
Bam! Bam! Bam!
Pulau yang di tempati oleh Arata dan Ophilia terus mengalami kehancuran yang di sebabkan oleh pasukan Legenda dari kerajaan Yuvenia.
Mereka terus menyerang, tidak ada satu pun jeda yang terjadi karena mereka menganggap keturunan Shimatsu dan Phoenix sebagai penyebab konflik yang besar seperti Zoiru.
Keturunan Shimatsu juga adalah kunci dari runtuhnya era kerajaan karena semua raja dan pasukan dari setiap kerajaan akan di bantai satu per satu untuk memunculkan kembali era yang adil.
Semua Legenda itu satu, tidak ada perselisihan atau sisi apapun, sejarah kerajaan itu telah bangkit kembali dengan ujian yang jauh lebih buruk dan mengerikan.
Tubuh Arata yang masih berada dalam proses pemulihan telah menerima beberapa luka sampai ia mencoba untuk bangkit dan menyelamatkan Ophilia yang berada entah dimana.
Semuanya hancur begitu saja, ledakan dan kehancuran terjadi dimana sampai tidak ada jaminan siapa yang selamat, serangan mendadak itu menggugurkan ribuan penduduk Legenda.
Arata mencoba untuk bangkit dan ia berhasil berkat alat Kou yang membantu menyeimbangkan kedua kakinya yang masih pincang, ia segera menciptakan sihir pelindung di atas tubuhnya lalu berjalan menuju keberadaan Ophilia.
"Ophilia...! Ophilia...!!!"
Arata terus mencari Ophilia sampai ia menemukan lengan Ophilia yang dipenuhi dengan darah, ia segera menghampiri lengan itu lalu memindahkan semua tembok yang menindih tubuh Ophilia.
"... ...!!!" Arata melebarkan matanya ketika melihat sebelah dari kepala Ophilia mengalami pendarahan karena menerima serangan sihir.
Kedua mata Arata memunculkan lambang dari dosa Wrath sampai ia merapatkan giginya, tidak memberi ampun apapun kepada sesama bangsa yang mengingatkan dirinya kembali kepada era kerajaan.
"Serangan ini... aku mengingatnya...!!! Apa yang coba kalian lakukan...!!!" Arata memunculkan pedang Wrath dan ia menghilang dengan cepat.
Ia tidak lupa untuk menyelimuti tubuh Ophilia dengan dosa Greed agar ia dapat merenggut semua arwah Legenda itu dan mengubahnya menjadi sumber penyembuhan untuk Ophilia.
Arata membunuh semua Legenda itu satu per satu dengan mencangkel mata mereka keluar lalu membelah tubuhnya menjadi dua untuk mengeluarkan semua organ yang ia konsumsi dengan dosa Gluttony.
Harga diri Arata sebagai Legenda pembantai di masa kerajaan telah kembali ketika merasakan hampir semua bangsa Legenda menyebabkan kehancuran dan kekacauan.
Ia juga sempat mendengar nama raja dan kerajaan, semua itu mengingat dirinya kepada trauma yang ia rasakan sejak dulu, era kerajaan bukanlah sesuatu yang menyenangkan karena semua berjalan dengan tidak adil.
"BRENGSEK...!!!"
"AKU SUDAH MUAK...!" Arata membelah celah dimensi yang melepaskan api amarah untuk membakar semua pasukan Legenda itu.
"...DENGAN YANG NAMANYA KERAJAAN DAN RAJA...!!!" Arata mencangkel semua mata mereka dan mengeluarkan isi perut pasukan Legenda itu menggunakan pedangnya.
Semua pasukan Legenda itu yang sudah mengenakan banyak persiapan untuk berperang kalah begitu saja oleh Arata yang masih dalam proses pemulihan.
"...APA GUNANYA PERSELISIHAN DAN BERMUSUHAN!!!" Arata melepaskan gelombang api amarah melalui bilah pedangnya sampai menghapus semua Legenda di hadapannya.
Tubuh Arata terasa berat seketika karena terlalu berlebihan mengerahkan kekuatannya itu, ia tidak sengaja melepas pedang Wrath itu, dan kedua penglihatan terlihat buram seketika.
"... ...!" Arata mencoba untuk bergerak tetapi tidak bisa, jika saja tubuhnya kembali sempurna maka ia bisa mencari penyebab masalah dari kebangkitan era kerajaan itu.
Arata bisa melihat pasukan lainnya datang lagi, masih tetap kerajaan yang sama karena bisa terlihat melalui zirah dan Kisetsu yang mereka kenakan memiliki lambang kerajaan itu sendiri.
"Sialan... batasan sialan!!!" Arata terus memaksa tubuhnya, dan ia menerima beberapa sambutan dari sihir yang di lepaskan oleh semua pasukan itu.
ZWENG!!!
Arata melebarkan matanya ketika melihat semua sihir itu berhenti seketika, pasukan yang ia lihat juga tidak melakukan pergerakan apapun sampai tubuhnya kembali bisa di gerakan.
"Ayah."
Terdengar suara Haruka dari belakang Arata, ia melirik ke belakang dan melihat Haruka yang sedang menggendong Ophilia, kondisinya terlihat baik-baik saja sekarang.
"Haruka... terima kasih... kau datang dalam waktu yang tepat." Arata merasa bersyukur untuk sekarang, suatu saat nanti ia akan kembali untuk menghancurkan semua kerajaan itu satu per satu.
"Untuk sekarang kita pergi, lebih baik berkumpul dulu bersama keluarga yang dapat di percaya." Haruka meluncur ke atas langit dan terbang menuju gedung Co. Corp.
"... ..." Arata melihat semua Legenda itu dan ia mulai melepaskan sihir api amarah yang akan membunuh mereka ketika Haruka menjalankan kembali waktu di wilayah itu.
***
Satori muncul dengan beberapa Legenda yang ia bawa, ia melempar semua Legenda itu ke depan lalu menjebaknya di dalam sel yang memiliki warna oranye.
Setelah itu, Satori memunculkan beberapa jantung Saint yang sudah ia dapatkan, ia memasukkan semua itu ke dalam sel juga.
Semua tujuan yang ia laksanakan telah selesai secara setengah, sisanya ia hanya perlu mencari sebuah lokasi untuk memenuhi rasa penasaran yang ia miliki.
Satori sempat kembali ke wilayah kerajaan Legetsu untuk melihat keadaan, semuanya berjalan baik-baik saja sehingga ia mulai melakukan meditasi untuk membiasakan tubuh barunya itu.
"Tongkat ini bisa di bilang menyetarakan Omni-Slayer karena bisa menghapus dan menghancurkan apapun..."
__ADS_1
"...logika dan realitas juga bukan tandingan apapun untuk senjata ini, aku berhasil menguasainya tetapi tubuh yang aku miliki masih mendapatkan beberapa penolakan."
"Senjata [Origin] ya... salah satu senjata yang dapat menghancurkan apapun tanpa syarat sedikit pun, maupun kau arwah atau abadi... pasti akan mati dan menghilang begitu saja." Regulus menyilangkan kedua lengannya.
"Ras pertama yang menciptakan semua senjata ini, itu lah kenapa terdapat nama Founder yang terkandung." Diablo melihat Satori yang sedang melakukan meditasi.
Diablo memiliki kesempatan yang sangat sempurna untuk menusuk Satori dari belakang dengan melakukan pengkhianatan yang tidak dapat ia lihat atau ketahui sama sekali.
Diablo terus mendekat sambil memegang tongkat itu dengan erat, ia mulai menunjuk Satori menggunakan tongkat tersebut, mencoba untuk menghapus dirinya tanpa ampun.
"Tidak seperti dirimu, Diablo. Kau mencoba untuk menghancurkan diriku dengan Founder Origin?" Tanya Satori.
"Hmph, sepertinya biasanya... kau memang peka dan tajam dalam hal apapun." Diablo menyadari tongkatnya sudah menghilang begitu saja karena di rampas oleh Satori yang melakukan pergerakan tidak terlihat.
Diablo bisa melihat Satori memegang sebuah bintang oranye di tangan kanannya, "Gunakan senjata ini dengan benar atau kau bisa saja tidak sengaja menghancurkan semuanya..."
Satori melempar bintang itu yang berubah kembali menjadi tongkat hitam, Diablo menangkapnya lalu ia menghilangkan senjata mematikan itu sebelum ia melakukan sesuatu yang tidak di sengaja.
"Ironis, sungguh ironis untuk bisa memihak hal yang sama denganmu, bangsa Legenda." Diablo menyilangkan kedua lengannya.
"Tidak, lebih ironis lagi bagiku... aku bekerja sama dengan raja Iblis yang terkuat sampai ditakuti oleh semua ras dan dewa itu sendiri."
Satori bangkit lalu ia menatap Regulus yang sedang mengerjakan tugasnya sebagai raja dari kerajaan Legetsu yang dulunya sangat ditakuti karena raja dan pasukan yang ia latih.
"Regulus Khan, kalau tidak salah dia termasuk raja Legenda yang sungguh hebat dan menakutkan."
"Aku membunuhnya, apa yang harus di takutkan." Diablo menatap Regulus.
"Dia raja yang sudah membantai habis bangsa Neko Legenda sampai setengahnya punah." Kata Satori yang mengetahui jelas semua sejarah karena kemampuannya.
"Hmph, bangsa Legenda dengan tambahan ekor dan telinga kucing...? Sungguh menyedihkan tetapi aku akan memberikan mereka kesempatan untuk menunjukkan kelayakan itu."
"Regulus!" Panggil Satori.
Regulus menatap Satori dengan tatapan serius, "Apa yang kau butuhkan dariku?"
"Anakmu Rionald... sepertinya tidak berhasil memenuhi perkataan terakhirmu sejak itu, masih terdapat banyak sekali bangsa Neko Legenda yang berkeliaran."
Regulus tercengang seketika mendengar nama dari Neko Legenda, satu-satunya hal yang membuat dirinya mengamuk sampai tidak bisa menahan rasa amarah itu ketika mendengar sesuatu yang dipenuhi kegagalan.
"Soal anak... aku lupa soal Rxeonal, aku harus memeriksa Zuusuatouri, siapa tahu dia masih hidup."
"Dia sudah mati."
"Apa...?" Diablo menaikkan alisnya.
"Regulus, anakmu juga sudah pasti."
"Ck... sudah kuduga. Dasar putra tidak berguna." Regulus menyilangkan kedua lengannya.
"Siapa yang membunuh putra yang selalu aku banggakan? Seharusnya dia sudah menaklukkan apapun dan mendapatkan senjata yang aku miliki ini." Tanya Diablo penasaran.
"Mereka semua mati di tangan Legenda yang dulunya lemah dan penakut."
"Karena usaha dan terus bekerja keras, Legenda yang sudah membunuh putra kalian itu bernama..."
"...Shiratori Shira."
"... ...!!!" Diablo menatap Satori dengan tatapan kesal.
"Sangat ironis, ck, aku harap bisa melupakan ingatan soal kematian Rxeonal."
***
Semua orang berhasil berlindung di dalam Comi's Corporation, tidak ada yang bisa menyerang gedung itu karena sudah di lindungi dengan keamanan yang sangat kuat.
Tech terus menjaga 24 jam untuk memeriksa penyerangan secara diam-diam dan tiba-tiba.
Haruka berhasil membawa Arata dan Ophilia, ia tidak lupa untuk membawa mereka semua ke ruang pemulihan agar bisa menyembuhkan semua luka itu.
"Aku tidak menyangka era kerajaan akan terulang lagi... melihat semua Legenda itu mengenakan lambang dan zirah yang berbeda..."
"... mengingatkan diriku kepada masa lalu yang begitu gelap. Semua Legenda lemah di injak dan gadis sampai dijadikan sebagai alat kelahiran terhadap Legenda layak."
Arata mengepalkan kedua tinjunya, ia bisa melihat Haruki masuk ke dalam ruangan itu dengan tatapan yang terlihat kesal karena ia baru saja berpapasan dengan Legenda yang mengerikan.
"Arata, apakah kau sempat berhadapan dengan Legenda yang memiliki tanduk itu?"
__ADS_1
"Tidak... beda lokasi... tetapi Kuro seperti merasakan sesuatu yang berbeda sampai aku juga ikut merasakannya."
Arata terus memikirkan kesulitan dari era kerajaan, semuanya terasa serba salah sampai perasaan dilema akan muncul seketika.
"Apakah julukan dari Ratu Touriverse sudah tidak ada artinya lagi?" Tanya Arata.
"Tidak... semuanya sudah runtuh, tidak ada yang tetap. Era kerajaan dan perselisihan telah kembali tetapi jauh lebih buruk karena pengembangan semua bangsa dan ras sudah jauh sekali." Jawab Haruka.
"Dimana ratu Touriverse? Apakah dia memiliki sebuah rencana?" Tanya Kuro yang mulai berbicara melalui mulut Arata.
"Kou... masih berada di kondisi pingsan." Haruka menjawabnya dengan tatapan yang terlihat sedih.
Arata terkejut ketika mendengarnya, mereka semua segera memeriksa lantai sepuluh untuk melihat kondisi Kou, dan ternyata ia masih berbaring di atas kasur dengan kondisi yang sedang tertidur.
"Aku yakin dia pasti kesakitan di dalam hatinya... ia tidak bisa menghentikan semua keruntuhan hubungan dari bangsa dan ras." Kata Haruka.
"Stres terus menyerang pikiran, ia juga sempat hamil sampai tidak memiliki waktu panjang untuk mengurusi pekerjaan ratu Touriverse."
"Pada akhirnya, rasa percaya kepada Kou hilang satu per satu, mereka sudah tidak bisa lagi mengandalkan ratu Touriverse yang tidak berguna dan mampu sepertinya..."
"...bukan Kou saja yang menyebabkan itu melainkan sepupu dan tanteku juga adalah kunci dari keruntuhan hubungan itu."
"Bangsa Legenda sudah memunculkan kembali raja yang mereka percaya dan anggap paling kuat, satu kerajaan muncul dan yang lainnya akan muncul lagi."
"Seperti virus yang menyebar, jika sudah terlambat seperti ini maka apa yang harus kita lakukan adalah bertahan dan melakukan resolusi." Ucap Haruka.
"Aku juga menyadari sesuatu yang aneh... kerajaan Legetsu telah---"
ZWOOOOSSSHHH!!!
Terdengar suara portal yang muncul dari luar gedung itu, suara yang di lepaskan sangat keras sampai semua orang yang berada di gedung itu dapat mendengarnya.
"Kakak! Sebuah portal muncul dari atas langit..." Peringat Honoka.
Haruka berjalan mendekati jendela dan ia bisa melihat portal itu mengeluarkan beberapa orang sehingga keberadaan mereka bisa di rasakan dengan jelas oleh Haruka.
"Mama...!!! MAMA SUDAH PULANG...!!!" Kata Haruka dengan suara yang keras karena ia sempat melihat kakeknya itu.
""Apa!? Korrina sudah pulang...?!"" Mereka semua terkejut ketika mendengarnya.
"Waktu yang bagus...! Di saat-saat sulit seperti ini, akhirnya dia pulang." Arata mengangguk.
"Kedua orang tuaku juga akhirnya telah kembali...!"
"Akhirnya... kita kedatangan penyelesaian masalah yang sebenarnya." Haruki menghela nafasnya lega.
Mereka semua berjalan keluar untuk menyambut kedatangan Korrina dan yang lainnya yang baru saja mengalami perjalanan cukup panjang sampai membutuhkan waktu selama bertahun-tahun untuk kembali.
"Selamat datang kembali, Ma..."
Haruka dan Honoka tiba-tiba merasakan sebuah kekurangan, mereka tidak melihat Korrina dan Koura sama sekali.
Hanya Nurosa dan Fuyuma yaitu orang tua Arata, dan tentunya kakek mereka yang bernama Futsu. Haruka mencoba untuk berpikir positif bahwa Korrina dan Koura datang terlambat.
"Kakek... kemana Mama dan Nenek?" Tanya Haruka.
"Ohh, Haruka... lihatlah dirimu yang sudah tumbuh dewasa bersama Honoka, sayang sekali ibumu tidak akan bisa melihat momen ini." Ucap Futsu dengan nada yang pelan.
Hati Haruka dan Honoka terasa seperti di tusuk oleh sesuatu yang sangat tajam ketika mendengar perkataan terakhir yang di ucapkan oleh Futsu.
"Apa maksudmu, Kakek...? M-Mama dimana...?" Tanya Honoka yang masih memasang wajah penuh kepercayaan.
"Haruka... Honoka..."
"...maafkan kami." Nurosa dan Fuyuma bersujud tepat di hadapan kedua saudara itu sampai mengejutkan Arata karena ia melihat pemandangan yang cukup langka.
"Kenapa k-kalian meminta maaf?" Tanya Haruka dengan suara yang pelan sekarang.
"Jadi begini... dalam perjalanan kita... untuk melarikan diri."
"Koura dan Korrina mengorbankan nyawa mereka demi keselamatan kami semua..." Futsu mulai menjawab dengan sebuah kebohongan besar karena ia sendiri penyebab dari Korrina dan Koura yang tidak akan pernah kembali.
"...mereka sudah mati."
""... ...!?"" Semua orang yang mendengar berita buruk itu dari Futsu merinding seketika sampai hati mereka mendapatkan kejutan yang cukup tidak di sangka.
"Ehh...?"
__ADS_1