
Sudah hampir sepuluh menit lebih Hinoka bersama kedua temannya pergi untuk mencari air di dalam sungai, sampai sekarang mereka belum datang kembali.
Entah kenapa firasat Koizumi bertambah semakin tidak enak ketika melihat Shinobu diam di depan api unggun itu selagi berbicara sendirian bahkan ia juga terus tertawa kecil.
Mengetahui dirinya setengah hantu, ia yakin bahwa dirinya melihat banyak sekali makhluk halus yang mampu membuat dirinya nyaman untuk diajak berbicara.
"Boleh kok... boleh... boleh..." Shinobu mengangguk sampai Koizumi mulai mendekati dirinya hanya untuk mengubah topik pembicaraan yang ia alami.
"Shinobu, mau makan?" Tanya Koizumi sambil memegang sebuah wajan, Shinobu tersenyum lalu ia mengangguk cepat.
"Mm, Koneko lapar..." Shinobu tersenyum polos sampai Koizumi mencoba untuk tidak membiarkan dirinya sendirian karena ia selalu saja berbicara dengan seseorang yang tidak bisa ia lihat atau rasakan.
Koizumi menyiapkan beberapa peralatan masak, ia bisa melihat Shinobu dari jauh menggerakkan ekornya pelan-pelan.
Pergerakan seperti itu sudah ia ketahui cukup lama bahwa Shinobu bisa di bilang 'tidak baik-baik saja', pergerakan ekornya cukup lambat sampai ia kembali mendekati dirinya.
"... ..." Koizumi menatap wajahnya yang terlihat lemas dan pucat, kedua matanya juga terasa berat sampai ia mencoba untuk tidak menghiraukannya.
Koizumi menempati panci di atas kedua batu agar api unggun itu bisa memanaskan panci tersebut, ia mulai memotong beberapa sayur sambil memperhatikan Shinobu yang terus melamun ke depan.
"Boleh... boleh... boleh..." Shinobu mulai berbicara dengan pelan selagi menggerakkan kedua kepalanya pelan-pelan.
"Boleh apa, Shinobu?" Tanya Koizumi yang merasa penasaran dengan sepupu kecilnya yang terlihat tidak sehat.
"Kakak... dimana yang lain... bawa pulang... bawa pulang cepat." Kata Shinobu sampai Koizumi mulai menyentuh keningnya lalu ia memasang tatapan sedikit lega bahwa dirinya tidak menerima demam.
"Kamu baik-baik saja?" Koizumi mulai duduk tepat di sebelah Shinobu sambil menyentuh kedua pipinya sampai ia mulai terkekeh lalu mengalihkan pandangannya kepada sepupu yang ia anggap sebagai Kakak.
...
...
"Koneko... baik-baik saja..." Ucap Shinobu dimana penglihatannya mulai buram sampai kepalanya terasa berat seperti menggunakan The Mind secara berlebihan.
Tubuh Shinobu mulai melemas sampai Koizumi bisa melihatnya dengan jelas, kedua telinga dan ekor kucingnya mulai turun sampai Shinobu menundukkan kepalanya selagi memejamkan kedua matanya.
"Shinobu...?"
"Kakak... dia temanku..." Shinobu langsung terjatuh di atas tanah dengan kondisi pingsan sampai mengejutkan Koizumi seketika karena melihat dirinya terjatuh seperti itu.
"Shinobu...!? Oi! Apa yang terjadi...?!" Koizumi mulai panik melihat Shinobu yang awalnya terlihat sehat dan bugar, berubah menjadi gadis yang menerima sesuatu yang buruk sampai menjatuhkan dirinya seperti itu.
***
"Mungkin ini adalah akhir hidup bagi kita semua... matahari sudah hampir terbenam tetapi kita tidak menemukan air sedikit pun." Kata Konomi.
"Ini semua salahmu, Hinoka... kenapa kita harus terseret dengan masalah yang kau perbuat sendiri?" Tanya Ako dengan tatapan waspada.
"Oh, ayolah~ bukannya kita semua adalah teman? Teman harus membantu satu sama lain, dengan menggunakan insting idol ku..."
"...sungai itu ada di depan!" Hinoka menunjuk ke depan sampai tebakannya benar bahwa ialah menemukan sungai yang cocok untuk diambil sebagai air minum.
Hinoka bergegas ke depan tetapi kedua kakinya terasa di tarik oleh sesuatu yang membuat dirinya terjatuh tetapi secara refleks ia melakukan putaran backflip ke depan sampai tidak sengaja menjatuhkan sesajen.
"Ahh..." Hinoka memasang tatapan kaget sehingga Ako dan Konomi terlihat begitu ketakutan melihat ia baru saja menjatuhkan beberapa makanan sang penunggu.
"Tidak apa, tidak apa, yang paling penting adalah aku tidak memakannya bukan." Hinoka mulai merapikan kembali semua sesajen yang berjatuhan itu lalu ia membuka ranselnya untuk mengeluarkan semua botol kosong.
__ADS_1
Ako dan Konomi ikut membantu juga tetapi mereka bisa merasakan hawa yang begitu mengerikan, Ako menoleh ke depan lalu ia melebarkan kedua matanya ketika melihat bilah pisau di balik pohon itu.
Tidak terlihat begitu jelas tetapi ia dapat melihat logam runcing yang berlumuran dengan sedikit darah, ia mencoba untuk tidak menghiraukannya tetapi suara dari detak jantungnya dapat ia dengar begitu jelas.
Setelah tidak memperhatikan selama lima menit, ia kembali menatap ke depan lalu segera menoleh ke bawah karena pandangan yang baru saja ia lihat adalah sesosok wanita dengan rambut panjang.
Wajahnya rusak sekali sampai tidak memperlihatkan mata apapun, mulutnya juga terbuka lebar sehingga detak jantungnya terus terdengar sangat keras sampai tubuhnya menjatuhkan banyak keringat dingin.
"Aku tidak mengerti... kenapa makhluk seperti itu dapat memberikan ketakutan yang begitu besar... bahkan Dewa atau kehancuran yang diperbuat oleh mereka tidak menakutkan seperti situasiku saat ini."
"Bagaimana ini... aku yakin pikiranku mencoba untuk membodohiku diriku karena objek atau sesuatu yang tidak nyata dapat menjadi suatu kebenaran karena otak kita sendiri." Batin Ako.
"Bwah!" Hinoka menepuk kedua pipi Ako sampai mengejutkan dirinya seketika dengan kedua bahu yang terangkat.
"Hahahahaha! Kamu ini benar-benar penakut ya!" Hinoka langsung menertawakan Ako yang sempat menunjukkan ekspresi kaget sampai tidak bisa menahan tawanya.
"Hinoka! Sudah cukup dengan bercandanya atau aku akan menjatuhkan dirimu ke dalam sungai itu!" Seru Ako selagi mengembungkan kedua pipinya.
Ia terus memperhatikan Hinoka sampai gadis berambut panjang di balik pohon itu menghilang entah kemana tanpa menunjukkan jejak apapun, "H-Hilang...?"
"Airnya sudah siap, ayo, kita pulang--- Aw!" Hinoka merasakan sesuatu yang tipis menyentuh kakinya, ia mulai melihatnya lalu darah mengalir keluar dari dalamnya.
"Darah...?! Apakah kalian yang melakukannya?!" Tanya Hinoka dengan tatapan serius, ia langsung melihat daratan dan tidak menemukan apapun kecuali rumput tipis.
"Hinoka...!" Ako langsung terlihat panik ketika melihat Hinoka menerima yang terlihat jelas seperti sayatan dari sebuah pisau yang karatan.
"Apa...?"
"Lari...!" Ako langsung melarikan diri secepat mungkin karena wanita berambut panjang tadi kemungkinan sudah mulai menyerang.
"Adikmu kenapa sih?" Tanya Hinoka yang mulai membalut lukanya lalu ia mencium bau bangkai dan amis tetap di sebelahnya sampai ia memasang tatapan yang terlihat jijik.
"Hinoka, ayo kita pergi...!" Konomi mulai mengikuti Ako sampai Hinoka menghela nafasnya lalu ia pergi menghampiri dirinya selagi menggendong sebuah ransel penuh dengan botol air minum di dalamnya.
***
"Baiklah, jadi juga." Koizumi menuangkan sup wortel itu di atas mangkuk lalu ia berjalan mendekati tenda Shinobu dimana ia bisa melihat siluetnya yang sedang duduk.
"Shinobu, waktunya makan---" Ketika Koizumi membuka pintu tenda tersebut, ia bisa melihat Shinobu mengulurkan lengan kanannya menuju arah dirinya tetapi ia langsung melompat ke belakang.
"Lari... Lari... Lari..." Kata Shinobu dengan tatapan yang terlihat sangat tajam sampai Koizumi memasang tatapan kaget ketika melihat kedua matanya yang merah seperti dalam wujud Beast.
...
...
"Ini bukan tempat yang cocok untuk orang asing seperti kalian, salah satu dari temanmu sudah mengganggu banyak sekali penghuni." Kata Shinobu yang mulai keluar dari dalam tenda itu dengan pergerakan aneh.
"Apa yang kamu coba katakan, Shinobu...?" Tanya Koizumi dengan tatapan serius, ia mulai menepati mangkuk itu di atas tanah agar ia bisa bersiap siaga untuk menghadapi dirinya.
"Lari... Pergi... enyahlah... atau terima akibatnya..."
Koizumi memasang tatapan yang bingung karena Shinobu berbicara bahasa Indonesia yang kurang ia mengerti, dirinya mencoba untuk tetap tenang dan tidak menurunkan tinju apapun.
"Lari sekarang juga... pergi... pergi... pergi...."
"Siapa kau? Apa yang kau perbuat pada sepupuku?"
__ADS_1
"Pergi... lari... atau terima akibatnya..."
"...semakin lama kalian di sini... maka semakin banyak mereka akan datang... pergi... pergi..."
"Apa yang kamu lakukan kepada Shinobu? Jika tidak mau menjawab maka aku tidak akan mengikuti peringatan itu!"
"Aku... aku... adalah seorang anak yang menghuni gunung ini bersama banyak penghuni lainnya..."
"...jadi... pergi... gunung ini tidak pantas... untuk dijadikan sebagai hal yang menyenangkan bagi kalian..."
"...pergi sekarang juga!!!" Seru Shinobu keras sampai Koizumi melihat mata bagian putih Shinobu mulai menghitam.
...
...
"Pergi... Pergi... Pergi..."
"...atau terima akibatnya." Shinobu mulai melangkah dengan sangat aneh, pergerakannya terlihat begitu membingungkan sampai Koizumi hanya bisa melihatnya.
"Tubuh ini... bukan manusia... anak kecil ini... salah satu dari kami... jadi aku bisa berada di dalam tubuhnya..."
"...untuk memperingati kalian... dia gadis yang penurut... tetapi kalian harus kabur..."
"...kabur dan pergi... tanpa memperlihatkan wujud kalian lagi... satu yang berbuat masalah... maka semuanya kena..."
"...pergi---" Shinobu langsung memasang tatapan polos sehingga kedua matanya terasa berat lalu ia berlutut di atas tanah karena sesosok misterius yang merasuki tubuhnya menghilang begitu saja.
Koizumi mengepalkan kedua tinjunya, "Hinoka... si bodoh itu sedang apa sih?"
Pandangan Koizumi langsung teralihkan kepada bayangan putih dan hitam yang berbentuk seperti anak kecil mulai melarikan diri ke dalam hutan yang begitu lebat di belakangnya.
"Bagaimana Shinobu bisa dirasuki seperti itu?" Batin Koizumi.
"Sebuah peringatan... Kakak... kita harus bertahan untuk hari ini." Kata Shinobu yang terlihat lemas sampai ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya itu.
"Aku tidak menyangka... akan sekuat ini... sungguh mengerikan... aku tidak bisa menjelaskannya kepada kalian dengan kata-kata..."
"...nyawa Kak Hinoka dalam bahaya." Shinobu mencoba untuk bangkit tetapi ia kembali terjatuh di atas tanah dengan kondisi yang pingsan karena terlalu lelah.
"Shinobu!" Koizumi mulai mengangkat tubuhnya lalu ia bisa mendengar banyak sekali langkahan di belakangnya yang ternyata ketiga temannya tiba dengan selamat.
"Aku senang kalian---" Koizumi melebarkan matanya ketika melihat sesosok gadis berambut panjang dengan wajah yang rusak berada di belakang Hinoka selagi memegang pisau.
"Oi! Siapa yang kalian bawa itu...?!" Tanya Koizumi yang mulai menunjuk ke depan sehingga wujudnya menghilang begitu saja sampai mengejutkan Koizumi.
Mereka memasang tatapan bingung lalu menoleh ke belakang, tidak melihat apapun kecuali pohon-pohon yang tidak bisa menerima cahaya dari matahari yang akan terbenam sebentar lagi.
"Perasaan apa ini... ketika melihat wajah wanita tadi, jantungku berdetak sangat cepat... rasa ketakutan ini bukanlah sesuatu yang biasa..." Batin Koizumi.
"Apa yang terjadi dengan Nobu?!" Tanya Ako yang bergegas mendekati dirinya lalu ia bisa melihat Shinobu tertidur dengan ekornya yang masih bergerak.
Pergerakan ekor itu bukan karena ulahnya melainkan sesosok makhluk halus di belakang Koizumi yang tidak bisa mereka lihat sedang memainkan ekornya.
"Teman-teman." Koizumi memanggil mereka semua dengan tatapan serius karena ia ingin memperingati sesuatu.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Malam ini berhati-hati lah..."
"...kita harus tetap bersatu."