
"Kenapa...!? Kenapa kau masih hidup walaupun aku sudah melihat dengan jelas bahwa kau terkena semua serangan yang aku lancarkan...!" Ucap Mortem, ia sudah tidak memiliki niat untuk melanjutkan pertarungan dengan Haruka karena dia terlalu kuat dan tak terkalahkan.
"Aku adalah anak dari Mama yang memiliki sihir kesempurnaan dari waktu, selama waktu masih berjalan di dimensi, semesta, dunia, atau realita apapun... Aku akan terus hidup dan menggunakan sihir waktu-ku semaunya. Tetapi karena wujud remaja-ku ini sudah mulai membatasi diriku dalam menggunakan sihir waktu yang kuat dan berlebihan..."
"...Aku menggunakan kemampuan waktu-ku untuk mencuri waktu yang kau miliki. Untungnya di wujud remaja ini, aku bisa menggunakan [Time-Steal] dimana aku dapat mencuri waktu makhluk hidup dan menjadikan sebagai ganti untuk mengeluarkan kemampuan yang beresiko untuk tubuh remaja-ku... Sebentar lagi juga aku akan berubah kembali ke wujud asal-ku." Haruka mulai berdiri di atas udara sambil menatap wajah Mortem yang terlihat muak.
"Time-Steal memberikan efek yang menguntungkan untuk-ku dan juga merugikan bagi ras yang tidak memiliki umur abadi. Dewi Legenda seperti-mu yang tidak bisa mati karena usia mampu memberikan-ku waktu yang bisa aku gunakan sebagai kemampuan sihir waktu-ku... Jika aku mencuri waktu dari seorang manusia maka umur mereka akan naik satu tahun..." Haruka mengangkat jari-nya.
"Intinya wujud remaja-ku ini masih bisa disebut kuat karena bisa mencuri waktu makhluk hidup sebanyak apapun yang aku mau, jadi aku tidak perlu takut untuk berubah menjadi wujud anak kecil dengan cepat."
Mendengar penjelasan Haruka, Mortem benar-benar sudah menyerah dan tidak ingin bertarung melawan dirinya lagi. Sihir waktu memang mutlak dan tidak bisa dihentikan atau dihancurkan begitu saja karena Haruka sudah menguasai seluruh waktu dari setiap realita yang ada, menggunakan sihir pembatalan saja masih belum cukup karena Haruka dapat menggunakan ilusi serta menggunakan sihir waktu yang lain.
"Semua serangan yang kau lancarkan tadi itu mengenai-ku dan mampu melukai-ku sampai diriku bisa merasakan arti dari kesakitan, tetapi berkat sihir Crimson yang aku sudah kuasai... Rasa kesakitan itu aku ubah menjadi ketahanan dan kekebalan, bukan kekuatan..." Haruka menatap kedua telapak tangan-nya.
"Walaupun kekuatan-mu tadi sudah tidak bisa dibandingkan dengan kekuatan-ku yang kecil... Kau bisa apa dengan kekuatan dahsyat-mu itu jika kau tidak mampu mengenai-ku atau serangan kuat-mu sendirilah yang melukai-mu...? Aku lebih mengutamakan sihir waktu dan juga ketahanan yang besar agar aku tidak bisa merasakan apa itu arti dari kata kesakitan."
Mortem sekarang bisa mengerti kenapa sebagian dari serangan-nya tidak mampu melukai Haruka karena tubuh-nya yang sudah kebal dan juga mampu menahan beberapa serangan fatal yang kuat. Perang antar semesta ini bisa saja berakhir dengan cepat jika Haruka ikut campur, lebih buruknya lagi jika dia menggunakan wujud dewasa-nya.
"Pada saat ledakan itu terjadi, kau melihat-ku tergeletak di atas tanah dengan tubuh yang gosong tetapi aku menggunakan waktu-mu untuk mengaktifkan sihir menghentikan waktu, ketika sihir itu bekerja... Aku menggunakan sihir waktu lain-nya untuk mengembalikan waktu pada peristiwa dimana aku belum terkena oleh serangan-mu itu."
"Yahh... Intinya aku sangat berterima kasih kepada-mu, kakak... Karena sudah meminjamkan waktu-mu. Aku bisa merasakan perasaan-mu, kau sudah tidak tahan bertarung denganku lagi sepertinya." Haruka mendarat di atas tanah dan pupil kanan-nya mulai berubah menjadi jam dimana jarum-nya bergerak mundur.
Wilayah yang Mortem hancurkan langsung kembali seperti semula berkat sihir pengulangan waktu Haruka, ia mulai menatap Mortem dengan tatapan yang terlihat serius sampai dirinya mulai memancarkan cahaya suci lalu ia berubah kembali ke wujud anak kecil karena menggunakan sihir waktu berlebihan untuk mengembalikan setengah planet yang hancur itu.
__ADS_1
"Aku akan membiarkan-mu pergi sekarang, tubuh kecil ini tidak mampu membunuh-mu." Haruka melangkah pergi meninggal Mortem yang masih melayang di atas udara.
Mortem melempar sebuah meteor Crimson ke arah Haruka tetapi meteor tersebut mulai berhenti, "Jangan bercanda,menghentikan waktu itu bisa disebut sebagai sihir waktu yang sangat basic untukku loh..." Kata Haruka.
"Ck... Dasar adik sialan...!!!" Mortem melepaskan seluruh kekuatan terakhir-nya yang terdapat di dalam dirinya.
***
Rxeonal dan Korrina saat ini sedang bertarung, serangan mereka mulai saling berbenturan tetapi tidak melepaskan dorongan yang besar di sekitarnya karena Korrina yang dapat mengontrol-nya dengan mudah, ia sudah bisa mengontrol kekuatan-nya untuk tidak terlepas berkat tarian sakral yang ia selalu lakukan.
Korrina melompat mundur untuk menjaga jarak dengan Rxeonal, pedang-nya itu sangat berbahaya jika meninggalkan sebuah luka kecil di tubuhnya karena tadi Korrina melihat tubuh yang diciptakan oleh ilusi itu tertusuk dengan pedang Rxeonal sampai menimbulkan ledakan yang sangat besar, sepertinya pedang itu memang benar-benar pedang kehancuran.
Korrina melancarkan beberapa serangan tetapi Rxeonal menyambut semua serangan itu dan menendang perut-nya, tetapi tendangan Rxeonal menembus tubuh Korrina, "Ilusi lagi---"
Rxeonal melakukan serangan kombinasi menggunakan pedang kehancuran-nya, ia juga mulai menggunakan sihir tulang-nya untuk menjebak Korrina menggunakan tulang-tulang berduri, Korrina melompat mundur dan melepaskan dorongan ke depan sampai seluruh tulang-tulang berduri itu melesat ke depan dan hampir melukai Rxeonal.
"Aku merasa kecewa bertarung melawan-mu, raja iblis... Kekuatan-mu tidak membuatku terkesan sama sekali."
"Ada apa ini...? Kenapa sel-ku yang baru tidak dapat meniru sihir ilusi-nya itu...?" Ungkap Rxeonal.
"Jika kau bertanya-tanya kenapa darah Mimesis yang bercampur dengan darah-mu itu tidak bekerja...? Mudah sekali, karena diriku yang sudah menyempurnakan sihir Sacred maka aku dapat merebut sihir ilusi atau kesucian dari siapapun. Tadi kau mencoba untuk menggunakan sihir ilusi 'kan...? Kau gegabah juga untuk menggunakan sihir tipe suci kepada-ku yang sudah menyempurnakan seluruh sihir suci dan sakral-ku." Korrina mengepalkan kedua tinju-nya.
"Tidak mungkin...!"
__ADS_1
"Mungkin saja, silahkan saja menggunakan sihir tipe kesucian lagi, itu hanya akan memberi-ku kekuatan yang besar." Korrina melesat ke depan dan berhasil menendang wajah Rxeonal karena kecepatan-nya tidak bisa ia lihat menggunakan kedua mata-nya.
Korrina muncul di depan Rxeonal dan mulai melancarkan serangan yang bertubi-tubi sampai Rxeonal mulai merasakan kesakitan yang pedih di sekitar tubuhnya, walaupun dia ini abadi... Dia masih bisa merasakan kesakitan yang berikan oleh Korrina serta pukulan-nya juga dapat membuat kulit Rxeonal terasa seperti terbakar.
Korrina menendang-nya mundur dan mereka berdua mulai melesat menuju arah satu sama lain sambil melancarkan satu pukulan, pukulan mereka mulai saling berbenturan dan tidak ada satupun dorongan yang lepas dari pukulan itu. Korrina mulai bergerak lincah dan ia berhasil mengenai wajah Rxeonal dengan satu pukulan yang diselimuti dengan api Sacred.
Setelah berhasil mengenai wajah Rxeonal dengan satu pukulan yang meninggalkan luka bakar di wajah-nya, dengan cepat Korrina memegang kedua kakinya lalu terbang ke atas langit dengan kecepatan cahaya. Korrina mulai berputar sampai membuat Rxeonal pusing lalu ia kembali terbang menuju daratan dan melemparnya menuju tanah dengan sekuat tenaga.
Sebelum Rxeonal mengenai tanah, Korrina muncul terlebih dahulu di atas tanah lalu ia melancarkan sebuah tendangan menggunakan lutut-nya. Serangan itu mengenai dadanya sampai Rxeonal memuntahkan darah segar lalu terlempar puluhan meter ke atas langit.
Korrina sudah tiba di atas Rxeonal selagi menunjuk dirinya menggunakan telapak tangan kanan-nya yang menciptakan sebuah bola Sacred besar, "Consecrated... Flash...!!!" Korrina meluncurkan sebuah gelombang suci yang berwarna biru tua, gelombang itu membawa Rxeonal menuju daratan lalu menimbulkan ledakan yang sangat besar.
Ledakan itu mampu menimbulkan asap-asap hitam yang menghalangi Rxeonal, Korrina mulai merasakan keberadaan Mortem di dalam asap itu lalu keberadaan mereka berdua mulai hilang seketika. Korrina muncul di dalam asap itu lalu melepaskan dorongan besar untuk menghapus semua asap itu.
"Ck... Mereka melarikan diri." Korrina mulai menyilangkan kedua lengan-nya, ia tidak sempat untuk mengejar mereka berdua karena keberadaan-nya menghilang seketika.
Haruka mulai memeluk Korrina dari belakang, sepertinya Korrina tidak berencana untuk mencari mereka karena Haruka pulang dengan selamat. Korrina berbalik arah lalu berlutut dan memeluk-nya erat, ia sudah membuat janji baru bahwa ia tidak akan membiarkan Haruka pergi dan jatuh ke dalam jurang yang sesat seperti Mortem dan Rina.
Mortem, sudah tidak akan Korrina anggap sebagai anak-nya sendiri karena dia sudah diberi beberapa kesempatan dan kesempatan itu ia gunakan untuk membunuh adik-adiknya atau menciptakan kehancuran dahsyat seperti perang antar semesta.
"Aku senang kau baik-baik saja." Ucap Korrina, ia mengusap kepala-nya dan memberi sebuah kecupan di kening-nya.
"Haruka bisa kok, Mama." Haruka terkekeh.
__ADS_1