
Minami melompat ke atas kasur-nya lalu ia menutup wajahnya dengan bantal karena memikirkan tentang hari esok, ia sepertinya sudah menjadi sasaran bagi murid-murid tertentu dan ia mencoba sekuat mungkin untuk tidak berurusan dengan mereka karena ia tidak ingin menyebabkan suatu masalah dengan pertarungan bahkan mengatasi masalah itu juga ia hanya ingin menggunakan cara yang begitu lembut. Pintu masih terbuka dan Honoka mulai masuk ke dalam kamarnya untuk membahas tentang sesuatu.
"Bahkan hotel juga ketat, Minami... hotel ini memiliki 10 lantai dan angkatan ke satu hanya mendapatkan 4 lantai, kita mendapatkan lantai satu sedangkan Kakak dan Adikku sepertinya berada di lantai empat karena kelas mereka yang memiliki huruf lumayan akhir, tata tertib mengatakan... kita tidak boleh bertemu dengan seseorang yang berasal dari luar kelas, bukannya itu tidak masuk akal?" Tanya Honoka, ia duduk di atas kursi lalu menatap pemandangan luar angkasa yang terlihat begitu indah bahkan ia sempat melihat semesta Yuusuatouri, sepertinya kota melayang ini kembali masuk ke semesta Touri.
"Apa yang kamu harapkan, Honoka...? Semuanya poin dan nilai, kita harus bertahan. Hari ini aku mendapatkan 675.000 poin berkat mengumpulkan harta dengan memotret-nya, sepertinya papan tugas masih belum muncul karena kita akan mendapatkan misi menarik yang berbeda-beda... kota ini menyediakan banyak sekali tempat yang pas untuk dijadikan petualang, semoga saja kita melaksanakan misi itu dengan tenang tanpa bertemu dengan kelas lain." Kata Minami, ia mulai menggerakkan ekornya untuk mengistirahatkan tubuhnya.
"Minami, mau keluar dan menikmati kopi?"
"Mm... tentu."
Honoka dan Minami berencana untuk meninggalkan hotel agar mereka bisa mencari kopi hangat yang pantas untuk diminum di musim sejuk ini yang masih terasa di tubuh mereka, makan malam juga mereka sepertinya harus membeli karena hotel tidak menyediakan fasilitas untuk memasak. Kebetulan Honoka bertemu dengan Rokuro dan Asriel yang sedang berbicara, kesempatan seperti ini bisa digunakan untuk berbicara tanpa diketahui oleh penjaga atau pengawas.
"Kebetulan yang pas ya... Aku tidak menyangka kita akan bertemu, murid kelas 1-S" Honoka tersenyum.
"Ahh, Honoka dan Minami ya... apa yang kalian rencanakan sekarang? Pergi untuk mencari poin?"
"Kami hanya ingin membeli kopi untuk menghangatkan tubuh." Kata Minami.
"Kebetulan yang tidak terduga, kami saat ini sedang menunggu Haruka dan Mitsuki."
__ADS_1
"Kencan ya... astaga, dimanapun kalian berada... pasti akan berkencan dengan kekasih kalian ya? Untung kita gadis masih bebas karena belum memiliki, kekasih, ya~?" Honoka menatap Minami dan ia mulai menjauh beberapa langka karena merasakan firasat buruk ketika mendekati dirinya, Honoka mulai tersenyum lalu menatap Minami sambil menggerakkan jari-jarinya.
"Apanya yang bebas...? Tidak ada kata bebas untuk Legenda, kalian juga pasti akan mendapatkan kekasih, dasar bodoh." Jawab Rokuro dengan tatapan datar, ia melihat Haruka dan Mitsuki yang baru saja keluar dari hotel. Haruka terkejut ketika melihat Honoka yang sedang memainkan ekor Minami, ia tidak menyangka akan bertemu dengan adiknya di luar hotel.
"Honoka, apa yang kamu lakukan disini?"
"Hm? Ahh, kakak, pergi berkencan dengan Rokuro ya? Mitsuki juga... pasti bermesraan dengan Asriel~" Honoka mulai menggoda mereka semua, hasilnya wajah mereka mulai memerah dan tidak ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi jadi mereka pamit duluan kepada Honoka dan Minami untuk pergi mengunjungi cafe yang memiliki kopi hangat itu, katanya kopi tersebut dapat menyembuhkan luka dan membuat tubuh terasa lebih santai karena merasakan relaksasi yang begitu tinggi.
Honoka dan Minami mulai berjalan di tengah kota yang begitu ramai dipenuhi dengan penduduk, mereka juga sempat melihat beberapa murid yang dengan ceroboh-nya masih menggunakan pakaian akademi. Hal seperti itu bisa saja menarik perhatian murid-murid yang mencoba untuk merampas kartu dan merebut poin mereka, Honoka sempat tidak mengetahui jalan seharusnya ia tadi ikut bersama dengan Haruka tetapi ia tidak ingin mengganggu waktu romantis mereka.
"Sial, Minami... sepertinya kita malah masuk ke dalam rute yang salah..." Kata Honoka sambil mengutak-atik peta-nya, peta yang begitu besar bahkan ia sudah berada di jarak yang sangat jauh dengan hotel-nya itu, untuk sekarang tidak ada batas waktu tetapi akan sangat merepotkan jika mereka menghabiskan waktu bebas mereka hanya dengan tersesat seperti itu.
"Minami... hati-hati..." Ucap Honoka pelan, ia merasakan sebuah bahaya di sekitarnya dan ia baru menyadarinya sekarang karena terlalu fokus melihat peta, Minami awalnya sudah curiga karena pendengaran-nya yang mampu mendeteksi pergerakan daratan, daratan yang membawa mereka ke tempat begitu sepi bahkan saking sepi-nya tidak ada yang berani mengunjungi tempat itu kecuali tukang sampah.
"Sial! Honoka, awas!!!" Minami menendang punggung Honoka sehingga ia terlempar ke depan, sebuah batu tajam menusuk perut Minami begitu dalam karena kecepatannya yang tidak bisa ia lihat dan deteksi menggunakan indra-nya, serangan itu memberikan luka yang begitu besar bahkan sampai menjatuhkan Minami, daratan itu juga bahkan menyedot kedua kaki dan lengan Minami agar ia tidak bisa melakukan apapun.
Minami bisa mendengar sebuah pergerakan tetapi ia tidak tahu dimana ia orang yang mencoba untuk menyerang dirinya itu, ia melihat Honoka yang mencoba untuk menyelamatkan dirinya tetapi terhalang dengan batu tajam yang mencoba untuk menusuk dirinya juga. Honoka mengubah semua batu itu menjadi kertas tetapi kedua kakinya tiba-tiba masuk ke dalam tanah bahkan tubuhnya juga ikut tertarik sampai sebagian tubuhnya berada di dalam daratan sedangkan kepalanya masih terlihat.
"Sial...! Serangan seperti tidak ada gunanya bagiku!!!" Seru Honoka keras sehingga ia mengubah batu itu menjadi air lalu ia melompat ke atas dan mencoba untuk terbang tetapi tidak bisa, ia hanya bisa melompat tetapi tidak bisa terbang. Ia baru saja ingat bahwa kota ini memiliki gravitasi kuat untuk melarang seseorang terbang, di saat itulah Honoka lari menghampiri Minami lalu membantu dirinya dengan mengangkat tubuhnya.
__ADS_1
"Golem itu sepertinya benar-benar mengarah diriku, Honoka... dia mungkin memiliki rasa dendam kepadaku karena selalu memperhatikan diri...! Sihir dan kemampuan batu... bahkan dapat mengontrol daratan sudah pasti berasal dari seorang Golem, aku mencium-nya... dia tidak jauh dari tempat ini karena sihirnya yang memiliki jarak yang begitu luas, lebih baik kita singkirkan dia..."
"...jangan lari!!!" Seru Minami keras karena ia mendalami harga diri sebagai seorang Legenda untuk tidak pernah melarikan diri dari pertarungan.
Honoka mendengar jelas apa yang ia katakan dan ia sendiri tidak berencana untuk melarikan diri melainkan memancing murid itu agar bisa mendekat, dengan cepat Honoka mulai menarik batu yang tertusuk di perut Minami lalu mengubahnya menjadi logam tajam, setelah itu ia menusuk daratan sehingga daratan itu mengeluarkan darah yang berjumlah besar.
Honoka mulai menggunakan pasir yang tertera di tapak-nya untuk ia ubah menjadi perban agar bisa membalut luka tusuk Minami, setelah itu ia melemparnya ke sebelah kiri lalu mengubah daratan menjadi sesuatu yang empuk. Serangan logam tadi sepertinya berguna dan murid itu mau menampakkan dirinya sendiri, ia melompat keluar dari dalam daratan, menjerit kesakitan karena Honoka baru saja menusuk mata mereka.
"Kau memilih korban yang salah sepertinya, berani-beraninya kau melukai Minami yang sedang memperhatikan lawan lain... kau tidak sendirian untuk menyerang kami bukan?!" Seru Honoka, murid yang mengontrol daratan itu adalah ras Iblis dan ia sempat terkejut ketika melihat penampilan-nya karena ia pernah bertemu dengan dirinya, seorang kakak kelas yang mengganggu Bakuzen.
"Ternyata kau... Itu artinya aku akan memberi dirimu pelajaran!!!" Honoka maju ke depan dan mencoba untuk menendangnya tetapi ia dihentikan oleh serangan batu yang begitu tajam, batu itu langsung ia kontrol dengan realita, ia langsung mengarahkan batu itu ke arah dalam daratan dimana iblis itu dikejutkan dengan batu runcing yang menusuk mata lainnya.
Minami baru saja selesai memulihkan lukanya dan ia melihat Honoka baru saja berhasil mengalahkan seorang kakak kelas yang berani-beraninya mencoba untuk menyerang secara diam-diam, Honoka sempat mengubah kartu-nya menjadi batu agar ia bisa merekam pelanggaran yang baru saja dilakukan oleh kakak kelas itu.
"Sial...! Mataku...!!! Mataku...!!!"
"... ..." Honoka menoleh ke belakang lalu ia mencoba untuk mengubah batu runcing yang melesat ke arahnya menjadi air tetapi air itu tiba-tiba membentuk kembali menjadi batu runcing yang berjumlah banyak sekali bahkan sampai menusuk seluruh tubuh Honoka.
"A-Apa...?!"
__ADS_1