Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 776 - Satu Bulan Menunggu


__ADS_3

...~Yuusuatouri: Everlasting Legend~...


...~Begin~...


...


...


Kou membuka kedua matanya pelan-pelan sampai pandangannya di sambut oleh air terjun susu yang begitu wangi sampai udaranya terasa begitu sejuk di sekitarnya.


"...Koneko." Kou memegang erat pakaian surganya karena ia sendiri sudah mengerti dengan situasi yang ia hadapi.


Surga adalah kehidupan terakhirnya sampai ia sekarang hanya perlu memperhatikan semuanya dari atas bersama mereka yang mati dan mulai sampai bisa masuk ke dalam surga untuk menikmati kehidupan damai selagi melihat dunia apapun.


"... ..." Kou meneteskan air mata suci sampai seseorang mulai mendatangi dirinya.


Seseorang yang meninggalkan dirinya ketika berumur empat tahun sama seperti Kou yang meninggalkan Shinobu sendirian pada umur empat tahun, ia mulai menatap ke depan dengan kedua mata yang mengeluarkan banyak air mata.


"Maafkan aku..." Kata Korrina.


"...karena tidak pulang dan menemui dirimu yang sudah tumbuh dewasa sampai menjadi ratu Touriverse yang hebat."


"Kamu menjalankan semuanya dengan hebat tanpa menyerah sedikit pun... tanpa dukungan Mama juga, aku adalah orang tua yang buruk... memang seperti itu..."


"Kamu bisa membenci Mama sesuka mungkin karena semua itu memang kesalahan yang harus aku tanggung."


"Selamat datang kembali, Kou... aku sudah melihat semuanya, Mama sangat bangga kepadamu." Korrina tersenyum lalu meneteskan air matanya ketika bertemu kembali dengan dirinya.


"Mama bodoh...! Aku membenci Mama...! Hiks...!" Kou mulai menangis lalu ia bergerak ke depan lalu memeluk erat Korrina selagi melepaskan tangisan yang begitu besar dan panjang.


"Hweeehhhhhhhhh...!!! Aku merindukanmu...!" Teriak Kou keras.


Korrina hanya bisa diam selagi mengelus kepalanya, ia tumbuh sendirian tanpa pendamping orang tua melainkan hanya kedua saudaranya yang menjaga dirinya sampai ia dapat bersosial dengan baik bersama temannya juga.


Semuanya berjalan dengan proses sampai ia ikut membantu semua orang yang membutuhkan, menjadikan dirinya sebagai Ratu Touriverse yang lebih hebat di bandingkan dirinya.


Korrina mengatakan sesuatu tentang perselisihan itu bukan salah siapa pun, semuanya sudah pasti akan terjadi karena tidak ada satu pun hal yang bisa bertahan untuk selamanya.


Perselisihan itu di sebabkan oleh mereka yang kehausan terhadap peperangan abadi sampai Kou dengan tubuh kecil dan kutukannya tidak bisa membantu sampai roda kehidupannya turun kembali ke bawah.


"Sejak itu... aku menantikan Mama untuk pulang kapan... tetapi waktu Mama selalu saja padat sampai harus meninggalkan diriku karena sebuah urusan."


Ketika aku kecil... aku sangat merindukan dirimu sampai Mama tidak pernah kembali ketika aku sudah besar, menikah, mengandung seorang anak."


"Aku ingin sekali... berbicara dan bertemu dengan Mama secara asli... tidak seperti ini, bertemu dengan arwah dan wadahku yang asli."


"Mama berhasil mempersatukan kembali sebuah perselisihan besar di seluruh alam semesta, berbeda seperti diriku yang hanya mengacaukan segalanya."


"Aku memang tidak berguna... hanya sekedar anak cacat penyakitan yang terkutuk!"


"Hm... Maafkan aku sekali lagi... Mama melahirkan dirimu menderita seperti ini..." Korrina mengelus kepala Kou pelan-pelan agar ia bisa merasa tenang.


"Jangan begitu, Mama... aku mengatakan semua itu hanya sebagai pelampiasan kecil..."


"...jauh di dalam hatiku terdapat rasa bersyukur besar bahwa aku mengalami kehidupan bahagia bersama semua yang berada di sekitarku."


"Aku sudah memenuhi semua ekspektasi beberapa orang... semoga saja sudah cukup untuk memuaskan Mama dengan penuh kebahagiaan."


"Kebahagiaan dan kepuasanku tidak dapat di jelaskan dengan cara apapun... intinya Mama senang bisa melihat perjuanganmu dari nol." Korrina tersenyum lalu memberi dirinya sebuah kecupan di kening.


"Ini adalah kehidupan terakhirmu, Kou, kamu bebas melakukan apapun di tempat ini kecuali berurusan dengan dunia apapun."


"Kamu tidak akan pergi kemana-mana, aku melarangnya."


Kou terkejut ketika Korrina mengetahui isi pikirannya yang ingin diam-diam masuk ke dalam dunia itu untuk menjaga Shinobu dari dekat, mendengarnya saja membuat dirinya langsung menyerah seketika.


"Ada waktunya... ada saatnya... kita hanya perlu menunggu." Kata Korrina.


Kou hanya bisa diam lalu menutup wajahnya di perut Korrina, "Benar... apa yang kita bisa lakukan hanya memperhatikan generasi baru kita yaitu Shinobu Koneko..."


"...kamu harus percaya bahwa dia dapat mengubah dunia dengan harapan kecilnya itu karena tidak mendapatkan kepercayaan apapun."


"Kamu akan mendapatkan kebenaran yang terakhir." Korrina mulai menggenggam tangannya lalu menggendong tubuh kecilnya.


"Warisan yang aku berikan padamu, dan warisan yang kamu selanjutnya serahkan kepada Koneko..."


"...akan membawanya sampai akhir karena hal itu sangat lah penting."


"Mari kita pergi, mereka semua menunggu kehadiran dirimu." Ajak Korrina.

__ADS_1


"Mmm...!" Kou mengangguk lalu ia menoleh ke belakang, melihat Shinobu yang sedang duduk di sebelah kuburannya.


***


"... ..." Haruka menatap langit-langit yang begitu cerah, hari ini adalah hari buruk seperti biasanya dimana ia telah di tinggal oleh kedua adik yang selalu dirinya sayangi.


Waktu berjalan begitu cepat sampai ia tidak percaya mereka semua akan meninggalkan dirinya, kedua adiknya, suaminya, dan ibunya sendiri yang tidak pernah kembali dalam waktu lama.


"Ibu." Panggil Koizumi yang mulai menggenggam tangannya.


Haruka menatap Koizumi dengan kedua mata yang berkaca-kaca, "Mau makan...?"


Tawaran Koizumi sudah cukup untuk memenangkan kembali Haruka yang mulai menangis sampai memeluk Koizumi erat, ia sadar bahwa dirinya masih memiliki seseorang yang sangat penting bagi dirinya.


Koizumi akan terus menemani Haruka yang sudah pasti akan merasa kesepian karena kehilangan banyak hal di hadapannya sejak lahir sampai sekarang, untungnya ia masih bisa mengendalikan emosi dan perasaannya.


"Hm... ayo..."


Haruka dan Koizumi berjalan pergi menuju restoran Shimatsu, beberapa jam sudah berlalu dan Shinobu masih berada di pemakaman itu selagi duduk bersandar di pohon belakangnya.


Ia tidak akan pergi sampai tiga puluh hari sudah terlewati karena ia membaca sebuah sejarah bahwa arwah bangsa Legenda tidak akan pergi di dalam tubuh mayat itu selama tiga puluh hari penuh.


"... ..." Shinobu terlihat sedih tetapi ia tidak menangis, rasanya cukup hamba dan menyakitkan di dalam dadanya sampai ia tidak bisa melampiaskan dengan cara yang negatif.


Megumi mencoba untuk mendekati Shinobu tetapi Shira langsung menghentikan dirinya dengan muncul tepat di hadapannya.


"Sh-Shira..."


"Untuk sekarang, biarkan Shinobu seperti itu... percuma saja ia menemani dirimu, dia pasti akan memintamu untuk pergi dan melanjutkan urusan lain."


Shira menyentuh bahu Megumi, "Kita biarkan dia berjuang sendirian, dengan caranya serta proses yang akan ia alami."


Megumi mengepalkan kedua tinjunya lalu ia mengangguk pelan sampai tidak memiliki pilihan lain karena Shinobu selalu saja menolak tawaran yang positif dari siapa pun karena ia tidak ingin merepotkan mereka.


Shira dan Megumi menghilang seperti cahaya yang menipis, meninggal Shinobu sendirian yang setia menunggu di pemakaman itu selama beberapa hari agar Kou dapat pergi dengan tenang.


Tech sempat menemani dirinya tadi tetapi ia menerima sebuah perintah dari Kou untuk menjaga rumah dan memberikan semuanya serta melanjutkan sebuah ciptaan terhadap lengan dan kaki barunya.


Satu bulan kemudian, ia akan pulang dan melanjutkan kehidupan baru sendirian tanpa mengandalkan siapa pun, rasanya masih sangat menyakitkan sampai Shinobu terus menunggu berjam-jam.


Satu hari telah terlewati dan Shinobu masih tetap berada di posisi yang sama, menunggu dengan ekornya bergerak pelan-pelan sampai beberapa Legenda sempat melihat dirinya lalu kabur.


Rumor tentang sandera di kerajaan Leonial telah tersebar, mereka yang mendapatkan keselamatan dari Shinobu bukanlah beruntung atau untung melainkan sial dan buruk sampai mereka mencoba untuk menghindari dirinya.


Tentunya mereka bukanlah tipe orang yang mencoba untuk berbuat masalah karena takut Shinobu akan melakukan sesuatu.


Dalam cuaca apapun, Shinobu tetap menunggu, sudah satu Minggu ia terus duduk di cuaca hujan yang membasahi tubuhnya.


Satu Minggu juga Shinobu belum makan apapun sampai teman dan sepupunya sempat berkunjung tetapi ia tidak ingin mereka untuk menemani dirinya yang ingin sendirian di sebelah kuburan Ibunya.


"... ..." Shinobu memeluk kedua kakinya lalu membersihkan sedikit ingus di hidungnya sampai ia mulai bersin dan batuk beberapa kali.


"... ..."


Shinobu melirik ke atas ketika ia melihat sebuah payung yang mulai menghalang dirinya, ia menatap seorang gadis yang memberikan payung itu kepada dirinya.


"Setidaknya kamu perlu makan sebagai kewajiban untuk menunggu dirinya juga, Shinobu." Gadis itu menyimpan beberapa bekal berisi makanan.


"Semuanya gratis---"


Shinobu mulai memberikan sebuah kertas yang berisi hutangnya, "Aku akan membayarnya nanti... tante Ophilia, terima kasih..."


Ophilia hanya bisa diam lalu mengambil kertas itu, percuma saja bersikap baik kepada dirinya karena ia akan membalasnya dengan sesuatu yang jauh lebih menyedihkan dan ikhlas.


Ophilia meninggalkan dirinya sendirian lalu menghampiri pohon besar dimana terdapat kedua sepupu dan temannya yang khawatir kepada Shinobu.


"Cara apapun itu... kita tidak bisa membawanya pulang." Kata Ophilia.


"Ternyata harus menunggu satu bulan ya..." Ucap Konomi.


"Shinobu... malang sekali..." Kata Ako yang melihat Shinobu membuka bekal itu lalu memakan ikan bakarnya pelan-pelan.


"Satu bulan menunggu... lama sekali..." Koizumi mengepalkan kedua tinjunya karena merasa kasihan kepada sepupunya yang begitu kecil sudah mengalami banyak beban yang besar.


"Kita biarkan saja sendirian ya...? Aku yakin Shinobu pasti akan baik-baik saja." Kata Ophilia yang sudah mengerti dengan situasi Shinobu.


Mereka semua mengangguk, Hinoka melihat Shinobu mulai membagikan semua bekal itu dengan hewan yang ia lihat, di mulai dari kucing dan bahkan semut.


"Kebaikannya tidak bisa lagi di jelaskan dengan perkataan apapun..." Kata Hinoka.

__ADS_1


Mereka semua pergi pulang, meninggalkan Shinobu sendirian agar ia bisa beristirahat dengan tenang di sebelah kuburan itu.


Dua Minggu telah berlalu, Shinobu terlihat mengantuk ketika ia memeluk erat kedua kakinya, sudah cukup lama sekali ia menunggu dan tidak melakukan apapun kecuali menjaga kuburan Kou.


Alasan ia menunggu bukan hanya membiarkan arwah Kou pergi sepenuhnya melainkan ia perlu menjaga kuburan itu agar tidak ada satu pun orang yang mencoba untuk menghancurkannya.


Bisa di bilang Kou memiliki riwayat buruk di pandangan banyak orang karena ia telah berkhianat di pandangan semua orang, itulah kenapa Shinobu terus menunggu sampai tubuh Kou berubah menjadi partikel yang pergi ke atas langit.


Di saat itu, Shinobu yang sedang tertidur menerima satu tendangan bola yang lalu menjatuhkan dirinya sampai mendorongnya ke belakang karena tubuhnya yang lemah.


Lemah karena penyakit respon Lenergy melalui risiko penumpukan kekuatan yang masih belum sembuh, otomatis Shinobu kaget seketika karena ia sedang bermimpi lalu di tabrak oleh sebuah tendangan bola yang kuat.


Wajah Shinobu sampai memerah, ia mulai menatap beberapa Legenda dan anak-anak yang menatap dirinya dengan tatapan hina.


"Lihatlah dia... bukannya penampilannya bertambah semakin hina dan mengerikan...?!"


"Itu benar... ia memiliki luka bakar... luka bukti bahwa ia sudah menyebabkan banyak korban sandera untuk berjatuhan!"


"Seharusnya kau mengaca kepada cermin bahwa penyelamatan dirimu hanya akan menyebabkan banyak orang terbunuh dan bertambah semakin sial!"


Shinobu bangun, menerima semua ejekan dan hinaan itu dengan ekspresi yang terlihat polos, ia sempat menunjukkan senyuman tipis kepada mereka lalu meminta maaf.


"Maafkan aku ya..." Shinobu mulai menghalang kuburan Kou.


"Anu... jangan bermain bola di sini... ini tempat istirahat terakhir untuk para Legenda yang gugur---" Satu bola mengenai perutnya cukup keras sampai ia terjatuh dengan bibir yang mengeluarkan darah.


Perutnya yang kosong dan belum menerima makanan apapun di tambah lagi dengan tubuh lemahnya yang mengalami risiko dari respon Lenergy yang lambat, kesakitan yang ia rasakan cukup menyakitkan.


"Sa-Sakit..."


"Jangan mengatur kamu, Neko Legenda hina!!!"


"Seharusnya kau pergi dari tempat ini karena kau akan menakut-nakuti semua Legenda gugur yang sedang beristirahat!"


"Hei! Bagaimana jika kita hajar saja dia!? Siapa yang akan ia adu, hah!? Orang tua saja sudah tidak punya..."


"Ahh, gelap sekali, ayo kita lakukan!"


Shinobu melebarkan matanya ketika melihat mereka semua langsung menyerang dirinya secara regu kepada dirinya yang begitu lemah.


Shinobu menerima tendangan dan pukulan sampai ia terjatuh lalu di injak-injak oleh mereka sampai kedua tangannya mulai di cabut oleh mereka sampai di lempar ke atas pohon.


Setelah itu mereka meludahi dirinya sampai menyiksa dirinya beberapa kali, "Hentikan sekarang juga!!!"


Seseorang mulai mendarat di belakang mereka, Shinobu membuka kedua matanya lalu melihat Tech yang datang untuk menghentikan mereka semua.


"Gawat! Kau bilang dia tidak akan mengadukan hal ini kepada siapa pun?!"


"Dengan jumlah kita sebanyak ini, lebih baik kita hajar---"


Tech mengulurkan kedua lengannya sampai memunculkan banyak senapan dan roket besar yang membidik ke arah kepala mereka semua.


Semua Legenda itu langsung melarikan diri dan terbang sejauh mungkin, Tech membiarkan mereka pergi demi keputusan Shinobu untuk tidak membunuh mereka.


Hujan mulai turun sampai tubuh Shinobu kembali basah, Tech mendekati dirinya lalu melihat banyak sekali luka dan memar di tubuh serta wajahnya.


Kedua lengannya juga hilang dan menyangkut di atas pohon atas ulah mereka semua, "Putri kecil... seharusnya Anda membutuhkan pendamping karena respon lambat Lenergy itu masih belum sembuh."


"T-Tidak apa-apa... aw..." Shinobu mencoba untuk bangkit tetapi ia kembali terjatuh sampai Tech mulai membantu dirinya untuk bangun lalu membawa menuju pohon untuk bersandar.


Tech segera mengambil kedua lengan Shinobu lalu memasangkannya kembali sampai ia melihat banyak sekali darah yang mengucur keluar melalui luka Shinobu.


Tech melihat dirinya, tidak ada satu pun air mata yang keluar, ekspresinya juga terlihat biasa saja bahwa semua itu memang sudah sering terjadi hampir setiap hari bagi dirinya.


"Terima kasih, Tech... Maaf juga karena sudah merepotkan, aku baik-baik saja sekarang..."


Tech menyalakan sebuah api melalui jari kanannya untuk menghangatkan tubuhnya yang sudah pasti masuk angin karena setiap hari menunggu di cuaca hujan dan panas.


Tech mengeluarkan beberapa perban tetapi Shinobu mulai memberikan dirinya beberapa dedaunan emas yang dapat di jadikan pemulihan untuk dirinya, Tech segera menghapus semua darah itu lalu membalut lukanya.


"Surga menghadiahi mereka yang bekerja keras..."


"...aku akan bekerja keras... dan hidup... Tech."


Tech telah selesai membalut semua luka itu sampai Shinobu mulai bersandar di sebelahnya selagi memejamkan kedua matanya karena ia masih merasa mengantuk.


"Saya akan menjaga Anda untuk hari ini, putri kecil."


"Mm..."

__ADS_1


__ADS_2