
"Dia memang gadis yang sangat mulia, bukannya begitu...?" Tanya Korrina kepada Kou yang sedang memperhatikan Shinobu memenangkan Demetrio dari atas surga.
"Mungkin ini satu-satunya lawan yang mempercayai apa yang Shinobu lakukan... dia sudah mengerti siapa yang mengendalikan mereka semua seperti boneka yang dimasukkan ke dalam labirin."
Kou hanya bisa tersenyum bangga, ingin sekali mendatangi Shinobu lalu memberinya sebuah pelukan penuh rasa bahagia, hanya saja sekarang ia sudah menjadi anak surga yang tidak bisa sembarang masuk ke dalam dunia apapun.
"Akan lebih membanggakan lagi jika dia menghajar sepupunya sendiri yaitu Koizumi agar bisa memuaskan hasrat saingan yang aku punya dari si brengsek ini." Shuan mulai berbicara di belakang Kou.
"Aku masih memegang kemenangan beruntun..."
"Shinobu juga belum pernah memenangkan satu pun pertarungan ketika menghadapi dirinya bukan?" Tanya Rokuro yang sedang menikmati secangkir teh selagi bersantai.
"Sialan!!! Jika saja surga tidak memiliki hukum atau logika untuk bertarung maka aku bisa menghentikan kemenangan itu---" Korrina langsung menghantam kepala Shuan.
"Sakit...! Apa yang kau lakukan...?!"
"Di surga, tidak ada yang namanya bertarung atau berbuat masalah..."
"Kau ini seharusnya diam dan menikmati semua hal yang sudah tersedia di dalamnya termasuk melihat pencapaian putrimu sendiri."
"Dia memang hebat... pengembangan yang ia alami menghasilkan kekuatan baru, Golden Sunshine: Essential Ascension..."
"...aku yakin sekarang dia dapat memenangkan pertarungan apapun terutama lagi menghajar saingannya itu yang bernama Shimatsu Koizumi."
"Jangan meremehkan putriku seperti itu... dia baru saja mendapatkan motivasi baru untuk melanjutkan kemenangannya ketika ia bertarung kembali melawan sepupu kecilnya."
Rokuro dan Shuan mulai saling berdebat sampai Korrina memasang tatapan datar karena surga tidak pernah bising seperti ini ketika mereka masuk ke dalam surga yang sudah ia berikan sebagai tempat akhir.
"Mereka masih berisik seperti biasanya ya." Ucap seorang gadis yang mendekati Kou.
Kou menatap dirinya lalu tersenyum ketika melihat seseorang yang berhasil menyelamatkan dirinya, "Minami...! Kamu kehilangan bagian yang terpenting, Koneko baru saja menyerap pohon emas yang kau ciptakan sejak itu loh!"
"Seterusnya dia melakukan aksi yang begitu hebat...! Sampai semua luka yang ia terima sembuh seketika!" Ucap Kou selagi melompat-lompat, membuat Minami terkekeh dan merasa bangga melihat Shinobu berkembang jauh.
"Ini pertama kalinya dia berhasil mengalahkan seorang Dewa yang hampir memenuhi tujuannya..."
"...masih banyak sekali hal yang perlu ia pelajari sampai aku tidak sabar melihat dirinya akan mengungkap misteri lainnya." Kata Minami selagi menyilangkan kedua lengannya.
"Mm... untuk sekarang aku merasa bahagia kepada Koneko karena masih melanjutkan kehidupannya sejauh ini, walaupun semua orang membenci dan menganggap dirinya sebagai monster..."
"...ia tetap memperjuangkan kehidupannya demi bisa mencari hal yang menarik perhatiannya." Kou mengelus air mata yang keluar dari matanya.
"Teruslah seperti itu, Koneko... Mama tidak akan menilai dirimu dari perilaku apapun, semua yang kau lakukan sudah pasti dianggap baik bagi segi pandanganmu yang berbeda."
"Teruslah seperti itu... lawanlah takdir dan bangunkan budak itu agar kamu bisa terus melanjutkan tujuan yang selalu kamu inginkan sejak kecil." Kou tersenyum lebar.
__ADS_1
"Jangan mengkhawatirkan soal apapun, Koneko..."
"...apa yang sudah selama ini kamu capai adalah kemenangan mutlak yang memberikan dirimu jalan menuju masalah selanjutnya."
***
Demetrio mulai berdiri dari atas tanah, merasa puas karena bisa memeluk seseorang yang mengingatkan dirinya kepada putrinya.
Berkat bantuan Shinobu juga, ia bisa berbicara secara langsung kepada putrinya yang ia pikirkan, Shinobu hanya bisa diam melihat Demetrio yang mencoba untuk memutuskan sesuatu dari titik ini sampai seterusnya.
"Shinobu Koneko..."
"...aku ingin kau mengurusi semua masalah yang sudah aku sebabkan, hanya ada satu yaitu para Legenda yang sudah mempercayai diriku terlebih berlebihan."
"Sembahan yang mereka berikan padaku... hal seperti itu memicu kuat ego dan harga diriku sebagai dewa sampai aku melupakan tujuan utamaku yang sebenarnya."
Demetrio menciptakan sebuah tanah liat di sebelahnya yang berbentuk kepalanya sendiri, "Beritahu kepada mereka bahwa tidak ada Dewa yang berkuasa... mereka semua memiliki derajat sama dengan Mortal tetapi dalam jalan yang berbeda."
"Mulai dari sekarang sampai seterusnya... aku ingin kau bersiap dengan memasuki jalan labirin lainnya."
"Kau adalah gadis yang sangat cerdas dengan pikiran terbukamu itu, aku yakin kau pasti merencanakan sesuatu yang dapat mengungkap semua misteri termasuk menghancurkan labirin ini."
"Mereka yang sudah gugur... memperjuangkan sesuatu demi bisa menjaga kedamaian itu memberikan semua tekadnya kepadamu, kau harus melanjutkan semua itu." Tubuh Demetrio perlahan-lahan mengeluarkan asap emas.
"Aku sangat mempercayai dirimu... dan tentunya mendukung, aku harap semua yang kau rencanakan bisa berjalan dengan baik." Demetrio melirik ke belakang lalu melihat Shinobu yang memasang tatapan polos itu.
"Setelah bertarung denganmu, aku sadar..."
"...kau dan aku menunjukkan kemiripan yang sama bahwa kita adalah budak yang dimasukkan ke dalam labirin serta menerima kendali dari Zenzaku."
"Kau... tidak, maksudku itu semuanya... pasti akan berakhir seperti diriku, terpaksa menggunakan cara cepat yang mengubah dirimu menjadi seseorang berbeda..."
Demetrio menatap ke atas langit, pertarungan yang ia alami bersama Shinobu terus mengembangkan perasaan baru untuk dirinya bahwa ia bertambah gila dan haus akan kekuatan sejak itu.
"Setelah melihat dirimu... rasanya aku mengingat banyak sekali hal yang dilakukan oleh putriku sendiri bahwa ia juga ingin menjadi Dewi baru..."
"...Dewi keamanan."
"Harapan dan impian yang sudah berikan kepadaku... aku mengacaukannya sampai mementingkan ego dan harga diriku sebagai Dewa."
"Aku sungguh menyesalinya... tetapi aku merasa senang bahwa seseorang dapat menyadarkan diriku sebelum aku membusuk dengan sikapku sendiri pada kematianku."
"Mulai saat ini, mungkin lebih banyak lagi penderitaan yang akan menghampirimu, Shinobu."
"Tapi, jangan pernah berubah dan terpengaruh oleh sesuatu yang buruk... seperti diriku yang lemah ini, aku yakin semua pilihan yang kau lakukan berakhir dengan baik."
__ADS_1
"Sudut pandangmu... serta harapan yang dapat membutakan banyak orang, aku mengerti... kau menggunakan semua itu agar bisa mengubah sesuatu dengan pola pikiran dan caramu sendiri..."
"Teruslah berpegang teguh pada harga dirimu sebagai bangsa Legenda dan putri dari Ratu Touriverse..."
"...Shinobu Koneko, kau pasti bisa. Aku, Dewa Demetrio, mendukung dirimu."
"Jika kau suatu saat nanti membutuhkan bantuanku... mungkin kau tahu harus pergi kepada siapa." Tubuh Demetrio mulai hancur sampai mengeluarkan arwah emasnya yang melayang ke atas.
Shinobu melihat Demetrio yang masih berbalik badan dengan kepalanya yang melirik kepada dirinya sampai ekspresi terlihat begitu bangga bahwa ia telah bebas karena kematian.
Shira yang selama ini memperhatikan di balik pohon emas mulai tersenyum bangga pada cucunya sendiri, ia berjalan pergi meninggalkan Realm of Light untuk menikmati perayaan dalam restoran Shimatsu.
Arwah Demetrio mulai menipis, menghilang begitu saja sampai Shinobu mulai mengangguk lalu menepuk kedua pipinya beberapa kali untuk menyemangati dirinya sendiri.
"Koneko..."
"...akan berjuang!"
***
Shinobu muncul di planet Legenia sampai ia melihat banyak sekali orang yang mengadakan pesta besar-besaran di restoran Shimatsu, ia melihat Ako melangkah kepada dirinya lalu memberikan sebuah pelukan.
"Nobu...!!! Kamu memang yang terbaik...!!!" Kata Ako.
"Konekooooooooooo~" Hinoka melompat ke atas lalu memeluk Shinobu erat sampai ia memasang tatapan panik seketika karena melihat mereka semua mulai memeluknya.
"Shinobu~" Koizumi ikut memeluk Shinobu sampai mereka terus mengelus kepala Shinobu tanpa henti, yang terakhir adalah Konomi yang mendekati dirinya dengan langkahan pelan karena ia baru saja pulih.
"Kamu melakukannya ya, Shinobu!" Konomi memeluk Shinobu sehingga mereka semua terjatuh di atas dengan tatapan kaget lalu saling memberikan kebahagiaan dan tawa kecil kepada satu sama lain.
Shira bersama yang lainnya melihat kelima pemberontak itu melakukan sebuah perayaan dengan penuh kebahagiaan, "Ehem... Ehem..."
Arata dan Haruki langsung menatap Shira yang pura-pura batuk dengan tatapan dataran, "Ehem...!!! EHEM!!!"
"Satu juta berlian... ehem... Shinobu menang... ehem..." Sarkas Shira sampai Arata dan Haruki menghela nafasnya lalu memberikan satu kantung penuh berlian di dalamnya.
"Ternyata masalah soal Dewa itu sudah selesai ya... syukurlah, semuanya berjalan dengan lancar." Kata Megumi selagi bertepuk tangan melihat Shinobu yang berhasil melakukannya.
"Mereka tumbuh begitu cepat, ya 'kan?" Kata Ophilia sampai mengusap air matanya melihat kelima gadis itu yang memulai perjuangan mereka dari empat tahun sampai umur 12 tahun berhasil mengalahkan dewa.
"Baiklah... mari kita menikmati banyak makanan!" Seru Shinobu keras yang terlihat bersemangat karena ingin makan banyak sekali makanan lezat.
Setelah Shinobu kembali dari Realm of Light, mereka merayakan kemenangan besar dengan menikmati banyak sekali hidangan yang sudah disediakan oleh Arata dan Ophilia sampai mereka semua merasakan perasaan bahagia yang besar.
Rasanya sungguh berbeda ketika berhasil menyelesaikan misi mereka yang dirayakan dengan makanan banyak sekali, "Bersulang...!!!"
__ADS_1
""Bersulang...!!!""