
"Tetapi sebelum itu... kita sebagai ras asing tidak boleh sembarangan melakukan apapun sebelum mengikuti peraturannya." Kata Shinobu yang mulai mengenakan kacamatanya untuk mencari informasi.
"Ahh... sinyalnya jelek sekali..." Shinobu mengalami kesulitan berkomunikasi dengan Cyber.
"Peraturan ada untuk dilanggar~" Seru Hinoka selagi melakukan pose kecil sampai mereka semua memasang tatapan datar kecuali Shinobu yang mulai bergerak mengelilingi tempat itu untuk mencari sinyal.
Seorang Manusia mulai mendatangi kelima gadis yang terlihat seperti ingin berkemah, "Apa kowe bocah wadon pengin kemah ing gunung sing diarani gunung Lawu?"
"Apa aku takon luwih akeh babagan kemah sing arep ditindakake?" Tanya Manusia itu sehingga mereka semua menatap satu sama lain karena tidak mengerti apa yang mereka coba katakan..
"Heh... Heh... Heh...?" Hinoka memasang tatapan yang terlihat bingung ketika Manusia itu mengatakan bahasa yang tidak bisa ia mengerti.
Bukan hanya Hinoka saja tetapi kedua saudara dan Koizumi memasang tatapan bingung dengan bahasa yang diucapkan oleh Manusia itu, mereka hanya mengetahui bahasa Indonesia yang cukup dasar.
"A-Aku... tidak mengerti..." Kata Konomi yang mulai menggelengkan kepalanya.
"Apa sampeyan wong saka njaba negara?"
"Koizumi, apa yang dia katakan...? Aku tidak bisa berbicara rendang." Bisik Hinoka kepada Koizumi yang mulai menyentil keningnya.
"Dengar ya, bodoh... ketika kita masuk planet Bumi, kita harus mematuhi segala peraturan dan mengikutinya tanpa harus melanggarnya..."
"...yang paling-paling penting adalah bersikap sopan kepada siapa pun karena kita ini adalah bangsa Legenda yang memiliki tampang sama dengan mereka."
"Apakah kau melupakan insiden Dewa elemen itu...? Manusia menganggap kita sebagai musuh sekarang, kita harus bersikap sopan santun kepada Manusia." Kata Koizumi.
"Mengerti..."
"Anu, aku tidak mengerti. Apakah kamu bisa berbahasa latin Legenda---" Kepala Hinoka menerima satu pukulan dari Koizumi sehingga ia mulai menundukkan kepalanya beberapa kali kepada manusia itu.
"Anu..." Shinobu mendapatkan kembali sinyalnya sampai ia sempat membaca informasi tentang gunung itu yang ternyata cukup misterius dan menakutkan.
Manusia itu melirik ke bawah, melihat Shinobu yang mencoba untuk menanyakan sesuatu kepada dirinya, "Apa kowe cah cilik pengin kemah ing gunung angker Iki?"
"Aku dudu bocah, ya, kita pengin kemah ing gunung Iki." Shinobu mulai berkomunikasi dengan manusia yang menggunakan bahasa "Jawa" itu.
Mereka memasang tatapan kaget dan terkesan ketika melihat Shinobu dapat berbicara asing seperti itu, ternyata dia bukan hanya sekedar jenius melainkan gadis yang bisa menjadi seorang penerjemah.
"Koneko seperti biasanya... hebat ya~" Kata Hinoka selagi mengacungkan kedua jempolnya.
"Aku tidak mendengar jawaban darimu sebelumnya, Hinoka... seperti yang Koizumi katakan tadi, kamu harus bersikap sopan dan menghormati apapun." Saran Ako.
"Tentu saja, te-he~" Jawab Hinoka selagi menjulurkan lidahnya sehingga Koizumi langsung menarik kerah bajunya karena ia bisa saja menjawabnya tanpa berpikir.
"Jangan asal jawab seperti itu... kamu tidak ingin menyebabkan masalah bukan?" Ancam Koizumi dengan tatapan yang terlihat mengerikan.
"Te-he~ Hinoka akan berjuang~" Hinoka mulai meniru perkataan Shinobu sampai mereka semua melihat manusia itu mengajak Shinobu pergi menuju pos.
"Shinobu, kamu mau pergi kemana?" Tanya Konomi.
"Sebentar ya."
Mereka perlu menuju selama beberapa menit sampai Shinobu datang dengan beberapa informasi penting yang ia terima dari Manusia tadi, ia sekarang sudah mendapatkan izin berkemah asalkan mau menaati peraturan.
"Itu dia... kamu lama sekali, aku kira Manusia tadi itu melakukan sesuatu kepadamu." Kata Konomi.
__ADS_1
"Hahaha, Koneko tadi sempat banyak tanya kepada Nenek itu agar bisa menjalani kemah yang menyenangkan dan penuh kenangan indah." Shinobu mulai membuka kertas yang ia tulis di dalam pos sebelumnya.
“Nenek tua...? Aku kira tadi dia itu seorang ibu---“
"Kamu bisa berbahasa rendang?" Tanya Hinoka yang memotong pembicaraan Konomi.
"Kakak itu tidak sopan... kita sudah masuk ke dalam negara Indonesia, jagalah ucapanmu." Peringat Shinobu dengan tatapan serius.
"Uwah... Koneko marah padaku..." Ucap Hinoka dengan tatapan kaget karena ia tadi sempat menunjukkan keseriusannya dalam sebuah pertarungan.
"Tadi itu bahasa Jawa... bangsa Manusia berkomunikasi dengan bahasa yang berbeda, untungnya Koneko sudah belajar dari kecil sampai tahu apa yang mereka katakan."
"Ini dia... peta agar kita tidak tersesat, Koneko sudah menandai beberapa jalur aman yang perlu kita lewati." Shinobu menunjukkan peta itu kepada mereka semua yang mulai memperhatikannya.
"Besar sekali ya... sepertinya kita akan menghabiskan waktu yang lumayan panjang ketika menanjak." Kata Konomi.
"Sebelum itu... kalian harus bersikap sopan santun dan menghormati semua peraturan ya."
"Planet bumi terutama lagi di Indonesia... keahlian mereka selalu berkaitan dengan hal yang sakti dan mistis... anu... bagaimana menjelaskannya ya..." Shinobu memegang dagunya.
"Kalian tahu aku ras apa? Campuran maksudnya... tolong jangan disebut, samarkan saja karena dengan menyebutnya bisa saja memicu sesuatu yang tidak kita inginkan?"
"Sesuatu yang di mulai dari A?" Tanya Ako.
"Itu benar... Koneko adalah setengah dari hal itu, gunung belakang ini... aku sudah membaca banyak cerita tentang pendaki dan manusia yang berkemah."
"Pokoknya jangan sekali-sekali melanggar atau berbuat ribut sampai memperlihatkan sikap yang tidak sopan..."
"...mereka tidak seperti Koneko, ras itu juga bisa dibilang memiliki tipe tersendiri tetapi di Indonesia sangat mengerikan karena sudah diperkuat." Peringat Shinobu dengan tatapan serius.
Shinobu dengan berhati-hati untuk tidak mengatakan sesuatu yang dapat mengganggu makhluk yang menghuni gunung itu, mereka mengerti apa yang ia coba katakan sejak awal ketika mengetahui gunung yang bernama Lawu ini cukup mengerikan.
"Ya, itu saja yang bisa Koneko jelaskan... anu, semua itu mungkin akan melihat kalian sebagai orang asing tidak untukku mungkin karena aku salah dari mereka..."
"K-Kau yang malah membuat kami ketakutan..." Kata Ako yang mulai merinding karena tatapannya tadi terlihat sangat mengerikan.
"Hahhh... apakah kita akan menunggu lebih lama?"
"Hinosapi, apakah kau mendengar peringatan sepupu kecilmu ini? Kau sendiri yang menyarankan kita untuk pergi berkemah di gunung yang mengerikan ini..."
"...kau juga seharusnya tidak meremehkan hal mistis dan mengerikan dalam negara Indonesia, nenek kita Korrina Comi bahkan sampai ketakutan dengan salah satu dari 'mereka' itu."
"Yang berbentuk guling itu...? Pfft..." Hinoka mulai menahan tawanya sehingga Koizumi menarik kerah bajunya karena ia terlihat seperti tidak menganggap semua ini sebagai hal yang serius.
"Hinoka, aku tidak akan berbuat keributan... sekali saja aku mencoba untuk menunjukkan disiplin kepadamu maka itu sama saja mengganggu mereka."
"Iya, iya, aku mengerti kok~ tenang saja." Hinoka mengangguk dengan tatapan bahagia.
"Bagaimana kalau kita berkemah di gunung alam semesta kita saja...! Firasat dan perasaanku sudah terasa tidak enak..." Saran Konomi sambil memeluk dirinya sendiri yang merasa dingin karena arus angin yang terus menghembus tubuh mereka.
"Heeehhhh... kenapa bersikap lemah dan pengecut seperti itu, bukannya ini yang kita inginkan? Sesuatu hal yang mistis dan misterius karena ras campuran Shinobu tidak mengerikan sama sekali."
"Mereka semua terlihat sama seperti kita dengan wujud yang tembus pandang, seperti sepupu kecilku..." Kara Hinoka sambil memainkan kedua pipi Shinobu.
"Koneko tidak tembus padang... yang paling penting adalah Kakak sudah mengerti bukan? Koneko tidak bisa membujuk atau menjinakkan mereka." Peringat Shinobu.
__ADS_1
"Aku mengerti! Roger!" Hinoka mundur beberapa langkah selagi menaikkan lengan kanannya untuk menunjukkan hormat yang membuat mereka semua semakin khawatir.
"Shinobu, apakah kamu yakin?" Tanya Koizumi yang masih terlihat kuat.
"Mm, Koneko ingin belajar." Jawab Shinobu dengan senyuman karena ini kesempatannya untuk melihat sesuatu yang mistis dan misterius pada gunung yang Manusia katakan 'angker' itu.
"Baiklah, dengar ya..."
"...tidak boleh ada kata kotor atau kasar yang keluar sembarangan ketika kita masuk ke dalam gunung melewati penghalang itu."
"Selalu mengucapkan kata permisi dalam melakukan segala hal... bahasanya adalah nuwun sewu."
""Nuwun sewu.""
"Jaga kebersihan, jangan sampai membuang apapun sembarangan... kita harus menyimpannya dalam kantong yang sudah kita semua bawa."
"Jangan cerita hal-hal yang mistis dan misterius, itu artinya kita tidak boleh bercerita tentang hal itu... tapi percuma saja sih, kita tidak boleh berisik dan tetap menjaga sikap sopan santun."
Mereka semua mengangguk lalu melihat Hinoka yang sedang melakukan tarian kecil lalu putaran dengan dilanjutkan nyanyian kecil, "Firasatku bertambah semakin buruk..."
"Kakak juga ya... apakah kita bisa bertahan selama satu hari...?"
"Hahhhhh..." Koizumi menghela nafasnya, merasa lelah memberikan Hinoka ancaman dan sentilan karena dia lahir memang sudah kelebihan gula dan hiperaktif sampai terus bernyanyi seperti idol.
"Kak Hinoka, menyanyi dan bersiul itu dilarang loh... kamu bisa saja menarik mereka semua, tolong tahan latihan idol itu ya."
"Baiklah~"
Setelah mendengar semua peringatan dari Shinobu, mereka sudah mengerti sepenuhnya sampai harus memperhatikan Hinoka untuk tidak melakukan tindakan apapun yang gegabah.
Peringatan Shinobu soal sekali saja mengganggu dan bertindak tidak sopan maka akan menyebabkan mereka semua menerima teror dari makhluk halus yang menghuni gunung tersebut.
"Oh iya... sebelum masuk, perlu diketahui bahwa tipe ras campuranku di Indonesia sangat sakti sampai aku sudah bisa melihat penghalang Anti-sihir." Kata Shinobu yang bisa melihat lapisan kecil dengan keberadaan Astral.
Mereka tidak bisa melihatnya kecuali Shinobu yang bisa dibilang setengah hantu, astral, atau makhluk halus. Ketika mereka mendengar sihir tidak bisa digunakan, situasi bertambah semakin mengerikan.
"Ayo kita pergi~" Shinobu tersenyum senang karena ia bisa melihat orang yang mirip sepertinya di dalam tetapi ia tidak ingin berinteraksi dengan mereka melainkan menikmati perkemahan ini.
"Ayo! Ayo! Ayo!" Hinoka mulai mengikuti Shinobu, hanya mereka berdua yang terlihat biasa saja sedangkan Ako dan Konomi sudah merasa sangat terganggu dan tidak enak.
"Kalian baik-baik saja?" Tanya Koizumi yang menyadari keringatan mulai berjatuhan dari wajah mereka.
"Kami ini bisa mengendalikan sihir itu... sudah jelas kami dapat merasakan sesuatu yang tidak baik." Jawab Konomi.
"Ahh, aku mengerti... tetapi jika kita mengikuti peringatan yang Shinobu berikan tadi maka aku yakin semuanya berjalan dengan lancar." Koizumi mengikut mereka berdua yang sudah melewati pos.
"Ayo, Ako." Konomi mengulurkan lengan kanannya kepada Ako yang langsung menggenggamnya sampai mereka mengikuti Koizumi.
"Mbah, kami---" Shinobu memasang tatapan bingung seketika sampai ia mulai memiringkan kepalanya ketika melihat Manusia tadi itu menghilang entah kemana.
"Kenapa, Koneko?" Tanya Hinoka.
"Nenek tadi menghilang..."
__ADS_1