Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 30 - Tantangan Pertama Shira dan Naoki


__ADS_3

Crimson Realm - Endless Basement


Setelah Alvin di siksa habis-habisan, ia masih bisa bertahan dan memiliki niat untuk tetap hidup walaupun dia sudah merasakan kesakitan yang tidak bisa dibayangkan lagi. Kesakitan itu bisa saja membunuhnya sebentar lagi, tetapi Alvin menolak untuk mati, ia terus memaksakan dirinya untuk tetap bertahan hidup.


"Uhuk...! Gughhhh!!! Guaagghhhh!!!" Alvin memuntahkan banyak sekali darah hitam melalui mulutnya lalu ia mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat gila karena otaknya saat ini sedang berada di kondisi stres, "Aku berakhir rendah seperti ini... Salah siapa, hah?! Ini semua gara-gara Mortal sialan itu...!!! Gadis pirang jalang ***** sialan...!!! Godaan setan...!!!"


"Karena kau sudah mengambil hatiku...!!! Sudah mengambil semuanya dariku...!!! Sedikit kekuatanku...!!! INI SEMUA GARA-GARA KAU...!!! ***** PIRANG SIALAN...!!! LIHAT APA YANG TERJADI KEPADAKU!!!" Alvin mulai menghantam wajahnya beberapa kali di lantai hingga darah mulai berjatuhan dari wajahnya, sepertinya ia telah kehilangan pikiran dan tujuan kenapa ia mencintai Korrina.


"AKU INI ADALAH DEWA CRIMSON...!!! BAGAIMANA BISA DIRIKU RAPUH DAN TERTIPU OLEH SEORANG MORTAL...?! TIDAK ADA YANG NAMANYA MORTAL CANTIK DAN SEMPURNA...!!! HANYA DEWA, HAHAHAHAHAHA!!!" Alvin tertawa keras dengan nada yang terdengar gila.


Beberapa penjaga datang dan menghampiri Alvin untuk melihat keadaannya, mereka semua terlihat terkejut bahwa Alvin bersikap seperti seorang dewa yang gila, "Hentikan perbu---"


Alvin menendang mereka semua menggunakan kedua kakinya hingga tendangan yang mengenai anggota tubuh mereka mampu membuat anggota tubuh mereka meledak seperti balon yang pecah, "Semua ini terasa membosankan... Aku tidak mau melakukannya..." Alvin menghancurkan seluruh tubuh mereka dengan satu injakan karena kedua kaki Alvin terlindungi dengan aura Crimson, "Siapa coba yang mau jatuh cinta dengan seorang mortal...? Kenapa aku berakhir jatuh cinta kepada mortal itu...?" Tanya Alvin yang mulai berjalan ke depan selagi memejamkan kedua matanya.


"Sudah cukup...! Aku sudah lelah tau mengurus kehidupan mortal...! Seseorang gantilah posisi-ku...!" Alvin terjatuh di depan dengan wajahnya yang mengenai lantai lagi hingga membuat lantai tersebut retak, "Pffftt... Aku mendapatkan ide bagus, bagaimana jika aku menghancurkan Crimson Realm ini dan itu mengartikan bahwa aku akan bebas...! Aku bisa saja membunuh mortal-mortal yang berurusan denganku itu!" Alvin tersenyum sinis.


"Lagipula... Aku ini adalah seorang dewa..." Alvin membalik posisi berbaring-nya, saat ini ia sedang menatap atap-atap yang merah, "Aku adalah Dewa...! Aku menghendaki apapun dan bisa melakukan apapun yang aku mau! Itulah tujuanku sebenarnya...! Bersikap egois dan melakukan apapun yang aku anggap menyenangkan...!" Alvin bangkit dari atas lantai lalu saku bajunya mulai menjatuhkan sebuah gambar merah, Alvin menyadari hal itu dan ia langsung mengambil gambar tersebut.


"Apa ini... Aku tidak bisa melihatnya.....!!!" Alvin mulai menggerakkan gambar itu hingga gambar tersebut mulai menunjukkan keluarganya mulai dari Korrina dan kelima anaknya, "... ...!" Alvin membulatkan kedua matanya lalu ia memegang erat gambar tersebut seperti tidak mau kehilangan gambar itu, ia mulai kembali dan akal gila-nya itu mulai terhapuskan ketika melihat wajah Korrina yang senang, sepertinya Alvin mendapatkan gambar itu dari Agfi yang baru saja mengunjunginya sebentar, "Kenapa...? Kenapa aku mengatakan semua perkataan buruk itu kepada Korrina...?" Tanya Alvin kepada dirinya sendiri.


"Kenapa aku harus merasa bersalah dan menyesal untuk mencintai seorang mortal...? Bukannya aku merasa tenang dan senang hidup seperti seorang mortal...?!" Alvin mulai menangis dan tangisan yang ia keluarkan adalah darah hitam, "Kenapa aku menangis...? Apa yang akan terjadi jika Korrina dan anak-anakku mendengarkan ucapanku tadi...? Mereka sudah jelas akan merasa sedih."


"Apa yang aku lakukan... Aku masih mencintai mortal yang bernama Korrina Comi itu... Dia mengubahku dan membawaku ke jalan mortal yang sebenarnya, ia mengajarkanku bahwa semua mortal itu tidak selalu sama."



Beberapa menit kemudian, semua peserta yang sedang berada di dalam kelas mereka masing-masing mulai mendapatkan tantangan karena kartu mereka tiba-tiba memperingati mereka dengan bunyi dan sinar merah yang melumuri kartu tersebut, "Ehh...? Sebuah tantangan...!" Shira mulai menyentuh kartu tersebut hingga kartu itu mulai menunjukkan tantangan Shira, beberapa peserta dari kelas tiga mulai meninggalkan kelas itu termasuk Megumi dan Korrina, sepertinya mereka pamit tanpa memberitahu Shira atau mungkin saja tantangan waktu mereka itu sangat padat.


"Tantangan ke satu... Kau bersama dengan peserta Naoki harus mengganti seprei kasur seekor naga yang memiliki tiga kepala, jangan sampai naga ini bangun dan mengamuk, jika itu terjadi maka kalian telah menggagalkan tantangan kalian. Naga ini tertidur di ruangan yang sangat berbahaya karena di sekitarnya terdapat bola magma ketika di sentuh maka bola tersebut akan meledak seperti bom waktu." Ucap Shira, Naoki menghampiri Shira lalu ia mulai menepuk punggung kanan-nya, "Whoa...!" Shira melirik ke belakang lalu ia mundur beberapa langkah.


"Jangan takut, aku tidak akan melukaimu, Shira. Sepertinya kita memiliki tantangan kerja sama, kau itu adalah pelanggan setia-ku jadi aku harap kita bisa melaksanakan tantangan ini dengan lancar." Naoki mengulurkan lengan kanannya lalu Shira tersenyum dan mereka mulai berjabat tangan, "Kita diberikan tiga puluh menit untuk mengganti seprei kasur naga tersebut dan kita laksanakan misi ini di Challenge's Teleportation Room dimana terdapat sebuah pintu yang berubah warna setiap detik dan ketika kita menepatkan kartu kita di depan pintu itu maka pintu tersebut akan terbuka dan di balik pintu itu terdapat tantangan yang menunggu kita." Naoki mulai menjelaskan semua inti-nya kepada Shira.

__ADS_1


Shira mengangguk, "Aku mengerti, ayo!" Shira berjalan pergi dan Naoki mengikutinya lalu ia menyusulnya. Mereka berdua pergi menghampiri ruangan tantangan itu dan itu menghabiskan satu menit untuk sampai di sana, Shira menatap kartunya dimana ia melihat mereka memiliki sembilan menit lagi untuk mengganti seprei kasur, Naoki mengambil kartu Shira, "O-Oi." Naoki menepatkan kedua kartu itu di depan pintu tersebut hingga kedua kartu Shira dan Naoki berputar lalu masuk ke dalam pintu itu.


BUSHH!!!


Pintu itu terbuka lebar dan mereka berdua bisa melihat naga berkepala tiga itu sedang tidur nyenyak, mereka berdua masuk ke dalam ruangan itu hingga pintu yang ada di belakang mereka mulai tertutup rapat, "Pintu tadi itu seperti teleportasi atau portal semacamnya ya...?" Tanya Shira, Naoki mengangguk.


"Dengarkan aku baik-baik, kita harus secepatnya dan berhati-hati menggantikan seprei yang sedang digunakan oleh naga itu dengan seprei yang baru. Di situlah seprei dan selimut baru yang harus kita tukar dengan seprei dan selimut yang sedang digunakan oleh naga itu." Ucap Naoki yang mulai menunjuk seprei dan selimut baru itu, kedua barang itu terletak jauh dari naga tersebut, "Ehh...? Lumayan menyusahkan."


"Dan ingatlah... Jangan sampai kita tidak sengaja membangunkannya dan membuatnya mengamuk, biasanya naga yang sedang tidur nyenyak di ganggu maka kemarahan mereka akan dahsyat, bisa-bisa tempat tinggalnya ini hancur karena kemarahannya." Naoki memberi Shira beberapa peringatan untuk berhati-hati ketika mengganti seprei dan selimut naga itu, "Jika kau melakukan sesuatu yang ceroboh maka tantangan kita bisa saja gagal!" Naoki mengepalkan tinju kanannya.


Shira menelan ludahnya, "S-Siap..."


"Baiklah...!!! Ayo, kita mulai---!!!" Shira menghantam telapak tangan kirinya dan ia mengatakan kata-kata itu dengan nada yang lumayan keras, "Ssssttt... Goblok...!" Naoki mulai memberitahu Shira untuk mempelankan suaranya karena ia tadi mengatakan sesuatu yang keras hingga membuat naga yang sedang tertidur itu menggantikan posisi tidurnya, "Ahh...!" Shira dan Naoki pikir bahwa naga itu bangun, mereka berdua langsung melakukan kuda-kuda bertarungnya, "Sialan! Dasar bodoh...!"


"Jadi kita harus melawannya....?" Tanya Shira bingung.


Naga itu kembali tidur dengan nyenyak, "Hah... hah... hah..." Mereka berkeringat lalu Naoki mulai memiliki firasat buruk bahwa tantangan mereka bisa saja gagal karena sikap ceroboh Shira, "Dasar bajingan biadab...!" Ejek Naoki kepada Shira yang baru saja sikap ceroboh, "Maaf, itu semua salahku." Jawab Shira dengan ekspresi yang terlihat bersalah.


"Apa yang kau maksud itu kita harus menunggu...? Sialan, aku tidak terlalu bagus dalam hal menunggu." Shira menghela nafasnya. Menghabiskan hampir sepuluh menit untuk menunggu naga tersebut menggantikan posisi tidurnya, "Apa kita harus bergerak sekarang...?" Tanya Shira.


"Belum." Naoki mulai mendarat di depan naga itu, mereka menunggu selama lima belas menit, "Naokiiii..." Shira menghela nafasnya karena ia sudah tidak memiliki kesabaran lagi untuk menunggu naga itu merubah posisi tidurnya, "Bersabarlah..." Shira menghampiri naga itu lalu ia menatap ketiga kepala naga itu yang sedang tertidur dengan damai, "Tidak aku sangka bahwa seekor naga akan tidur sambil mendengkur...." Ucap Shira hingga membuat kedua mata dari ketiga kepala naga itu terbuka dengan sangat lebar.


"Guugghhh...!" Shira mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat terkejut, "OH AYOLAH!!!" Teriak Naoki kesal, Shira mulai mengusap-usap ketiga kepala naga itu, "Nina bobo... Ohh nina bobo~ Kalau tidak bobo di bunuh Legenda~" Ucap Shira yang tiba-tiba menyanyikan sebuah lagi untuk tidur, "Graaaggghhhh......" Naga itu kembali memejamkan mata mereka.


"Hahh... Sial... Tadi benar-benar membuat jantungku kabur." Shira menghela nafasnya dengan sangat lega bahwa naga itu tidak bangun karena sikap ceroboh-nya lagi, "Seberapa susahnya untuk dirimu membuat mulutmu itu tertutup rapat, hah!?" Tanya Naoki dengan nada yang terdengar kesal, "Hahaha, entahlah..." Naoki menyadari sesuatu yaitu ekor dari naga tersebut mulai bergerak dan menghantam seluruh tubuh Shira hingga Shira terpental menuju arah bola magma, "Ahh...!" Naoki muncul di depannya lalu ia menendang-nya ke arah lain karena ia tidak mau membuat salah satu dari bola magma itu meledak karena bisa saja naga itu bangun karena suara dari ledakan tersebut.


BAG!


Naoki mendarat di depan naga itu lalu ia menatap wajah naga tersebut, "Dia masih tertidur dengan nyenyak." Naoki mengusap keringatnya, "Aduh, sakit... Ternyata naga juga bisa bergerak di tidurnya, dia memimpikan apa sih... Aneh sekali, ekornya itu cukup berbahaya karena keras sekali dan hantamannya itu terasa seperti ia tidak menahan diri."


"Dia ini tertidur dengan nyenyak jadi dia tidak akan menahan diri untuk menyerang sesuatu yang ada di sekitarnya. Itu adalah cara naga melindungi diri mereka sendiri ketika sedang tidur." Naoki menghela nafasnya, "Apa yang harus kita lakukan sekarang...?" Tanya Shira yang mulai melayang di atas langit selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat kebingungan.

__ADS_1


"Kita hanya harus menunggu naga ini untuk merubah posisi tidurnya, maka kita bisa---" Tiba-tiba kepala naga itu mulai menghantam seluruh tubuh Naoki hingga ia terpental menuju bola magma itu dan mengenainya, bola magma yang terkena itu mulai bersinar dan akan meledak dalam beberapa detik lagi, "Gawat." Shira mulai menarik Naoki lalu ia melemparnya ke bawah dan setelah itu ia melindungi bola tersebut dengan barrier cahaya-nya.


Bola magma itu meledak dan membuat naga yang tertidur itu merubah posisi tidurnya karena sinar barrier yang Shira miliki menyinari mata ketiga kepala naga itu, "Aneh sekali... Bagaimana bisa ia menyerang dengan tepat sasaran walaupun dia sudah benar-benar tertidur seperti kerbau." Shira menghampiri naga tersebut lalu ia menatapnya, "Apakah kau tidak berpikir bahwa naga ini berpura-pura---"


Tiba-tiba ekor naga itu mulai menangkap Shira dengan membelit seluruh tubuhnya, "Ahhh...!" Shira mulai panik karena seluruh tubuhnya terbelit oleh ekor dari naga tersebut, "Ahh...! Dia benar-benar bangun...!" Ucap Shira dengan nada yang terdengar panik, "Pelankan suaramu, Shira...! Ini kesempatan kita untuk mengubah seprei dan selimut-nya!" Shira menghalang mulutnya dan beberapa saat kemudian naga itu mulai melayang ke atas karena Shira secara diam-diam melumuri naga itu dengan Lenergy-nya lalu ia membuat dirinya bersama naga itu melayang untuk beberapa saat.


"Ayo! Kita mulai...!!!" Naoki mulai membuka seprei yang ditiduri naga itu dan ia mulai menarik selimut naga tersebut, Naoki menggatikan seprei dan selimut kotor itu dengan yang baru, "Cepetan...!!!" Shira mulai panik dan tubuhnya perlahan-lahan terasa akan hancur karena terbelit oleh ekornya.


"Sabar....." Naoki mulai mengusap-usap seprei yang baru itu dengan sangat pelan, "Kau hanya bermain-main dan bercanda...! Semua ini tidak lucu tau...!!!" Shira berkeringat dingin sehingga Naoki mengeluarkan daging kepala mino lalu ia mendekatkan daging itu di hidung kepala naga yang ada di tengah, "Sniff... Snifff..." Naga itu mulai mencium aroma lezatnya dari kepala mino itu.


Ekor yang membelit Shira mulai terlepasi dan Shira melayang ke atas selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat lega, "Fuuhhhh... Akhirnya aku bebas." Shira mengusap keringatnya lalu ia melihat naga itu tertidur dengan nyenyak, "Selesai." Naoki melayang di sebelah Shira lalu ia mulai tersenyum.


"Apakah tantangan kita selesai---"


ZWOSH!


Sebuah pintu muncul di belakang mereka yang mengartikan mereka telah berhasil, "Ya. Berhasil." Jawab Naoki.


"Apakah semua tantangan akan sama seperti ini?" Tanya Shira.


"Tidak semuanya, tapi lebih buruk lagi nanti kita bisa saja..." Naoki menatap Shira dengan ekspresi yang terlihat serius, "Apa?" Tanya Shira.


"...melakukan pekerjaan rumah!!!" Naoki membulatkan kedua matanya, "Apaaaaaaaaaaaaaa.....!?" Shira mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat terkejut dan sekarang ia rasa bahwa semuanya tidak berguna jika ia terus mendapatkan tantangan pekerjaan rumah.



Beberapa Legenda mulai berkumpul di belakang taman, saat ini hujan turun deras dan mereka menggunakan payung untuk melindungi tubuh mereka, walaupun langit-langit angkasa tapi masih ada awan yang mampu menurunkan hujan, itu semua agar semua ras bisa bertahan hidup dan memiliki oksigen di tempat itu, "Korrina Ghifari... Kakak-ku itu sepertinya mengikuti turnamen itu lagi, kita harus secepatnya mengalahkannya." Ucap seorang gadis yang memanggilnya kakak.


"Katrina... Kau dan kelas empat-mu itu tidak akan bisa mengalahkan kelas tiga dimana terdapat Korrina Comi disitu." Ucap seorang gadis juga, Sabrina dan gadis itu didampingi dengan lima peserta dari kelas mereka masing-masing, "Sepertinya Kakak Sabrina meremehkanku ya... Hmph, setelah aku menghancurkan kelas tiga maka aku akan menghancurkan kelas dua." Katrina tersenyum.


"Lebih baik kita fokus menghancurkan Korrina dan kelas tiga."

__ADS_1


"Ya. Aku memiliki rencana sempurna."


__ADS_2