
"Pakaian... camilan... berlian... kamera... hm! Semuanya sudah dibawa." Kata Shinobu sambil menunjukkan isi tasnya.
"Kalau begitu, kita semua memang sudah siap untuk berlibur ya. Akhirnya~ kita berlima dapat menghabiskan waktu bersama-sama untuk pergi ke tempat yang tidak aman?" Ucap Konomi.
"Semoga saja aman, lagi pula Planet Lemia memiliki banyak tempat yang cocok untuk dinikmati, kita hanya perlu berhati-hati saja dengan penduduknya." Kata Koizumi yang mulai melihat tiket itu.
"Bukan hanya negara Mitch saja, kita masih bisa mengunjungi negara apapun asalkan tiket ini masih berlaku..."
"...mungkin menikmati pemandian air hangat di negara Lynn adalah ide yang baik. Negara yang katanya memiliki berbagai macam air sampai semua gadis melakukan perawatan di sana."
"Hohhh~ cocok untuk membuat kulit kita mulus ya!? Kita masih proses pertumbuhan, jika kita memuluskan kulit kita maka ketika sudah besar kita pasti akan bertambah cantik~!" Kata Hinoka yang terlihat bersemangat.
"Itu ide yang baik... kalau begitu kita membutuhkan jadwal." Kata Ako yang mulai menatap Shinobu.
Shinobu tersenyum lalu mengangguk sampai ia mengeluarkan sebuah kertas yang berisi jadwal untuk liburan mereka selama tiga inti, semoga saja semuanya berjalan dengan baik.
"Kalau begitu, kita semua sudah siap untuk pergi bukan?" Tanya Konomi.
""Ya!""
"Apakah kita akan naik ke dalam pesawat luar angkasamu lagi, Koneko~?" Tanya Hinoka.
"Tidak... kita akan terbang, akan lebih baik melakukan sedikit latihan juga bukan...? Terbang dari planet lain menuju planet yang lebih jauh." Shinobu mulai melayang.
"Ide yang sangat bagus, Shinobu! Aku menyukainya...!" Koizumi langsung melayang sampai melebihi Shinobu.
"Satu! Dua! Tiga! Balap di mulai...!" Koizumi dan Shinobu langsung melesat ke atas langit sampai melewati beberapa langit sehingga kecepatan mereka membawa mereka langsung menuju luar angkasa.
"Oi! Jangan meninggalkan kami seperti itu...!!!" Hinoka melihat Konomi dan Ako langsung terbang mengikuti mereka semua sehingga ia juga mulai mengejar mereka secepat mungkin.
Tidak lama kemudian, mereka langsung memasuki planet Lemia, tepat di bagian negara Mitch dan perbatasan menuju negara air yang bernama Lynn, embusan anginnya terasa lebih berbeda dadi negara Mitch.
"Perbedaannya jauh sekali ya... embusan angin sejuk di negara Mitch terasa sungguh menyegarkan walaupun dingin sekali..." Kata Shinobu yang mulai berputar-putar di atas langit.
"Aku juga sudah bisa melihat negara Lynn dipenuhi banyak sekali air terjun dan sungai jernih... banyak sekali orang yang mandi di sana." Kata Konomi.
"Kalau begitu kita memesan tempat penginapan terlebih dahulu di negara Mitch." Koizumi mulai mendarat dengan aman di hadapan kerajaan besar yang menerima banyak sekali embusan angin sejuk.
"Apakah akan baik-baik saja...? Menginap dalam kerajaan... kenapa tidak di desa saja?" Tanya Ako.
"Kita bisa menggunakan kesempatan ini untuk melihat penduduk yang sangat menganut terhadap kepercayaan itu, siapa tahu kita akan melihat misteri bukan~?" Jawab Hinoka.
"Jawaban yang bagus, Hinoka. Semoga saja tidak ada hal menyebalkan terjadi, tetapi... jika memang ada yang mencoba untuk mengganggu maka solusinya adalah bertarung!" Seru Koizumi.
"Ahahaha... kalian menganggapnya enteng sekali ya." Kata Konomi yang terlihat sedikit khawatir karena ini pertama kalinya ia melihat seorang Legenda yang menganut terhadap kepercayaan dewa.
Para pendeta yang menjaga gerbang segera menyambut kedatangan mereka, melihat rambut merah Koizumi dan Hinoka terutama lagi Shinobu yang memiliki rambut emas cerah membuat mereka berpikir seketika.
"Ahh... gadis-gadis kecil yang imut~ kalian pasti datang dari negara Drake dan Bhaskar." Ketika pendeta tersebut berbicara seperti itu, mereka langsung memasang tatapan bingung.
"Itu benar... kami berasal dari negara tersebut, kedua temanku ini datang dari planet lain untuk menikmati liburan." Shinobu mulai berbicara dengan tenang.
Mereka semua langsung menundukkan kepalanya kepada pendeta tersebut sampai mereka juga ikut melakukannya untuk menunjukkan kehormatan besar antar satu sama lain.
"Semoga angin memberkati perjalanan kalian dengan baik dan aman... musim sejuk ini memang pantas dinikmati dengan sebuah liburan ya."
"Kami menerima pengunjung apapun yang memiliki kepercayaan terhadap dewa, kalian gadis-gadis kecil cukup berani ya datang dari jauh untuk berlibur di negara ini." Pendeta itu langsung mengelus kepala Shinobu.
Mereka menyadari sesuatu yang janggal, pendeta itu bersikap sangat baik bahkan Shinobu tidak membaca niat buruk apapun dalam dirinya melainkan ia menerima siapa pun asalkan percaya kepada Dewa.
"Neko Legenda sepertiku... di terima?"
"Tentu saja, negara Mitch dipenuhi dengan kebebasan. Ras apapun itu dipersilahkan masuk asalkan kalian tidak melanggar peraturan apapun."
__ADS_1
"Aku sudah mengetahui takdir Neko Legenda, sungguh menyediakan bukan...? Jika saja mereka bisa terbang dari berbagai macam planet lalu pergi ke sini maka kami akan menjaminkan keselamatan mereka."
"Tentunya Dewa Erion akan melindungi mereka semua."
Shinobu merasa sensitif ketika mendengar keselamatan untuk Neko Legenda, percuma saja berlindung di sini jika mereka tetap saja terkena hasut untuk menjadi Legenda fanatik terhadap kepercayaan dewa dan elemen.
"Kalian baik sekali ya~" Kata Hinoka dengan senyuman lebar.
"Kebaikan kami tentunya berkat dari Dewa Erion..." Pendeta itu mulai memegang sebuah lambang angin yang dijadikan sebagai kalung.
Koizumi sudah merasa geli dan muak melihat sikapnya seperti itu, apapun pasti selalu saja bersangkut paut dengan dewa sampai dirinya sudah tidak tahan mendengar perkataan yang keluar darinya.
"Um... boleh kami masuk sekarang?" Tanya Shinobu yang sudah merasa tidak nyaman karena ia sendiri tidak memiliki kepercayaan apapun kepada Dewa, hanya surga saja.
"Sebelum itu, beritahu kami nama kalian agar bisa dimasukkan ke dalam catatan pengunjung." Pendeta itu mengeluarkan sebuah buku.
Shinobu tidak mendeteksi perangkap atau tipuan apapun, pendeta ini memang bertugas seperti ini agar bisa mengingat siapa saja pengunjung yang mau menikmati liburan di dalam kerajaan tersebut.
"Shinobu Koneko..." Kata Shinobu tanpa menyebutkan marganya karena pendeta itu kemungkinan mengetahui marga Shiratori karena salah satunya adalah Shinji sebagai Dewa Agung cahaya.
"Shi---" Shinobu langsung menutup mulut Koizumi seketika.
"Apa yang Kakak coba katakan...?! Jangan menyebut margamu sembarangan di planet ini...!" Peringat Shinobu yang terlihat kaget karena Koizumi sudah cukup dekat untuk menarik konflik besar.
"O-Ohh itu ya..."
"Shizukaze Hinoka~"
"Ichinose Konomi."
"Ichinose Ako."
Nama marga mereka tidak menarik kebencian apapun dari pendeta tersebut, tidak ada hal yang begitu sensitif dari nama tersebut karena ia tidak mengenal marga mereka pernah membunuh dewa secara terang-terangan.
"Comi juga bukan pilihan baik... keturunan kita terkenal atas keburukan dan kesialan yang di bawa, lebih baik samaran saja."
"Sepupuku satu ini bernama Shinobu Koizumi." Kata Hinoka.
"Heh...?" Koizumi memasang tatapan kaget melihat Hinoka menemukan solusi yang lebih cepat, pendeta itu menulisnya dengan sebuah senyuman lalu ia mulai menyatukan kedua tapaknya.
"Semoga angin memberkati perjalanan kalian dan tentunya liburan yang begitu menyenangkan." Pendeta itu memberi jalan untuk para gadis kecil itu sampai mereka merasa embusan angin yang mengenai wajahnya masing-masing.
"Terima kasih." Shinobu mulai memberi satu berlian kepada pendeta itu tetapi ia menolaknya.
"Negara Mitch adalah kebebasan... kalian bebas untuk melakukan apapun, itu artinya sebagian dari kerajaan ini akan menyediakan dengan gratis karena kebebasan."
"Ehh...? Begitu ya..." Shinobu mengangguk lalu ia melihat mereka semua pergi meninggalkan dirinya sampai ia mulai mengikuti mereka semua.
Koizumi langsung mendekati Shinobu, "Aku baru saja ingat soal margaku... Kakekku adalah pembunuh berantai terhadap para dewa sampai semua orang mengetahui dirinya."
"Tadi itu hampir saja..." Shinobu menghela nafasnya lega karena ia sempat menghentikan Koizumi sebelum ia menyebut nama marga dari Shimatsu.
"Shichiro juga sama... itulah kenapa kami memilih marga ibu kami." Kata Konomi yang mengerti dengan situasi ketika melihat Shinobu menghentikan Koizumi.
"Kenapa harus Shinobu Koizumi...?" Tanya Koizumi kepada Hinoka.
"Aku hanya mengasal saja seperti mengerjakan tugas, hehehe."
"Sepertinya asalan itu menginjak sasaran yang tepat, kita terselamatkan dari pemilihan marga yang begitu rumit."
"Shiratori juga... kenapa tidak kamu sebut Nobu?" Tanya Ako.
"Mmm... biasanya jika seseorang memiliki kaitan dekat seperti marga dengan dewa itu maka mereka akan memuja dirinya juga."
__ADS_1
"Jika aku menyebut namaku... Shiratori Shinobu maka mereka akan menyebut diriku sebagai anak atau keturunan dewa sehingga bisa dibilang aku salah satu dari mereka juga, sesuatu yang harus disembah."
"Ugh... aneh sekali, kenapa kita memutuskan untuk liburan di sini?" Tanya Koizumi.
"Kakek sudah memberi kita kebahagiaan... lebih baik menerimanya, melihat keadaan planet ini juga memiliki keuntungan bagi kita."
"Tidak semuanya buruk kok." Shinobu mulai membuka peta negara lalu ia bisa melihat banyak sekali tempat yang harus mereka kunjungi di kerajaan tersebut.
"Kau tahu apa yang lebih buruk? Mendengar nyanyian dia." Koizumi menunjuk Hinoka yang sedang melihat-lihat selagi menyapa beberapa orang dengan sikap sok kenal.
"Kalau begitu, kita pergi menuju penginapan itu terlebih dahulu ya." Shinobu mulai menunjuk arahnya sampai sebuah angin langsung membawa mereka menuju tempat itu.
"A-Apa itu tadi...?" Tanya Ako yang mulai melihat sekeliling.
"Hebat sekali ya... tujuan kita langsung terbantu oleh arus angin yang cukup kuat untuk memenuhi tugas mereka masing-masing." Shinobu melihat ke atas langit.
"Anginnya cukup kuat... aku mengerti kenapa paman Shira mengatakan sesuatu tentang kekuatan mereka yang belum kita lampaui." Koizumi mengepalkan kedua tinjunya.
"Kita masuk dulu saja." Konomi mulai mendekati penginapan itu lalu ia mengetuknya sampai pintu tersebut langsung terbuka dengan angin yang lewat.
"Semoga angin memberkati kalian--- Wah, jarang sekali melihat pengunjung dari negara Drake dan Bhaskar!"
"Selamat datang di penginapan Windy, ruangan untuk berapa orang?" Tanya pemilik penginapan itu.
"Satu saja, dengan empat kasur." Kata Konomi.
"Baik, ini kuncinya... penginapan ini menyediakan berbagai macam fasilitas yang cukup untuk memenuhi kebutuhan kalian, selamat menikmati."
"Dewa Erion akan memberkati kenyamanan kalian dalam penginapan ini." Pemilik itu langsung memohon kepada patung kecil di atas mejanya.
Koizumi sempat memasang tatapan jijik sampai Shinobu mulai membawa dirinya ke dalam kamar karena wajah seperti itu bisa saja disebut sensitif untuk mereka yang mempercayai Dewa.
"Rambut juga memiliki kaitan dengan kepercayaan ya? Merah artinya api dan tentunya emas artinya cahaya?" Tanya Konomi.
"Itu benar... jika kita tidak memiliki sebuah Insignia elemen maka rambut kita sudah cukup untuk melambangkan kepercayaan kita." Ucap Shinobu yang mulai mengeluarkan barang-barang dari dalam tasnya.
"Insignia adalah lambang kepercayaan yang wajib untuk mereka kenakan, Insignia itu mengandung kekuatan yang diberikan secara langsung oleh Dewa dari Realm itu sendiri."
"Warna rambut mengartikan bahwa mereka menerima berkah yang jauh lebih baik oleh Dewa itu sampai mereka bisa di bilang sebagai perwakilan terhadap dewa itu sendiri."
"Seperti utusan...? Semacamnya... entahlah aku tidak begitu tertarik." Shinobu mulai memakan Whiskas itu karena perutnya terus bersuara.
"Kamu tahu banyak ya~" Hinoka mengelus kepala Shinobu lalu mengambil Whiskas itu dan memakannya.
"Hwek... tidak enak..."
"Kau bukan kucing bodoh." Koizumi menghela nafasnya lalu ia membuka tirai sampai embusan angin masuk lalu menyegarkan tubuh mereka seperti angin yang datang di pagi hari.
"Penduduk dan patung itu adalah sebuah pengecualian, semuanya terlihat sangat baik dan menenangkan." Kata Koizumi yang melihat patung Erion di atas laci.
Koizumi mencoba untuk menendangnya tetapi Shinobu berhasil menahan kakinya, "Jangan merusak fasilitas yang berkaitan dengan kepercayaan."
"Aku merasakan sihir di dalamnya, ketika hancur... kemungkinan besar akan memanggil atau menarik sesuatu." Kata Shinobu.
"Menyebalkan sekali... padahal aku ingin memukul wajah Dewa!" Kata Koizumi yang terlihat geram, Shinobu langsung menciptakan wajah Erion menggunakan daunnya ini.
"Ini." Shinobu tersenyum polos kepada Koizumi selagi memberikan kepala itu kepada dirinya yang langsung menendangnya sampai hancur.
"Puas sekali~"
"Siang-siang begini sudah disuguhi dengan lelucon kecil dari para sepupu." Kata Konomi yang memperhatikan Koizumi terus menang kepala Erion.
"Liburan ini pasti akan menyenangkan...!" Kata Ako.
__ADS_1
"Semoga saja."