
"Dua hari lagi ya... kita tidak bisa menghabiskan waktu dengan sesuatu yang tidak berguna sebelum kita kembali berjuang mengurusi hal masing-masing." Kata Hinoka sambil berbaring di atas kasur.
"Koizu, kamu dengar katanya? 'tidak bisa menghabiskan waktu dengan sesuatu yang tidak berguna', padahal dirinya sendiri yang memiliki ide-ide bodoh." Kata Konomi.
"Cermin memang bagaikan ketiadaan bagi si bodoh itu, dia tidak pernah mengaca sama sekali bahwa dirinya sendiri yang kebanyakan menggunakan waktu sebagai bodoh dan tidak berguna." Jawab Koizumi.
"Hweeehhhhh... Koneko...!" Hinoka mulai merangkak kepada Shinobu yang sedang membaca buku lalu memeluknya selagi mengusap pipinya dengan ekspresi sedih.
"Mereka terus menghina diriku seperti itu...! Ini penghinaan yang begitu besar bagi seorang ini untuk terus dihina oleh teman-temannya!" Kata Hinoka yang langsung menerima sebuah elusan di kepalanya.
"Hahhh... dia memang tidak akan pernah bisa menginjak kedewasaannya jika terus seperti ini, aku tidak bisa mengharapkan apapun darinya." Koizumi menepuk wajahnya sendiri lalu berjalan pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Masih terlalu cepat untuk tidur ya... kita perlu menghabiskan waktu lebih lama lagi agar bisa tidur pukul dua belas malam." Kata Ako yang mulai duduk di hadapan TV hanya untuk bermain simulasi.
"Karena hanya menyisakan dua hari lagi, apakah besok kita melakukan kegiatan bebas sekarang?" Tanya Konomi.
"Ahh, benar juga! Itu artinya kita bisa melakukan apapun~"
"Mungkin akan lebih baik lagi jika kita saling berdekatan dengan yang lainnya untuk memperkuat hubungan." Shinobu menutup bukunya lalu menyarankan sesuatu pada mereka.
"Maksudmu kita akan menghabiskan waktu bersama yang lainnya seperti Kakek dan Nenek?"
"Itu benar! Kita jarang sekali menikmati liburan dengan mereka semua karena terlalu sibuk melakukan urusan masing-masing."
Mereka menyetujui hal tersebut, jarang sekali mereka menghabiskan waktu bersama Kakek dan Nenek mereka, "Kalau begitu kita hanya perlu mengikuti apa yang akan mereka lakukan."
"Pasti tidak jauh yang dinamakan judi dan taruhan." Kata Ako.
"Jangan salah, Ako. Yang sering melakukan hal tersebut sampai mempertaruhkan harta dan benda lainnya adalah Kakeknya." Ucap Koizumi selagi menatap Shinobu yang langsung tertawa pelan.
"Setidaknya hobi yang Kakek memiliki selalu membuat dirinya tenang dan senang sampai dirinya bisa terus melanjutkan hidup ini."
"Kalau tidak salah judi dan taruhan itu bisa menjadi sesuatu hal yang menyenangkan loh." Hinoka mulai berbicara selagi memperhatikan TV.
"Maksudmu?"
"Semuanya permainan atau game akan bertambah menarik jika berkaitan sesuatu yaitu seperti taruhan..."
"...berjudi juga kalau tidak salah akan didampingi banyak sekali gadis seksi dan cantik dimana mereka akan melepaskan pakaian lalu berbaring di atas meja." Hinoka mulai bernafas berat.
"Mulai kambuh sepertinya." Koizumi memunculkan tongkat merah menggunakan Lenergynya sampai Hinoka langsung sujud di hadapan dirinya.
"Aku tidak merencanakan sesuatu yang aneh... hanya menjelaskan sesuatu yang menarik perhatianku ya?" Hinoka mengedipkan matanya kepada Koizumi lalu ia lanjut bermain bersama Ako.
"Telanjang sambil berbaring di atas meja?" Shinobu memegang bibirnya sendiri selagi mencoba untuk menggambarkan sesuatu yang Hinoka katakan tadi.
Untungnya Konomi langsung menepuk tangannya beberapa kali sampai perhatiannya tertarik kepada dirinya, "Jadi kita urusi sekarang saja kegiatan apa yang akan dilakukan untuk besok?"
"Koneko juga memiliki ide sempurna lainnya." Shinobu mengacungkan lengannya lalu mereka memperhatikan dirinya.
"Rencana yang begitu menyenangkan untuk menghabiskan waktu liburan sebelum memulai kembali aktivitas dan pekerjaan."
__ADS_1
***
Haruki mengetuk pintu kamar Shinobu untuk membangunkan kelima gadis yang kemungkinan masih tertidur dan bermalas-malasan.
"Kalau tidak salah perempuan memang lama sekali bersiap-siap." Haruki menghela nafasnya lalu ia melihat pintu dibuka oleh Shinobu yang sudah siap-siap untuk pergi.
"Oh, paman Haruki. Datang untuk mengajak kami pergi menuju suatu tempat yang menyenangkan?" Tanya Shinobu.
Haruki melihat mereka semua memakai pakaian yang cocok untuk melihat-lihat pemandangan gunung dan wilayah yang berbunga, seolah-olah mereka tahu selanjutnya akan pergi kemana.
"Ayo! Ayo! Ayo!" Seru Shinobu yang terlihat begitu bersemangat.
Beberapa menit kemudian, mereka semua mulai berkumpul di depan hotel bersama para Kakek yang sudah menunggu kedatangan para cucu untuk pergi melakukan perjalanan menuju wilayah seindah surga.
"Kalau begitu kita langsung saja pergi mengelilingi Sunshine Heaven agar pandangan kalian dipenuhi dengan sesuatu yang indah." Kata Shizen.
"Apakah kamu Kakek dari cucu ini?" Tanya Koizumi yang mulai menarik Hinoka lalu mendekati dirinya kepada Shizen agar ia bisa ditegur oleh Kakeknya karena sikapnya yang kadang keterlaluan.
"Ya, aku adalah Kakek dari gadis ini." Shizen menepuk kepala Hinoka beberapa kali sehingga ia mulai menghela nafasnya pelan.
"Kenapa kamu harus menanyakan sesuatu yang membosankan?"
"Tolong tegur dia atas sikapnya yang keterlaluan... lebih parahnya lagi sikap mesumnya itu yang sudah tidak bisa tertolong lagi oleh siapapun!" Kata Koizumi dengan tatapan serius.
Shizen hanya bisa diam selagi menatap arah lain karena dirinya sendiri tidak bisa melakukan apapun untuk cucunya yang sudah pasti akan memohon dengan ekspresi sedihnya itu.
"Akan aku coba..."
"Masih belum bisa ya." Koizumi menepuk wajahnya sendiri lalu lengan kanannya di tarik oleh Hinoka untuk pergi secepat mungkin menuju jalanan yang memiliki banyak sekali bunga-bunga emas.
"Sudah-sudah! Jangan menghabiskan waktu lebih lama lagi, mari kita gunakan waktu sebaik mungkin tanpa harus menghabiskan dengan sesuatu yang tidak berguna!"
"Kalau begitu ini adalah perjalanan untuk memperkuat ikatan Kakek dan cucu ya." Kata Shira yang melihat Shinobu mulai memberikan dirinya sebuah jurnal yang ia tulis.
"Aku selalu mendengar kamu memiliki hobi menulis ya, anak yang baik... kalau begitu teruslah menulis dengan bai---"
Ketika Shira mencoba untuk membuka jurnal tersebut, dirinya dikejutkan dengan aksara Latin Legenda yang begitu rapi sampai ia mendadak buta huruf karena tulisan Shinobu terlihat begitu kuno untuk dibaca.
"Aksara Latin Legenda yang tidak buruk ya..."
"Shinobu, apakah kamu tidak tahu Kakekmu buta aksara Latin Legenda biasa? Dirinya tidak bisa membaca aksara tersebut kecuali menggunakan bahasa alfabet Modern Legenda." Kata Arata.
"Ehh?! Benar 'kah?! Maaf-maaf, sudah bisa dibilang sebagai kebiasaan untuk menulis aksara latin Legenda." Shinobu mengambil jurnal kehidupan itu kembali lalu menundukkan kepalanya kepada Shira.
"Santai saja..." Shira menatap arah lain karena ia baru saja menunjukkan sikap yang tidak keren di hadapannya cucunya karena tidak bisa membaca aksara Latin Legenda.
Mereka memulai perjalanan mengelilingi Sunshine Heaven untuk melihat-lihat berbagai macam pemandangan serta mempererat hubungan Kakek dan Cucu mereka.
Tidak lama lagi mereka akan menginjak 18 tahun yang mengartikan janji Shira bersama yang lainnya soal latihan paling sulit akan dimulai untuk cucu mereka.
"Bagaimana dengan latihan? Apakah kau masih melakukannya?" Tanya Arata kepada Koizumi yang sedang memperhatikan pemandangan biru.
__ADS_1
"Begitulah, aku tidak bisa berhenti dengan yang dinamakan latihan sebelum semuanya berakhir..."
"...motivasi yang aku terima banyak sekali sehingga sekarang aku masih menyimpan dendam tak terbatas kepada seseorang yang membunuh Ibuku." Koizumi mengepalkan kedua tinjunya.
"Kamu hanya perlu mengingat bahwa batasan itu bagaikan kaca yang mudah pecah jika kita mau terus berjuang dan menyelesaikan suatu masalah untuk menciptakan sejarah baru..."
"...teruslah berlatih sampai mencoba untuk menginjak berbagai macam langit, kamu hanya perlu mengingat bahwa di atas langit masih ada langit."
"Itu artinya tidak ada batasan yang mustahil untuk dilewati, dalam umur seperti ini aku sudah merasakan pengalaman besar dan potensi yang kuat pada dirimu."
"Ya... sekarang aku lebih fokus mengalahkan dirinya yang sudah berkembang sangat jauh dan kuat sampai aku tidak begitu yakin bisa menang dengan kondisiku sekarang." Koizumi menatap Shinobu.
"Kakek, lihat bunga matahari ini." Shinobu memperlihatkan sebuah bunga kepada Shira yang sedang meminum kaleng kopinya.
"Bunga ini terlihat lebih cerah dari yang lainnya, kamu bisa membedakan kecerahan dan pancaran yang masuk ke dalam matamu ya." Shira mengambil bunga tersebut lalu ia melihatnya.
"Sepertinya tubuhmu yang memberikan kemurnian cahaya emas itu kepada bunga ini, kamu memang sudah berkembang cukup jauh ya..."
"...mungkin aku tidak perlu menunggu dirimu menginjak 18 tahun sebelum memulai latihan yang sangat besar."
"Koneko ingin belajar." Shinobu tersenyum polos.
"Kamu memang bertambah kuat dengan belajar dan berlatih ya, sungguh membanggakan untuk memilih cucu dengan darah Shiratori dan Comi." Shira mengelus kepala Shinobu.
"Apakah kalian masih melakukan latihan bersama?" Tanya Haruki kepada cucu kembarnya.
"Tentu, kami menghabiskan banyak sekali waktu melakukan alkimia dan tentunya melihat-lihat arwah untuk mempelajarinya." Jawab Konomi.
"Kakek, aku juga sudah mengembangkan banyak sekali sihir yang Kakek sarankan agar diriku bisa bertambah lebih kuat lagi..." Kata Ako.
"...soal senjata sihir itu sudah bisa dibilang cukup mudah untuk digunakan tetapi sekarang aku lebih fokus dengan yang dinamakan lubang hitam."
"Itu hebat sekali, Ako. Kamu memang mengikuti jalan Ayah tentang hal tersebut ya, kalau begitu kita memang memilih kedua jalan berbeda tetapi masih membagi hal yang sama."
"Hanya menyisakan beberapa bulan lagi sebelum kalian menerima latihan dariku ya, semoga kalian siap untuk menerima banyak sekali tantangan yang begitu berat dariku!"
""Tentu saja!""
"Bagaimana prosesmu tentang ledakan?" Tanya Shizen.
"Aku lebih menyukai kemampuan realitas dan sihir dibandingkan pertarungan fisik." Jawab Hinoka dengan tatapan yang terlihat tidak tertarik.
"Kamu juga wajib melatih fisikmu agar bisa menandingi musuhmu yang mahir dalam bela diri..."
"...tetapi karena kau bisa mengubah realitas menjadi ledakan itu sendiri maka itu bisa dibilang tidak masalah sama sekali karena aku dapat memberikan dirimu pelajaran tentang ledakan lain."
"Seperti meledakkan kelamin pria?" Hinoka memasang tatapan yang terlihat senang sehingga kepalanya menerima tepukan dari Shizen.
"Setidaknya fokus dengan inti kehidupan mereka agar bisa mengakhirinya dengan cepat!"
"Ada-ada saja meledakkan kelamin..."
__ADS_1
"Te-he~"