Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 797 - Membiarkan Mereka semua Melakukan Bunuh diri


__ADS_3

Sebelumnya...


"Apakah Anda yakin, putri kecil...? Kenapa Anda menjadi seperti ini? Saya kira Anda ingin memaafkan mereka semua dengan cara yang positif..."


Tech terlihat khawatir ketika melihat Shinobu yang berada di dalam perpustakaan sedang membaca buku berisi kutukan dan mantra mutlak dengan tatapan polosnya.


Tujuannya sempat ia beritahu kepada Tech sampai ia sendiri merasa kaget melihat putrinya berkembang menjadi sesuatu yang mengerikan, mesin pembunuh secara diam-diam.


"Perbuatan Koneko tetap bisa di bilang membantu kok... membantu mengurangi populasi yang harus dicabut nyawanya oleh Dewa Kematian." Shinobu mulai berbicara.


"Populasi yang banyak... sampai sebagiannya menghabiskan waktu dengan merugikan orang lain itu tidak baik loh..."


"...hehehe, jadi aku ingin bisa menguranginya agar mereka bisa berhenti berbuat dosa dan keji."


"Lebih baik mereka beristirahat di dunia selanjutnya dan tentunya para Dewa-Dewi kematian akan senang melihat pekerjaan mereka dipermudah."


"Anuu... Jadi... Koneko... Koneko ingin mengubah dunia, dunia tanpa kerugian... Koneko mengerti... Koneko mengetahuinya dari Nenek... semua orang yang Koneko sayang." Kata Shinobu sambil menyentuh kedua jarinya bersamaan.


"Nona Korrina...? Begitu ya..." Tech mengangguk pelan karena ia sendiri tidak mengerti apa yang coba Shinobu katakan.


Shinobu menumpuk semua jurnal yang ia tulis sejak kecil sampai jilid terakhir lalu menatapnya dengan tatapan yang terlihat senang karena beberapa orang sudah membacanya.


"Setidaknya mereka bisa merasa senang dan bahagia karena menerima ilmu yang bermanfaat..." Shinobu terkekeh pelan.


"...sayang sekali, mereka yang tidak mempercayai jurnal itu bukan buatan diriku akan berpindah dunia menuju kematian."


"Semoga saja... seseorang yang membacanya tanpa niatan buruk dan tidak memiliki perasaan benci kepadaku akan terus membacanya sampai akhir."


"Percuma saja jika mereka yang membaca ini hanya berakhir tidur dengan noda darah di tubuh mereka, untungnya efek itu berbeda-beda." Shinobu mengatakan sesuatu yang mengerikan dengan wajah polosnya.


Tech sendiri mencoba untuk mengerti apa yang akan Shinobu lakukan sampai ia ingin sekali menanyakannya kepada beberapa temannya apakah ia sudah memiliki riwayat membunuh.


Sikap polosnya terasa sangat mematikan di dalam, entah itu apa tetapi Tech dapat mendeteksinya sampai ia berharap bisa mengerti dengan cepat tentang perasaannya itu.


Shinobu menatap semua tumpukan jurnal itu, "The Mind: Cursed Words!"


"Untuk mereka yang membaca jurnal ini, pikiran mereka akan diisi dengan campuran negatif... dimulai dari bunuh diri, kegilaan, depresi, mental hancur, dan semua efek negatif."


"Kutukan itu hanya akan aktif bagi mereka yang mempercayai seorang pustakawan bernama Aerith sebagai penulis dari jurnal tersebut..."


"...tetapi jika mereka membacanya tanpa mempercayai apapun tentang pustakawan tersebut dan niat mereka baik maka gandakan ilmu yang mereka terima."


BAAMMMM!!!!


Kedua mata Shinobu memancarkan cahaya emas ke dalam semua buku jurnal tersebut sampai tulisan yang ada di dalamnya sempat berubah warna, tinta yang berwarna hitam berubah menjadi merah lalu kembali ke warna hitam.


"Hah... Hah... Hah..." Shinobu berlutut di atas tanah sampai kepalanya terasa begitu berat dan pusing, pandangannya mulai buram kecuali mata buatannya itu.


"Sepertinya pilihan yang Anda lakukan sudah berhasil, putri kecil. Saya dapat merasakan sumber Lenergy besar terlepas dari tubuh Anda."


"Mm~ Koneko sudah berjuang..." Shinobu tersenyum polos


Sekarang...


***


"Shinobu Koneko, aku harap kau tidak merencanakan sesuatu dibalik semua ini." Ucap Aerith yang melihat Shinobu menghampiri panggung di hadapannya untuk berbicara dengan beberapa ras yang menonton.


"Kertas perjanjian mutlak itu tidak robek 'kan...? Anu... aku sendiri di sini merasa gugup... maaf jika omongan Koneko terasa gagu..."


"Dasar, kau ini memang seperti ini. Bersikap malu, cocok sekali dengan penampilan hina itu." Aerith menyilangkan kedua lengannya lalu menendang Shinobu sampai ia terdorong ke depan.


"Ada apa ini? Kenapa kita harus berkumpul di sini untuk melihat Neko Legenda?"


"Kenapa bisa perpustakaan ini menawarkan jurnal kehidupan baru tetapi tawaran yang kita lihat hanya sekedar Neko Legenda yang hina!"


"Ugh... melihatnya saja membuat bulu kuduk naik, aku tidak tahan... seram sekali, ras yang mematikan ketika mengamuk karena dapat membasmi apapun yang menghalanginya."

__ADS_1


"Tenang semuanya, aku mengumpulkan kalian semua di sini pastinya berniat untuk menjualkan semua jurnal edisi baru ini kepada kalian semua."


"Sebelum itu, pustakawan yang begitu menawan dan hebat sepertiku ingin membicarakan sesuatu di hadapan kalian semua bersama si palsu ini." Aerith mengelus kepala Shinobu.


Shinobu terlihat biasa saja melainkan ekspresi yang ia pasang adalah kepolosan, pandangan melihat pemandangan yang begitu buruk karena semua orang menatap dirinya dengan penuh ancaman dan kebencian.


"Selama ini... anu... tolong dengarkan, aku ingin memberitahu kalian tentang sesuatu..." Shinobu mulai berbicara kepada mereka semua.


"Hah?! Untuk apa kami mendengarkan gadis hina seperti dirimu...!?"


"Tenang dulu, santai saja... tarik nafas dan hembuskan, kita dengarkan sekali saja apa yang akan ia bicarakan karena kali ini terdengar begitu penting." Aerith langsung melindunginya.


"Sebenarnya... Anu... Jurnal yang kalian baca... jurnal yang selalu aku jual, selama ini aku dapatkan dari pustakawan Aerith..."


"...bisa dibilang aku tidak memiliki hak atau kewajiban apapun dengannya melainkan penulis yang ia coret di awal halaman... sebenarnya adalah dia sendiri."


"Penulis dari jurnalis itu adalah pustakawan Aerith sendiri sampai aku hanya meminjam dan menjual---" Aerith langsung menarik kerah Kisetsu Shinobu sampai ia berhenti berbicara.


"Kenapa kau tidak langsung mempercepat saja, Shinobu Koneko? Kenapa kau tidak ingin memberitahu kebenaran di balik jurnal tersebut?" Aerith langsung melepas Shinobu yang langsung menatap mereka.


"Maafkan aku... sepertinya Koneko berhak menerima semua penghinaan itu... selama ini jurnal yang aku jual hanya sekedar curian dari Aerith."


Mereka semua terkejut ketika mendengarnya, rasa benci mereka kepada Shinobu semakin besar dan itu artinya ketika mereka membaca jurnal tersebut maka efek dari kutukan itu akan terus bertambah efektif.


Seketika mereka langsung mengambil batu dan melemparnya kepada Shinobu, serangan itu dibiarkan mengenai tubuhnya sendiri agar mereka bertambah semakin percaya kepada Aerith dan benci pada dirinya sendiri.


Semuanya berjalan dengan baik sampai Shinobu sudah dipenuhi luka yang mengeluarkan banyak sekali darah, Aerith langsung memukul wajah Shinobu sampai ia terjadi.


"Kalian dengar bukan!? Shinobu Koneko selama ini hanyalah palsu yang mencoba untuk mencuri dan bertahan hidup dengan cara yang salah!"


"Dengan ini, aku menyatakan bahwa semua jurnal yang kalian baca adalah milikku sendiri! Shinobu Koneko hanya mengambil alih dengan mencuri dan menulis namanya saja...!!!"


"Itu benar...!!! Bunuh Neko Legenda!!!"


"Buat mereka semua menderita...!!!"


"Tidak, tidak, tahan dulu. Neko Legenda satu ini sudah bersikap baik karena mau mengaku di hadapan kalian semua..."


"...setidaknya berikan dia satu kesempatan untuk hidup di dunia yang begitu pedih bagi dirinya sendiri, aku yakin dia tidak akan bisa bertahan lama."


Aerith melepas borgol yang mengunci kedua lengannya lalu ia membiarkan Shinobu pergi dengan bibirnya yang mendekati telinganya itu, "Ingat ya..."


"...jangan sekali-kali menunjukkan keberadaan terutama wajahmu itu di hadapanku, kau aman untuk sekarang."


Shinobu hanya bisa diam dengan tatapan polos lalu tubuhnya didorong oleh Aerith yang menyuruhnya untuk segera pergi, Shinobu terbang ke atas langit untuk mengunjungi akademi pemberontak.


"Karena dia sudah pergi, ayo-ayo~ beli jurnalnya yang sudah diskon ini, otomatis kalian bisa menjadi apapun yang kalian inginkan."


"Nah, siapa di sini yang cita-citanya ingin jadi Legenda cerdas?"


""Aku! Aku! Aku!!!""


Perpustakaan yang dimiliki oleh Aerith kembali laris sampai dikenal oleh seluruh ras dari berbagai macam semesta bahkan sampai keluar dari inti semesta Touri dan sampai kepada Palouce serta Reaoum.


***


Shinobu mendarat di hadapan akademi itu, kebetulan waktu menjelang istirahat dan ia juga perlu melapor tentang misi pemberontakannya kepada salah satu guru.


Beberapa guru tidak ingin mendekati Shinobu seketika sehingga seseorang mulai menghampiri Shinobu dengan jubah berwarna hitam, "Bagaimana dengan misimu?"


"Anuu... Manusia kerajaan itu sudah diurus... aku yakin pesawat luar angkasa itu sudah meledak." Kata Shinobu yang sedang mengunyah daun herbal untuk memulihkan lukanya.


"Kalau begitu kau berhak menerima hadiahmu sendiri yaitu istirahat." Guru itu membiarkan Shinobu pergi menuju kantin agar bisa bertemu dengan kedua teman dan sepupunya.


Kebetulan Shinobu berpapasan langsung dengan Hinoka yang baru saja keluar dari ruang pemulihan, "Ahhh~ Koneko~~~"


"Kak Hino---" Shinobu menerima sebuah pelukan erat dari Hinoka yang merasa sangat rindu kepada dirinya sendiri sehingga wajahnya menerima beberapa ciuman dari Hinoka.

__ADS_1


Shinobu mengingat sesuatu tentang Hinoka, sepertinya ia benar-benar membutuhkan proses penyembuhan terhadap mentalnya yang hancur berantakan ketika melihat bunga, menghirup aroma melati, dan mengingat nama ibunya sendiri.


Proses penyembuhan mental itu akan ia lakukan suatu saat nanti ketika sempat karena sekarang ia hanya ingin beristirahat sebentar dan menikmati kebaikan karena sudah menyapu populasi sedikit demi sedikit.


"Kakak, dimana yang lain?"


"Mereka sedang di kantin, merayakan waktu mereka karena keberhasilan pemberontakan melawan manusia kerajaan."


"Entah kenapa pesawat luar angkasa mereka sudah hancur loh, sesuai dengan analisis para guru... salah satu dari mereka menekan tombol senjata rudal yang dapat menghancurkan planet."


Mereka berdua mulai berbicara selagi menghampiri kantin, "Tetapi rudal itu tiba-tiba mengarah kepada pesawat luar angkasa itu sendiri sampai pelindung mereka menghilang seketika."


"Begitu ya..."


Shinobu menjawabnya singkat dengan tatapan polos tetapi ia sendiri sudah mengetahuinya sejak awal karena ia mengendalikan kedua Manusia di dalam pesawat itu untuk meledakkan pesawat mereka sendiri.


Sekarang tidak ada lagi yang Namanya gangguan bagi Shinobu, hanya menunggu proses karena setiap pekerjaan dan perlakuan membutuhkan proses yang lumayan.


"Oh, itu mereka." Kata Konomi yang menunjuk Shinobu dan Hinoka, mereka berdua langsung duduk bersebelahan dengan mereka.


"Awalnya aku mengira bahwa kita akan mendapatkan hukuman karena gagal menjalankan misi tetapi kata mereka pesawat itu sudah hancur." Kata Koizumi selagi menikmati kentang goreng.


"Ahaha... mungkin kita beruntung ya..." Kata Ako yang mulai mencicipi makan siangnya.


"Laparnya..." Shinobu mulai mengambil sumpit lalu mengambil beberapa sayuran yang ia makan pelan-pelan.


Pandangan Koizumi terus teralih kepada dirinya karena ia yakin Shinobu sendiri yang menyebabkan misi mereka berhasil begitu saja, kekuatan The Mind memang tidak bisa ia remehkan begitu saja.


Suatu saat nanti, ia ingin bisa melampaui kecerdasan dan kemampuannya itu sampai saat ini pandangannya terus tertuju kepada Shinobu sampai mengingatkan dirinya dengan pernafasan buatan.


"Ahh...!?" Koizumi langsung menghabiskan kentang goreng itu dengan memasukkan semuanya ke dalam mulut lalu mengunyahnya.


"Koizumi, ada apa?" Tanya Hinoka.


"Bukan urusanmu!"


Shinobu melihat Koizumi yang salah tingkat sehingga pikirannya memberikan dirinya sebuah gambaran bahwa ia membantu sepupunya dengan mencium bibirnya untuk memberi nafas buatan.


"NYAAHHH!? FUEEHHHH...!!!" Shinobu langsung menghantam wajahnya di atas meja sampai ia menyembunyikan wajahnya di atas mangkuk yang penuh dengan sayuran.


"Heh? Nobu, kamu baik-baik saja...?" Ako melihat Shinobu yang bertingkah aneh juga.


"Kalian kenapa sih... aneh sekali---"


"KYAAAAAHHHHHHHH!!!"


Terdengar sebuah teriakan yang begitu keras di kantin, mereka semua yang berada di dalam kantin langsung mengalihkan pandangan mereka menuju sumber suara.


Semua ekspresi mereka berubah seketika sampai mata juga ikut terbuka lebar ketika melihat seorang gadis yang sedang menusuk-nusuk lehernya sampai darah terus mengalir deras seperti air terjun di lehernya.


"... ...!" Kedua pupil mata Hinoka berubah menjadi merah tetapi Koizumi langsung menghantam wajahnya cukup keras sampai ia pingsan.


"Oi!!! Ada kasus bunuh diri lagi!!!"


"Cepat lapor guru!!!"


Mereka semua terlihat ketakutan ketika melihat gadis itu terus menusuk-nusuk lehernya sampai terjatuh di atas tanah dengan nyawa yang sudah hilang.


"A-Apa yang terjadi...?" Tanya Konomi.


"... ..." Shinobu perlahan-lahan bangkit selagi menatap gadis yang melakukan bunuh diri itu.


"...hehehe."


"Tidur yang nyenyak ya..."


"...dengan ini kamu tidak akan berbuat dosa lagi."

__ADS_1


"Koneko sudah berjuang..."


__ADS_2