
Shira membuka kedua matanya perlahan-lahan, ia bisa mendengar suara burung di kedua telinganya dengan jelas sehingga ia merasa lebih tenang sekarang.
Seluruh ingatannya telah kembali tetapi ia sekarang dapat mengendalikan dirinya sendiri, tidak seperti tadi yang mendadak hilang kendali karena perasaan penderitaan dan kesedihan yang bercampur aduk.
"Selamat pagi, Shira..." Megumi tersenyum selagi mengusap kedua pipi Shira.
Shira terkejut ketika ia sadar kepalanya bersandar dengan kedua paha Megumi yang terasa begitu empuk baginya sampai pikirannya terus bertambah tenang.
Jawaban yang ia inginkan berhasil ia perolehi sehingga ia setidaknya bisa melawan rasa takut itu untuk tetap melangkah maju menuju pintu yang sudah terbuka untuk dirinya sendiri.
"Terima kasih, Megumi... jika saja kamu tidak datang maka aku akan kehilangan kendali pasti.." Shira menghela nafas lega.
"Aku mengetahuinya... dan aku merasa sedih bahwa diriku tidak menyadarinya sejak awal. Masa lalumu itu..." Megumi menunjukkan ekspresi khawatir.
Shira menatap wajah Megumi dengan kedua matanya langsung di tutup, "Jangan melihat... memalukan... terlalu dekat..."
Shira hanya bisa diam lalu tersenyum karena ketenangan yang selalu ia inginkan itu berasal dari Megumi yang terus bersama dirinya dalam waktu yang cukup lama sehingga mereka sudah memiliki cucu sekarang.
Shira bisa melihat dirinya bersama Megumi berada di wilayah taman yang begitu emas, dipenuhi dengan cahaya cerah dengan rumput emas yang terasa begitu halus bagi tubuhnya.
"Mungkin Akari sudah menceritakan semua itu kepada dirimu..."
"Hm... aku tidak menyangka pria ceria dan bersemangat sepertimu akan memiliki masa depan yang begitu gelap..."
"...aku sungguh tidak menyangka Legenda yang selalu bersemangat dan bahagia sepertimu dapat menunjuk rasa bahagia dan senyuman lebar itu walaupun memiliki masa lalu yang menyedihkan."
Megumi terus berbicara selagi mengelus rambut emas Shira, ia mulai merapikan rambutnya selagi menceritakan kembali tentang masa lalunya.
"Maaf, Megumi... aku tidak menceritakannya karena semua kesedihan dan penderitaan yang aku ingat menghilang sejak masuk kembali ke dalam Yuusuatouri..."
"...aku bertemu denganmu dan kita menjalankan petualangan bersama sampai aku melupakan semua penderitaan dan kesedihan itu."
"Terganti oleh rasa senang dan lega, kehidupanku berjalan begitu lancar bersamamu sampai aku tidak bisa menunjukkan kesedihanku di hadapanmu..."
"...semuanya berubah ketika Kakak dan Minami meninggalkanku begitu saja, semua penderitaan dan kesakitan yang aku rasakan sejak itu kembali teringat."
Megumi bisa melihat dengan jelas melalui ekspresi Shira bahwa ia belum begitu puas menangis, melampiaskan semua rasa sedihnya karena perasaannya yang disakiti sejak kecil sampai sekarang ketika kehilangan beberapa orang yang ia sayangi.
"Shira... kamu bisa menangis lagi kok, lagi pula... kamu harus bisa memuaskan tangisan itu atau rasa kesakitan itu bisa saja membekas untuk selamanya."
Ketika Megumi berkata seperti itu, Shira terdiam seketika sampai pikirannya dipenuhi dengan penderitaan dan kehilangan terhadap seluruh orang yang sangat ia sayangi.
"Kamu hebat ya, Shira..." Megumi tersenyum lalu mengelus kepalanya dengan pelan.
"Sejak kecil... kamu sudah harus mengandalkan dirimu sendiri untuk bertahan hidup, walaupun dunia itu memperlakukan dirimu dengan buruk tetapi semangat yang kau miliki membantu dirimu untuk tetap menjalankan hidup."
"Sesakit apapun itu... kamu masih terus maju, menerima semua kesakitan dan fitnah itu tanpa memunculkan perasaan untuk melakukan bunuh diri."
"Aku memang tidak salah memilah seorang suami, hehehe~" Megumi memberi pipi Shira sebuah kecupan sampai jantungnya mulai tersentuh.
Perasaan Shira bertambah semakin sedih karena perkataan Megumi yang terdengar begitu lembut sampai ia tidak bisa menahan kekuatannya untuk tidak menangis.
"Sejak aku pertama kali bertemu dengan dirimu... awalnya aku mengira kamu itu aneh, tetapi keanehan itu adalah alasan kenapa aku menganggap dirimu menarik."
__ADS_1
"Kamu itu sangat baik... bertindak apa yang seharusnya di lakukan sesuai dengan pikiran dan logikamu itu."
"Kamu sendiri bahkan tidak segan untuk membunuh seorang raja yang dulunya sangat mengerikan karena tidak ada yang berani untuk melawan dirinya..."
"...kamu menjadi seorang Legenda legendaris ketika kamu terus berjuang hanya dengan tujuan untuk bertambah kuat agar bisa menikmati kehidupan yang damai."
"Kamu itu hebat... kebaikanmu tiada batas bahkan perjuangan dan kerja kerasmu itu... tidak ada yang dapat mengalahkannya."
"Walaupun kamu ketakutan dan tidak berani, semuanya berubah bukan? Kamu berhasil melawan itu tanpa kesadaran dirimu sendiri, kau menunjukkan rasa takut itu siapa yang berkuasa."
Shira melebarkan kedua matanya, "Aku sendiri tidak tahu kenapa... kenapa aku bisa menjadi seorang penakut yang terlalu banyak berpikir negatif..."
"...sejak masuk ke dalam Yuusuatouri kembali, rasa takut itu hilang seketika sehingga aku bisa di bilang memiliki keberanian besar untuk membunuh seorang raja lalu mengakhiri era kerajaan tersebut."
"Kamu tidak menyadarinya ya...? Kamu sudah mengalahkan banyak musuh yang begitu berbahaya seperti Rionald, Rxeonal, dan Zangetsu..."
"...Zangetsu adalah cucu dari sang pencipta tetapi kamu berhasil mengalahkannya loh! Rasa takut yang kau alami itu memang sudah kamu kalahkan sejak awal."
Megumi mulai mengusap kedua pipi Shira selagi tersenyum lebar melihat suaminya ternyata akan menjadi seorang Legenda yang sangat legendaris karena sudah melakukan banyak hal yang baik.
"Megumi..."
"Jika kamu tidak bisa mengalahkan rasa takut yang muncul kembali maka aku sebagai istrimu akan terus mendampingi dirimu..." Megumi memberi Shira sebuah kecupan lagi.
"Kamu adalah Shiratori Shira... aku tahu kamu bisa menghadapi semuanya dengan cepat karena aku percaya, aku juga mulai dari sekarang akan selalu berada di sisimu untuk memperjuangkan kedamaian."
"Megu... mi..." Kekuatan Shira untuk menahan tangisannya hilang seketika sampai ia mulai menangis.
"Aku sudah mencoba yang terbaik... untuk diriku sendiri... aku tidak tahu kenapa rasa takut itu muncul kembali, padahal aku sudah sering melakukan sesuatu yang gegabah dengan penuh rasa keberanian."
"...lampiaskan lah sekarang juga, semua penderitaan dan kesakitan yang kamu rasakan sejak itu akan hilang ketika kamu selesai menangis"
"...aku akan selalu di sini bersamamu..."
"...Shira." Bisik Megumi sampai Shira mulai menangis keras selagi memegang erat tangan Megumi karena ia masih belum puas melampiaskan semua itu dengan tangisan.
Setidaknya ia ingin sekali saja menangis sepuas mungkin untuk hari ini ketika mendapatkan kembali ingatannya itu, semua rasa sedih itu terus ia lepaskan sampai Megumi hanya bisa memperhatikan selagi memberi Shira sebuah usapan.
"Aku... mencoba sebisa mungkin untuk... memenuhi harapan semua orang..."
"...aku ingin menetapkan kedamaian itu untuk selamanya... aku ingin bisa... membuat semua orang berhenti merasakan kehancuran dan penderitaan itu... hiks...!"
Shira terus menangis sampai Megumi terpesona dengan ekspresi yang terlihat seperti anak kecil, walaupun Shira adalah seorang pria yang kuat tetapi ia terlihat seperti anak kecil ketika melampiaskan semua kesedihan itu dengan tangisan yang besar.
"Aku tahu kok..."
"...aku selalu memperhatikan dirimu, Shira." Megumi tersenyum lalu memberinya semua kecupan di bagian pipi.
"Aku mengetahui semua perjuangan dan langka yang selalu kamu lakukan sejak aku pertama kali bertemu denganmu..."
"Aku di sini... akan selalu menemani dirimu kemana pun kamu pergi, Shira." Megumi mengelus rambut emasnya itu selagi menunjukkan senyuman yang bangga.
"Aku selalu melihat dirimu... setiap langkah, dan perjuangan yang kamu lakukan."
__ADS_1
"Aku tidak bisa diam begitu saja ketika melihat sang suami membanting tulang untuk melindungi apapun dan mempertahankan kedamaian."
Megumi mendekati wajahnya dengan Shira lalu memberinya sebuah kecupan di bibir sehingga mereka saling berciuman untuk beberapa detik, setelah itu saling menatap satu sama lain.
"Sudah puas...?" Megumi menghapus semua air mata Shira menggunakan jempolnya.
"...jika kamu merasakan hal seperti ini maka kamu hanya perlu menangis lagi di pelukan, pangkuan, dan hadapanku." Kata Megumi karena ia tidak ingin Shira terus menahan semuanya sendiri, ia juga ingin membantu.
"Megumi..." Shira bangkit dari atas lantai.
"Ehh? Hyah--- Shira...!" Megumi tersipu merah ketika Shira mendorongnya sampai ia berbaring di atas rumput dengan kedua tapaknya yang di genggam erat oleh Shira.
Wajah Megumi bertambah merah ketika melihat wajah Shira sangat dekat di hadapannya, setidaknya Shira telah kembali tenang dan itu adalah pertanda yang baik bagi dirinya sendiri.
"Kamu sudah kembali ya, Shira..."
"Ya...! Lebih baik... aku merasa puas sekarang, terima kasih karena sudah mau menjadi istriku, Megumi."
"Hm!" Ekor Megumi mulai bergerak cepat sehingga kedua bibir mereka saling bertemu dan bersentuhan, mereka menikmati satu hari ini dengan saling membagi kasih sayang dan cinta.
"Aku mencintaimu, Megumi... terima kasih." Shira memeluk erat tubuh Megumi yang kecil.
"Aku juga mencintaimu, Shira... aku senang bisa bertemu dengan harapan besar sepertimu." Megumi membalasnya dengan sebuah senyuman lebar.
***
Kou bersama yang lainnya berhasil menguasai sebuah kerajaan yang dapat di percayai, semua penduduknya dipenuhi dengan bangsa Legenda yang menginginkan kesatuan antar satu sama lain.
Era kerajaan telah bangkit tetapi tujuan mereka untuk mempersatukan kembali bangsa tidak akan pernah hilang sehingga kerajaan itu tidak bisa di bilang sebagai kerajaan biasa karena tidak ada satu pun raja atau ratu yang memimpinnya.
Mereka tetap menganggap Kou sebagai Ratu Touriverse karena semua bangsa yang bersatu hanya membutuhkan satu pemimpin yang hebat seperti dirinya.
"Beberapa tahun... berlatih untuk bisa menandingi semua raja itu." Arata mulai berbicara selagi menatap kedua tapaknya.
"Kau masih dalam proses pemulihan, kau tidak akan bisa bertarung potensi penuh jika kita memulai pemberontakan sekarang juga." Ucap Haruki
"Kamu benar juga..."
"Tidak mungkin... itu bukan cara waktu bekerja!" Seru Haruka sehingga mereka semua bisa mendengar Haruka yang saat ini sedang berbicara dengan Shizen.
"Ehhh? Memangnya kenapa... jika kita pergi ke masa lalu untuk menghentikan penyebab dari kebangkitan era kerajaan maka semua ini tidak akan bisa terjadi." Kata Shizen.
"Tidak semudah itu, Shizen. Jika kita mencoba untuk melakukan perpindahan waktu menuju masa lalu untuk mengubahnya maka..." Haruka memunculkan kubus waktu.
"...anggap saja kubus ini adalah inti waktu dari segalanya, jika kita melompat ke belakang lalu mengubah sesuatu maka masa lalu itu akan menciptakan masa depan yang baru..."
"...atau bisa di bilang juga dengan masa alternatif." Kubus itu mengeluarkan beberapa kubus waktu yang menunjukkan risiko ketika masa lalu di ubah.
"Kekuatan waktuku tidak sepenuhnya berkuasa seperti itu karena aku sudah menghancurkan semua Limiter itu sampai aku lumpuh."
"Begitu ya... sialan..."
"...kita harus melawan bangsa kita sendiri yang sangat berbahaya karena kemampuan alami itu."
__ADS_1
~3 tahun kemudian~