Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 1057 - Mundur bukan Berarti Lemah


__ADS_3

Korrina melihat Zeindall melancarkan beberapa serangan menuju arah dirinya tetapi ia berhasil menduplikasi kan tubuhnya menggunakan ilusi agar bisa membuatnya kebingungan.


Zeindall melihat ke sekeliling dimana banyak sekali ilusi yang mengepung dirinya sehingga ia terpaksa untuk menggunakan sihir Void tetapi Korrina yang asli langsung menghantam wajahnya sampai hancur


Setelah itu ia mulai menyatukan kedua tapaknya sampai membentuk gumpalan api surga yang ia lepaskan ke depan sampai dirinya terpental ke belakang lalu menyebabkan area di sekitarnya terbakar dengan api surga.


"Banyak sekali orang yang berjatuhan tetapi aku tidak dapat melihat pengurangan jumlah apapun, saking banyaknya aku tidak bisa fokus menyerang siapa." Kata Korrina selagi melawan beberapa pasukan yang menghalang dirinya.


Shizen saat ini terkepung oleh banyak sekali Anacondrai yang melepaskan banyak sekali semburan racun tetapi ia berhasil menghindari semua itu sehingga Skales mulai membuka mulutnya lebar untuk menggigit leher Shizen.


Untungnya Koizumi datang dalam waktu yang tepat dengan menebas wajah Skales sampai ia terpental ke belakang dengan darah hitam yang berjatuhan, "Kenapa kau tidak ingin membiarkan diriku sendiri agar bisa menggigit tubuh seseorang...!?"


"Aku tidak ingin melihat satupun Makhluk besar dari layermu untuk terus mengacaukan formasi Touriverse, dengan membunuh dirimu mungkin mereka akan kebingungan." Koizumi menunjuk pedang Greed itu ke depan.


"Ck... kau tidak memberikan diriku pilihan apapun kecuali mengeluarkan semua ini...!!!" Skales mengangkat tongkat kobranya lalu menusuknya di atas tanah untuk mengeluarkan banyak sekali pasukan ular yang menyerang mereka berdua.


"Kakek dari Shizukaze Hinoka, kalau tidak salah namamu adalah Shizen..."


"...aku membutuhkan dukungan dirimu agar bisa meledakkan pasukan Anacondrai yang berukuran besar itu, apakah kau bisa melakukannya?" Tanya Koizumi.


"Sebisa mungkin aku akan mencoba untuk menahan ular kobra sialan ini agar tidak macam-macam dengan racun dan pembangkitan Anacondrai lainnya." Koizumi dan Skales melesat menuju arah satu sama lain.


Shizen mengangguk lalu ia mulai memfokuskan pandangannya kepada pasukan ulur kecil dan Anacondrai yang mengepung mereka berdua.


Ako mencoba sebisa mungkin untuk mencari tahu dimana Shinobu yang saat ini sedang kesibukan karena menerima banyak sekali serangan dari Brimgard yang cukup untuk melenyapkan nyawanya.


Artemus mulai muncul di hadapan Ako lalu melancarkan sebuah tebasan yang tercipta melalui cakramnya itu, "Cih... lagi-lagi ada yang mencoba untuk mengganggu diriku."


"Wajar saja, gadis... kau tidak akan pernah bisa menikmati sedikit pun istirahat karena di Ragnarok, semuanya akan bertarung tanpa adanya jeda sedikit pun."


Artemus melempar kedua cakram itu menuju arah Ako yang langsung melepaskan dua panah es sampai membekukan kedua senjata itu sebelum menyentuh dirinya, "Kau memang menghabiskan waktuku saja di hadapanku...!!!"


Ako dan Artemus melesat menuju arah satu sama lain lalu melancarkan serangan senjata lain yang saling berbenturan, Artemus menciptakan sebuah gumpalan putih di tapak kanannya lalu ia melepaskannya menuju arah Ako.


Ako berhasil menundukkan kepalanya hanya untuk menghindari serangan yang menghilang seketika, ia mencoba untuk melakukan serangan balik tetapi punggungnya menerima tebasan yang sangat besar.


"Arrgghh---" Wajah Ako menerima satu tendangan dari Artemus lalu ia melempar kembali kedua cakram itu menuju arah dirinya sampai senjata tersebut berhasil ditangkis oleh seseorang yang muncul di hadapan Ako.


"Yu... Yuffie..."


"Berhati-hatilah dengan serangannya... sihirnya akan menghilang dari dunia ini, dan akan kembali ketika kau mencoba untuk melakukan perlawanan." Peringat Yuffie.

__ADS_1


"Aku... Aku tahu..." Ako memulihkan kembali lukanya lalu ia melihat Yuffie dan Artemus mulai bertarung satu lawan satu sampai Ako hanya bisa mendukung Yuffie dari belakang karena pasukan lainnya mulai berdatangan.


***


Shinobu melangkah ke depan dengan tubuhnya yang menjatuhkan banyak sekali darah sampai dirinya mulai mengusap semua darah yang mengalir deras di bagian mulutnya.


"Oh, Shinobu Koneko, bergembiralah untuk bisa mati di tangan seorang Zerdian tangguh yang akan membawa Kountraverse menuju puncak kemenangan..."


"...aku bisa menjaminkan satu hal kepada dirimu bahwa kematian ini mungkin akan membuat dirimu merasakan kenyamanan!" Brimgard dan Shinobu melesat menuju arah satu sama lain.


Shinobu melancarkan satu pukulan ke depan tetapi tinjunya berhasil di tahan oleh energi Null yang menyelimuti tubuh Brimgard sampai mementalkan Shinobu kembali ke belakang.


"Ugghhh..." Shinobu berbaring di atas tanah tanpa perlawanan apapun karena ia tidak bisa melakukan satupun serangan yang bisa memberikan dirinya luka.


"Shinobu Koneko, apakah kau memang membutuhkan kekuatan diriku...?" Tanya Sakti yang berada di alam gaib memperhatikan dirinya bertarung.


Shinobu melebarkan matanya ketika melihat Brimgard mendarat di belakangnya lalu melepaskan dorongan besar sehingga ia terhempas ke depan lalu menabrak banyak sekali konstruksi materi gelap yang ia ciptakan.


"Lemah!!!" Brimgard melompat ke atas langit lalu ia melepaskan banyak sekali gumpalan materi hitam yang mengenai perut Shinobu sampai menyebabkan ledakan besar.


"Nrrgghh... Hah... Hah... Hah..." Shinobu merasakan nyeri di bagian seluruh tubuhnya itu sampai ia tidak memiliki tenaga apapun untuk membantunya berdiri lagi.


"...aku... aku membutuhkan... kekuatan... aku tidak menginginkannya..." Shinobu menyentuh tanah hitam itu sampai wajahnya menjatuhkan banyak darah sehingga menciptakan sungai air dipenuhi darahnya sendiri.


Shinobu berhasil bangkit lagi lalu ia melihat Brimgard yang berada di hadapannya, "Kau... kuat sekali... aku tidak pernah melihat satupun petarung yang memiliki kekuatan sehebat ini..."


"Grragghh!!!" Shinobu menarik keluar Keris itu lalu ia melompat ke atas dan melesat menuju arah Brimgard sampai tubuhnya yang begitu kecil berhasil digusur oleh kedua lengan kanannya.


"Uggghhh!!!" Shinobu kembali terjatuh sampai kepalanya mulai diinjak oleh Brimgard yang tidak menanggapi musuhnya sebagai Legenda tangguh.


Brimgard melompat ke atas lalu ia menginjak tubuhnya menggunakan kedua kakinya sampai ia menjerit kesakitan, "AAAAAAHHHHHH...!!!"


"SAKIT...!!! SAKIT...!!! SAKIT...!!!" Shinobu mulai menangis ketika punggungnya menerima banyak sekali injakan dari Brimgard yang terus meremukkan tubuh kecilnya itu.


"Kemana potensi yang mampu untuk menakuti Zephyra, hah!? Perlihatkan ketangguhanmu yang sebenarnya, Shinobu Koneko...!!!" Brimgard terus melompat-lompat seperti di atas trampolin tetapi yang dijadikan trampolin adalah Shinobu sendiri.


"AAACCCKKK...!!!" Shinobu terus memuntahkan banyak sekali darah sampai pandangannya buram seketika.


"AAAAAAHHHHHHHHHH!!!" Jerit Shinobu keras sampai menggema di dalam ruangan ketiadaan itu sehingga semua orang dapat mendengarnya.


"Itu...! Nobu!!!" Ako mencoba untuk mendatangi Shinobu tetapi Artemus langsung menghalangi jalannya itu agar ia tidak mengurusi lawan lain kecuali dirinya sendiri.

__ADS_1


Semua orang tidak bisa membantu siapapun karena mereka terlalu sibuk melawan pasukan yang bisa dibilang kuat karena pasukan lemah telah sepenuhnya gugur ketika perang dimulai.


Brimgard melompat ke atas lalu ia mengangkat jarinya itu sampai menciptakan materi gelap yang membesar untuk menghapus tubuh Shinobu, "Tidurlah, petarung bar-bar..."


Brimgard memasang tatapan puas ketika melihat Shinobu masih bangkit dengan tatapan mengancam, organ, tulang, dan darah yang sudah kekurangan tidak bisa menghentikan dirinya untuk tetap maju.


"Apakah kau tahu? Aku sangat menyukai cerita yang berakhir bahagia, tetapi untukmu sepertinya tidak!" Brimgard melangkah maju menuju arah Shinobu lalu melempar materi hitam itu sampai mengenai perutnya.


Shinobu terpental ke belakang lalu ia kembali jatuh, ia segera menghubungi Cyber untuk menyiapkan beberapa pasukan Mecha Neko agar bisa mendekati dirinya itu, "Cyber... tolong cepat...!!!"


Shinobu berhasil bangkit lagi tetapi Brimgard langsung mencengkeram wajahnya, dan membantingnya di atas tanah sampai kedua kakinya mulai hancur berkeping-keping tetapi ia menumbuhkannya lagi dengan bantuan teknologi.


"Hah... Hah... AAHHHHHHH!!!" Shinobu menjerit lagi dan lagi ketika Brimgard mencoba untuk mengakhiri nyawa terakhirnya tetapi ia tetap menjadi samsak bagi dirinya.


Brimgard menghantam dada Shinobu sampai meninggalkan lubang yang besar di bagian tersebut, tetapi ia masih bisa melihat kedua matanya yang masih mengandung kehidupan tersisa.


"Kau bertahan cukup lama dari yang aku kira..."


"...tetapi ini adalah detik terakhirmu!" Brimgard mulai mencekik leher Shinobu lalu ia bisa melihat tatapannya yang pasrah dan datar.


"Karena sudah menunjukkan ketangguhan dirimu dalam bertahan melawanku, apakah kau memiliki kata-kata terakhir...?" Tanya Brimgard yang mulai mendekati telinganya.


"Sa..."


"Apa...?"


"San..."


"San... baiklah." Brimgard mulai mencekik leher Shinobu sekeras mungkin sampai ia bisa melihat kedua matanya terlihat mati tetapi ia masih melanjutkan perkataannya.


"...tet."


"... ...!!!" Brimgard langsung melebarkan matanya ketika mulutnya langsung mengeluarkan banyak sekali silet emas dari dalam tubuhnya, perutnya juga bahkan sempat membesar sampai memaksa keluar alat-alat tajam di dalamnya.


"A-Apa ini...!?" Brimgard melihat pasukan Mecha Neko mulai mengepung dirinya sehingga salah satu dari robot itu mulai melarikan diri dan meninggalkan tubuh Shinobu yang tidak memiliki nyawa apapun.


"Hah...! Hah...! Hah...!!!"


"Terima kasih, Sakti..." Ucap Shinobu yang berhasil bertingkah cepat ketika ia berhasil berubah menjadi hantu yang meninggalkan tubuhnya itu hanya untuk merasuki salah satu dari Mecha Neko agar bisa melarikan diri.


"...aku harap Santet itu cukup untuk menahan dirinya."

__ADS_1


__ADS_2