
"Hah... Hah... Hah..." Rexa menurunkan lengan kiri-nya karena ia baru saja selesai menghancurkan sebuah barrier yang memiliki lapisan tebal, Rexa meluncurkan Final Shine Attack pertama-nya ke arah barrier itu sehingga kehancuran dari barrier tersebut mampu memberi Rexa hasil yang sangat memuaskan karena sihir gelombang tadi sangatlah kuat dan mampu berpotensi untuk menghancurkan sebuah planet.
"Rexa!" Panggil Alvin, Rexa melirik ke belakang lalu ia menatap Alvin dengan ekspresi yang terlihat kebingungan, "Ingatlah baik-baik... Sihir Crimson akan bangkit untuk seseorang yang membutuhkan, bukan keinginan. Memiliki sihir Crimson itu... Kekuatan dan sihir yang sangat dahsyat membutuhkan tanggung jawab yang sangat besar." Rexa hanya bisa diam lalu ia menatap kedua mata Alvin yang terlihat seperti mengancam.
"Crimson bukanlah kekuatan atau sihir yang digunakan untuk kejahatan, jika Papa melihatmu melakukan sesuatu yang jahat maka... Papa akan membunuhmu!" Ancam Alvin.
***
"Ahh...!" Rexa membuka kedua matanya, ia baru saja terbangun dari mimpi-nya yang menunjukkan Alvin, ia terlihat seperti mengancam Rexa dan juga memberitahu dirinya bahwa kekuatan atau sihir Crimson itu bukanlah untuk perbuatan yang jahat melainkan untuk perbuatan yang adil. Rexa bisa merasakan suhu di pagi hari yang mengartikan bahwa mereka sudah berada di hari kedua dan berhasil bertahan di hari kemarin.
Kemarin itu, mereka semua memakan daging yang sangat lezat sampai habis sehingga daging itu mampu membuat mereka kenyang dan juga lelah karena sudah mengumpulkan semua kebutuhan yang mereka miliki. Setelah makan malam, mereka semua tertidur dan bergiliran untuk menjaga tenda dan juga kristal yang tidak boleh hancur, mereka bergantian untuk menjaga selama dua jam yang telah terlewati.
Asuka dan Megumi kemarin baru saja menemukan Shrink Button dan tombol itu sudah aman bersama Shua, itu artinya hari baru sudah dimulai dan mereka harus melihat peta untuk memastikan bahwa barrier mengecil atau tidak. Rexa bangkit dari atas tanah dan punggung-nya terasa kesakitan karena sudah berbaring di atas batu-batuan kecil, "Ugghh... Sialan, tidurku tidak nyenyak sama sekali." Ucap Rexa, ia mulai menatap Shua yang masih tertidur dan kedua bola mata Rexa langsung fokus terhadap celana dalam Shua, "Dia tidur seperti itu ya...?" Rexa mengalihkan pandangan-nya, "Mesum."
Hal pertama yang Rexa lakukan adalah menyentuh jam lalu ia mulai mencari pilihan untuk melihat peta dan ia langsung menemukan-nya, Rexa langsung menyentuh jam itu lagi sehingga jam itu mulai memunculkan peta yang menunjukkan lingkaran berwarna biru yang mengartikan itu adalah barrier-nya. Rexa mulai menyadari bahwa barrier itu mulai mengecil menuju tengah pulau dan tenda mereka berada dengan dekat barrier itu maka di hari ketiga mereka harus secepatnya pindah, "Ternyata benar... Lebih baik kita mengakhirinya dengan cepat."
Rexa berjalan keluar dari tendanya lalu hal pertama yang ia lihat adalah Mirai yang sedang berada di atas pohon selagi memperhatikan arah selatan, Rexa membiarkannya seperti karena ia ingin membasahkan wajahnya agar ia bisa merasakan kesegaran dari air sungai yang jernih, "Sepertinya kelas dua dan kelas empat sedang bertarung di arah selatan." Mirai mulai berbicara sehingga Rexa langsung muncul di belakang Mirai.
Rexa bisa melihat ledakan yang dahsyat di arah selatan lalu dua peserta mulai melarikan diri dari ledakan tersebut, "Apakah sudah berakhir?" Tanya Rexa kepada Mirai dan Mirai hanya bisa mengangguk, ia tidak tahu hasilnya dan tidak tahu siapa yang mati atau menang, "Ya. Sayang sekali aku tidak mengetahui hasil dari pertarungan tadi---"
Megumi kembali selagi berlarian seperti seekor kucing, Rexa dan Mirai langsung menatap Megumi yang terlihat kelelahan, "Sepertinya kelas dua memiliki sebuah fasilitas yang dapat melacak musuh-musuhnya!" Ucap Megumi dengan nada yang terdengar panik karena barang yang mampu mencari musuh itu akan sangat merepotkan.
"Fasilitas yang mampu melacak musuh...? Itu artinya kelas dua mengetahui tempat persembunyian kita?!" Tanya Rexa, Megumi mengangguk dan anggukan itu membuat Rexa yakin bahwa kelas dua memenangkan pertarungan melawan kelas empat, "Semuanya!!! Bangun!!!" Megumi mulai membangunkan Asuka, Akina, Ophilia, dan Shua yang masih tertidur.
Mereka berempat langsung bangun dan dikejutkan dengan suara keras Megumi, "Ada apa!?" Tanya Ophilia dengan nada yang terdengar kesal karena ia tidak suka tidurnya diganggu, "Musuh mendekat! Kita harus waspada dan tetap terjaga!!!" Teriak Megumi sehingga mereka berempat langsung keluar dari tenda dan mulai berada di posisi siap untuk bertarung.
__ADS_1
"Apa yang terjadi...?" Tanya Asuka sehingga ia menginjak sebuah bola energi yang tiba-tiba bersinar cerah ketika ia menginjak-nya, "Apa...!?" Mereka semua langsung membulatkan kedua mata mereka karena Asuka baru saja menginjak sebuah jebakan, Rexa dengan cepat menciptakan sebuah barrier di sekitar mereka dan Shua langsung mengambil kristal itu, mereka melakukannya dengan cepat sehingga waktu mereka untuk melarikan diri tidak ada.
BAAAMMMMMM!!! ZBUSSSHHHHH!!!
Rexa membulatkan kedua matanya ketika ia berbaring di atas lautan yang terasa dingin, "A-Apa yang terjadi...?" Rexa melirik ke kiri dimana ia melihat asap yang besar sekali, asap itu berasal dari tengah hutan dan bisa saja asap-asap itu berasal dari ledakan yang Asuka baru saja injak. Mulut Rexa mulai mengeluarkan sedikit darah sehingga tubuhnya mulai terasa seperti melemah, "U-Ugh... A-Apa yang terjadi...?" Rexa mulai tenggelam karena ia tidak bisa menggerakkan seluruh tubuhnya, Rexa memunculkan aura Crimson di sekitarnya agar air dari racun itu tidak memasuki seluruh tubuhnya.
Walaupun Rexa melakukan metode seperti itu, seluruh tubuhnya masih terasa sangat lemah sehingga ia tidak bisa menggerakkan kedua lengan dan kaki-nya, "Hugghhh...!!!" Rexa memuntahkan banyak sekali darah melalui mulutnya lalu ia menatap kaki kanannya yang mulai berubah menjadi warna ungu, "L-Ledakan tadi adalah racun...?" Ungkap Rexa selagi membulatkan kedua matanya, ia dengan cepat merobek celana panjang-nya dan ia bisa melihat kulit di bagian kaki kanan-nya mulai berubah menjadi ungu.
Itu terlihat hampir sama seperti infeksi dan sepertinya Rexa telah teracuni sehingga ia terlambat untuk menghancurkan racun itu menggunakan sihir Crimson-nya yang mampu melukai dirinya sendiri, "Aku tidak akan bisa bertahan lama..." Ungkap Rexa karena seluruh tubuhnya mulai merasakan kesakitan dari aura Crimson-nya serta kaki kanan-nya terasa seperti ditusuk-tusuk oleh pedang yang sangat tajam. Rexa mencoba untuk berenang ke atas bukan karena ia tenggelam, tetapi ia ingin secepatnya keluar dari lautan yang dipenuhi racun itu, "Ughhh... Hmmmmm...!!!" Aura Rexa mulai perlahan-lahan seperti akan menghilang.
Rexa perlahan-lahan memejamkan kedua matanya, "Aku tidak bisa bergerak---"
ZBASSHHH!!!
Beberapa menit telah terlalui dan Shua langsung menarik Rexa ke belakang. Rexa tergeletak di atas pasir lalu Shua mulai memakan sebuah jeruk yang memiliki warna putih, ia mengunyah jeruk itu sampai rata dan lembut untuk bisa langsung ditelan, "Aku tidak akan membiarkan siapapun mati..." Ucap Shua sehingga ia mulai menepatkan bibir-nya dengan bibir Rexa lalu memberi jeruk yang ia kunyah kepada Rexa, Rexa langsung menelan jeruk itu sehingga seluruh tubuhnya mulai bisa digerakkan lagi, "Nrgghhh..." Rexa mulai menatap kedua telapak tangannya lalu ia mulai menggerakkan-nya dengan pelan.
"Sepertinya jeruk yang disucikan oleh Akina manjur juga. Jeruk itu dapat menghapus semua efek racun yang menyebar di tubuhmu." Shua tersenyum lega karena ia mampu menyelamatkan Rexa, Shua bergegas mengambil beberapa daun lalu ia membalut kaki kanan Rexa menggunakan daun-daun itu, "Dengan menahan infeksi dari ledakan racun tadi... Tahan sampai kita bertemu dengan yang lain ya." Shua mengangguk.
"Dimana yang lain...?" Tanya Rexa, Shua membantu Rexa untuk duduk di atas pasir, "Sepertinya karena ledakan tadi... Kita mungkin saja terpental jauh sehingga kita semua berpisah. Untungnya kita berdua terpental ke tempat yang sama." Seingat Shua, ledakan tadi memiliki tekanan dan dorongan yang besar, Rexa mulai merasa janggal tentang ledakan itu. Ia hanya percaya beberapa persen tentang dorongan dari ledakan tersebut, "Sepertinya bukan karena dorongan dari ledakan tadi... Siapa tahu terdapat seorang peserta yang memiliki fasilitas dalam mengubah semua posisi peserta semaunya." Ucap Rexa.
"Kenapa kau berpikiran seperti itu?" Tanya Shua.
"Jika kita terpental atau terdorong maka tubuh kita pasti akan terasa sakit karena sudah mengenai banyak sekali pohon yang besar dan juga tinggi. Aku tadi baru saja melihat asap-asap dari ledakan itu dan aku yakin bahwa kita terpindahkan karena sebuah sihir atau barang dari fasilitas..." Rexa mulai memegang dagu-nya. Perkataan Rexa terdengar cukup masuk akal bagi Shua sehingga ia mulai mencari yang lain, "Cukup masuk akal juga." Shua dan Rexa tidak melihat atau menemukan rekan-rekannya yang lain seperti Megumi, Akina, Ophilia, Mirai, dan Asuka.
Sepertinya semua peserta dari kelas tiga telah berpisah. Di sisi lainnya, seorang peserta mulai menghampiri markas kelas satu dan ketua dari pemimpin kelas satu yang bernama Ziban Hamirato mulai menatap peserta yang menghampirinya dengan sebuah hologram yang menunjukkan ledakan yang melanda markas kelas tiga, "Sepertinya mereka langsung mempercayai-nya." Ucap peserta itu yang mulai duduk di sebelah Ziban. Ziban mulai menatap hologram yang menunjukkan rekaman dari ledakan yang melanda markas kelas tiga.
__ADS_1
"Hmph, bagus. Sepertinya kelas dua melakukan rencana yang lumayan sempurna juga." Ziban mulai melirik ke belakang lalu ia menatap pemimpin dari kelas dua. Sepertinya kelas satu dan kelas dua diam-diam saling bekerja sama untuk menghancurkan kelas tiga, empat, dan lima, "Sepertinya fasilitas yang bernama Change Formation itu cukup berguna juga, Hibike." Nama dari pemimpin kelas dua adalah Hibike. Kristal inti mereka berada di markas satu dan terletak cukup aman dari ancaman apapun.
"Ya... Karena pertarungan melawan kelas empat, rekan-ku berhasil merebut fasilitas yang bernama Change Formation. Change Formation mampu membuat semua rekan dari satu kelas berpisah secara acak, sayangnya aku hanya bisa menggunakan hanya untuk satu kelas, jika aku bisa menggunakannya untuk semua kelas maka aku akan menyerang kelas tiga, empat, dan lima tentu-nya." Hibike mulai memegang dagu-nya, "Tetapi, lebih baik aku membuat semua rekan dari kelas tiga berpisah karena kelas tiga sangat berbahaya, peserta-pesertanya sangatlah kuat dan cerdas." Ucap Hibike karena kelas tiga harus dikalahkan lebih awal agar kemenangan bisa berada di tangan kelas satu, mereka sudah membuat perjanjian untuk bertarung di akhir ketika kelas tiga, empat, dan lima sudah terkalahkan maka di saat itulah pertarungan kelas satu dan dua akan dimulai.
"Apakah sudah saatnya kita menggunakan fasilitas lainnya yang bernama Error Watch?" Tanya peserta yang sedang duduk di sebelah Ziban, "Jelas... Gunakan Error Watch segera!" Suruh Ziban kepada rekan-nya sehingga ia langsung menekan tombol dari barang Error Watch, sebuah barang yang mampu membuat semua peserta jam menjadi error seperti blur, Error Watch akan bertahan selama dua hari dan semua jam dari kelas masing-masing kecuali kelas satu mulai error.
Hibike mulai menatap jam-nya yang mulai error, "Sepertinya berhasil." Ucap Hibike yang mulai tersenyum, "Lanjutkan misi-mu, Brotos. Teruslah incar dan cari pemimpin dari kelas tiga." Suruh Ziban dan peserta yang bernama Brotos itu langsung melesat pergi meninggalkan markas itu. Ziban dan Hibike mulai berunding tentang rencana mereka dalam mengalahkan kelas empat dan juga lima, mereka tidak sadar bahwa seseorang sedang menguping dari jarak yang lumayan jauh, "Ternyata ledakan itu terjadi karena seorang penghianat di antara kita...?" Ungkap seseorang yang sedang menguping.
"Sepertinya aku harus segera melaporkan tentang informasi penting ini... Lebih baik aku bertemu dengan mereka secepatnya." Ucap orang itu yang mulai pergi meninggalkan markas Ziban dan Hibike dengan langkah yang sangat hati-hati karena jika ia tertangkap maka semuanya akan berakhir dengan cepat.
***
Shua membantu Rexa berdiri lalu Rexa terjatuh karena ia tidak bisa berdiri seimbang karena kaki kanan-nya yang terasa menyakitkan sehingga tidak bisa digerakkan, "Maaf merepotkan, Shua... Aku tidak bisa menggerakkan kaki kanan-ku." Ucap Rexa, hal itu membuat Shua khawatir karena ia harus membantu Rexa berjalan. Shua mulai berharap bahwa ia bisa bertemu dengan Akina, Mirai, atau Asuka agar racun Rexa bisa disucikan dan membuat Rexa berada di kondisi yang pulih.
"Tidak apa-apa. Yang paling penting adalah kau selamat dan masih bisa bertahan, Rexa." Shua mulai menepatkan lengan kiri Rexa di bahu kiri Shua untuk membantu Rexa berjalan sedikit demi sedikit, "Terima kasih." Ucap Rexa yang merasa lega karena sudah dibantu oleh Shua, Shua dengan cepat langsung mengeluarkan kristal inti yang berada di saku celana-nya, kristal inti itu mengecil karena Shua menggunakan Shrink Button untuk bisa menyelamatkan kristal itu dari ledakan tadi. Sinar merah mulai muncul dari kristal tersebut yang menandakan bahwa kristal itu akan segera membesar, "Waktu habis seperti-nya." Shua melempar kristal itu ke depan sehingga kristal itu mulai membesar menjadi ukuran yang biasa.
Dengan melihat itu Rexa merasa bersalah karena Shua harus membantu Rexa jalan serta membawa kristal yang berukuran lumayan besar itu, "Baiklah. Semangat! Seorang Legenda tidak boleh menyerah di tengah jalan!" Ucap Shua yang mencoba untuk memberi dirinya sendiri sebuah motivasi, Shua bergerak ke depan lalu ia menarik kristal itu sehingga ia mulai berjalan ke depan selagi menarik inti kristal serta membantu Rexa jalan.
Shua mulai melirik ke arah jam tangan-nya sehingga hal yang ia lihat dari layar jam itu hanya gambar putih dengan gambar yang kabur seperti blur, "A-Apa yang terjadi...? Masalah apa lagi sekarang...?" Shua mulai berkeringat dan merasa kesal ketika ia mendapatkan masalah rumit yang baru, "Shua...? Apakah jam tangan-mu sama sepertiku?" Tanya Rexa yang mulai menyentuh jam-nya beberapa kali, tetapi jam itu terus menunjukkan gambar yang terlihat kabur.
"Apakah ini termasuk fasilitas juga...?" Tanya Rexa.
"Sepertinya begitu---!" Shua membulatkan kedua matanya sehingga ia melempar Rexa dan kristal itu ke arah kanan dan kiri lalu ia mulai menghancurkan sebuah tombak yang melesat menuju arah dirinya menggunakan sihir listrik, "Ternyata kita menemukan kelas tiga." Ucap seorang peserta yang berasal dari kelas empat.
"Apa mau kalian...?" Tanya Shua yang mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat serius dan kesal, "Apa coba...?" Tanya peserta itu selagi menunjukkan senyumannya.
__ADS_1