
"Ahh, dilarang memainkan waktu sembarangan, Kakak, aku bilang ke Mama nanti..." Honoka berhasil meraih kedua lengan Haruka yang mencoba untuk menggunakan kemampuan waktu untuk melompat mundur tetapi gagal karena sihir realita Honoka yang ia gunakan untuk menghentikan seluruh sihir waktu yang ia gunakan itu, Kou hanya bisa tersenyum karena ia berhasil menghentikannya, itu artinya Haruka harus jujur di hadapannya dan ia juga penasaran dengan hubungan mereka berdua sudah sampai mana sekarang.
"Ugh... Apa yang kau mau...?"
"Ehem... Rokuro..." Honoka mulai menggoda Haruka sehingga wajahnya mulai memerah karena ia tidak bisa lagi menyembunyikan sebuah fakta bahwa ia akan pergi bersama Rokuro untuk mengunjungi pembukaan dari musim sejuk ini karena Kou yang dapat membaca seluruh perasaan dan pikiran dirinya, sulit sekali untuk menyembunyikan sesuatu di dekat atau di hadapan dirinya karena kemampuan natural-nya itu.
"Kami hanya ingin memeriksa saja kok, bukannya tadi aku sudah bilang? Sebagai Kakak kalian yang tertua, Kakak berhak untuk mengambil alih dan membuat kalian mematuhi pekerjaan kalian yang belum di selesaikan, mengerti? Aku sendiri sudah mengajak Minami tetapi dia menolaknya, ya 'kan, Kou?" Tanya Haruka kepada Kou yang sedang memperhatikan dirinya dengan wajah polos, ia langsung tersenyum nakal dan menulis sesuatu di layar virtual dan menunjukkan kepada Honoka sehingga ia bersama Kou mulai tertawa terbahak-bahak.
Haruka langsung mengembungkan pipinya sampai wajahnya memerah karena Kou juga tidak berada di pihaknya itu sampai ia mau jujur kepada mereka berdua, Honoka terus tertawa lalu ia menepuk punggung Haruka beberapa kali karena semua kebohongan-nya itu dapat diketahui dengan mudah oleh Kou jadi percuma saja menyembunyikan atau berbohong karena Honoka memiliki senjata rahasia di sebelahnya itu yang juga merasa penasaran.
"Kou... Kenapa kamu tidak berada di pihak Kakak...? Kakak kasih madu yang banyak dan berkualitas baik---"
"Eits, tidak perlu membeli sesuatu karena aku dapat melakukannya dengan mudah." Honoka mengambil sebuah bunga lalu menggunakan sihir realita untuk mengubahnya menjadi botol yang dipenuhi madu berkualitas bahkan Kou sampai melebarkan kedua matanya yang terbinar-binar itu.
"Ughhh... Sialan... Kau curang, Honoka, menyogok Kou dengan sesuatu yang sangat ia sukai itu curang seharusnya kita membiarkan Kou memilih Kakak siapa yang terbaik!" Seru Haruka dan Honoka mulai memegang dagu Haruka lalu menatap dirinya dengan tatapan romatis.
"Akui saja kekalahanmu, Kakakku yang menjelang menuju kedewasaan... kami sudah tahu bahwa Kakak sendiri memiliki perasaan yang besar kepada Rokuro, Kou memberitahunya kepadaku dan bahkan sebagiannya memiliki pikiran---"
"Ahhh!!! Berhenti! Berhenti! Kou masih ada ruangan ini...!!!" Haruka menutup mulut Honoka dengan ekspresi yang terlihat sangat malu, tidak ada yang bisa dilakukan dirinya sekarang selain pasrah dan mendengarkan apa yang mereka ingin ketahui selagi menunggu supir datang untuk menjemput dirinya dan membawa dirinya menuju tempat pembukaan itu.
Honoka dan Kou merasa penasaran tentang hubungan apa yang Haruka jalani sekarang bersama Rokuro, mereka selalu saja memiliki janji untuk bertemu tetapi hubungan yang selalu Haruka katakan itu hanya sekedar teman spesial, semua itu berubah ketika Haruka sembuh dari kelumpuhannya dan memberi Rokuro sebuah ciuman.
"Apa...!? Sekedar teman?! Menyedihkan sekali, Kakak. Apakah kamu benar anak Mama...? Jika Mama disini maka ia akan bilang..." Honoka memakai kacamata lalu mulai memperagakan sikap Korrina.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Haruka. Semuanya membutuhkan proses tetapi sebagai seorang gadis terutama keturunan Comi kita ditugaskan untuk bergerak pertama kepada pria dengan memberi dirinya semua rasa cinta dan kasih sayang." Honoka mengangguk sehingga Kou bertepuk tangan, Haruka memasang wajah datar karena perkataan itu dengan mudah keluar dari mulutnya tetapi ia tidak memiliki pengalaman untuk melakukannya.
"Tidak mungkin semudah itu, Honoka. Kau ini bagaimana sih... Justru sangat sulit, sulit-sulit bahkan aku sendiri sampai terus menggagalkannya karena rasa malu sampai aku melarikan diri dengan Time-Skip." Haruka menatap arah lain dengan wajahnya yang memerah itu, tidak lama kemudian Honoka mulai menepuk kedua bahu Haruka.
"Tenang saja, Kakak! Sebagai adikmu, aku memiliki cara agar keberanian dirimu meningkat! Jika pria yang kau sukai itu adalah Rokuro maka dia adalah pria dingin yang sangat sulit untuk mengakui perasaannya, kau juga harus memperdalam harga dirimu sebagai Comi untuk bergerak pertama!" Seru Honoka, semua perkataan Honoka mulai didengar secara teliti oleh Haruka dan Kou, mereka sampai bertepuk tangan karena memiliki jati diri seorang guru di dalam tubuh Honoka.
"Kalau begitu, Kou, maukah kamu menjadi percobaannya bersama Kakak?" Tanya Honoka.
Kou mengangguk cepat dan Haruka hanya bisa duduk di atas lantai selagi memperhatikan mereka berdua melakukan sebuah drama agar Haruka bisa memberanikan diri untuk menyerang duluan dengan cara menyatakan perasaan dirinya untuk melanjutkan hubungan lebih atas lagi yaitu sebagai pacar.
"Hari yang sungguh indah bukan...? Awal mulai musim sejuk ini cukup untuk mendinginkan hatiku bahkan tidak ada kehangatan apapun yang mampu mencairkan hatiku yang membeku ini..." Honoka mendekati Kou lalu ia mulai jongkok dan menyentuh dahi Kou sehingga ia tersipu, Haruka memasang wajah datar karena tidak mungkin dirinya dapat melakukan hal seperti itu di hadapan Rokuro.
"Tetapi... Setidaknya kebersamaan ini, dirimu dan diriku bagaikan es dan api, diriku adalah es sedangkan dirimu adalah api. Kehangatan yang selalu menghangatkan hati ini bahkan tidak membutuhkan peluru atau panah untuk menembusnya karena api itu sudah cukup untuk menembus hatiku sampai aku jatuh cinta kepada dirimu, Rokuro..." Honoka mendekati wajahnya dengan Kou dan Kou semakin tersipu bahkan ia terlihat panik karena tidak tahu harus apa.
Haruka terlihat sangat terganggu karena ia tidak bisa melakukan apa yang sedang Honoka lakukan, ia juga melihat hal gangguan lainnya yaitu Kou yang terlihat begitu malu bahkan ia sendiri tidak bisa membayangkan ekspresi apa yang akan Rokuro pasang jika ia melakukan itu.
"... ...!" Kou terkejut tetapi ia tidak terlalu memikirkannya, Honoka berhenti mencium dirinya lalu memeluk Kou erat dan memberi dirinya beberapa usapan di pipinya yang begitu kenyal.
"Kita berhasil ya, Kou~ Anak baik~ Ciuman pertama kamu dari Kakak ya~"
"Apa yang kamu lakukan, Honoka!?!? Kau mencoba untuk memperagakan sesuatu yang bahkan tidak akan terjadi di jutaan tahun mendatang...!!! Rokuro tidak mungkin akan menganggap diriku sehat lagi terutama... Berani-beraninya kau mencuri ciuman pertama Kou!!!" Seru Haruka keras dengan ekspresi yang kesal.
"Ahahaha... Tidak apa-apa, kita 'kan saudara sedarah dan bahkan sama-sama perempuan. Tidak apalah, Kou 'kan adik kecilku yang imut~" Honoka tersenyum lalu memeluk Kou erat sehingga ia tersenyum dan menatap Haruka dengan penuh harapan agar ia dapat mengubah hubungan temannya menjadi hubungan pacaran.
__ADS_1
"Ciuman pertama kita sama-sama dicuri oleh Mama, yahhh... Sejak bayi bibir kita selalu di cium olehnya." Honoka mendekati Haruka dan memberi dirinya tepukan halus di punggungnya, mencoba untuk menyemangati dirinya.
"Ayolah, Kakak, kamu pasti bisa... Jangan membiarkan semua hal ini menunggu lebih lama lagi, lima tahun loh! Masa kau akan terus menjalani hubungan sebagai teman..." Perkataan Honoka sudah cukup untuk membuat Haruka merasakan motivasi tinggi, sudah saatnya untuk mengungkapkan perasaan dan bergerak lebih awal, untuk mendalami harga dirinya itu.
"Baiklah, aku akan mencobanya dengan penuh rasa percaya diri. Aku merasa yakin dan lebih percaya diri ketika bertemu dengannya sekarang, terima kasih, adik-adik imut yang aku sayangi. Sekarang aku harus mengubah takdir..." Kata Haruka dengan wajah yang memerah, ia mengatakannya sambil menepuk dadanya beberapa kali lalu Honoka mulai berbisik.
"Jangan lupa untuk memberi dirinya ciuman."
"A-A-A-Apa yang kau katakan, Honoka! Uhhhh... Berhentilah menggoda kakakmu, memalukan tahu... Bertahap dong, bertahap... Proses dibutuhkan, jangan langsung menyerangnya dengan agresif." Haruka menggembungkan pipinya dan Honoka mulai memeluknya erat lalu tertawa.
"Katakan itu kepada Haruka lima tahun yang lalu, kau menciumnya walaupun dirimu sudah sembuh dari kelumpuhan, hahaha!" Haruka dan Honoka tiba-tiba merasakan sentuh Kou, mereka mulai menatap dirinya yang sedang memegang sebuah layar virtual yang memiliki tulisan di dalamnya.
Mereka membacanya, [Apakah musim sejuk ini pantas untuk menginap di dalam hotel bersama pasangan? Kalau tidak salah, setelah itu melakukan...]
""K-KOU!? DARIMANA KAMU TAHU ITU!?"" Seru Haruka dan Honoka dengan wajah yang merah seperti tomat karena mereka tidak menyangka adik kecil mereka akan mengetahui istilah terbaik dari musim sejuk, mereka bahkan tidak selesai membaca layar virtual itu tetapi sudah salah tingkah dan panik karena tidak ingin Kou mengetahui hal-hal dewasa seperti itu di masa remajanya.
Kesempatan panik ini Haruka gunakan untuk melompati waktu dan melarikan diri dari mereka karena ia tidak ingin pikiran kacaunya di baca oleh Kou.
Honoka tidak menyadari kepergian Haruka dan Kou mulai mendekati layar itu lebih dekat lagi dengan wajah sebal karena mereka belum membaca sampai tamat, Honoka membaca kembali layar itu dan ternyata ia salah sangka.
"...melakukan pemanasan untuk menikmati acara malam dalam menikmati makanan? Ya...?" Honoka tersenyum canggung dan Kou mengangguk sambil mengusap perutnya.
Tadi itu hampir saja, Honoka melihat sekeliling dan tanpa disadari Haruka sudah pergi tanpa meninggalkan sedikit jejak apapun, di saat itulah ia sadar sesuatu yang buruk akan terjadi---
__ADS_1
"Tidak mungkin, mana mungkin Kakak dapat melakukannya. Kedua pasangan yang sulit untuk mengungkap perasaan karena sikap dingin mereka akan mengalami waktu yang panjang 'kan, Kou?"
"Heem..." Kou tersenyum.