Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 501 - Versi Kecilnya


__ADS_3

"Hah... Hah... Hah..." Shuan merasa begitu kelelahan karena melepaskan beberapa neutron kecil yang menguras seluruh tenaganya sangat drastis.


"Masalah ini... tidak perlu... diserahkan kepada orang tua..." Kekuatan Shuan menghilang seketika sehingga ia terjatuh menuju daratan selagi mencoba meminta tolong kepada seseorang untuk menangkap dirinya.


"Shuan... Dia mati...?" Tanya Shou yang tidak mempercayai versi aslinya berhasil mengalahkan Oskadon dengan satu serangan dari Shining Hope.


Semua orang saking terkejutnya sampai lupa untuk menyelamatkan Shuan yang terjatuh seperti meteor menuju daratan, tidak ada yang menyelamatkan sehingga tubuhnya merasakan keram seketika mendarat secara kasar.


"Be-Begitu saja...? Kedua iblis itu sudah mati...?" Asriel tidak bisa berkata-kata lagi, harapan memang akan selalu berada tidak jauh dari mereka.


"Semudah itu...? Apakah ini benar-benar potensi penuh dari cahaya alam dan tata Surya mereka?" Ungkap Rokuro, ia mencoba untuk melihat Shou dan Methode yang terlihat kecewa karena tidak mendapatkan bagian untuk bertarung.


Minami menghampiri Shuan, membantu dirinya bangkit dan memulihkan tubuhnya dengan proses yang begitu pelan karena ia sendiri juga kelelahan.


"Bagaimana, adik kecil? Kau telah mencegah masalah yang bisa saja membesar jika di biarkan... Apa yang kamu rasakan sekarang?" Tanya Minami.


"Shuan?" Minami melihat Shuan yang terlihat sangat lelah sampai ia tidak mendengar apa yang Minami coba bicarakan, tubuhnya mengalami banyak tekanan karena latihan dan pertarungan tadi.


"Jika seseorang di sana... Tubuhku tiba-tiba terasa keram dan lumpuh... tidak bisa di gerakan sama sekali..." Ucap Shuan dengan tatapan yang terlihat lelah.


Minami sekarang mengerti kenapa Shuan mengalami kelumpuhan sementara, batasan yang sudah ia hancurkan berkali-kali sekarang di ganti dengan hasil risiko ketika ia selesai latihan di lanjutkan dengan pertarungan besar.


Untuk sementara, Shuan membutuhkan istirahat yang begitu panjang dan kebetulan, mereka masih memiliki 5 hari untuk beristirahat dan akademi permohonan telah hancur karena konflik sebelumnya.


"Aku tidak bisa bergerak... mendengar... atau lihat... Mungkin membutuhkan beberapa sihir pemulihan untuk memperbaikinya."


"Dan tambahan... Aku ingin menggunakan toilet secepatnya..."


Minami tersenyum lalu mengangkat tubuh Shuan, mencoba untuk membawa dirinya pergi menuju Haruka atau Honoka yang mungkin bisa memperbaiki dirinya.


"Baiklah, mari kita sembuhkan dirimu, adik kecil. Usaha dan hasilmu benar-benar membuat diriku bangga, tidak ada duanya lagi." Minami memberi adiknya sebuah kecupan di kening lalu bergerak mendekati Honoka dan Haruka.


"Apakah itu kamu Ibu? Tanganmu lembut sekali..." Shuan memejamkan kedua matanya.


Melihat kondisi kota permohonan yang sudah hancur berantakan, seperti turnamen tidak akan bisa dilanjutkan begitu saja.


Awalnya Rokuro menantikan pertarungan besar di turnamen tetapi semuanya sudah terlambat karena serangan kedua iblis brengsek itu.


"Kota permohonan telah hancur sekarang... Apa yang harus kita lakukan? Pulang?" Tanya Bakuzen.


Semua murid yang telah terinfeksi mengalami pemulihan berkat bantuan Honoka yang membalikkan efeknya menggunakan [Counter-Reality], ia merasa seperti alat ketika Morgan meminta dirinya untuk menyelamatkan mereka semua.


"Sepertinya masih akan terus berlanjut... Kita memiliki Haruka dan Honoka bukan?" Tanya Asriel selagi menunjuk Honoka yang mondar-mandir, mencoba untuk memperbaiki sesuatu.


"Hahhhh... Kadang aku benci memiliki sihir menyusahkan ini, membutuhkan fokus tinggi dan tenaga besar untuk melakukannya." Honoka menghela nafasnya selagi menyembuhkan beberapa murid.


Morgan mulai berbicara kepada seluruh murid soal masalah yang baru saja terjadi, selanjutnya mereka semua akan berhati-hati dalam menjaga kota permohonan itu.


Untuk sekarang, Morgan tidak membubarkan seluruh murid karena berkat bantuan Honoka, turnamen dan akademi permohonan masih bisa dilanjutkan dengan aman sekarang karena ia akan memperketat keamanan dengan bantuan dari Kou dan Haruka.


"Apakah kamu benar-benar serius, Haruka?" Tanya Morgan.

__ADS_1


"Ya... Dengan bantuan dari sistem dan teknologi yang Mamaku ciptakan, semuanya akan berjalan dengan aman... Kota ini dan turnamen yang akan datang." Ucap Honoka selagi memegang sebuah [Core] yang berbentuk kubus merah.


Haruka hanya perlu menyimpan Core itu di tempat yang tersembunyi, sisanya dapat di serahkan kepada kubus itu yang akan menyebarkan berbagai macam kabel dan teknologi sehingga menjadi kota permohonan itu dipenuhi dengan sistem yang canggih.


"Semuanya telah terpasang... Tech juga sudah siap untuk menjaga selama turnamen dan akademi selesai, tidak, poin bonusku kasih seumur hidup demi warga kota permohonan ini."


Haruka mulai melakukan beberapa setingan di kacamata Tech yang ia gunakan, Tech dengan senang hati akan menjaganya sampai tamat sehingga Haruka mulai menyerahkan sisanya kepadanya.


"Terima kasih, Haruka... Kebaikan dirimu memang mengingatkan diriku kepada sang ratu Touriverse." Morgan menundukkan kepalanya kepada Haruka.


"Tidak apa-apa, aku melakukannya demi keinginan diriku juga, walaupun hancur dan merasakan konflik yang lumayan sulit tadi..."


"...masih ada permohonan menunggu dan aku ingin mendapatkannya." Haruka menyilangkan kedua lengannya, melihat beberapa temannya mulai mendekatinya.


"Kota permohonan telah sepenuhnya hancur, apa yang harus kita lakukan sekarang...?" Tanya Mitsuki.


"I-Itu benar... Aku baru saja ingat semuanya hancur dan berantakan, turnamen tidak bisa berlanjut jika seperti ini." Morgan menundukkan kepalanya, merasa kecewa kepada dirinya sendiri dengan keamanan yang ia buat.


"Soal itu... Kita kan punya kuli bangunan." Haruka menatap Honoka yang kebetulan mendengar pembicaraan dari awal, ia langsung kesal dan muncul di hadapannya.


"Apa yang Kakak katakan?! Kuli bangunan...!? Aku bukan alat atau kuli bangunan lah... Aku tidak akan melakukannya." Honoka menatap arah lain dengan tatapan kesal.


"Hahaha, aku hanya bercanda. Kalau begitu, aku akan memberi dirimu apa yang kamu mau, Honoka." Haruka mengelus kepala Honoka.


"Hmmm... Apa ya... Bingung juga sih, ciuman Kakak!" Honoka tersenyum menggoda selagi menatap Haruka, membuat semua orang terkejut seketika.


"Heh?! Kamu bocah kah!?"


"Jika aku melakukannya maka semuanya akan terpengaruh..."


"Kalau begitu, Honoka. Aku akan memberi dirimu pir emas ini..." Minami baru saja datang bersama Shuan di pangkuannya.


"Golden Pear!? Terdengar menarik... Baiklah, akan aku lakukan... tetapi sebelum itu, kucing kecilku." Honoka mulai mendekati Minami sehingga ia tidak bisa menghindar karena terlalu lelah.


Honoka memberi Minami sebuah kecupan di pipinya, mengejutkan semua orang bahkan sampai membuat Hana membuka mulutnya dengan sangat lebar karena urat malu Honoka memang sudah putus sejak lama.


"Kerja yang bagus, tanpa penerus sang harapan dari Touriverse. Kita pasti akan merasakan kembali sejarah yang begitu gelap, sebenarnya kita masih belum siap..." Honoka menoleh kepada Kou yang sedang memasangkan beberapa perban kepada Shuan.


"...hanya menunggu sampai permohonan itu telah tergapai." Honoka mengepalkan kedua tinjunya lalu ia terbang ke atas langit, dengan satu tutupan mata, semua yang hancur telah kembali diperbaiki dengan cepat oleh Honoka.


Mereka semua awalnya tidak menyadarinya tetapi dengan satu kedipan mata, mereka melihat kota permohonan yang kali ini lebih mewah dan besar seperti mengalami peningkatan.


Honoka sengaja melakukannya karena ia sejujurnya tidak menyukai desain dari kota tersebut, ia mendarat di atas tanah selagi meregangkan kedua lengannya.


"Aku lelah sekarang..." Honoka menguap dan menangkap pir emas yang Minami lempar.


"Jawaban yang bagus, sekarang sembuhkan kami." Minami terkekeh.


"Apakah aku alat bagimu?"


"Tidak, kamu hanya sekedar teman."

__ADS_1


"Uck... Sekedar teman... Aku kira kita lebih spesial." Honoka mendekati Minami sehingga mereka berdua tertawa tidak jelas.


Morgan sekali lagi berterima kasih kepada Haruka secara berlebihan sampai guru lainnya datang untuk berterima kasih, Kou mulai mengagumi kedua kakaknya yang memang hebat dalam melakukan hal ini dan itu.


Tidak seperti dirinya, beban dalam hal ini dan itu sampai menyusahkan teman-temannya beberapa kali, apa yang dikatakan Korrina soal dirinya menjadi penerus hanya sebuah kesalahan sepertinya, ia merasa tidak pantas.


Haruka melihat Kou yang terlihat murung selagi menatap Shuan yang sedang mengalami proses pemulihan, ia sendiri sadar bahwa sebenarnya Kou berkomunikasi dengan dirinya dari dalam pikiran.


Soal turnamen itu seharusnya akan di undurkan jika Haruka dan Honoka tidak turun tangan tetapi Kou memaksa kedua kakaknya untuk memperbaikinya agar semua murid bisa berusaha keras kembali untuk mengikuti ujian.


Nila tambahan lainnya adalah mereka semua pasti akan merasa termotivasi dan berusaha lebih keras lagi karena serangan tadi terutama setelah melihat pertarungan Minami dan Shuan.


"Soal itu... Aku tidak melakukan banyak, aku hanya mengikuti apa yang adik kecilku katakan..." Haruka terkekeh selagi menatap Kou.


"Ahh...? Ahhh, Korrina versi kecil ini?" Morgan mendekati Kou selagi tertawa kecil karena Kou terlihat sama persis seperti ibunya walaupun memiliki figur kecil.


"Sekali lagi, saya sebagai pendiri turnamen permohonan berterima kasih sebanyak-banyaknya kepada dirimu...!" Morgan bersama seluruh guru lainnya mulai menundukkan kepalanya kepada Kou.


"Hehhh...?" Kou menunjuk dirinya sendiri dengan wajah yang tersipu karena ia belum pernah merasakan sesuatu seperti ini sebelumnya.


Kou menatap Haruka dan Honoka yang tersenyum kepada dirinya bahwa ia perlu belajar dan berkembang juga menjadi seorang penerus dari ratu Touriverse.


Kou hanya bisa tersenyum kecil dan mengangguk, ia melakukannya demi kebaikan semua orang juga sehingga Morgan bangkit lalu menepuk kedua bahunya.


"Biarkan kami membalas semua kebaikan itu dengan membiarkan kamu bersama seluruh temanmu langsung terdaftar di akademi..."


"...bagaimana?"


Kou mendapatkan banyak pilihan ketika Morgan berbicara seperti itu sehingga ia harus bersikap seperti orang dewasa, ia sudah memikirkannya sebelum Morgan mengatakannya.


Kou mencoba untuk mengumpulkan suara agar bisa berbicara dengan nada yang dapat di dengar oleh Morgan.


"Tidak perlu... Bapak tidak perlu memberikan kemudahan seperti itu kepada kami bangsa Legenda dan semua murid dengan pendaftaran itu."


"Bukannya tujuan Bapak di akademi permohonan, menginginkan sebuah potensi dan kemampuan yang dimiliki oleh semua murid? Lebih baik, kita lanjutkan saja selanjutnya..."


"Kali ini tanpa berkaitan tentang pembunuhan melainkan latih tanding sewajarnya, tidak perlu membalas kebaikan dengan kebaikan lagi..." Kou tersenyum kecil, membuat Morgan mengingat perkataan Korrina sejak itu.


"...kami bangsa Legenda tidak menginginkan jalan pintas atau kemudahan yang diberikan, kami berjuang dan berusaha sendiri untuk mendapatkan!"


Kou berbalik badan dan melirik ke belakang, ia tersenyum selagi memejamkan kedua matanya dan mengatakan...


"Itu adalah harga diri kami sebagaiĀ  bangsa Legenda." Kata Kou.


"Itu adalah harga diriku sebagai bangsa Legenda" Kata Korrina.


Morgan tercengang ketika melihat dan mendengar Kou, terlihat sama persis seperti ibunya sehingga ia bisa merasakan aura penerus yang kuat di dalam tubuh Kou.


"Ternyata memang benar... Darah Korrina mengalir penuh di dalam tubuhnya..."


"...Kou Comi, aku mengharapkan banyak darimu!"

__ADS_1


__ADS_2