Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 705 - Mendalami Harga Diri itu Sampai Akhir


__ADS_3

Hana muncul di atas langit, merasakan keberadaan ketiga Legendanya mulai melemah karena mereka melawan semua pasukan yang dipenuhi Regulus dengan semua kemampuan dan kekuatan mereka.


 


Pertarungan yang mungkin akan berjalan secara singkat karena mereka tidak memiliki harapan apapun untuk bertahan di pertarungan berat sebelah.


"Aku mohon... bertahanlah...!" Hana dengan kecepatan yang tersisa mulai melesat maju menemui yang lainnya, lokasi mereka cukup jauh sampai ia membutuhkan beberapa waktu untuk sampai.


***


"... ..." Haruka menatap ke atas langit yang begitu gelap, merasakan firasat buruk lainnya sampai ia mencoba untuk tidak memikirkan apapun.


Haruka menatap ke depan, melihat Koizumi yang saat ini sedang memukul semua samsak tinjunya yang terbuat dari besi keras, dirinya terus berlatih agar bisa melakukan pemberontakan dengan cepat.


"Koizumi..." Haruka tersenyum lalu ia menyandar dengan tembok di sebelahnya selagi memperhatikan dirinya yang terus melatih fisik dan sihirnya tanpa henti.


"Selamat siang, Haruka. Sedang mengawasi putrimu berlatih?" Tanya Mitsuki yang kebetulan bertemu dengannya di wilayah latihan.


"Ahh, Mitsuki... bisa di bilang aku sedang menenangkan pikiran ini, melihat Koizumi terus berlatih seperti itu sudah cukup untuk membuatku merasa tenang." Jawab Haruka.


"Ahh, begitu ya... turut berduka cita untuk adikmu ya, Honoka... aku tidak menyangka dia akan pergi begitu cepat." Ucap Mitsuki yang mulai memperhatikan Koizumi berlatih juga.


"Hm, terima kasih, Mitsuki. Mungkin batu takdir tentang Honoka begitu singkat sampai ia tidak sempat melihat putrinya bertarung."


"Hari ini terus turun hujan badai ya... rasanya kita baru saja mau memasuki musim sejuk tetapi hujan badai masih terus bermunculan." Kata Mitsuki sambil menatap langit-langit hitam yang menjatuhkan hujan badai.


"Iya, hujan entah kenapa selalu membuat Koizumi bersemangat untuk berlatih seperti itu... ia tidak mau berhenti sampai aku khawatir dengan kesehatannya." Haruka menatap Koizumi yang sudah basah karena berlatih di cuaca yang ekstrem.


"HAAARRGGGHHH!!!" Koizumi menghantam samsak besi di hadapannya sampai menghancurkan semua samsak besi di sekelilingnya sampai melepaskan dorongan besar ke arah Haruka dan Mitsuki.


Semua dorongan itu sampai menggerakkan rambut mereka karena mengandung banyak sekali kekuatan di dalamnya, Haruka terkesan melihatnya karena ia mengharapkan banyak dari putrinya sendiri.


"Sudah jelas... dia memang putri kebanggaanku." Haruka tersenyum bangga melihatnya berhasil melepaskan dorongan sebesar itu tanpa menaikkan kekuatannya sedikit pun.


Haruka menatap Mitsuki, ia sempat melihat dua gadis yang memiliki tinggi sama berdiri di sebelahnya selagi menatap Koizumi yang melanjutkan latihannya itu.


"Wah, wah, Mitsuki, apakah kamu membawa anak kembarmu itu?" Haruka mulai mendekati anak kembar itu dengan senyuman yang tertera di wajahnya.


"Selamat siang, kalau tidak salah nama kalian itu Shichiro Konomi dan Ako ya...? Hahaha, memiliki ciri khas yang sama dengan Comi." Haruka terkekeh.


Ako langsung bersembunyi di belakang Konomi dengan tatapan yang terlihat ketakutan, Haruka baru saja melihat siapa adik dan Kakak sehingga Konomi mulai menyambut dirinya dengan sangat sopan.


"Selamat siang, Kakak Haruka. Apakah Koizumi sedang berlatih sekarang?" Tanya Konomi selagi menatap Koizumi yang melakukan beberapa push-up dengan samsak tinju besi di atas punggungnya.


Samsak itu memiliki beban yang begitu besar tetapi Koizumi terus mencoba hal yang menyulitkan agar ia dapat mendorong terus batasan yang menghalangi dirinya sehingga mengubahnya menjadi Legenda layak.


"Koizumi berlatih untuk mempersiapkan dirinya di hari dimana ia akan pergi memberontak." Kata Haruka.


Koizumi berhenti melakukan latihan ketika melihat Konomi dan Ako datang untuk berkunjung, ia bangkit dari atas tanah lalu mendekati kedua temannya itu selagi mengambil sebuah handuk untuk mengerikan kepalanya.


"Kalian datang juga ya... sudah lama sekali tidak bertemu dengan kalian." Kata Koizumi yang terus mengerikan tubuhnya sampai Haruka menatap Koizumi dengan tatapan kebingungan.


"Wah, ternyata kamu memang mengenal mereka ya... sejak kapan?" Tanya Haruka sehingga Koizumi memandang arah lain karena dulu ia bersama Hinoka sempat melarikan diri menuju hutan untuk memburu.

__ADS_1


Kebetulan mereka bertemu dengan Ako dan Konomi sehingga rencana mereka untuk memburu gagal seketika Asriel mengetahui niatnya bersama Hinoka yang sudah bersiap untuk pergi diam-diam.


"Ceritanya lumayan panjang sih tetapi aku senang bisa melihat mereka datang, ayo berlatih---"


BAAAMMMM!!!


Terdengar suara kehancuran dari arah timur, Haruka mulai memeluk Koizumi erat untuk melindungi dirinya karena suara tadi cukup keras sampai mereka merasakan batu-batuan mulai berjatuhan dari atas tanah.


Kou yang sedang mengajari Shinobu berbagai macam hal tentang ilmu pengetahuan dapat mendengarnya dengan jelas, ia berjalan keluar lalu dikejutkan dengan dua Beast Neko Legenda yang hilang kendali sampai menghancurkan apapun di sekelilingnya.


"A-Apa yang terjadi...?" Kou bisa merasakan perasaan dan pikiran kedua Legenda itu dipenuhi dengan penderitaan dan ketakutan karena serangan Regulus.


Kedua perasaan itu membuatnya gila sampai mereka terus mengamuk agar dapat melindungi diri mereka masing-masing sehingga seluruh pasukan Ghisaru mulai menyerang kedua Neko Legenda itu.


Megumi terkejut ketika melihat dua Neko Legenda mengamuk di wujud berbahaya itu, ingatannya tentang masa lalu mulai muncul sampai ia sudah mengetahui dengan jelas siapa penyebabnya.


Dengan cepat Kou turun tangan lalu mengendalikan pikiran mereka berdua sampai menidurkannya lalu mengubahnya kembali menjadi wujud biasa.


"Neko Legenda... jauh-jauh mereka datang ke sini...? Jangan-jangan...?!" Kou mulai menepuk dadanya karena jantungnya terasa seperti di tusuk oleh firasat dengan penuh ketakutan.


Semua penduduk panik seketika bahkan kehancuran tembok itu sempat menggugurkan beberapa Legenda yang tidak bersalah sampai rasa takut mereka dengan bangsa Neko Legenda muncul seketika.


"Aku mohon untuk tetap tenang... sepertinya kedua Neko Legenda ini mengalami kendala dari Neko Island!" Seru Kou keras


Ia mengumumkannya melalui kacamatanya yang dapat memperbesar nada suaranya, Shinobu mulai menggenggam tangan Kou erat.


"Mama... mereka sepertiku..." Kata Shinobu karena ia bisa melihat ekor dan telinga kucing.


"... ...!" Megumi mengepalkan kedua tinjunya sampai kedua matanya memerah seketika karena Regulus mulai bergerak lagi untuk memusnahkan seluruh bangsa Neko Legenda.


Megumi mencoba untuk pergi menuju Neko Isle tetapi ia bisa melihat seseorang mulai terjatuh dari atas langit sampai ia tidak dapat menyeimbangkan tubuhnya untuk mendarat dengan baik.


Mereka semua merasakan keberadaan Hana yang muncul seketika sampai melemah, Kou dan Megumi bergegas mendekati dirinya karena situasi pasti sedang buruk di Neko Island.


Tubuh Hana dipenuhi dengan berbagai macam luka sampai kesadarannya hampir hilang tetapi Megumi langsung memegang erat tangannya untuk memulihkan kondisinya itu.


"Hah... Hah... Hah... Megumi..."


"Mereka semua... dalam bahaya..." Hana tidak bisa berbicara karena masih terdapat aliran listrik di dalam tubuhnya yang terus melukainya.


"Untuk sekarang jangan mengeluarkan suara apapun, biarkan aku menyembuhkan dirimu." Peringat Megumi yang sedang fokus menyingkirkan semua aliran listrik itu agar nyawanya bisa terselamatkan.


***


"Hah... Hah... Hah..."


Ketiga Legenda itu memiliki nol harapan untuk melanjutkan pertarungan itu karena mereka menerima luka yang begitu banyak.


Jumlah mereka sudah cukup untuk menekan mereka semua sampai tidak bisa melakukan apapun, setidaknya mereka tetap menjalani harga diri itu sebagai bangsa Legenda untuk terus berjuang dan bertarung sampai mati.


"Apakah kau masih bisa melanjutkannya...? Rokuro...? Asriel...? Itu saja...?" Tanya Shuan yang menerima banyak luka di tubuhnya sampai tidak ada sisa kulit di tubuhnya itu.


"Pertanyaan... bodoh apa itu...?" Jawab Rokuro dengan tatapan yang terlihat kelelahan karena mereka tidak mampu mengalahkan satu Regulus yang memiliki kekuatan sama kuatnya.

__ADS_1


"Dengar... jika kita terus seperti ini... maka... kematian kita... akan terasa begitu sia-sia... jumlah... Regulus sebanyak ini bisa saja... menekan yang lainnya." Asriel mulai berbicara.


"Dalam harga diri dan sejarah Legenda, tidak ada yang namanya gugur dengan sia-sia, kita melakukannya demi niat untuk menahan mereka sampai Kakakku menemukan solusinya..."


"...kita bertarung sampai mati, sebagai bangsa Legenda... tidak ada yang harus kita takuti... kita harus terus... mendalami harga diri tersebut..." Rokuro bangkit dengan tubuhnya yang menjatuhkan banyak darah.


"Hmph, kekuatan kalian memang tidak bisa menandingi ku... sungguh menyedihkan, kematian kalian tidak pernah sia-sia karena usaha untuk tetap bertarung." Regulus menyilangkan kedua lengannya.


"Kita masih belum selesai..." Kata Shuan yang bangkit dengan kedua kakinya bergetar karena aliran listrik yang sudah memenuhi tubuhnya itu.


"Silakan, lakukan yang kalian..."


"...SUKA!!!" Semua pasukan Regulus itu melepaskan listrik melalui jari-jari mereka sampai menyengat ketiga Legenda itu dengan tekanan yang begitu tinggi sampai mereka menjerit keras.


"Mitsuki... tolong jaga Ako dan Konomi untukku... maafkan diriku, aku sudah tidak memiliki pilihan lain selain mengukur waktu..."


"Ako... Konomi... aku harap kalian dapat meneruskan semua perjuangan ini lebih tinggi lagi... jadilah Legenda yang mencari sesuatu di balik kebenaran lebih dalam lagi..."


"...aku mencintai kalian semua, selamat tinggal. Mitsuki, kedua anakku... Ayah dan Ibu juga... terima kasih karena sudah mau... mengasuh diriku..." Ungkap Asriel.


"HAAAAAHHHH!!!" Asriel menjerit keras sampai melepaskan semua kekuatan terakhirnya sebelum melanjutkan kehidupannya di dunia kematian.


Ia melepaskan suhu ekstrem yang berskala besar sampai mengubah semua Regulus menjadi es, ia maju ke depan lalu menghancurkan semuanya satu per satu.


"Shinobu... aku harap kamu bisa meneruskan harapan Papamu yang tidak berguna ini... tumbuhlah menjadi keturunan Shiratori yang hebat... lawan lah semua rasa takut dan malumu itu..."


"...aku mempercayai dirimu sebagai penerus ku yang lebih hebat karena pikiranmu selalu positif berkat darah Kou... selamat tinggal, nak. Papa mengharapkan banyak hal darimu di atas sana..."


"Kou... maafkan diriku... kutukan Crimson yang aku miliki ini... setidaknya biarkan aku tampung sampai akhir hayat hidupku, sampai jumpa, Kou... aku mencintaimu..."


"...dan tentunya kedua orang tuaku yang sempat melihat diriku merasa frustrasi karena tidak pernah berhasil dan sukses, setidaknya sekarang... aku berhasil melakukan pengorbanan diri..." Shuan tersenyum serius.


"GAAAAHHHHHHH!!!" Shuan meraung keras untuk melepaskan semua kekuatan terlahirnya, menggunakan Golden Neutron yang berhasil mengalahkan semua Regulus itu satu per satu.


"Haruka... maafkan aku... sepertinya aku tidak bisa tinggal bersamamu untuk selamanya..."


"...kamu baru saja kehilangan adikmu Honoka... sekarang... aku sudah tidak bisa mengatakan apapun lagi... maafkan aku, istriku... semoga kau bisa tetap bersabar..."


"...jangan sampai kamu... merasakan apa arti penderitaan dan depresi yang begitu besar. Aku melakukannya untukmu... mengulurkan waktu, dan mengurangi jumlah mereka..."


"...Koizumi... aku harap... kamu bisa memberontak dengan cepat... aku pasti akan memperhatikan setiap pertumbuhan dan perkembangan yang kau alami..."


"Sampai jumpa, Haruka... Koizumi... dan ya... kalian juga... Ayah... Ibu..." Rokuro menatap ke atas langit, menunjukkan senyuman terakhir.


"HYAAAAGGGHHHHHH!!!" Rokuro melepaskan semua kekuatan terakhirnya lalu ia memunculkan sebuah sabit untuk membunuh mereka semua satu per satu yang sudah membeku sampai tidak menyisakan apapun.


Mereka semua menyerang dari arah yang berbeda untuk menghabisi semua Regulus itu yang tidak dapat bergerak, mereka masih tidak bisa menemukan yang asli karena semuanya terasa begitu sama.


Regulus yang berada di tengah berhasil membebaskan tubuhnya dari es itu sehingga ia tersenyum jahat karena percuma saja membunuh mereka semua satu per satu karena ia masih bisa memperbanyak diri dengan kemampuan listriknya.


"AKU MENGHORMATI KALIAN SEMUA..."


"...LEGENDA PEMBERONTAK!!!"

__ADS_1


__ADS_2