Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 819 - Apakah ini pilihan benar yang Harus dilakukan?


__ADS_3

"Shinobu! Oi, Shinobu...!" Koizumi mencoba untuk membangunkan Shinobu yang sudah pingsan selama tiga hari penuh.


Koizumi tidak bisa menahan diri lagi dengan memaksa dirinya untuk bangun secepat mungkin sebelum situasi bertambah semakin buruk baginya karena banyak sekali hal yang harus mereka urus.


Shinobu mendengar suara Koizumi dengan jelas lalu ia membuka kedua matanya pelan-pelan sampai Koizumi dapat melihat jelas mata asli itu tidak mengandung kehidupan apapun karena sudah kehilangan Tech.


"Kakak..." Shinobu menyentuh mata kirinya lalu ia sadar bahwa itu sudah hancur ketika Tech gugur, kacamata yang ia cari juga sudah tidak ada karena ikut hancur bersama dengan Tech.


Shinobu hanya bisa diam lalu menarik nafas dalam-dalam untuk menghembusnya pelan-pelan sampai ia duduk di atas kasurnya lalu membuat semua orang merasa bersyukur melihat dirinya baik-baik saja.


Shinobu melepas semua perban yang ia kenakan lalu memakan daun herbal untuk memulihkan kondisinya dengan cepat, ia langsung tersenyum polos kepada mereka untuk menutup dirinya yang sudah hancur.


"Untuk sekarang... anu... Koneko baik---" Tubuh kecilnya menerima sebuah pelukan dari Koizumi, bukan hanya dirinya saja tetapi kedua teman dan Hinoka langsung ikut memeluk dirinya.


Shinobu memasang tatapan pahit lalu ia kembali memeluk diri mereka, "Maaf karena sudah... membuat kalian khawatir, sekarang..."


"...mari kita melanjutkannya. Soal Tech bisa aku tampung sendirian... bersama dengan semua Neko Legenda yang kemungkinan gugur."


"Dasar bodoh... jika kamu tidak mampu untuk melawannya sendiri... kamu tidak perlu memaksakan dirimu sendiri." Kata Koizumi yang terlihat khawatir karena dirinya pikir kemarin Shinobu sudah mati karena detak jantung yang berjalan lambat.


"Ahahaha... Maaf..."


"Nobu, aku senang kamu baik-baik saja..." Kata Ako yang terharu ketika melihat dirinya sudah bangun dari pingsan yang cukup lama.


"Mm..."


"Koneko~ jika kamu masih tidak enak badan atau tidak sehat maka serahkan kepada diriku yang akan menyanyikan sebuah lagu merdu!" Kata Hinoka yang terlihat bersemangat.


"Jangan... kau masih harus menguasai suaramu dan nadamu untuk bisa menciptakan musik yang cukup untuk membuat Shinobu sembuh." Kata Konomi karena ia sempat menutup kedua telinganya ketika Hinoka menyanyi.


Rasanya gendang telinga seperti meledak ketika mendengar suaranya yang begitu keras, Hinoka langsung mengembungkan kedua pipinya di hadapan Konomi.


"Buuuuu... seleramu jelek...!"


"Semua orang juga pasti setuju... Aku juga." Kata Koizumi yang mulai menyentil kening Hinoka.


"Aw!"


Mereka kembali seperti biasanya, saling tertawa ria hingga pulang dari ruang pemulihan itu. Shinobu sudah terbiasa menyembunyikan semua perasaan sedih dan kesepiannya, kedua teman dan sepupunya cukup untuk memperbaiki mentalnya juga.


Tidak lama kemudian, mereka perlu menghadapi Arata secara langsung yang menunggu mereka. Terdapat banyak sekali hal yang perlu ia bicara dengan mereka.


"Akhirnya kalian datang juga..." Arata melihat mereka semua datang secara bersamaan, ia mulai membuka lacinya lalu menempati sebuah dokumen tentang penyihir Aerith.


"Aku sungguh terkesan bahwa kalian dapat menghentikan penyihir satu ini tanpa bantuan dari pemberontak yang sudah legendaris, selamat... kalian berhak menerima liburan yang panjang." Kata Arata.


Mereka semua langsung saling merayakannya, Shinobu mengingat kejadian dimana ia memukul Aerith cukup kurus sampai ia terjebak di dalam pentalan menuju dimensi untuk selama-lamanya.


"Shinobu Koneko." Panggil Arata.

__ADS_1


"Y-Ya...?" Tanya Shinobu yang terlihat gugup untuk berbicara dengan Arata.


"Banyak sekali Neko Legenda yang gugur ketika penyihir tinta menyerang... sebagian dari mereka yang sudah hidup juga mengulang entah kemana."


"Apakah semua itu perbuatanmu?" Tanya Arata.


"Itu benar... aku memindahkan mereka semua ke tempat yang aman... anu... semoga saja tidak ada Legenda yang mengetahui lokasi mereka."


"Begitu ya... aku ingin kau mengurusi semua Neko Legenda yang masih hidup itu lalu memberi mereka sebuah sugesti agar bisa menahan amarah mereka masing-masing."


"Seharusnya itu tugas putriku tetapi dia saat ini sedang pergi jauh... dia sendiri mempercayaimu sebagai seseorang yang satu-satunya bisa mengurusi mereka semua."


"Baiklah, akan aku... urus..." Shinobu mengangguk lalu Hinoka memeluk dirinya dari belakang.


"Tenang saja, Koneko~ kita pasti akan membantu kok---"


"Tidak, lebih baik Shinobu sendiri yang mengurusnya, melihat semua Neko Legenda mengamuk karena penyebaran pasukan kerajaan terutama Aerith maka rasa trauma mereka akan meningkat."


"Kemungkinan besar mereka memang akan membunuh Legenda biasa yang tidak memiliki tampang sama dengannya sendiri, pertemuan terakhir kalian adalah rasa kepercayaan terakhir yang dimiliki mereka."


"Sayang sekali... aku sudah mengharapkan mereka bisa ikut dengan kami untuk mengurus masalah lain soal pemberontakan." Koizumi menyilangkan kedua lengannya.


"Itu saja yang perlu aku beritahu... untuk sekarang, nikmati masa-masa kecil kalian dengan beristirahat. Aku akan menghubungi kalian lagi soal tugas nanti."


"Akademi juga akan kembali di buka satu Minggu kemudian, gunakan waktu ini menjadi hal yang paling berharga untuk kalian dan jangan melupakan soal latihan!"


Mereka semua mengangguk lalu memutuskan untuk pergi mengunjungi restoran Shimatsu demi bisa merayakan kemenangan mereka karena sudah mengalahkan penyihir paling menjengkelkan karena sihirnya itu.


"Ibu... sudah berapa kali aku beritahu untuk meminum Vodka di rumah saja." Kata Koizumi yang terlihat kesal karena ibunya terus minum sembarangan.


"Tenang saja, aku tidak akan mabuk kok. Ya 'kan, Ophilia?" Tanya Haruka kepada Ophilia yang menghela nafasnya karena ia sendiri memberikan banyak pesanan kepada dirinya.


"Kalian anak-anak ingin memesan apa?" Tanya Ophilia kepada anak-anak yang baru saja menyelesaikan misi mereka.


""Seperti biasanya~!""


Shinobu mengepalkan kedua tinjunya karena ia sendiri perlu memberitahu berita yang buruk tentang Tech kepada Ophilia dan Haruka yang tentunya mengetahui jelas Tech sudah bersama mereka semua sejak awal.


***


""Tech hancur...!?"" Seru Ophilia dan Haruka yang memasang tatapan kaget seketika, mereka tidak menyangka akan mendengarnya sekarang.


Entah kenapa mereka akan merasakan hari dimana Tech hancur begitu saja karena diberikan tugas terakhir untuk melindungi Shinobu, melihat reaksi berlebihan mereka seperti itu membuat dirinya menundukkan kepalanya secara langsung.


"Maaf..."


"Kamu tidak perlu menyalahkan dirimu seperti itu, Koneko. Tidak ada yang harus disalahkan." Kata Haruka selagi mengusap kepalanya itu pelan-pelan.


"Tech sudah loyal kepada keturunan Comi sejak awal kebangkitannya oleh Nenekmu, melihat dirinya hancur dengan tujuan terakhir yang terlaksanakan..."

__ADS_1


"...aku yakin Tech juga akan merasa senang jika kamu tidak menyalahkan dirimu sendiri. Kou dan tentunya Nenekmu juga pasti akan merasa bangga padanya."


"Tujuan terakhir Tech itu hampir sama dengan pemilihan takdir bagi dirinya... jika dia hancur begitu cepat maka itu sama saja aku... aku memang lemah." Shinobu menundukkan kepalanya.


"Sudahlah... jangan merendahkan dirimu seperti itu, kamu berhasil mengalahkan Zodiac Crusaders dan seorang penyihir kuat dalam umur seperti ini..."


"...bisa dibilang kamu itu kuat dengan usaha dan perjuanganmu sendiri. Lanjutkan lah usaha itu..." Kata Haruka yang mencoba untuk menyemangati dirinya.


Malam hari telah tiba, Shinobu membuka pintu kabinnya dan tidak lupa untuk mengatakan sesuatu yaitu 'aku pulang', hasilnya tidak ada yang menjawab.


Kali ini dia benar-benar sendirian dengan reputasi yang bertambah kacau sejak pertarungan melawan Aerith, keberadaan Anastasia juga menghilangkan seketika karena ia sudah izin pamit kepada mereka semua.


"Tech..." Shinobu memasang tatapan yang terlihat murung, ia segera mengunjungi ruangan bawah tanah lalu mendapatkan banyak sambutan dari mesin dan robot yang tidak terjalani oleh sistem Tech.


Mereka semua bekerja seperti biasanya, menciptakan tangan dan kaki baru untuk dirinya sampai Shinobu hanya bisa diam karena ia sedang berpikir untuk menciptakan sistem baru tetapi ia terlalu menyakitkan.


"Tech tidak bisa digantikan... menciptakan sistem baru juga... bisa saja aku kehilangan lebih banyak orang yang dekat..." Shinobu membuka lemarinya yang dipenuhi mata kirinya, ia mengambilnya lalu memakainya.


Shinobu menatap dirinya sendiri di hadapan cermin lalu mengepalkan kedua tinjunya karena ia masih memiliki sebuah tugas yang belum terlaksanakan yaitu menemui para Neko Legenda.


"... ..." Shinobu langsung memikirkan kembali tentang perkataan Shira sebelum ia mengunjungi pulau terpencil itu.


"Apakah menurutmu ide baik untuk memperbaiki mereka semua...? Apakah kau sanggup untuk menyadari jutaan bahkan jumlah tak terhingga atas seluruh penduduk Touriverse tentang Neko Legenda...?"


"Apakah selama ini mereka menginginkan hal tersebut...? Ketenangan dan dunia luar... aku yakin dendam mereka memberikan mereka motivasi untuk berperang dan melawan bangsa Legenda."


"Terutama lagi dengan wujud Beast Neko Legenda, mereka menerima kekuatan besar yang sangat menakutkan bahkan berpotensi penuh kehancuran yang besar."


"Apakah menurutmu itu ide yang baik untuk membiarkan mereka semua merasakan sugesti darimu...?"


"Aku yakin kamu dapat mencari jawaban yang aku coba maksud, cucuku."


Shinobu langsung terbang tinggi ke atas langit melewati atapnya yang terbuka secara otomatis, ia melepaskan pembakaran besar melalui kedua tapak kaki dan tangannya untuk mengunjungi tempat rahasia mereka.


Rasanya cukup sepi, dirinya merasa hampa tanpa suara Tech yang selalu menemani dirinya dengan memberi saran, solusi, dan pujian setiap ia berhasil melakukan sesuatu dengan usahanya sendiri.


Sepuluh detik kemudian, Shinobu sudah sampai begitu cepat berkat kecepatannya sendiri. Ia bisa merasakan tubuh dan Lenergynya masih tidak stabil karena kekuatan yang ia gunakan ketika melawan Aerith.


Shinobu menyentuh daun besar di hadapannya sampai terbuka lalu ia masuk ke sebuah hutan yang begitu aman karena tertutup oleh semua daun itu, ia dikejutkan dengan semua bangsa Neko Legenda yang berkumpul tepat di hadapannya.


"Ibu alam... kami sudah menunggu kedatanganmu." Seorang pria mulai mendekati Shinobu lalu menyentuh kedua tangannya.


"Anu... tolong hentikan panggilan itu... aku tidak nyaman dipanggil dengan julukan apapun..."


"...Shinobu atau Koneko saja sudah cukup..." Kata Shinobu, mereka semua mengangguk dengan senyuman yang dipasang.


Entah kenapa mereka masih bisa tersenyum dan menunjang ekspresinya positif seperti itu, Shinobu mencoba untuk membaca pikiran mereka tetapi kepalanya langsung terasa berat.


"Baiklah... Koneko, melihat keadaan dunia menjadi hancur seperti ini, kita tidak begitu yakin bahwa mental kami dapat menahannya lebih lanjut lagi."

__ADS_1


"Kami ingin mengatakan sesuatu yang penting padamu..."


"Boleh saja kok..."


__ADS_2