Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 563 - Balap Elang


__ADS_3

"Rokuro, kamu menghormati---"


"Kau mau aku pukul, Shuan?" Tanya Rokuro yang sudah mempersiapkan kepalan tinju kanannya untuk bersiap-siap menghindari tawaran sate tikus itu.


"Galak juga ya..."  Shuan memakan kepalanya sampai habis lalu ia menatap Asriel yang langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Asriel..."


"A-Apa?"


"Enak loh." Shuan terus menawari teman-temannya tetapi mereka langsung menolaknya bahkan Bakuzen sempat menghancurkan sate itu dengan melakukan satu ledakan kecil.


"Oi...!"


"Aku hanya mencoba untuk menyelamatkan dirimu yang bisa saja  merasa sakit perut karena memakan tikus menjijikkan itu." Kata Bakuzen.


"Minami, boleh aku coba?" Tanya Honoka sambil mengulurkan lengan kanannya.


"Heh? Apakah kau serius?"


"Ya... terlihat lezat." Minami memberikan sate itu kepada Honoka dan ia langsung memakannya sampai membuat seluruh temannya terkejut.


"Apa yang kamu lakukan, Honoka? Kamu bukan Neko Legenda, tikus itu berbahaya untukmu...!" Ucap Marie.


"Hmm, enak kok, terasa seperti daging ayam." Honoka mengunyahnya lalu ia memberikannya kepada Minami dan ia menghabiskan tikus itu dengan cepat.


Haruka dan Kou memasang tatapan datar, "Itu bukanlah hal yang spesial bagi, adikku ini."


"Ahh... realitas ya?" Tanya Hana.


"Hahaha! Setidaknya aku berhasil memakan seekor tikus, pencapaian yang begitu besar!" Honoka tertawa, membuat semua temannya masih memasang tatapan datar.


Tidak lama kemudian, mereka semua kembali mengunjungi tempat yang berbeda sampai Megumi bersama seluruh temannya melebarkan kedua mata mereka ketika melihat SPA yang baru saja buka.


Jika terdapat sebuah SPA di desa Neko Legenda maka mereka seratus persen yakin bahwa semua bahan pasti digunakan secara alami, Megumi bersama seluruh temannya segara masuk ke dalam.


"Urusan gadis... mereka sudah pasti ingin merawat kulit mulus mereka." Kata Shizen, ia sempat melihat Meko mulai masuk ke dalam SPA untuk menjelaskannya kepada Megumi dan yang lainnya.


"Di SPA ini kami menyediakan berbagai macam hal yang mungkin kalian sukai, semuanya alami dan kalian harus mencobanya." Kata Meko.


""Kalau begitu kami mau! Semuanya dengan cara yang alami!!!""


***


"Sepertinya para gadis sedang menikmati SPA, bagaimana jika kita lanjut?" Tanya Meko, mereka semua mengangguk lalu berjalan pergi untuk mengunjungi gunung.


"Aku sejak awal merasa tidak sabar untuk menikmati makanan tetapi ibu kita sepertinya sedang sibuk menikmati SPA." Kata Minami yang merasa tidak sabar karena perutnya sudah bersuara.


Shira dan seluruh temannya dikejutkan dengan sesuatu yang menarik, akhirnya mereka sudah berada di fase untuk melakukan lomba balap elang.


"Mungkin ini adalah tempat yang kalian tunggu, kandang elang yang berada di dalam gunung itu." Kata Meko sambil menunjuk ke depan sehingga ia mulai mengajak mereka pergi menuju gunung itu.


Mereka segera terbang menuju ujung gunung itu untuk melihat elang yang saat ini sedang menikmati waktu mereka di dalam gunung yang dipenuhi dengan tanaman emas.


"Ukurannya besar sekali... apakah kita bisa melakukannya sekarang? Lomba balap elang tentunya!" Shira sudah merasa tidak sabar, Meko mengangguk lalu ia bersiul keras untuk menarik perhatian semua elang itu.


"Berapa orang yang mau ikut balapan?" Tanya Minami.


"Aku, Arata, Haruki, dan Shizen tentunya. Kita sudah lama sekali tidak bertanding...!" Shira terbakar penuh dengan semangat sehingga ia melihat empat elang emas terbang tinggi lalu melayang tepat di hadapan mereka.


"Ayahmu tidak datang sepertinya ya, Mitsuki?" Tanya Haruki kepada Mitsuki.


"Iya, sayang sekali, Papa sedang sibuk dengan pekerjaannya sendiri." Jawab Mitsuki, mereka semua langsung menunggangi elang emas itu untuk melakukan balapan bersama.


Kou sempat murung ketika mereka tidak menanyakan sesuatu yang berkaitan tentang Ayahnya sendiri, "... ..."

__ADS_1


"Jadi... bagaimana peraturannya? Balapan elang ini..." Tanya Shizen yang terlihat kebingungan, Minami mulai menciptakan cincin emas di sekeliling pulau agar mereka bisa mengikuti semua cincin itu.


"Kalian hanya perlu mengikuti semua cincin itu dan jangan lupa untuk menghancurkan beberapa gumpalan cahaya yang aku ciptakan..."


"...akan lebih menantang jika kalian masuk ke dalam cincin di tambah lagi menghancurkan semua gumpalan itu." Minami mulai menjelaskan karena ia sendiri pernah melakukannya.


"3 ronde dan hanya terdapat satu pemenang yaitu..."


"...Papa!" Minami bertepuk tangan sambil menunjuk Shira, pertandingan belum di mulai dan Minami sudah mengakui Ayahnya yang akan menang.


Arata, Haruki, dan Shizen langsung memasang tatapan yang terlihat datar bahkan anak-anak mereka langsung mendukung Ayah mereka masing-masing.


"Ayah, jangan berani-beraninya kau kalah melawan Arata!" Seru Shuan.


"Ayah! Jangan biarkan Shira menang!" Seru Rokuro.


"Ayah! Jangan melupakan soal ledakan yang selalu berada di dalam dirimu!" Kata Bakuzen.


"Ledakan kemenangan!" Seru Lyazen.


"Ayah, lakukan yang terbaik, aku akan mendukung." Kata Asriel sambil menganggukkan kepalanya.


"Ayah, semangat!" Ucap Hana, mencoba untuk menyemangati Arata.


Shira bersama yang lainnya terbakar penuh dengan semangat karena tidak sabar untuk melakukan balapan ini, Minami mulai melayang ke depan lalu mengangkat kedua lengannya.


Terdengar dukungan keluar melalui mulut mereka, Haruka dan Honoka tersenyum karena menantikan pertandingan sedangkan Kou terlihat begitu murung selagi menatap daratan.


"... ..."


"Kou."


"Iya, Kakak?" Kou menatap Haruka yang sedang tersenyum kepada dirinya.


"Aahhh..." Kou membuka mulutnya dan Haruka memasukkan satu permen ke dalam mulut Kou.


"Lihat, sebentar lagi lomba akan di mulai." Honoka mengelus kepala Kou sambil menatap Minami yang mulai menurunkan kedua lengannya.


"Balap di mulai...!!!" Seru Minami keras, mereka semua langsung memerintah elang itu untuk melaju cepat sehingga kecepatan semua elang itu setara.


Mereka semua mengalami kesulitan ketika mencoba untuk melewati cincin itu karena ukurannya terlalu kecil dan mereka bergerak secara bersamaan.


Shira melepaskan cahaya ke arah gumpalan itu untuk menghancurkannya sehingga cincin itu mulai melebar dan kecepatan Shira menambah lebih cepat seketika.


"Aku mengerti sekarang...!" Haruki menembak satu sihir ke arah gumpalan lainnya sehingga kecepatan elangnya meningkat lebih tinggi lagi.


Haruki dan Shira mulai meninggalkan Arata dan Shizen yang mengalami sedikit kesulitan serta kendala terhadap elang mereka yang lumayan lambat dan malas.


"Oi, ada apa...? Kenapa pergerakanmu itu bertambah semakin lambat?!" Tanya Arata kepada elang tersebut.


Ekspresinya terlihat kelelahan dan ia langsung menyerap semua energi elang yang Haruki dan Shira tunggangi.


Kecepatan elang itu meningkat drastis sehingga Arata langsung berada paling depan, Shira dan Haruki terkejut ketika melihatnya bahkan mereka juga terkena susul oleh Shizen yang menambahkan kecepatan dengan melepaskan ledakan di belakang.


"Akhirnya...! Balapan yang sebenarnya baru saja di mulai...!!!" Tubuh Shira memancarkan cahaya sehingga ia bersama elangnya bergerak sangat cepat.


Haruki tidak memiliki pilihan lain selagi menggunakan kemampuan juga kekuatannya untuk mengalahkan ketiga temannya itu.


Pada akhirnya, lomba itu berakhir dipenuhi dengan kekuatan dan kemampuan yang terlepas kemana-mana bahkan Minami memasang tatapan datar karena ia melupakan sesuatu yang penting.


"Kenapa mereka malah menggunakan kekuatan di lomba elang...?" Tanya Meko dengan tatapan yang terlihat kaget karena kecepatan mereka terus meningkat.


"Ini lah Legenda biasa, Meko. Mereka akan menganggap apapun sebagai pertarungan dan tantangan..." Jawab Minami sambil terkekeh pelan, ia menyadari mereka baru saja melewati pulau itu selama sepuluh kali.


"Oi! Berhenti...! Sudah!!!" Seru Minami, mencoba untuk menghentikan mereka semua tetapi mereka tetap melanjutkan balap kali ini saling melepaskan sihir untuk menjatuhkan lawan.

__ADS_1


Minami bersiul keras, semua elang itu langsung menjatuhkan mereka semua, setelah itu para elang terbang kembali masuk ke dalam gunung untuk beristirahat.


"Apa yang kalian lakukan? Ini bukan pertarungan atau pertandingan serius, seperti biasanya kalian harus serius dan berlebihan ya..." Minami berbicara kepada Shira dan yang lainnya dengan tatapan yang sudah menduga.


"Hahaha, maaf-maaf, sudah lama sekali kita tidak bertanding jadi kita malah terbawa suasana..." Jawab Shira sambil mengusap kepalanya sendiri.


"Bertanding dengan melakukan balapan elang tidak buruk juga, cukup menyenangkan bahkan aku bisa melihat pemandangan hijau dan desa yang terlihat sangat indah." Kata Haruki.


"Tadi itu cukup menyenangkan, apa masih ada tantangan lain yang dapat kita lakukan?" Tanya Arata.


"Kita hanya harus menunggu sampai malam untuk melakukan budaya Neko Legenda, semoga kalian masih tetap di sini." Kata Meko, mereka semua mengangguk sehingga perut Shira bersuara keras.


""Ehh?""


"Hahaha, sepertinya balapan tadi entah kenapa membuatku lapar... mungkin aku terlalu sibuk bekerja sejak itu sampai terus telat makan." Shira menepuk perutnya beberapa kali.


"Kalau begitu, mari aku antar kalian menuju restoran yang cocok untuk tamu-tamu." Meko melompat kembali menuju desa dan mereka semua langsung mengikuti dari belakang.


Beberapa menit kemudian, mereka semua tiba di sebuah restoran besar yang menyediakan makanan berbeda-beda, awalnya Arata tidak ingin makan tetapi ia setidaknya melihat beberapa makanan yang menarik perhatiannya.


Berbagai macam hidangan di pesan oleh mereka, membutuhkan waktu selama 15 menit dan semua hidangan itu sudah berada di atas meja besar jadi mereka dapat menikmati makanan itu seperti keluarga.


"Silakan, tamu-tamu sekalian. Selamat menikmati makanan yang kami buat dengan rasa dari budaya kami sendiri..." Ucap Meko.


""Selamat makan!!!"" Mereka langsung menikmati semua makanan itu.


Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan Shira, Shuan, dan Minami yang makan begitu cepat selagi menikmati semua makanan itu dengan gigitan, mereka bisa saja menghabiskan makanan itu dalam beberapa menit.


Bukan hanya mereka saja tetapi Legenda lainnya menikmati semua makanan itu begitu cepat, karena jumlahnya masih banyak jadi mereka memakannya dengan cepat sebelum habis di rebut.


"Enak sekali...!" Seru Shira, ia melihat sebuah mangkok nasi dengan lauk pedas yang terlihat lezat, mangkuk itu terletak dengan Haruki yang sedang sibuk makan hidangan lainnya.


Shira juga sempat melihat steak yang baru saja selesai di panggang, steak itu berada di atas piring sebelah Arata yang sedang meminum jusnya.


"Kalian tidak ingin makan ini?" Tanya Shira sehingga ia rebut piring dan mangkok itu lalu menghabiskan semuanya dengan satu gigitan.


Arata dan Haruki melebarkan matanya ketika melihat Shira baru saja mencuri makanan kesukaan mereka yang di simpan untuk terakhir.


"Woi, brengsek!!! Makanan itu adalah kesukaanku, kenapa kau harus memakannya seperti itu dan hadapan wajahku!?" Seru Arata.


"Nasi dan lauk pedas itu sudah aku simpan sebagai hidangan penutup...!"


"Waduh, maaf-maaf, kesalahanku." Shira terkekeh sehingga dikejutkan dengan Arata dan Haruki langsung menghabiskan semua makanan yang terdapat di hadapannya.


"Ahhhhhh!!! Kueku...!!! Rotiku...!!! Dagingku...!!!"


"Kau sendiri yang memulainya...!" Seru Arata.


"Kalian memakan makananku lebih banyak di bandingkan aku mencuri makanan kalian...!" Seru Shira.


"Jangan membuat keributan di meja makan...!!! Kau yang memulainya jadi kau berhak mendapatkan hukuman itu!" Seru Haruki.


"Aku kira kita teman...!" Shira memunculkan aura emasnya.


""Berteman?! Setelah memakan makanan favorit kami...!?"" Arata dan Haruki memunculkan aura mereka juga.


Istri mereka mulai turun tangan "Kalian...!!!"


"...jangan membuat keributan di tempat umum!!!"


Shira, Haruki, dan Arata mulai ketakutan melihat ekspresi amarah istri mereka.


""Y-Ya...""


""Kami mengerti...""

__ADS_1


__ADS_2