
Shuan membuka kedua matanya lalu ia menatap kedua tapak tangannya, ia bisa melihat wilayah di sekelilingnya dipenuhi dengan awan emas sampai dirinya mengingat sesuatu yang terjadi di akademi permohonan.
"Rasanya seperti kemarin aku ke sini... tetapi sekarang, aku benar-benar berada di surga tanpa pemanggilan mendadak." Shuan menghela nafas pelan.
Rokuro mulai menepuk keras punggung Shuan sampai mengejutkan dirinya, "Sepertinya kita memang sudah gugur... aku kira diriku akan masuk ke dalam neraka karena pendosa sepertiku tidak pantas menikmati semua ini."
"Apakah kita benar-benar berada di dalam surga...?" Tanya Asriel melihat pemandangan yang begitu indah.
Mereka semua langsung mendapatkan sambutan dari Korrina yang muncul tepat di hadapan mereka dengan sebuah senyuman yang tertera di wajahnya.
"Kalian sudah berusaha cukup hebat ya... memenuhi harga diri kalian sebagai bangsa Legenda, bertarung sampai mati demi melindungi harapan itu."
"Korrina..." Shuan melihat Korrina lalu ia menundukkan kepalanya kepada dirinya bahwa ia tidak bisa melindungi Kou lagi yang sudah jauh.
"...kami ingin meminta maaf soal putrimu yang sudah kami tinggalkan, rasanya cukup sulit untuk menempati janji itu sampai kita sekarang telah gugur." Kata Rokuro.
Korrina tersenyum lalu ia menepuk kepala Rokuro dan Shuan dengan kipas tangannya, "Tidak perlu meminta maaf... kalian sudah berjuang cukup keras sampai harapan di dalam tubuh kalian akan terus berlanjut."
Asriel terlihat kebingungan karena ia tidak menyangka akan melihat Korrina berada di surga juga, "Jika Korrina di sini... apakah kamu sudah mati...?"
"Belum, Korrina masih ada, hanya saja diriku hanya sekedar wadah terakhir untuk arwahnya yang masih berkeliaran di luar alam semesta." Jawab Korrina.
"Dengan kisah heroik kalian untuk tetap maju sebagai petarung Legenda yang layak, kalian berhak mendapatkan surga itu sendiri..." Korrina melirik ke belakang.
Shuan melebarkan kedua matanya ketika melihat Minami yang sedang menunggu kedatangannya itu dengan senyuman yang terlihat bangga bahwa adiknya gugur sebagai Legenda dengan penuh kebanggaan.
"Selamat datang, Shucchi." Kata Minami.
"Ka... Kakak..." Shuan meneteskan beberapa air mata melalui kedua matanya lalu ia bergerak ke depan dan memeluk Minami erat.
Kedua saudara itu telah dipersatukan kembali di atas surga, kehidupan tenang mereka di mulai dari sekarang selagi memperhatikan kondisi Yuusuatouri yang sudah buta dengan keadilan dan kekuasaan.
"Kalian sudah harus menutup buku sejarah itu... melanjutkannya kepada harapan yang kalian serahkan." Korrina mulai menatap ketiga Legenda itu yang terlihat bersedih.
Mereka masih memiliki rasa penyesalan dan rindu soal istri mereka yang sudah di tinggal, Korrina mulai mengelus kepala mereka satu per satu bahwa semuanya akan berjalan baik-baik saja.
"Buku telah tertutup... buku itu akan dilanjutkan kepada anak kalian, membukanya sampai menulis sejarah dan kisah yang begitu panjang di era penuh dengan kebutaan."
"Ini adalah perhentian terakhir kalian... rasanya cukup panjang... menyakitkan... dan menyenangkan bukan?" Tanya Korrina yang mulai tersenyum lagi.
"Aku tidak bisa... memperlihat diriku sebagai keturunan Shiratori yang sebenarnya... di kematian ku ini... aku masih tetap merasa gagal menjadi seorang Legenda." Ucap Shuan yang menangis di pelukan Minami.
"Tidak ada yang namanya kegagalan... kamu sudah berjuang sampai titik ini, kau telah menunjukkan kepada dunia bahwa Neko Legenda juga memiliki potensi yang baik..."
"...kamu sudah memenuhi semuanya, membuat Kou menjadi gadis yang sangat bahagia dengan menciptakan harapan baru. Harapan yang lahir dari Kou Comi..."
"...Shiratori Shinobu. Dia akan melanjutkan kisah kita sebagai Neko Legenda dengan keturunan Shiratori...!"
Shuan tersenyum kecil, perkataannya itu memberikan dirinya harapan bahwa suatu saat nanti Shinobu akan melanjutkan kisah dirinya, "Kau benar..."
"...setidaknya kita sudah berjuang sekeras mungkin, aku tahu bahwa suatu saat nanti generasi kita yang selanjutnya akan mencapai sesuatu yang lebih hebat."
"Kau benar, Shuan... walaupun diriku sudah mati, jiwaku dan keturunan Shimatsu akan tetap maju... di lanjutkan oleh putriku yang bernama Shimatsu Koizumi." Rokuro tersenyum serius.
"Kita sudah menyerahkan semua harapan itu... aku yakin bahwa kedua anakku juga akan melakukan hal yang sama, semoga saja mereka bisa berteman baik seperti kita."
""Ya! Itu benar!""
Korrina tersenyum melihat ketiga Legenda itu tidak kehilangan harapan apapun, mereka memiliki kepercayaan tinggi soal generasi yang selanjutnya sampai ia mulai mendekati mereka bertiga.
__ADS_1
"Kalian bertiga sudah melakukan yang terbaik selama kehidupan kalian... tidak ada yang namanya sia-sia, kalian akan mendapatkan kebenarannya di surga."
"Mereka yang melanjutkannya akan mendapatkan kepercayaan dan harapan kalian..." Tubuh mereka semua memancarkan cahaya surga lalu menghilang seketika.
"...karena itu adalah sesuatu yang penting."
***
Sejak mengetahui kematian dari ketiga Legenda yang awalnya akan meneruskan sejarah ketiga keturunan, mereka telah gugur dalam sebuah pertarungan berat sebelah demi menyelamatkan satu harapan penting yaitu Hana.
Proses pemakaman terjadi hari ini, tidak jauh dari kerajaan Legetsu dimana ketiga Legenda yang mati sebagai pahlawan itu di kuburkan tidak jauh dengan kuburan Honoka.
Arata dan Haruki mengetahui tentang kematian anak-anak mereka, perasaan yang mereka rasakan sudah pasti terasa begitu kaget sampai tercampur aduk karena mereka tidak dapat berpikir dengan jernih karena situasi yang di hadapi.
Ibu mereka menangis, dipenuhi dengan air mata yang tidak akan pernah bisa berhenti mengucur karena kehilangan seorang anak adalah suatu peristiwa yang begitu menyakitkan.
Mereka sudah mengasuh putra itu dengan penuh kasih sayang sampai melihat pertumbuhannya sampai titik dimana mereka telah menjadi seorang petarung yang begitu hebat, tetapi hari ini mereka gugur sebagai petarung dan Legenda dengan penuh kebanggaan.
"Mama... kenapa Papa harus pergi seperti itu dengan cepat...? Kenapa tanah harus mengubur tubuhnya...? Koneko tidak sempat berlatih sekalipun dengan Papa..." Koneko mulai berbicara selagi memegang erat tangannya.
Pemakaman itu dipenuhi dengan banyak sekali Legenda yang menghormati mereka, rasa kehormatan itu di tunjukkan melalui sihir yang di lepaskan ke atas langit sampai menyebabkan ledakan kecil.
"Papamu... harus beristirahat cukup lama dari pertarungan terakhirnya, nak." Jawab Kou selagi menatap Shinobu yang melihat beberapa Legenda memasukkan tanah ke dalam kuburan Shuan.
"Jika Papa istirahat panjang sekarang maka aku tidak bisa pergi dengannya... Papa berjanji untuk melatih diriku..." Kata Shinobu yang mencoba untuk tidak menangis.
"Maaf ya, nak... mungkin lain hari..." Kou menggendong tubuh Shinobu lalu memeluknya erat selagi menangis karena ia telah kehilangan banyak hal di era kerajaan yang dipenuhi penderitaan dan kesedihan.
"Tapi Papa... Papa berjanji untuk melatihku menjadi petarung... tidak... jangan bawa dia pergi... Koneko merasa kesepian..." Shinobu mengulurkan lengan kanannya ke arah kuburan itu.
"...hentikan... tolong jangan memasukkan lebih banyak tanah...! Papaaaaa...!!!" Teriak Shinobu keras yang mulai menangis karena ia sendiri masih belum mendapatkan kasih sayang yang cukup dari Shuan.
Rasa bencinya dengan era kerajaan ini terus meningkat sehingga ia bersumpah ketika sudah kuat nanti dirinya akan membunuh raja dan memusnahkan kerajaan yang tidak berguna bagi pandangannya sendiri.
Koizumi mengepalkan kedua tinjunya erat lalu ia menatap Haruka yang mulai memeluknya dengan sangat erat, "Maafkan aku... anakku..."
"Mama... hiks..." Koizumi mulai menangis seperti anak kecil di hadapan Haruka karena ia sebenarnya masih tidak menerima tentang kematian Ayahnya itu.
Mitsuki mulai mengelus kepala Ako dan Konomi, "Anak-anak... semuanya akan baik-baik saja ya... jangan terus bersedih seperti itu karena Papa kalian nanti akan merasa bersalah di atas sana."
""Tidak bisa..."" Ucap mereka bersama yang masih menangis di hadapan baru nisan Asriel.
Pemakaman berakhir dengan cepat tetapi mereka masih berada di lokasi itu merasa kesal dan sedih, perasaan yang di rasakan tidak jauh lagi dari kesedihan, penderitaan, kebencian, dan amarah.
Semuanya mengalami perubahan begitu cepat sejak era kerajaan terjadi, tidak ada lagi yang namanya keadilan atau persatuan yang pantas untuk di lindungi seperti dulu.
Tujuan utama mereka sekarang hanya bertahan hidup, membunuh mereka yang tidak pantas memimpin sesuatu dengan tanggung jawab mereka yang begitu kecil dan bodoh.
"Keadilan sudah buta sekarang... percuma saja aku dulu bertarung demi bangsa Legenda jika mereka ingin memperlakukan masa depan seperti ini." Arata mengepalkan tinjunya keras sampai uratnya menonjol.
"Jika seperti ini... aku sudah tidak bisa memandang mana yang benar dan salah, mengetahui putra yang selalu aku banggakan mati karena raja..."
"...hal seperti itu tidak bisa di maafkan dengan mudah, brengsek...!!! Si sialan Regulus itu perlu merasakan apa arti dari penderitaan yang sebenarnya!" Haruki menghantam pohon di sebelahnya sampai hancur.
Arata dan Haruki sudah cukup muak melihat penderitaan dan kesedihan terus bermunculan tanpa tanda apapun, semuanya terjadi di era kerajaan yang sangat mereka benci.
"Aku bersumpah untuk membunuh si brengsek itu..." Arata memasang tatapan yang mematikan, pandangannya soal keadilan sudah berubah.
"Dengan melihat semua ini... sudah pasti..." Haruka mulai berbicara selagi menatap kuburan Rokuro yang dipenuhi dengan bunga.
__ADS_1
"...jika kau ingin mengubah sesuatu maka tanganmu perlu kotor, bangsa Legenda tidak akan pernah bisa akur dengan satu sama lain karena memiliki pandangan dan ideal yang berbeda."
"Tetapi... memangnya rasa peduli itu masih akan tetap tertera di dalam tubuhku...? Lihat saja... aku akan menghancurkan mereka satu per satu." Kedua mata Haruka berubah menjadi merah seketika tetapi hanya dalam waktu sekejap.
Hana merasakan sesuatu yang janggal, ia tidak memiliki Honoka sama sekali, dirinya yang sudah hancur karena gagal dalam melakukan apapun mencoba untuk tetap positif.
Semua rasa positif itu hancur seketika melihat Hinoka yang sedang duduk di sebelah kuburan Honoka selagi menempati beberapa bunga Crimson, ia mulai mendekati kuburan itu dan apa ia lihat selanjutnya...
...benar-benar menghancurkan perasaan dan hatinya sampai berkeping-keping karena sahabatnya yang begitu dekat bernama Honoka Comi juga sudah mati.
Ia tidak pernah mengetahui berita seperti itu tetapi sekarang, hari yang tidak baik untuk merasakan lebih banyak penderita dan kesedihan, kedua mata Hana terlihat mati seketika.
Perasaan yang ia rasakan tidak jauh dari kehampaan dan rasa ingin membunuh demi memuaskan hasrat kebencian terutama penderitaannya, ia tidak bisa mengeluarkan air matanya yang sudah kering.
Tatapan murka dan kosong yang bisa ia tunjukkan sampai Hinoka sempat melihat wajahnya lalu merasa takut seketika, "Permisi... ada apa ya...?"
"Hei..."
"Mmm? K-Kenapa?" Hinoka terlihat ketakutan.
"Apa yang terjadi dengan Ibu...? Kenapa dia bisa merasakan takdir yang sama dengan adikku...?"
"Ohh... Mamaku beristirahat panjang ketika ia melawan seseorang... aku tidak melihatnya dengan jelas tetapi aku sempat melihat Mama dipenuhi dengan darah sampai beberapa anggota tubuhnya hilang."
"Mama mungkin tidur untuk selamanya ketika ia memelukku yang sudah tertidur... tetapi... aku tidak boleh bersedih terus karena itu adalah tindakan anak yang cerewet dan nakal---"
Hinoka terkejut ketika Hana terjatuh, kesadarannya hilang seketika karena ia sudah tidak bisa melihat dunia yang sudah kotor dengan keadilan dan kekuasaan yang membutakan pandangan.
""Hana...!""
***
""Hahahahahaha!!!""
Kerajaan Legetsu saat ini sedang mengalami pesta yang begitu meriah karena Regulus sekarang telah menjadi kaisar yang tidak akan pernah bisa kalah dari siapa pun karena kemampuannya itu.
Semua prajurit Regulus mulai bertambah semakin banyak sampai mereka mendapatkan kekuatan yang sama karena karisma Regulus yang begitu kuat.
Pasukannya dipenuhi dengan petarung, kesatria, dan masih banyak sekali sampai ia sudah menyebarkan kerajaan Legetsu di sebagian planet bahwa nama Regulus akan terus di kenang dan di angkat.
"Kerajaan Legetsu tidak akan pernah mati!!!" Regulus mengangkat gelas yang dipenuhi bir.
""KERAJAAN LEGETSU TIDAK AKAN PERNAH MATI!!!"
"Semua orang berhak mengetahui siapa yang lebih agung dan berkuasa...!!! Kaisar Regulus, sang Saint Legenda yang begitu mulai!!!"
"Dengan ini, aku menyatakan bahwa kerajaan Legetsu akan terus maju dan berkembang sampai titik dimana kita bangsa Legenda akan di kenang sebagai ras yang kuat karena kemampuan dan usaha kita!!!"
"Tiada hari tanpa bersujud di hadapan Kaisar Regulus...!!! Untuk sekarang kita musnahkan mereka yang tidak mau menyembah dan menganggap diriku sebagai sang Kaisar!!!"
""HIDUP KAISAR REGULUS KHAN!!!""
Diablo dan Satori hanya bisa melihat dari jauh selagi menikmati satu gelas yang dipenuhi bir, "Aku tidak menyangka Kaisar seperti dirinya akan memusnahkan sampah itu dengan sendiri."
"Perang sudah dekat... kau dengar apa yang ia katakan tadi? Sudah saatnya memusnahkan sampah yang tidak menerima masa depan." Kata Satori.
"Hmph, akhirnya... Satu-satunya yang menarik perhatianku telah muncul, aku merasa terbakar dengan penuh semangat dan kekuatan ketika berperang dengan bangsa Legenda."
"... ..." Satori hanya bisa diam selagi menatap langit-langit.
__ADS_1
"...satu lagi gugur ya."