
"Raden Aditya, kita telah Kedatangan pasukan aliansi lagi... kali ini mereka membawa sebuah kendaraan truk yang tidak memiliki keamanan apapun di dalamnya." Peringat salah satu tentara yang melapor.
"Truk... terdengar sangat mencurigakan jika di pikir-pikir, baiklah..."
"...sudah waktunya memburu Manusia tidak berguna seperti mereka." Aditya mengambil sebuah bambu runcing lalu senjata yang sama ia gunakan ketika mengintai Riau.
"Mereka ini selalu saja memasuki wilayah negara Indonesia, mungkin karena sumber daya kita memang banyak sih... tetapi jangan terlalu fokus kepada kita." Kata Andrian.
"Let's go, kita tidak bisa menghabiskan waktu lebih lama lagi sebelum mereka melalukan sesuatu dengan truk tersebut---"
"Tunggu sebentar." Shinobu menghentikan mereka semua untuk pergi karena ia ingin memberitahu mereka tentang informasi yang ia dapatkan melalui penggalian informasi yang dilakukan Cyber.
Shinobu menyentuh kacamatanya, lensa itu memancarkan cahaya putih yang menunjukkan gambaran dari bumi, terdapat banyak sekali titik merah yang bergerak menuju arah tertentu seperti pusat kota masing-masing.
"Truk itu memang memiliki kecurigaan yang sangat besar... kita tidak tahu apa yang mereka bawa, tetapi tidak ada satu pun keamanan yang menjaganya membuatnya semakin mencurigakan."
"Entah itu mereka akan mencoba untuk mengukur waktu dengan menghampiri truk itu atau tidak... kita hanya perlu memeriksa truk itu dengan cepat, tetapi..." Shinobu menggerakkan jarinya.
Hologram yang menunjukkan gambar bumi itu mulai memunculkan banyak layar yang memperlihatkan seluruh Manusia aliansi sedang mengamankan seluruh warga untuk tidak berurusan dengan truk tersebut.
Sebagian dari mereka terancam mati sampai membuat seisi ruangan Manusia merasa sangat kesal sampai tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, "Jika mereka mencoba untuk meminta warga untuk menjauh maka..."
"...truk itu memang mencurigakan, entah apa yang ada di dalamnya tetapi kalian berhak untuk berhati-hati." Peringat Shinobu yang masih mencoba untuk masuk ke dalam sistem teknologi yang dimiliki aliansi.
"Apakah aku bisa mempercayai truk tersebut kepadamu?" Tanya Shinobu kepada Aditya.
"Ya... tenang saja, tugas kami tentunya melindungi tanah air yang sangat berharga ini, aku sudah mengerahkan beberapa tentara militer untuk memeriksa kota lainnya."
"Intinya Yogyakarta berada dalam keamanan yang baik dengan kita semua." Aditya mengangguk lalu ia melihat Shinobu mengambil hologram truk itu dan mendekatinya kepada Andrian.
"Apakah kalian melihat titik merah yang berkedip-kedip dalam truk itu...? Ya, terdapat benda yang sangat berbahaya di dalamnya sampai kalian wajib untuk mengamankannya."
"Aku tidak tahu apa isinya tetapi kedipan merah yang berjalan sangat cepat itu mengaitkan kematian... benda yang berada di dalam truk itu sudah pasti proyek yang selesai mereka ciptakan."
"Tenang saja, Shinobu... rencana apapun yang mereka coba lakukan, kami sebagai pelindung tanah air ini akan menghentikannya." Ucap Andrian yang mulai memanggil Indera dan Adit untuk menyiapkan helikopter.
Beberapa menit kemudian, mereka semua bergegas pergi menuju pusat kota Yogyakarta pada siang hari yang begitu cerah, Adit sudah memperingatkan yang lainnya bahwa para warga memang diamankan oleh semua pasukan aliansi.
"Risiko yang besar bisa saja kita tanggung, kita tidak bisa melangkah lebih dekat atau helikopter ini akan diledakkan oleh senjata yang dimiliki oleh Rusia itu." Kata Adit yang dapat melihatnya dengan aliran Mana di kedua matanya.
__ADS_1
"Kalau begitu, turunkan saja kita di sini." Ucap Aditya yang mulai melompat bersama kedua temannya lalu menarik parasutnya untuk mendarat di balik bangunan yang sepi dari penjagaan.
Pasukan lainnya mengikuti dirinya dari belakang, Andrian melempar sebuah granat ke depan untuk menarik perhatian para pasukan itu, ketika ledakan itu meledak terdengar suara siren yang begitu keras.
"Berpencar... kita harus mengamankan truk itu secepat mungkin." Peringat Aditya yang mulai maju melewati banyak sekali sampah di sekitarnya.
Wilhelm dan Andrian mengikuti dirinya dari belakang selagi memegang sebuah sniper untuk menjatuhkan beberapa tentara yang menjaga dari atas bangunan.
"Baiklah, senjata bebas... serang jika itu memang menguntungkan." Aditya memberikan izin untuk menembak kepada semua tentara Indonesia.
Mereka semua menjalankan misi dengan aman, diam-diam di balik bayangan bangunan selagi menjauhkan beberapa tentara yang sedang bersantai dan menjaga kedatangan tentara militer Indonesia.
Andrian berdiri tepat di hadapan pintu besi yang terkunci, ia mulai membidiknya dengan pistol peredam untuk menghancurkan gembok tersebut.
Aditya dan Wilhelm sudah menyiapkan pistol peredam mereka untuk menjatuhkan musuh di balik pintu itu, Andrian membukanya lalu Aditya dan Wilhelm mengejutkan lima tentara di dalamnya dengan tembakan peluru di bagian leher.
"Ruangan aman... maju." Aditya menunjuk tangga di sebelah mereka untuk mencari kedatangan truk itu dari arah mana.
"Tunggu."
Andrian menahan Wilhelm dan Aditya di belakang sampai satu tentara melangkah melewati dirinya, ia langsung menghantam perut tentara tersebut lalu menjatuhkannya di atas tanah dengan sebuah tembakan di bagian kepalanya.
Aditya mengintip melalui lubang kunci sampai melihat banyak sekali tentara aliansi yang sedang memperhatikan jalanan dari ruangan itu, ia mulai mendobrak pintu itu sampai mengagetkan mereka semua.
Semua tentara aliansi itu bergetar karena kaget, mencoba untuk membidik mereka tetapi Aditya bersama kedua temannya menembak duluan sampai meninggalkan lubang kecil di bagian kening semua tentara itu.
"Raden... kita melihat musuh di lantai bagian paling atas, siap untuk menembak." Peringat pemimpin pasukan lainnya yang mulai menembak seluruh tentara di lantai paling atas dengan sniper.
"Itu dia...! Aku melihatnya...!" Seru Andrian yang melihat kepergian truk yang melaju begitu cepat menuju arah barat sampai pasukan aliansi lainnya mulai mengamankan jalannya.
"Sekarang...!" Seru Aditya yang mulai melompat dari dalam ruangan itu lalu mendarat menuju jalanan selagi melakukan beberapa tembakan menuju arah kepala tentara itu.
Semua pasukan tentara Indonesia langsung mengejutkan semua pasukan aliansi yang menjaga jalanan dengan melompat dari gedung itu lalu memperkuat kedua kaki mereka dengan aliran Mana agar tulangnya bisa bertahan.
Perang telah di mulai, seluruh warga yang diamankan merasa ketakutan ketika mendengar suara tembakan peluru dimana-mana termasuk dengan ledakan granat yang dilemparkan oleh mereka semua.
Rencana yang dilakukan Aditya terjatuh menuju kesalahan yang sangat besar karena sebagian pasukannya mulai jatuh karena menerima banyak sekali senapan otomatis.
Semua tentara yang gugur memberikan mereka kesempatan untuk menang karena daerah jalanan sudah aman dari pasukan aliansi, "Semuanya aman...?!"
__ADS_1
"Aman...!" Wilhelm mendekati truk di hadapannya lalu ia mencoba untuk membuka bagian belakangnya.
Aditya dan Andrian bisa melihat pintu belakang truk itu terbuka lebar tetapi mereka tidak menemukan apapun di dalamnya sehingga terpaksa untuk melapor kepada Adit dan Indera.
"Adit, Indera, isi truk ini kosong... apakah kami mendapatkan truk yang salah atau semacamnya?" Lapor Aditya.
"Semuanya sudah pindah menuju---" Aditya memasang tatapan kaget ketika suara yang dihasilkan oleh earphone itu menjadi tidak jelas, tidak lama kemudian pasukan aliansi lainnya berdatangan.
Mereka semua mulai berlindung di balik truk itu tetapi Aditya melihat pasukan di depannya menerima serangan rudal RPG yang langsung menggugurkan lima orang di balik truk itu.
"Arah jarum jam tiga...! Berlindung!" Perintah Aditya sampai mereka semua bergegas menuju bangunan untuk berlindung di dalam sana dari tembakan peluru otomatis dan rudal.
"Adit... apakah kau dengar...?!" Panggil Aditya sehingga ia mendengar suara Adit yang terus memberitahu dirinya untuk pergi menuju stasiun kereta yang dekat dengan mereka karena ia bisa menerima pesan dari Shinobu bahwa seseorang sedang memegang sesuatu yang berbahaya.
Titik merah yang terus berkedip-kedip itu berasal dari benda yang di bawah oleh seorang tentara, Andrian bisa melihatnya lalu ia mula memberitahu mereka arah jarum jam lima dimana ia bisa melihat kedatangan kereta.
Andrian bergegas maju ke depan lalu ia menghantam bangunan di sebelahnya dengan mengeluarkan Garuda, hantaman itu sudah cukup kuat untuk menjatuhkan bangunan yang dalam proses pembangunan.
"Bangunan ini akan aku ganti ruginya... untuk sekarang mereka tidak akan menyerang kita karena keruntuhan bangunan itu." Peringat Andrian yang langsung bergegas menuju stasiun.
Aditya dan Wilhelm mengikuti dirinya dari belakang lalu mereka bisa melihat kereta itu sudah berjalan sebelum mereka bisa naik, "Pilihan lain...!"
"Raden, kami dalam perjalanan dengan sebuah mobil!" Seru tentara Indonesia yang tiba dengan tiga mobil untuk mengantar mereka mengejar kereta yang sudah bergerak cepat itu.
"Cepat-cepat...! Jangan sampai kita kehilangan jejak si bangsat itu!" Seru Andrian yang mulai naik ke atas mobil itu selagi mengisi ulang amunisinya untuk menembak beberapa tentara yang berada dalam kereta itu.
"Semoga saja di dalam sana tidak ada warga... kita harus mengamankan mereka." Peringat Aditya yang mulai menepuk mobil itu beberapa kali agar bisa bergerak secepat mungkin mengikuti kereta tersebut dari belakang.
Semua tentara yang berada di bagian pengemudi mulai menginjak gas sekuat mungkin sampai mobil itu bergerak sangat cepat mengejar kereta itu, Andrian dengan kedua mata aliran Mananya dapat melihat banyak sekali tentara di dalamnya.
"Tidak ada satu pun warga di dalamnya...! Aman...!"
"RPG!" Peringat Wilhelm yang langsung menunduk sampai mobil yang ia tunggangi berbelok ke sebelah kiri untuk menghindari tembakan rudal itu.
"Kedatangan kereta dari arah perlawanan di depan...!!!" Seru Aditya sehingga mobilnya mulai berbelok ke sebelah kanan untuk menghindari tabrakan kereta di depannya.
"Banyak sekali warga dan kereta yang berdatangan..."
__ADS_1
"...kita harus berhati-hati!"