menarik pedang yang ketujuh, "Pedang Joan of Arc... Saint Joan of Arc memiliki banyak penglihatan dari orang-orang kudus dan dari Michael the Archangel, salah satunya mengatakan kepadanya untuk menemukan pedang suci di belakang altar Gereja Saint Catherine dari Fierbois. Setelah menemukannya, karat dengan mudah terhapus dari pedang dan lima salib terungkap. Saint Joan kemudian menggunakan pedang dalam pertempuran, meskipun diperdebatkan apakah dia benar-benar membunuh seseorang." Korrina memasukkan pedang itu lalu ia menarik pedang yang kedelapan.
Semua pedang yang ia ciptakan ini pernah ia lihat dan semua dongeng itu bisa saja mitos karena manusia yang cerdas dalam menciptakan kebohongan, tetapi Korrina pernah melihat di semesta Yuutouri di berbagai gua dan beberapa pedang juga sudah digunakan oleh beberapa manusia yang memiliki zirah suci, "Fragarach... Pedang Celtic, Fragarach, dikatakan ditempa oleh para dewa sendiri dan digunakan oleh Manannán mac Lir, penjaga dunia Lain dan pilot perahu yang membawa jiwa-jiwa ke alam baka. Pedang itu terkenal untuk memotong baju besi apa pun, memberikan kendali kepada pengguna angin, dan memaksa kebenaran keluar dari tenggorokan siapa pun itu." Korrina memasukkan pedang itu lalu ia menarik pedang yang kesembilan.
"Taming sari... Legenda mengatakan bahwa Taming Sari memberikan kekebalan kepada siapa pun yang menggunakannya. Keris atau belati asimetris dan bergelombang ini berperan besar dalam mitologi Yuutouri, sering dikaitkan dengan laksamana Hang Tuah. Legenda lebih lanjut mengklaim bahwa pedang itu dapat secara independen menembak keluar dari sarungnya untuk melindungi pengguna." Korrina memasukkan pedang itu lalu ia mengambil pedang lainnya, "Ternyata masih banyak. Baiklah, aku akan mempercepatnya."
"Muramasa... Pembuat pedang legendaris Muramasa Sengo adalah pembuat pedang populer di Yuutouri. Pada saat itu, itu adalah kepercayaan umum bahwa bilah menerima kualitas dari pemalsu mereka. Karena dia adalah orang yang gila dan kejam, pedang yang dibuat oleh Muramasa Sengo diilhami dengan kualitas kekerasan, terutama kemampuan untuk memiliki pemegang mereka dan mengubahnya menjadi prajurit yang mematikan. Setelah raja dan kakek shogun terbunuh oleh pedang, mereka dilarang." Korrina mulai menunjukkan rautan wajah yang terlihat kesal sehingga ia mulai memasukkan semua senjata legendaris itu, "L-Loh, ada apa, Korrina?" Tanya Shira.
"Aku tidak mengingat semuanya lah... Dan aku sadar bahwa semua ini menghabiskan waktu kita saja, "Green Dragon Crescent Blade... Flaming Sword... Mjölnir... Pasha... Gan jiang dan Mo ye... Joyeuse... Durendal... Caladbolg... Shamshir-e Zomorrodnegār... Heaven's Will... Sharur... Tizona... Ruyi jingu bang... Sword of damocles... Pashupatastra..." Korrina mulai memasukkan seluruh senjata itu ke dalam kotak tersebut sehingga ia mulai memunculkan senjata mitologi lainnya dan itu membuat Shira terkejut karena sepertinya semua ini akan berjalan dengan sangat lama, "Balmung... Colada... Gungnir... Gleipnir... Skofnug... Dainslief... Angurvadal... Skidbaldnir... Hofund... Gae bulg... Arondight... Galatine... Clarent... Rhongomiant... Gae derg..."
__ADS_1
"Aku akan memasukkan semua senjata mitologi ke dalam kotak itu dan menggabungkan menjadi satu senjata... Senjata apa yang kau mau, Shira?" Tanya Korrina.
"Pedang, pedang saja cukup." Ucap Shira.
Korrina mengangguk lalu ia memasukkan semua senjata mitologi yang ada di dunia asli, Shira bisa mengenal beberapa sejarah mitologi di dunia asli ternyata semua mitologi itu bisa saja kenyataan di dunia Touri ini termasuk dengan Yggdrasil yang terletak di Xuutouri dan beberapa senjata mitologi di Yuutouri. Semua semesta itu besar jadi Shira mulai berpikir bahwa ia harus terus bertambah kuat, "Apakah kau siap?" Tanya Korrina.
Shira mengangguk, "Ya!"
"REBORN!!!" Korrina langsung menunjuk kotak itu sehingga kotak itu berputar 360 derajat dengan sangat cepat sehingga bersinar cerah, "O-Oi!!! K-Korrina...!!! Ini terlalu berlebihan...!" Shira dan Korrina sendiri bahkan merasakan kekuatan dan tekanan dahsyat yang dikeluarkan dari kotak itu, "Hentikan...! Hentikan...!!! Menggabungkan SEMUANYA menjadi satu itu berba---"
BAAAMMMMMMMMMMMMMM!!!!
Kotak itu hancur dan mampu membuat ruangan ilusi Korrina retak dan itu sangatlah langka, jika ilusi ruangan Korrina retak karena sesuatu hal maka itu bukanlah pertandaan yang baik, Shira terpental ke belakang sedangkan Korrina masih berdiri dengan barrier sacred di sekitar tubuhnya, "... ..." Korrina bergerak ke depan lalu ia melihat sebuah pedang emas dengan sarung emas, orange, dan kuning di sekitarnya. Korrina juga bisa melihat lambang cahaya atau Saint Light, Mystical's Reborn adalah kotak yang mampu menggabungkan semua senjata menjadi satu dan membuat senjata itu menjadi kepemilikan seseorang, karena Korrina sudah menggambar lambang Saint Light, jadi pedang yang ada di depannya itu hanya bisa digunakan oleh Shira sendiri jika ia kuat.
Pedang itu jatuh menuju arah Korrina dan Korrina menangkapnya, "Ahh...!" Korrina merasakan beban yang sangat berat di pedang tersebut, ia masih bisa mengangkatnya sepertinya tetapi ia mulai berpikir jika ia memegang gagang pedang itu maka sesuatu yang buruk bisa saja terjadi, "Ciptaan yang hebat... Apakah aku menciptakan kesempurnaan...?" Tanya Korrina kepada dirinya sendiri selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat terkesan dengan matanya yang berbinar-binar.
Shira bangkit dari atas lantai lalu ia menepuk-nepuk bajunya, "Ledakan tadi berbahaya sekali... Aku kira aku akan mati." Shira menghela nafasnya sehingga ia sadar bahwa seluruh tubuhnya terlindungi dengan aura Korrina, "Shira, sini." Suruh Korrina.
Shira mengangguk lalu ia menghampiri Korrina yang sedang memegang sebuah pedang yang bercahaya dan memiliki aura emas, Shira juga bisa melihat beberapa partikel emas yang mulai keluar dari sarung tangan itu, "Wahh... Menakjubkan..." Shira bisa merasakan kekuatan besar di pedang itu dan hal itu membuatnya keringat, bayangkan saja semua senjata mitologi yang ada di dunia nyata digabungkan menjadi satu senjata yaitu pedang.
"Pedang ini sudah menjadi kepemilikan dirimu, Shira. Aku sarankan untuk bersiap-siap berlatih dalam menggunakan pedang yang belum bisa diketahui oleh banyak mortal atau dewa. Sepertinya para dewa-dewi akan marah melihat pedang ciptaan seorang mortal. Ini bisa saja disebut dengan melanggar peraturan keseimbangan Touri sendiri." Korrina tersenyum kecil dan ia tidak memperdulikan konsekuensi yang akan terjadi bila para dewa dan dewi melihat pedang itu, Shira memegang pedang itu sehingga ia bisa merasa pedang itu sangatlah besar, "Ahhh..." Shira hampir saja menjatuhkannya tetapi ia mulai memegangnya menggunakan kedua tangannya.
"Berat..." Shira mulai berkeringat lalu ia menatap pedang itu, ia mencoba untuk memegang gagang pedang itu yang berwarna emas seperti cahaya, tetapi Korrina menghentikannya dengan menyentuh dada-nya, "Whoa... Tahan dulu, kau harus benar-benar siap dan bertanggung jawab dalam menerima hadiah besar ini, Shira." Ucap Korrina.
"Dengan pedang yang sangat kuat ini... Tanggung jawab yang besar dibutuhkan. Dengan kekuatan yang besar datanglah tanggung jawab yang besar juga. Bersiaplah, Shira...." Ucap Korrina selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat serius, Shira mulai diam lalu ia mengangguk dan menunjukkan ekspresi yang terlihat serius, "Baiklah."
"Sebelum itu, pedang itu tidak memiliki nama... Nama apa yang akan kau berikan kepada pedang itu?" Tanya Korrina.
"Luz Legendaria." Jawab Shira, ia mulai melepas perban di mata kiri dan lengan kirinya sehingga ia langsung menggunakan sihir Enchantment Testament Light, "Fuuhhh..." Shira menghela nafasnya pelan lalu ia mulai memegang sarung pedang itu menggunakan tangan kanannya dan memegang gagang pedang itu menggunakan tangan kirinya, "... ..." Lengan kiri Shira mulai bersinar cerah serta pedang dan sarung itu.
ZWOOOSSSHHH!!!
"ARRRRGGGGGHHHHHHHH!!!" Teriak Shira kesakitan sehingga ia berlutut di depan Korrina selagi merasakan sakitnya ketika memegang gagang dari pedang tersebut, lengan kiri Shira mulai terbakar oleh cahaya serta ia mendapatkan beberapa radiasi juga, "UGGGHHH...!!!" Shira mencoba untuk melepas sarung pedang itu menggunakan tangan kanannya. "Ahhh... Haahhhh.... Arrrggggghhhhhhh....!!!" Shira mulai berkeringat sehingga kedua matanya mulai bersinar cerah, Shira menahan semua kesakitan itu agar ia bisa memegang pedang tersebut, Korrina membulatkan kedua matanya ketika ia melihat pedang yang Shira pegang itu ternyata berbahaya bagi penggunanya sendiri.
"ARRRRRRGGGGHHHH!! GRRRGGHHHH... HAAAAAAHHHHH..." Shira mulai teriak kesakitan sehingga baju-nya mulai terbakar dan Korrina bisa melihat beberapa luka bakar di tubuh Shira, "Hentikan, Shira...!!! Lepas pedang itu!!!" Teriak Korrina yang mencoba untuk membantu, tetapi tidak bisa karena ia terdorong ke belakang oleh dorongan yang dilepaskan dari pedang itu, "A-Apa ini...?! Ini berbahaya...! Apa yang telah aku perbuat!?"
"Aku... Aku baik-baik saja... Hahhh... Hahhhh..." Shira mengangguk pelan, ia masih menahan rasa kesakitan dari pedang itu, "ARRRRRRRRRGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHH!!!" Teriak Shira keras sehingga ia mulai mengangkat pedangnya ke atas langit dan pedang itu mulai bersinar dengan sangat cerah dan mengeluarkan suara laser, Korrina menghalang kedua matanya karena sinar dari pedang itu sangat cerah bahkan lebih cerah dari matahari.
"HAAAAARRRRRGGGGGGHHHHHHHH!!!" Shira mengayunkan pedangnya secara vertikal ke depan sehingga pedang itu langsung meluncurkan gelombang tebasan cahaya yang besar sehingga membuat ilusi ruangan Korrina hancur, "... ..." Shira melepas pedang itu lalu ia jatuh pingsan dengan kondisi yang terluka parah, Korrina dengan cepat langsung melindungi pedang itu menggunakan barrier-nya dan setelah itu ia mulai menyembuhkan seluruh tubuh Shira yang dipenuhi dengan luka.
__ADS_1
"Apakah Shira sudah bisa disebut dengan siap untuk menggunakan pedang Luz Legendaria...? Tidak... Aku yakin dia masih membutuhkan beberapa latihan keras dan usaha untuk bisa menggunakannya." Ucap Korrina selagi menatap pedang Luz Legendaria yang bersinar-sinar.