
Banyak sekali tinta yang berhasil menodai tubuh beberapa kesatria Legenda sampai mengubah mereka menjadi pasukan tinta berzirah dengan penuh kesenian yang berbeda agar bisa memenuhi hasrat Aerith.
Konomi dan Ako terus menghancurkan banyak sekali pasukan tinta yang menghalang mereka, tinta itu langsung mencair sampai membebaskan Legenda yang sudah pingsan di dalamnya.
Semua Kesatria itu mereka biarkan karena masih terdapat banyak Beast yang mengamuk bahkan mereka berhasil melawan kembali pasukan dari kerajaan yang berbeda demi bertahan hidup.
Ako dan Konomi sempat berpisah karena mereka terus diserang oleh pasukan tinta yang berdatangan seperti ombak dahsyat.
Ako melihat sekeliling, banyak sekali pasukan tinta yang mengeluarkan berbagai macam senjata sampai sihir yang mereka lakukan juga mulai dibentuk oleh tinta melalui tubuh mereka sendiri.
Ako langsung mengeluarkan senjata sihirnya, mengubahnya menjadi pedang yang langsung ia ayunkan beberapa kali sampai menghancurkannya semua tinta itu lalu membebaskan beberapa Legenda di dalamnya.
Kekuatan mereka setidaknya tidak sekuat Aerith yang berhasil menciptakan maha karya seperti Shinobu, mereka semua tetap memiliki kekuatan yang sama dengan kesatria di dalamnya.
Semua tinta yang cair itu membeku menjadi es hitam sampai ia terus mengayunkan serangannya yang melepaskan suhu dingin yang cukup untuk membekukan kedua kaki dan tangan mereka agar tidak bisa bergerak.
Ako menghampiri raja yang sudah dinodai oleh tinta itu lalu ia menendang perutnya dan menebas anggota tubuhnya dengan satu ayunan yang melepaskan ratusan tebasan.
Cukup untuk menghancurkan zirah tinta itu sampai membebaskan raja, dia langsung berlutut di hadapan Ako dengan tubuh yang terasa lemah, dirinya sempat melihat tatapan Ako yang saat ini sedang menunjukkan senyumannya.
"Sampai jumpa." Ako membekukan kepala raja itu lalu menendangnya sekuat tenaga sampai menghancurkan kepalanya sampai mengeluarkan semua isi organ di dalamnya termasuk serpihan otaknya.
Ako memegang erat pedang itu lalu melihat banyak sekali kesatria yang mendukung raja itu mengepung dirinya sampai menyerangnya secara bersamaan.
Ako menyerang mereka semua semampu mungkin, walaupun waktunya akan lama tetapi ia aku lakukan demi bisa membantu Shinobu yang saat ini kesulitan melawan Aerith.
Jumlahnya yang banyak dan menyerang secara koordinat mampu membuat Ako tertekan sampai pipinya mengenai satu tebasan yang merobek kulitnya sampai menjatuhkan banyak darah.
Konomi mendarat di belakang Ako dengan tatapan serius, "Apakah kamu kesulitan melawan mereka semua...? Sihir tintanya itu yang harus kita waspadai."
"Hm... salah satunya sempat meniru pedangku, tinta itu juga sekarang dapat membekukan sesuatu." Peringat Ako selagi menunjukkan bekas luka di pipinya tertutup oleh tinta yang mengeras.
"Sekarang aku mengerti dengan karya yang diciptakan oleh penyihir gambar itu, sungguh hebat. Sayang sekali... cara penggunaannya salah." Kata Ako.
Konomi melihat beberapa Kesatria menyerang dirinya dari depan tetapi ia langsung menggunakan tombaknya sebagai pertahanan, serangan yang ia lihat cukup mengejutkan karena banyak sekali tinta yang sempat menusuk-nusuk dirinya.
"Sihir tinta ini memang menyebalkan... aku memiliki solusi!" Konomi melepaskan dorongan yang besar dengan satu tusukan tombaknya sampai mendorong mereka semua.
"Phantom Dispresion...!"
Konomi melepaskan kemampuan sihir dengan elemen kegelapan yang dapat menghancurkan maupun membatalkan serangan sihir lawan baik saat sihir belum diluncurkan maupun sudah diluncurkan.
Kemampuan ini memunculkan kabut gelap yang sangat tipis dan meluncur dengan sangat cepat, sekarang Konomi hanya perlu menahan serangan mereka semua karena pergerakannya tetap cepat.
Konomi menoleh ke belakang, melihat satu kesatria melompat menuju dirinya selagi melancarkan serangan secara bersamaan demi melukai dirinya yang sedang tidak memperhatikan celahnya sendiri.
Konomi melompat ke atas sampai serangan kesatria itu mengenai rekannya sendiri sehingga terjadi pemisahan terhadap tinta yang menyelimuti tubuh mereka.
Pemisahan itu mengejutkan semua pasukan Kesatria sampai mereka melihat banyak sekali celah yang pas untuk menyerang, "Sekarang giliran kami...!"
Ako mengubah Katananya menjadi sebuah kapak besar lalu ia maju ke depan lalu mengayunkan kapaknya itu yang mengandung sihir angin di dalamnya.
__ADS_1
Satu tebasan dan hantaman yang mengenai musuhnya mampu menghancurkan sihir dan menimbulkan luka yang sangat fatal bagi seseorang yang berada di dekatnya.
Semua angin itu membawa mereka belakang sampai memisahkan semua noda tinta itu, Konomi muncul di belakang salah satu Kesatria itu lalu menggorok lehernya sampai kepalanya terjatuh.
Konomi melakukan dua tebasan secara berturut-turut kepada mereka semua sampai melemparnya ke atas langit, ia mulai menyerang mereka dengan terbang tinggi ke atas lalu menusuk punggung mereka cukup dalam.
Konomi muncul di atas langit dengan Railgun yang ia pegang, jutaan peluru ia kerahkan sampai habis sampai cukup untuk menghancurkan tubuh Kesatria yang terselimuti dengan tinta, serangan itu juga sampai menghancurkan inti tubuh mereka tanpa sisa.
Koizumi dan Hinoka yang berada di sisi lain melihat banyak sekali peluru energi mengenai banyak sekali target yang perlu di hancurkan.
"Jika seperti ini maka pekerjaan kita akan berakhir dengan cepat... tunggu saja, Shinobu." Koizumi mengepalkan kedua tinjunya selagi menatap Shinobu yang terus tersiksa oleh Aerith.
Konomi berputar di atas langit selagi menghabiskan semua peluru energi untuk menghancurkan mereka semua, Ako ikut membantu dengan menghantam daratan sampai membekukannya.
Otomatis kaki mereka langsung membeku, menyebabkan mereka tidak bisa bergerak sama sekali sampai semua peluru itu mengenai tubuh mereka masing-masing.
Ako melihat beberapa Kesatria datang menghampiri dirinya, ia langsung melewati tubuh mereka lalu membekukan punggungnya satu per satu dengan tambahan serangan yang melempar mereka ke atas.
Ako dan Konomi mulai saling bertarung dengan membelakangi, mereka semua terus menahan pasukan tinta itu agar tidak melukai dirinya sendiri.
Sihir tinta itu dapat mereka hentikan jika semua pasukan kesatria dari berbagai macam kerajaan mati, semua sihir tinta itu jadi terasa tidak berguna juga karena Konomi dan Ako yang langsung membekukannya.
Konomi membidik kepala mereka menggunakan Railgun yang ia pegang lalu melepaskan lebih banyak peluru energi yang menghancurkan tubuh mereka tanpa sisa.
Ako yang berada di belakangnya mulai mengubah kapaknya menjadi panah yang langsung ia lepaskan menuju arah pasukan di hadapannya tanpa henti.
Semua tembakan panah itu berhasil membekukan tubuh mereka secara instan sampai Ako terus membidik ke arah pasukan tinta yang berada dalam jarak dekat.
Ako menarik panah yang lebih besar lalu melepaskannya ke depan sampai menyebabkan ledakan es yang membekukan mereka di jarak dekat.
Konomi mulai membidik ke atas lalu menghancurkan semua pasukan tinta yang mencoba untuk menyerang dari atas, pelurunya juga sekarang mulai mengikuti lawannya lalu membekukan mereka semua.
Semua pasukan tinta itu tertekan, tidak memiliki pilihan lain selain mundur. Mereka semua langsung mengeluarkan banyak sekali gumpalan tinta yang siap untuk diluncurkan ke depan.
Semua pasukan Kesatria di hadapan Ako dan Konomi melepaskan gelombang tinta yang besar dan tebal, cukup untuk menyelimuti tubuh mereka dengan tinta agar bisa dikuasai lalu ditiru menjadi sebuah karya.
"Kita akhiri ini, Ako...!"
"Ya, Kakak...!!!"
"Chaos Overdrive...!!!" Ako memperkuat seluruh serangan dari serangan fisik hingga magis, serangan jarak dekat dan jarak jauh sebanyak 10 kali, meningkatkan kekuatan elemen dan 'kuat melawan semua makhluk'.
"Soul Absorbtion...!" Konomi menggunakan kemampuan pasif yang digunakan untuk menyerap energi jiwa yang berada di sekitarnya untuk mengisi kembali energi jiwa yang di dalam tubuh maupun memperkuat diri saat dalam pertarungan.
Mereka berdua menerima banyak sekali peningkatan sampai satu serangan saja sudah cukup untuk mengakhiri, ""Ayo!!!""
Ako melepaskan satu panah es ke depan sedangkan Konomi meluncurkan satu serangan gelombang peluru energi yang bergabung dengan panah tersebut sampai melepaskan dorongan dan tekanan yang begitu ekstrem.
Serangan gabungan mereka langsung menyebabkan ledakan es yang besar di hadapan mereka sampai menciptakan kristal es yang begitu besar dan tajam sampai menjebak beberapa pasukan tinta di dalamnya.
Sebagian juga membeku menjadi kristal es yang keras, Ako dan Konomi menatap ke depan sampai memasang tatapan kaget karena mereka baru saja menciptakan seni yang jauh lebih baik dibandingkan Aerith.
__ADS_1
Semua Kesatria itu membeku keras sampai mengubah diri mereka menjadi seperti patung yang baru saja selesai di modifikasi oleh seorang seniman, kedua Legenda itu langsung duduk di atas daratan dengan ekspresi lelah.
"Ayo, kita bantu Shinobu---" Konomi tercengang ketika melihat banyak sekalian cairan tinta terlepas keluar melalui es di dalam tanah itu.
Semuanya langsung membentuk wujud Konomi dan Ako seketika, semua itu karena Aerith yang berhasil menggambar mereka berdua melalui sebuah kanvas yang ia pegang di dalam zirah Shinobu.
"Tidak mungkin--- Hugghhh!!!" Ako memuntahkan banyak darah ketika melihat Kesatria yang mengenakan zirah berbentuk seperti wujudnya mulai menghantam perutnya sendiri.
"Ako---" Konomi menerima tembakan peluru tinta yang menusuk tubuhnya, ia menatap ke depan lalu melepaskan sihir pertahanan yang cukup untuk menahannya.
"Sial...! Sial...!!!" Konomi merapatkan giginya kesal karena semua tinta yang ia lihat terus bertambah sampai membentuk wujudnya bersama Ako lalu meniru serangan yang sama.
***
"Shinobu Koneko... aku baru saja selesai menciptakan maha karya baru loh~" Aerith menunjukkan kanvas dengan gambar Konomi dan Ako di dalamnya.
"Pasukanku sekarang menerima peningkatan, mereka semua bisa memilih untuk menjadi Konomi atau Ako tetapi tidak bisa menjadimu karena itu khusus untuk diriku sendiri...!"
Shinobu berjalan ke depan lalu berhenti tepat di hadapannya, "Hentikan perbuatanmu ini... kau seharusnya bisa menjadi maha karya itu sebagai sumber penghasilan besar bukan?"
"Bakat dan kreativitas itu akan sangat sia-sia jika tidak digunakan dengan benar." Peringat Shinobu yang mulai mengusap darah di pipinya.
"Hm? Hahaha~ lucu sekali lawakanku, Shinobu. Kau seharusnya tahu bahwa maha karyaku tidak bisa dibeli dengan uang biasa..."
"...nyawa sendiri tidak cukup karena maha karya yang selalu aku hasilkan aku buat demi bisa dimasukkan ke dalam alam semesta yang aku beli."
"Kegagalanku di kelas seni tidak bisa aku biarkan, suatu saat nanti alam semesta yang dipenuhi dengan seni itu akan aku berikan secara langsung kepada guruku sendiri."
"Kau memiliki mimpi sebagai seorang jurnalis terkenal bukan? Berbeda denganku yang ingin menjadi seniman...! Seniman yang paling sempurna sampai mengejutkan para Dewa dan Dewi!"
"Sangat disayangkan... aku bisa membantu dirimu tetapi kamu sudah busuk sampai intinya."
"Busuk sampai intinya? Bukannya cukup ironis, Shinobu Koneko. Siapa yang harus disalahkan tentang kasus pembantaian massal hanya karena sebuah buku yang mengajak orang-orang untuk bunuh diri."
"Aku sangat bersyukur mereka tidak menyalahkan diriku karena buku itu langsung menghilang ketika selesai membunuh korban..."
"...rencanamu entah itu menguntungkan atau merugikan dirimu tetapi kau melakukan pergerakan yang salah untuk membuat beberapa orang trauma ketika membaca buku."
"Aku lakukan untuk membantu tentunya. Pola pikir orang berbeda-beda, jika kamu tidak suka maka bunuh aku." Kata Shinobu dengan tatapan tajamnya.
"Dengan senang hati...!" Aerith menghantam wajah Shinobu lalu memukul punggungnya menggunakan sikutnya sampai ia terjatuh lalu menerima sebuah injakan di kepalanya.
"Kau adalah penghasilan yang penting... sekali saja memberikan dirimu kepada para bangsawan maka aku akan langsung kaya!" Aerith menarik rambut Shinobu lalu mengangkat tubuhnya.
Aerith langsung menghantam dan menebas tubuh Shinobu beberapa kali lalu menendang perutnya cukup dalam sampai ia terpental ke belakang lalu menabrak gunung yang cukup besar sampai membelahnya menjadi dua.
"Putri kecil... sudah cukup, nyawa Anda tersisa dua..."
Shinobu tidak menghiraukan Tech sama sekali, ia tetap bangkit lalu menghadapi Aerith yang memasang tatapan penuh nikmat ketika melihat seseorang terluka.
"Kamu memang menyenangkan...!"
__ADS_1