Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 143 - Hikari


__ADS_3

Tiba-tiba seorang gadis muncul di depan gelombang Final Shine Attack itu dengan kedua telapak tangan-nya yang dipenuhi dengan cahaya kesucian, semua gelombang itu mampu terhisap habis oleh gadis tersebut lalu ia melancarkan kembali serangan itu kepada Mortem yang hampir saja terkena dengan serangan itu.


"Ahhhhh...!?" Akina melebarkan matanya ketika melihat gadis itu akhirnya ingin bertarung demi melindungi semesta-nya sendiri.


"Akhirnya kau mau memberanikan diri-mu untuk menunjukkan penampilan dan wajah itu kepada diriku, perwakilan dari seluruh tujuh kebajikan...!" Mortem tersenyum puas ketika ia melihat sesosok dari perwakilan [Seven Heavenly Virtues] akhirnya muncul.


"Aku tidak ikut campur jika kau mencoba untuk menghancurkan Xuusuatouri... Kau tidak akan aku maafkan...!" Gadis itu segera berubah wujud menjadi wujud yang sama seperti Asuka yaitu [Seraphim Angel].


Gadis dengan penampilan cantik dan suci, dengan rambut pirang dan mata biru laut yang melambangkan sihir [Seven Heavenly Virtues]. Dia bisa disamakan dengan ras malaikat karena sayap yang memiliki aura emas dan di belakang punggung-nya terdapat simbol [Seven Heavenly Virtues].


Zirah putih emas terpasang di seluruh tubuhnya, Hikari... Itu adalah nama dari sesosok gadis yang memiliki seluruh [Seven Heavenly Virtues]. Akina segera memerintah Asuka dan Chiara untuk fokus kepada pasukan lain karena Hikari saat ini akan melindungi Xuusuatouri serta melawan Mortem yang dengan keras kepala-nya mencoba untuk menghancurkan semesta itu lagi.


Dalam satu tarikan nafas kemudian muncul serpihan cahaya putih tajam dari kedua sayap-nya yang berkibar, Mortem segera mengiris udara untuk menciptakan celah-celah kenyataan karena ia akan menggunakan kemampuan-nya itu untuk mengalahkan Akina. Dengan bersamaan mereka melepaskan serangan yang setara.


Hikari dapat dilindungi oleh kedua sayap-nya sendiri, sihir Mortem jauh lebih besar dan kuat dari dirinya karena populasi malaikat yang berkurang mampu membuat dirinya melemah. Kedua sayap-nya itu mampu menyerap seluruh sihir Mortem sampai habis.


Mortem mulai mengangkat kedua lengan-nya ke atas untuk menciptakan sebuah meteor biru tua, ia melepaskan meteor itu ke arah Hikari dan dirinya segera melancarkan cahaya suci tajam melalui kedua tinju-nya yang menyebabkan meteor itu langsung hancur. Hikari tidak hanya diam saja karena mengetahui bahwa Mortem akan melancarkan serangan beruntun kembali.


Hikari mulai berkeringat karena populasi Malaikat yang terus berkurang karena perang antar semesta, ia menatap kedua telapak tangan-nya yang sudah tidak diselimuti dengan cahaya suci-nya, ia terus melemah dan kekuatannya terus tertekan menginjak tingkat rendah. 


Hikari segera menghilang ketika sadar bahwa dirinya dikepung dengan celah-celah kenyataan yang Mortem belah, Mortem mulai mengejar Hikari dari belakang karena ia tidak mau melepaskan musuh yang sangat langka seperti Hikari. 


Hikari segera mengeluarkan tombak dengan gagang berwarna emas, dengan mengalir sedikit cahaya suci-nya, segera membuat tombak tersebut diselimuti dengan cahaya putih. Mereka saling bertukar serangan sampai Shira mulai menyadari sumber cahaya yang terus berkurang berasal dari Hikari yang saat ini tertekan karena populasi malaikat yang terus berkurang.

__ADS_1


Hikari menepis serangan-serangan celah dimensi tersebut menggunakan tombak-nya, ia memaksakan tubuhnya dan sebisa mungkin untuk tidak menyia-nyiakan cahaya suci yang masih ada di dalam dirinya.


Mortem tidak perlu menggunakan lima persen dari kekuatan asli-nya ketika melihat Hikari yang terus melemah, ia sekarang berniat untuk mempermainkan dirinya, dia ingin membuat sang pemilik [Seven Heavenly Virtues] ini untuk merasakan penderitaan yang besar. 


Sesuatu hal yang buruk terjadi ketika Mortem meremehkan dirinya karena terdapat beberapa luka sayat di tubuhnya yang disebabkan oleh serangan Hikari. Dirinya mulai memancarkan cahaya suci sampai kekuatan-nya mulai meningkat drastis lagi, Mortem kemudian meningkatkan kekuatannya menjadi tujuh persen sambil memasang senyum yang sadis.


"Aku akan menghentikan-mu...! Kau dilarang untuk menyentuh, Xuusuatouri...!!!" Keduanya bertukar beberapa serangan dan hasilnya imbang, hal ini membuat Mortem mengerutkan dahi dan mulai emosi jadi dia menggunakan sepuluh persen kekuatannya.


"Mustahil...! Aku sudah bisa merasakan kekurangan populasi bangsa Malaikat tetapi kau masih bisa meningkatkan kekuatan-mu itu..."


Serangan Mortem menjadi lebih agresif dari sebelumnya sampai zirah Hikari mulai retak serta pipi-nya terkena pukulan keras sampai meninggalkan memar yang cukup besar, dengan kekuatan yang digunakan oleh Mortem sekarang bahkan Hikari sudah tidak bisa lagi mengenai serangan-nya kepada Mortem sekecil apapun.


Keduanya kembali bertukar beberapa serangan sihir serta senjata yang mereka gunakan mampu hancur menjadi kepingan aura yang dapat melukai diri mereka masing-masing, tidak ada yang terpukul mundur selangkahpun ketika mereka mulai mengadu pukulan. Mortem mulai terhibur sampai rambut-nya berubah menjadi warna silver karena ia tidak sabar untuk melihat salah satu mortal terkuat menderita.


"Hah... hah... hah..." Setiap nafas yang ia hembuskan mampu mengalirkan darah keluar dari mulut-nya.


Akina berhenti bertarung sejenak ketika melihat Hikari terluka cukup parah, ini pertama kalinya ia melihat Hikari bisa terluka separah itu karena ulah Mortem. Akina tidak menduga bahwa kekuatan Mortem akan terus meningkat sampai ia menyimpan kekuatan yang amat besar, mungkin ini semua karena kemampuan Legenda yaitu [Legend's Boost].


Mortem segera melepaskan serangan kombinasi kepada Hikari yang membuat dirinya terluka lebih parah dari sebelumnya, Mortem mengakhiri serangan itu dengan mengiris celah dimensi di depannya lalu menciptakan sebuah pedang panjang dari celah tersebut yang mampu menusuk perut Hikari serta melemparnya ke belakang.


Tubuh Mortem mulai merasa tidak puas melihat Hikari yang tidak mengeluarkan suara kesakitan-nya, ia terasa seperti menyerang sebuah patung yang tidak bernyawa. Aura Sacred dan Crimson mulai bersatu di sekitar tubuh Mortem karena ia ingin segera menghapus eksistensi Hikari bersama dengan semesta Xuusuatouri.


Perlahan-lahan Hikari mulai berbaring di atas luar angkasa dengan tubuhnya yang mulai bergerak mundur menuju semesta Xuusuatouri, tekanan cahaya suci-nya yang berkurang mampu membuat tubuhnya terasa berat sampai dirinya masuk ke dalam semesta Xuusuatouri lalu mengenai lautan suci yang terdapat di sebuah planet.

__ADS_1


"Aku bukan apa-apanya tanpa populasi yang aku cintai yaitu Malaikat..." Ungkap Hikari.


"Inilah yang terjadi kepada diriku... Jika aku terlalu mengandalkan seluruh keberadaan Malaikat..."


"Aku tidak menyangka bahwa terdapat seorang Dewi yang mengetahui kelemahan dan sumber kekuatan-ku berasal darimana..."


Shira tiba-tiba muncul di belakang Hikari dimana ia mendorong punggungnya, mencoba untuk membangkitkan semangat bertarung-nya sampai dirinya mulai sadar lalu mengalihkan pandangan-nya kepada Shira yang sedang memegang sebuah bola cahaya putih dengan ekspresi yang terlihat serius.


"Tidak ada satupun makhluk hidup yang bisa berjuang sendirian... Jika kau ingin populasi malaikat-mu kembali maka... Teruslah bertarung dan berjuang..." Ucap Shira dengan kemampuan telepati-nya yang dapat didengar jelas oleh Hikari.


Shira segera melepaskan cahaya putih itu ke dalam tubuh Hikari sampai gadis itu mulai diselimuti dengan cahaya putih, kedua mata-nya melancarkan cahaya suci yang berjumlah tak terbatas. Hikari sontak kaget ketika merasakan tubuh-nya yang dipenuhi dengan cahaya suci dari seluruh populasi malaikat.


"Bagaimana---" Hikari sadar bahwa Shira sudah menghilang, ia hanya bisa tersenyum dan mulai menyadari sesuatu hal yang terdengar cukup masuk akal karena dirinya adalah seorang Legenda dengan esensi cahaya sempurna, tidak ragu lagi jika dia dapat mengumpulkan seluruh cahaya suci malaikat yang tersisa lalu memanipulasi-nya menjadi jumlah tak terbatas seperti ini.


Mortem yang sudah mengisi Final Shine Attack sampai menginjak kekuatan penuh dikejutkan dengan Hikari yang muncul di depannya lalu melancarkan sebuah tombak yang menghantam wajahnya sampai ia terlempar ke belakang.


"A-Apa...!?"


Hikari kembali dengan kedua mata-nya yang melancarkan cahaya suci, kekuatan-nya mulai meningkat sampai melebihi kekuatan Mortem. Tidak hanya setiap serangan tapaknya bisa menembus sihir Mortem yang melindungi tubuhnya dari segala serangan yang ada, Hikari segera melepaskan serpihan cahaya suci yang mampu menembus pertahanan Mortem.


Seluruh serpihan cahaya itu menusuk seluruh tubuh Mortem sampai ia mulai merasa kesakitan dan tubuhnya terasa seperti disucikan dari kejahatan yang pernah ia buat dari awal.


"Semakin kejahatan yang kau buat tercipta... Maka semakin kuat serangan-ku!" Tangan Hikari tampak mengeluarkan cahaya putih yang sungguh panas dan begitu menyilaukan mata. Mortem menjerit kesakitan karena rasa panas itu telah menjalar sampai ke seluruh tubuhnya.

__ADS_1


"Virtues Exorcism!" Hikari melepaskan sihirnya yang mampu membuat Mortem mengerang kesakitan masih sempat mengumpat sebelum pada akhirnya dia meledak hingga seluruh potongan tubuhnya terlempar kemana-mana karena serangan itu sangat kuat berkat dosa dan kejahatan yang pernah Mortem lakukan.


__ADS_2