
Shira mengambil cangkir kopi hangat lalu ia meminumnya dengan ekspresi tenang, pandangannya terus memperhatikan keluar karena sedang menunggu seseorang yang sedang menjalankan bisa pemberontakan mereka.
"Um... Shira, apakah kamu tidak ingin memasang menu atau hidangan lain? Sudah hampir lima puluh cangkir kopi kau habiskan, kau sudah datang dari pagi dan terus menunggu sampai sore."
"Aku tidak begitu ingin menikmati makanan apapun kecuali secangkir kopi hangat... rasanya bisa meringankan stres dan beban yang aku rasakan dalam Realm of Light."
"Mengasuh Shinobu juga cukup sulit... tapi syukurlah dia mau berubah sedikit demi sedikit karena perkataanku, sebentar lagi juga dia pasti akan menjadi sebuah kunci dari segala pertarungan."
Shira menghabiskan cangkir kopi itu lalu memberikan yang kosong kepada Ophilia, "Ophilia... kopi lagi, kali ini expresso agar aku dapat merasakan kepahitan yang sama dengan dunia ini."
"Lagi!? Kenapa kau malah menjadi kecanduan seperti itu!? Kemana Shira yang selalu menyukai manisan dan sesuatu yang terasa begitu manis!?" Tanya Ophilia yang melihat Shira terus memesan kopi.
"Kopi. Expresso... ya? Aku tidak ingin mengulanginya lagi karena aku sedang memikirkan sesuatu, lagi pula memakan manisan itu hanya untuk para gadis." Shira kembali menatap keluar jendela.
Ophilia menghela nafasnya, dirinya tidak bisa membantu Shira soal hal itu karena dirinya memasang sudah nyaman dengan rasa pahit sampai ia berharap organ di dalam tubuhnya baik-baik saja karena sudah berlebihan minum kopi sebanyak itu.
Shira menyadari restoran Shimatsu sedang ramai karena kedatangan dirinya yang hanya memesan kopi untuk menunggu kedatangan kedua temannya, kebanyakan para wanita menatap dirinya dengan tatapan penuh jatuh cinta.
"... ..." Shira menghela nafasnya karena ia dapat merasakan keberadaan mereka langsung mendekat, ya, keberadaan seseorang yang tidak asing lagi bagi dirinya.
"Haruki... Arata... kalian lama sekali, sebenarnya harus menghabiskan waktu sebanyak itu untuk melakukan pemberontakan?" Tanya Shira yang melihat mereka langsung duduk di hadapannya.
"Kau kasar sekali... pasti kelebihan kopi seperti biasanya, kau perlu menghentikan meminum kopi terlalu berlebihan atau lidahmu hanya bisa merasakan pahit." Kata Haruki.
"Aku sudah tidak peduli lagi..." Kata Shira yang terlihat kesal dan lelah karena dirinya sudah terlalu lama menghabiskan waktu di dalam wilayah cahaya sampai pikirannya hanya dipenuhi dengan stres.
Tetapi jika Shinobu berada di dekatnya, semuanya terasa ringan sampai ia dapat kembali bersikap seperti biasanya sedikit demi sedikit. Sesuatu hal yang penting memang mengganggu dirinya dan itu adalah perkembangan Shinobu.
Sejak bayi sampai sekarang, Shira mengawasi Shinobu menggunakan cahayanya sampai ia bisa melihat semua riwayatnya itu, perilakunya cukup naif dan terlalu baik sampai ia ingin mengubah Shinobu menjadi sesosok Legenda seperti dirinya sekarang.
Shira langsung menyentuh kepalanya sendiri yang menerima beban besar sekali karena ia ingin sekali mengubah Shinobu karena dirinya adalah keturunan Shiratori terakhir dengan kekuatan hebat yang dapat ia bangkitkan melalui usaha dan tentunya pola pikir berbeda.
Jika saja Shinobu tidak selalu menahan diri dan memberikan kebaikannya terlalu berlebihan maka proses yang ia alami tidak akan lambat, dia hanya menunggu dengan lama sampai salah satu dari seseorang yang ia kenal mati dan terluka.
Mengubah dirinya menjadi sesosok Legenda yang tidak memiliki ampun apapun karena amarahnya itu, melihat pertarungan Shinobu melawan Aerith membuat dirinya sadar bahwa ia perlu memberinya banyak pelajaran.
Namun, satu-satunya hal yang paling menghambati dirinya adalah perasaan untuk menahan diri, semua emosi dan perasaan sedih serta amarah selalu di pendam sampai bercampur aduk di dalam dirinya hingga tidak terkendali lagi.
Shinobu hanya perlu menangis dan melepaskan semua perasaan yang ia simpan di dalam dirinya, jika semua itu dapat dilaksanakan maka proses dan perjuangannya dapat berjalan dengan lancar.
Shinobu juga sangat pintar, dia pasti akan mengolah kembali semua kekalahan dan pertarungannya lalu berkembang lebih baik lagi sampai dirinya dapat berubah menjadi Legenda yang layak.
Jika Minami adalah seorang gadis cahaya yang menyinari seluruh alam semesta dengan cahayanya maka Shinobu akan menjadi seorang gadis cahaya yang akan menyinari alam semesta juga, hanya saja semua yang melihat cahaya itu terlalu lama akan merasa buta dan gelap seketika.
__ADS_1
Shira langsung menepuk meja dengan tatapan kesal, ia seharusnya bisa mengubah dirinya sejak berumur 2 atau 3 tahun karena kekuatan dan potensinya melambat karena perasaan yang terus di simpan itu.
...
...
"Kau harus bisa menjaga Shinobu... dia adalah salah satunya Shiratori terakhir yang memiliki cahaya jauh lebih besar di bandingkan kita semua." Peringat Shukaku yang perlahan-lahan berubah menjadi cahaya.
"...cahaya itu terkadang tidak selalu berkaitan dengan hal baik, contohnya diriku yang menyinari kegelapan sampai berlebihan hingga menyebabkan mereka yang melihat menjadi buta dan di serang oleh kegelapan yang tercipta dari cahaya."
"Minami tidak berhasil mengubah masa depan dan dunia ini... tetapi karena Shinobu adalah keturunan Comi dan Shiratori, aku yakin dengan kecerdasan dan cahayanya..."
"...dia akan menjadi Legenda legendaris yang tidak bisa dikalahkan oleh siapa pun."
"... ..." Shira hanya bisa terdiam sampai ia mulai menundukkan kepalanya karena dirinya masih merasa takut untuk memiliki hubungan yang dekat keluarga.
Melihat orang tuanya mati, saudara, bahkan sampai kedua anaknya menciptakan trauma dan rasa takut besar di dalam dirinya untuk tidak memiliki hubungan ketat dengan mereka karena tidak ingin di tinggal.
Di tinggal saja oleh mereka sudah memberikan luka membekas yang tidak bisa di ubah atau perbaiki begitu saja, Shira mencoba tahap awal dengan membiarkan Shinobu berjuang sendirian.
...
...
"Shinobu Koneko... aku ingin kau menjadi Shiratori yang dapat mengikuti sinaran cahaya... sinar yang dapat bersinar untuk selamanya, sebagian membutakan orang lain dan sebagiannya memberikan mereka kebahagiaan walaupun sedikit."
Shira langsung bangkit dari atas kursi lalu menunjuk mereka berdua dengan tatapan serius, "Soal pemberontakan tentang pengikut Dewa dan kepercayaan..."
"...lebih baik kalian tolak dan berhenti melakukannya, serahkan semua itu kepada generasi selanjutnya! Kepada anak-anak..." Suruh Shira karena ia ingin membiarkan mereka bekerja sendirian mengurusi para dewa elemen dan pengikutnya.
"Apa maksudmu, Shira? Kau ingin membiarkan semua dewa elemen itu untuk kembali bangkit dan menyebar populasi kepercayaan terhadap dewa dan elemen?!" Tanya Arata.
"Lebih baik kita mengurus hal penting lainnya... dewa elemen tidak memiliki tantangan yang adil untuk kita semua, lagi pula kita perlu berlatih terus untuk mempersiapkan masalah besar lainnya."
"Berikan waktu untuk para anak-anak, di umur empat tahun mereka sudah mengalami pemberontakan yang mengancam kehidupan mereka..."
"...ditambah lagi beberapa hari yang lalu, mereka berhasil mengalahkan seorang penyihir dengan sihir aneh, hanya butuh beberapa bimbingan dan latihan dari kalian maka mereka bisa menandingi para dewa."
Apa yang Shira katakan bisa di bilang cukup menguntungkan karena mereka juga ingin melihat cucu mereka sudah berkembang sampai mana.
"Kali ini... kita serahkan kepada Shinobu dengan yang lainnya untuk menyingkirkan para dewa elemen, jangan menyegelnya... membunuhnya saja bersamaan dengan pengikutnya." Kata Shira dengan tatapan serius.
"Dengan ini... mereka bisa terus bertambah kuat dan bahkan menjadi Legenda legendaris yang lebih hebat dari kita! Mereka adalah harapan baru yang dapat mengubah masa depan menjadi sesuatu yang lebih baik...!"
__ADS_1
"Dengan cara jahat dan buruk... tetapi di pandang baik oleh seseorang yang mengerti! Untuk mengubah dunia, kita perlu kotor..."
"...jika cara yang baik dan halus tidak berhasil maka cara yang kasar adalah pilihan alternatif lain!" Shira mengepalkan kedua tinjunya.
"Aku sudah tidak peduli lagi dengan dunia brengsek ini...!!!" Shira langsung menghantam meja di hadapannya sampai hancur dengan ekspresi kesal karena ia sudah muak dengan dunia ini.
Rasanya seperti roda berputar yang tetapi setiap putaran yang terlewat maka akan terdapat banyak sekali rintangan baru sampai Shira sempat melihat masa depan dengan sihir cahayanya sendiri bahwa sesuatu yang mengerikan akan datang dalam waktu tidak lama lagi.
"Oi! Tahan emosimu, Shira...! Sepertinya kau memang sudah kebanyakan minum kopi dan menyendiri di wilayah cahaya itu!" Kata Arata yang menahan kedua lengan Shira, ia hampir saja bilang kendali atas emosi amarahnya.
"Anakku...!!! Anakku sudah menyelamatkan dunia ini...! Dia memberikan cahayanya... cahaya harapannya untuk segala alam semesta, dimensi, dan masa...!!!"
Shira benar-benar kehilangan kendali sampai dirinya sudah tidak bisa menahan perasaan kesal terhadap dunia ini, ia hampir saja mengubah Yuusuatouri menjadi gumpalan cahaya tetapi Arata dan Haruki mencoba untuk menghentikan dirinya.
Semua pelanggan terlihat kaget dan panik seketika melihat Shira yang mengamuk seperti itu, dirinya sudah terjatuh ke dalam lubang penyesalan dan amarah sampai kedua matanya menjatuhkan banyak air mata.
"KENAPA DUNIA INI SANGAT HANCUR DAN TERUS MENERIMA MASALAH SERTA KONFLIK TANPA BATASAN APAPUN...!!!"
Pikiran Shira benar-benar kacau dan terus terbebani oleh banyak sekali ingatan buruk serta pahit, semua yang di lakukan oleh anaknya serta keluarganya selalu saja positif tetapi kepahitan dunia terus berlanjut.
Rasanya mereka terjebak di dalam labirin, setiap langkah yang mereka injak untuk memasuki ruangan berbeda akan memiliki tangannya tersendiri sehingga labirin itu menghabiskan banyak waktu untuk diselesaikan.
Shira yang awalnya merasa kalem karena secangkir kopinya mulai hilang kendali dan merasa stres karena muak dengan dunia yang memperlakukan semua Legenda gugur menjadi tumpukan sampah yang dilupakan begitu saja.
"MINAMI...!!! MINAMI SUDAH MEMANCARKAN CAHAYA HARAPAN YANG BESAR SIALAN...!!!"
"AKU JUGA...!!! AKU JUGA SUDAH BERUSAHA, BRENGSEK...!!!" Shira menginjak daratan cukup keras sampai menyebabkan guncangan dan gempa bumi dahsyat di planet tersebut.
"BRENGSEK!!! BRENGSEK!!! BRENGSEK!!!" Shira melepaskan banyak cahaya tetapi Arata dan Haruki langsung menghantam lehernya secepat mungkin sebelum ia menggunakan cahayanya.
Shira langsung terjatuh di atas tanah dengan kondisi pingsan, mereka berdua mengerti apa yang dirinya rasakan, semua itu adalah beban dan perasaan penuh kesedihan di dalam dirinya karena sudah kehilangan banyak hal.
Sampai sekarang... ia menyadari bahwa dunia memang kejam, pikirannya memperingati dirinya bahwa dunia ini sudah terasa seperti labirin, mereka tidak bisa lari melainkan bertahan untuk menyelesaikan tantangan setiap ruangan labirin.
Setelah menyelesaikannya maka mereka terpaksa harus bergerak melangkah ke ruangan lainnya untuk menyelesaikan labirin itu tetapi mereka terjebak di dalam ruangan lainnya yang menyediakan tantangan lebih berat untuk melanjutkan langkahan labirin.
Tiada akhirnya, semuanya harus bisa dipecahkan dengan sesuatu... jika kebaikan terus memberikan hal yang sama maka Shira ingin membasmi segalanya, di mulai dengan para Dewa.
***
"... ..." Shinobu menatap keluar jendela lalu ia bisa melihat badai salju mulai terjadi, dirinya seketika merasa khawatir soal Shira yang masih belum pulang dari urusannya itu.
"...Kakek."
__ADS_1