
Zangetsu menginjak kepala Haruka, "Apa yang kau lakukan memberikan diriku keuntungan yang besar..."
"...tetapi sekarang, tugas yang Ayahku berikan padaku telah sepenuhnya selesai. Tiga keturunan Comi sudah resmi mati, hanya menyisakan generasi baru yang harus disingkirkan secara bertahap."
"Dengan kematiannya dirimu, Holy Corpse bagian jantung sudah Ayahku terima... dia sudah menerima keabadian sempurna karena kematian dirimu."
Zangetsu menendang wajah Haruka lalu ia melangkah pergi meninggalkan tubuh jasadnya yang bisa dibilang masih hidup karena jarum jam yang terus berulang di matanya itu.
Zangetsu berubah menjadi tanah lihat lalu ia bergegas mengunjungi Anastasia untuk melakukan sentuhan terakhir terhadap kristal kekacauan itu,
Haruka menggerakkan jarinya pelan-pelan, ia masih memiliki tekad besar untuk terus hidup dan menyampaikan pesan terakhirnya kepada harapan yang sudah ia serahkan.
Rasa sakit yang ia rasakan tidak memiliki perbedaan dengan kegagalan yang ia lalui sejak menjelajahi berbagai macam masa dan dimensi sejak itu.
"...Time..." Haruka menyentuh tanah yang langsung mengeluarkan lambang waktu.
"...Rep... lay..." Haruka mengepalkan tinju kanannya sampai lambang waktu tersebut membentuk kubus yang sudah ia jadikan sebagai pesan terakhir untuk Koizumi.
Pesan kematian karena ia tidak bisa melakukan apapun kecuali menerima takdir yang menyakitkan itu, ia hanya perlu bertahan dan mencoba untuk tidak menutup matanya sama sekali tetapi pergerakan dari jarum jam itu terus melambat.
"Aku... tidak bisa mengubahnya lagi..."
"...jika sudah... terluka parah seperti ini... aku hanya perlu menunggu... sampai jarum jam di mataku berhenti..."
"...aku tidak menyukainya... kenapa... aku harus mati di alam semesta asli ini... padahal... aku sudah... melihat... anakku tumbuh dewasa..." Haruka mulai menangis.
"Aku... tidak bisa mengubahnya lagi... panggilan tadi... adalah yang terakhir... Honoka... dan Kou... sebelum kematian mendatangi mereka... sempat bertemu... dengan Mama..."
"Apakah... aku akan mati... tanpa mengetahui kapan... Mama akan pulang... atau mendukung... anakku yang mengikuti turnamen..."
"...mungkin ini... memang salahku... aku yang sudah memperluas masalah itu... tetapi aku tidak menyesal... mengetahui... aku akan memiliki seorang putri..."
"Meski takut... tapi aku... sudah menyerahkan semuanya... pasrah... dan siap... untuk menghadapinya... semua kehidupan... memiliki takdir kematiannya tersendiri..."
Kubus itu langsung membentuk tubuh Koizumi yang duduk di sebelahnya, "...walaupun... kamu hanya sekedar Replay... setidaknya aku ingin mati..."
"...di sebelahmu..." Haruka menempati kepalanya di atas pangkuan Koizumi lalu ia memegang erat tangannya dan menatap wajahnya yang terlihat sedih itu.
"Jika... keberadaanku... sudah di hapus... dan menghilang... Koizumi akan datang... menyadari ada yang salah... maafkan aku... Koizumi..."
"...aku tidak bisa... memberikan kentang goreng... yang selalu kamu inginkan... kalung ini juga... sungguh hadiah terakhir yang indah..." Haruka tersenyum penuh rasa syukur.
Lenergy Haruka terus berkurang secara drastis, ketika Lenergy itu habis maka pandangannya tidak akan bisa melihat dunia lagi melainkan cahaya surga yang membawakan dirinya langsung ke tempat terakhir yang cocok untuk dirinya beristirahat.
"Apapun yang terjadi... aku sudah mencapai... batas... hanya bisa berdoa... memohon... berharap... untuk lahir... kembali..."
"...Mama... izinkan aku... untuk mengubahnya lagi... aku memang... menyedihkan... untuk terus lari... dari kenyataan dan realita itu sendiri..."
"Koizumi... dengar ya... ini adalah pesan... terakhir dari ibumu..." Haruka tersenyum ikhlas.
***
Malam hari telah tiba, Koizumi merasa sangat khawatir ketika mengetahui Haruka masih belum pulang saat ini.
Semua temannya juga ikut khawatir ketika Haruka masih belum pulang dari toko untuk membeli beberapa bahan demi bisa menyiapkan menu spesial untuk mereka semua.
"Kakak, biasanya Tante Haruka akan pulang jam berapa...?" Tanya Shinobu.
"Ibuku tidak selalu menghabiskan waktu lama dalam berbelanja... tetapi ini sudah melebihi tiga jam, seharusnya bahan yang ia cari tidak begitu langka."
"Apa mungkin semuanya terjual habis sampai Tante Haruka perlu membelinya dari toko lain?" Tanya Ako.
"Tidak... ibuku akan langsung pulang dan mengganti menu... malam seperti ini, aku harus mencarinya!" Koizumi bergegas keluar dari rumah itu sampai ia bisa melihat pohon sakura di sebelahnya menjatuhkan banyak sekali kelopak sakura.
Koizumi melesat ke atas langit lalu ia mencoba untuk mengikuti jejak Haruka dengan menggunakan pandangan yang sudah ia gunakan sihir Time Replay untuk mengulang kejadian beberapa jam yang lalu.
"Koizumi! Tunggu kami..." Konomi bersama yang lainnya mengikuti Koizumi dari belakang, berharap agar Haruka baik-baik saja dan memiliki alasan yang baik.
Mereka terus melihat Haruka yang sempat berinteraksi dengan beberapa orang sampai tidak lama kemudian ia sudah tiba di dalam toko itu, membeli banyak sekali bahan untuk menyiapkan makan malam.
Tidak menghabiskan waktu selama sepuluh menit, Haruka berjalan keluar dari toko itu lalu melangkah ke depan dengan tatapan yang terlihat senang karena bisa melihat bunga sakura bermekaran.
__ADS_1
Apa yang Koizumi lihat selanjutnya langsung mengagetkan dirinya, Shinobu bersama yang lainnya tidak bisa melihat apa yang Koizumi saksikan dengan kedua pupilnya yang berlambang jam dengan jarum mundur ke belakang.
Koizumi melihat penyiksaan Haruka tepat di depannya, melihatnya saja membuat tubuhnya merinding sampai kedua lengannya bergetar karena Haruka menerima banyak luka fatal oleh seorang pria yang terlihat seperti Dewa.
"Koizumi...!" Hinoka melihat jasad Haruka tepat di depannya, berdekatan dengan pohon sakura.
Koizumi langsung menghentikan Replay waktu itu karena ia tidak tahan melihatnya, ketika pandangannya kembali semula ia dikejutkan dengan banyak darah di depannya.
"I-Ibu...?" Koizumi melihat tubuh Haruka yang berbaring di sebelah kubus waktu dan pohon sakura itu, punggungnya memiliki dua lubang yang masih mengeluarkan banyak darah.
"... ..." Koizumi melangkah pelan-pelan ke depan, kedua kakinya bergetar tanpa henti sampai ia tidak bisa mempercayai apa yang baru saja dirinya saksikan dengan kedua matanya.
"Ibu..." Koizumi berlutut di sebelah jasad Haruka, Lenergynya sudah habis dan pesan terakhirnya sudah ia simpan di dalam kubus itu sampai dirinya juga sempat melihat Koizumi dalam detik-detik kematiannya.
Langit-langit mulai mendung sampai menurunkan hujan yang besar, memunculkan petir yang memberikan sebuah cahaya terhadap tubuh Haruka sehingga Koizumi dapat melihatnya dengan jelas bahwa ia bukan tertidur.
Barang yang Haruka bawa juga sudah berantakan di sebelahnya dan basah karena hujan itu, ia bisa melihat genggaman tangan kanannya menyimpan kalung waktu pemberian Koizumi.
"Apa yang... dia lakukan..." Koizumi berlutut di hadapan Haruka.
"...aku masih... membutuhkanmu... Ibu..."
"Ibu... bangun... biarkan aku yang membuat makan malam sekarang..." Koizumi memegang erat bahu Haruka lalu ia bisa melihat wajahnya, kedua matanya tertutup rapat dan bibirnya yang tersenyum kecil karena menerima kematiannya.
"Tidak mungkin..."
"Ibu...! Bangun...! Aku mohon...! Aku masih membutuhkan ibu...!"
Shinobu bersama yang lainnya hanya bisa diam ketika mengetahui Haruka sudah tiada, keberadaannya tidak bisa mereka rasakan bahkan kedua saudara Shichiro tidak merasakan arwah apapun dalam tubuhnya.
"Ibu...!!! Ibuuuuu...!!!" Teriak Koizumi keras sehingga ia langsung memeluk erat kepalanya, ia sadar bahwa ibunya sudah tiada dan tidak akan pernah menyambut dirinya lagi.
Ucapan selamat tinggal tadi adalah yang terakhir, sebelum Haruka pergi untuk membeli bahan, perkataan Koizumi yang meminta dirinya untuk hati-hati ternyata menandakan kematian Haruka sudah mendekat.
"IBUUUUUUUU...!!!"
Kedua matanya penuh dengan air mata yang terus mengalir deras, panggilannya tidak Haruka balas sama sekali sampai menyebabkan Koizumi merasa sangat kesal dan frustrasi.
Koizumi bangkit dari atas lalu menjerit keras selagi mengacak-acak rambutnya, teman-temannya langsung terlihat kaget sampai Shinobu sendiri bisa merasakan perasaannya campur aduk dengan kesedihan, dendam, dan amarah besar.
"Hiks... Hiks..." Koizumi memejamkan kedua matanya yang terus mengeluarkan banyak sekali air mata, ia menyadari rasanya kehilangan seorang Ibu yang sudah mau merawat dirinya sendirian sejak kecil.
"AAAAAAAAHHHHHHHH...!!!" Jeritan Koizumi bertambah semakin keras sampai mengguncangkan daratan lalu menekan semua teman-temannya.
"AAAAAAAHHHHHHHHH!!!" Koizumi melebarkan kedua matanya yang langsung melambangkan dosa Wrath di kedua pupilnya.
Shinobu bergegas mendekati Koizumi sebelum ia mengamuk dan hilang kendali atas segalanya karena dosa amarah itu, Koizumi mengepalkan kedua tinjunya sangat kasar sampai ia merobek kulit tapaknya sendiri karena genggaman itu lalu mengeluarkan banyak darah.
"BRENGSEEEEK...!!!" Koizumi menghantam daratan cukup keras sampai retak, Shinobu langsung menyentuh bahu Koizumi agar bisa menenangkan dirinya.
"Kakak... maafkan kami..."
"...seharusnya... kita semua pergi... bersama... tetapi... aku tidak menyangka... akan ada musuh yang langsung menyerang Tante Haruka."
"Aku tahu...!!! Ini pasti... ini pasti palsu... semua itu tidak nyata... aku yakin... ibu masih hidup... bukannya begitu, Shinobu...!?" Koizumi masih tidak bisa menerima fakta bahwa Haruka sudah gugur.
"Ibuku... dia sangatlah kuat... jika beliau bisa mengubah konsep dan hukum waktu maka... beliau saat ini pasti pingsan atau sedang tidur..."
"...luka yang ia terima, aku mohon, Shinobu... tolong sembuhkan Ibuku." Koizumi memegang erat kedua lengan Shinobu sampai ia bisa melihat lambang dosa amarah di kedua pupilnya.
"Maafkan aku... keberadaan arwah Tante Haruka... sudah pergi jauh... sangat jauh sampai aku tidak bisa merasakannya sama sekali... menghilang tanpa meninggalkan jejak sama sekali..."
"Ibumu... sudah gugur..." Shinobu berlutut di hadapan Haruka lalu ia menumbuhkan sebuah daun emas besar untuk menutup jasadnya.
"Aku tidak mengerti... kenapa... Tante sehebat Haruka... bisa membiarkan musuhnya... menyebabkan luka fatal sebesar ini kepada dirinya..." Shinobu memasang tatapan kesal.
"Kita terlambat... waktunya sudah habis... kamu harus bisa menerimanya, Kakak..."
"Jika kita terlalu lama di sini... musuh yang sudah memperlakukan Tante Haruka seperti ini akan membunuh kita juga..." Hinoka mulai berbicara dengan serius.
"...jika dia mampu menghentikan Tante seperti ini maka aku yakin musuh itu kuat sekali... kita perlu membawa tubuh Tante Haruka pergi dan menguburkannya besok."
__ADS_1
"Apa... Apa yang kau coba katakan...?! Ibuku pasti akan mengulangi waktu di masalah rumit seperti ini...!" Seru Koizumi.
"Akan menghabiskan banyak waktu, tetapi... Ibu pasti kembali... bukannya begitu, Ibu... kembalilah kepada kami maka... maka aku akan terus berada di sisimu untuk menjagamu...!"
"Tidak bisa... arwah Tante Haruka... pergi sangat jauh... beliau tidak akan mengulangi waktu..." Shinobu mengambil kubus waktu itu lalu ia memberikannya kepada Koizumi.
"Aku tidak ingin lari...!!! AKU INGIN MENGHADAPI SI BRENGSEK ITU...!!!"
"Aku akan menyiksa mereka tanpa henti...!!! Jika dia berani-beraninya menyiksa Ibuku seperti ini maka tidak ada celah dan ampunan untuk dirinya...!!!" Seru Koizumi keras.
"Kakak, kita harus pergi." Kata Shinobu sampai mengejutkan Koizumi, pikirannya masih campur aduk dengan amarah yang ia rasakan.
"Ada apa denganmu...!? Kenapa kamu tidak mencoba untuk berpikir sesuatu yang masuk akal dalam masalah seperti ini, Shinobu!?" Tanya Koizumi.
"Setidaknya... lakukan sesuatu agar Ibuku bisa melihat kembali dunia ini... aku tidak bisa menerima fakta dan kepercayaan apapun tentang beliau yang sudah tiada...!!!"
"Ibuku masih hidup...!!!"
"DIA MASIH HIDUP...!!!" Koizumi mulai kehilangan kendali tetapi Hinoka menghentikan dirinya dengan menahan kedua lengannya sampai Koizumi mulai mengamuk dan tidak menerima kenyataan.
"Aku akan mengubah masa lalu...!!! Aku akan pergi ke masa lalu...!!!" Teriak Koizumi yang mencoba untuk menggunakan sihir waktu tetapi Hinoka menghentikan dirinya sampai ia memiliki kesulitan untuk fokus menjelajahi masa lalu.
"Kau tidak akan bisa mengubah masa lalu, Koizumi! Sadarlah!" Seru Konomi.
"AKU TIDAK PEDULI...!!!" Koizumi melepaskan dorongan besar yang mendorong mereka semua ke belakang termasuk dengan daun emas yang menghalangi tubuh Haruka.
Koizumi melebarkan matanya ketika melihat wajah Haruka, semakin ia melihatnya, kenyataan ternyata memang sangat menyakitkan sampai ia menerimanya secara paksa.
Amarahnya terambil alih dengan perasaan sedih dan menyesal karena tidak menghabiskan waktu lebih lama dengan Haruka, hujan berhenti menetes sampai ia bisa melihat jelas Haruka yang tidak akan pernah bangun lagi.
Kedua matanya mengeluarkan banyak sekali air mata sampai tubuhnya melemas, mengingat semua kenangan yang ia rasakan dengan Haruka sejak itu.
...
...
"Ini hadiah ulang tahunmu yang kelima, Koizumi~ sebuah pin waktu yang selalu Mama gunakan sejak masih kecil." Haruka memberikan pin waktu kepada Koizumi yang tersenyum senang.
"Wah~ apakah itu artinya aku akan menjadi hebat dan kuat seperti Mama...?" Tanya Koizumi dengan tatapan senang karena bisa menerima sesuatu yang sangat berharga darinya.
"Tentu saja... pin ini adalah harapan yang Mama berikan kepadamu..."
"...berjanjilah untuk tetap menyimpan dan menjaganya ya."
"Tentu!"
...
...
"...Ma... Mama..." Koizumi langsung menyebut Haruka dengan sebutan yang jarang ia katakan yaitu "Mama".
Shinobu menatap Konomi dan Hinoka, memberikan isyarat untuk mengangkat tubuh Haruka agar bisa dikubur di tempat yang dekat dengan rumah Koizumi.
"Mama akan meninggalkanku seperti ini...!? Tanpa menerima pencapaian apapun yang dapat membuat Mama bangga...?!" Tanya Koizumi dengan air mata yang terus berjatuhan di kedua matanya.
"Aku tidak bisa...! Aku tidak mau di tinggal oleh Mama...!!! Aku masih belum siap...!!!"
"Kenangan...! Aku masih ingin menciptakan lebih banyak kenangan bersama Mama...!" Koizumi mengulurkan lengannya kepada Haruka yang sudah dibawa pergi oleh Konomi dan Hinoka.
"Tolong jangan pergi untuk selamanya...!!! Apapun asalkan jangan itu...!!! Kembali lah...!!! Aku masih ingin... menciptakan lebih banyak kenangan bersama Mama...!!!"
Koizumi berlutut di atas tanah lalu ia mengusap air matanya yang terus berjatuhan di kedua matanya, Shinobu melihat Koizumi menangis seperti anak kecil untuk pertama kalinya.
Melihat dirinya seperti itu jarang sekali sampai menyebabkan mereka semua ikut menangis karena melihat sikap yang tidak pernah Koizumi tunjukkan sama sekali di hadapan mereka.
"Hwaaahhhhhhhh...!!! Aaaaaahhhhhh...!!!" Koizumi menjerit dan menangis sangat keras.
"Hiks... Hwaaaaahhhhh...!!! Maafkan aku...!!! Aaaaaaaaahhhhhh..." Koizumi menyesal karena tidak bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan Haruka.
"Hwaaaaaaaagggggghhhhhhh...!!!" Koizumi menghantam daratan beberapa kali selagi mengusap air matanya yang terus berjatuhan.
__ADS_1
[Shimatsu Haruka - Gugur]