
"Grrrgggghhh...!!! Aku sang Saint Legenda...!!! Shiratori Shiraaagggghhhhhh!!!!" Dengan ekspresi yang terlihat ganas serta gigi yang merapat.
Rxeonal bisa melihat Shira tepat di hadapannya dan ia langsung merinding, Shira mulai menyerang Rxeonal dengan melancarkan satu pukulan emas di tangan kanannya yang langsung menembus perut Rxeonal cukup dalam
"A-Accckkkk...!!! A-Apa ini...!?"
"Shiratori Shira...!!!"
"Graaaggghhh...!!!"
"Terhapuslah bersama dengan cahaya-cahaya, Rxeonal...!!!" Shira melepaskan Rxeonal ke atas sehingga ia melayang ke atas dengan tubuhnya yang diselimuti oleh cahaya putih, cahaya putih itu menimbulkan efek ledakan yang begitu besar.
"Hah... Hah... Hah..."
***
"Aku hampir saja mati sejak itu... Untungnya, berkat bantuan dari seluruh penghuni semesta Touri. Aku dapat menciptakan satu pukulan yang dipenuhi dengan cahaya berbeda-beda." Shira tersenyum.
Minami sekarang mengetahui sejarah dimana Shira berhasil membunuh Rxeonal, selama ini ia mencoba untuk mengorbankan diri dengan menyerap seluruh cahaya semesta Touri yang berpotensi untuk mengubah dirinya menjadi cahaya untuk selama-lamanya.
"Bagaimana rasanya ketika menyerap semua cahaya dari seluruh makhluk hidup yang ada di semesta Touri, Papa...?"
"Rasanya cukup menegangkan, kau tidak tahu harus apa melainkan menyelesaikan tujuan utama yaitu mengalahkan musuh..."
"...setelahnya kau tidak bisa merasakan apa-apa, penglihatanmu hanya fokus kepada suatu cahaya yang berwarna putih dan pendengaranmu hanya bisa mendengar suara jantungmu itu."
"Cukup mengerikan, aku merasa beruntung karena bisa bertahan tanpa menerima efek negatif. Bisa-bisa aku meledak menjadi cahaya yang tidak akan pernah kembali..." Shira menghela nafas lega, untungnya sekarang ia sudah terbiasa dalam menyerap seluruh cahaya di semesta Touri.
"Apa mungkin anak yang mengincar dirimu dan kami adalah anak dari Rxeonal?"
"Tidak mungkin, dia sendiri dulunya adalah iblis yang baik tetapi berubah ketika seorang Legenda yang bernama Mortem mengajak dirinya ke jurang yang salah."
"Dia memiliki seorang istri dengan putri yang saat ini adalah raja iblis. Oni Selvia." Jawaban Shira masih belum memberikan sedikit keyakinan karena tekanan yang ia rasakan sejak itu memiliki sedikit kesamaan dengan bangsa Iblis.
Bukan hanya bangsa Iblis saja yang ia rasakan melainkan makhluk hidup berdarah dingin juga bisa ia rasakan ketika saling melepaskan keluatan dari tekanan.
"Sudah jelas bahwa Rxeonal bukanlah ancaman kita lagi, aku cukup muak menghadapi dirinya. Ia sudah berapa kali muncul sejak itu, pada saat perang Touriverse juga dia muncul lagi."
"Ahahaha... Aku sendiri pernah menghadapinya..." Minami mengangkat tangannya selagi menunjukkan ekspresi yang begitu canggung.
Shira tercengang ketika mendengarnya, "Heh!? Kapan?!"
"Ketika aku masih remaja itu... Dimana Haruka masih lumpuh, musuhku yang bernama Kuharu memunculkan beberapa musuh yang pernah Papa lawan."
"Hebat sekali... Kamu memang?"
"Tentu saja, aku mengubahnya menjadi patung emas."
__ADS_1
"Sungguh hebat sekali, putriku. Benar-benar anak Papa."
"Sebelum kita melanjutkan pembahasan ini lebih lanjut lagi, Zangetsu ya... Namanya... Kalau tidak salah Papa menghadapi musuh lainnya yang bernama Shinku dan Komi?"
"Ahh, mereka ya. Aku tidak bisa mengalahkan mereka karena kemampuan yang mereka miliki berada di tingkatan yang begitu berbeda..."
"...hanya bisa diserahkan kepada Korrina yang berhasil mengalahkan mereka. Pada akhirnya dia hampir saja mati ketika melawan Shinku." Kepala Shira mulai dipenuhi dengan kenangan masa lalu yang begitu suram karena harus perang beberapa kali.
"Ahh... Sepertinya tidak ada kaitannya dengan murid itu, dia hanya mengenal Shiratori terutama Papa. Yang tersisa hanya Zangetsu sepertinya..."
"Soal Zangetsu bisa kau hindari saja, Minami. Dewa besar seperti dirinya tidak dapat membuat anak secara sembarangan, itu yang aku tahu dari Korrina."
"Keturunan dari sang pencipta yang bernama Zangges memilih istri secara teliti dan dia adalah Koina Comi. Kedua pencipta itu menghasilkan satu anak yang bernama Zenzaku."
"Sejarah tentang Zangges dan Koina itu cukup besar, sebagiannya juga berisi tentang kebohongan. Tidak ada yang tahu terutama Korrina sendiri bahkan tidak ingin tahu karena dia membuang dirinya dari julukan Dewi."
"Zangges menghasilkan keturunan yang berbeda dengan Koina, sebagian keturunan itu ia beri nama berdasarkan marga. Sang pencipta dapat melakukan apapun dan..."
"Zenzaku adalah anak pertama yang bisa di bilang sebagai penerus Zangges tetapi sang pencipta sendiri menyadari kerakusan darinya..."
"...di saat itulah Zangges tidak ingin mewarisi kekuatan penciptanya kepada Zenzaku. Zenzaku sendiri memiliki anak bersama seorang yang gadis yang cukup misterius."
"Sepertinya pembahasan kita lumayan melenceng Papa... Tidak ada bukti yang cukup kuat, aku sendiri tidak merasakan sesuatu yang berkaitan dengan dewa darinya..." Minami memegang dagunya.
"Ahh, tidak apa kan, sedikit pengetahuan untukmu." Shira terkekeh dan tersenyum.
Mereka menghabiskan waktu selama satu jam untuk membahas tentang murid misterius yang mencari keturunan Shiratori terutama Shira, Shira bisa melihat Minami yang mengantuk melalui layar.
"Hm...?"
"Bagaimana kalau kita lanjutkan besok?"
"Tidak... Besok aku ingin berlatih..." Minami menepuk wajahnya beberapa kali dan ia menggigit bibirnya sampai berdarah agar ia bisa tetap bangun dan berdiskusi bersama Shira.
Shira menghela nafas pelan karena mustahil bagi dirinya yang memiliki anak meneruskan dirinya, dia pasti akan pantang menyerah dalam keadaan apapun.
"Kalau begitu mari kita lanjut... Kali ini aku akan membantu sedikit dengan mengirim beberapa gambar musuh yang pernah aku lawan." Shira mulai menyentuh alatnya lalu memilih pilihan untuk mengirim gambar kepada Minami.
Semua gambar itu mulai bermunculan dengan cepat sampai membuat Minami kebingungan karena layar di hadapannya mulai membesar dan melebar.
"Dimana Papa mendapatkan semua gambar ini?"
"Beberapa orang dari semesta yang berbeda, waktu itu aku bertemu dengan seseorang yang sangat menyukai mengambil foto dan mengejutkannya dia memiliki beberapa foto dari kita termasuk musuh."
"Cukup mengerikan juga ya..." Minami mulai mengubah semua gambar yang ia lihat itu menjadi kertas mengunakannya alat komunikasi itu.
Semoga saja dalam waktu yang dekat ia bisa menemukan murid itu lagi, kali ini ia harus bisa melihat wajahnya itu agar identitasnya bisa mudah tertebak.
__ADS_1
"Sebelum itu, bisakah kau menceritakan kembali tentang kemampuan yang ia miliki itu?"
"Semacam kekuatan murni yang dapat ditambahkan dengan kekuatan dari tekanan juga... Tekanan yang begitu kuat bahkan jika aku melalaikan latihan saja sedikitpun maka..."
"...serangan yang dilepas oleh dirinya bisa saja menghancurkan diriku karena satu serangan aku sengaja terima, serangan itu mengenai sesuatu yang berbeda di dalam diriku."
"Shucchi tidak bisa melihatnya tapi aku bisa, jika Shucchi sejak itu tidak dapat mengendalikan amarahnya maka tubuhnya mungkin akan hancur..."
"...untuk sekarang 9 nyawa kami masih bisa di bilang aman." Shira hanya bisa mengingat beberapa orang yang memiliki kekuatan persis seperti itu.
"Jika dia mengetahui diriku dan mengaku bahwa Ayahnya dibunuh olehku maka salah satu musuh yang berada di masa lalu pernah aku lawan sampaiku bunuh." Shira memasang sebuah selimut di atas tubuh Megumi yang sudah tertidur.
"Sepertinya dia juga sama seperti dirimu, Minami. Berusaha untuk menjadi yang terkuat dan menyempurnakan kekuatan yang ia miliki..."
"Bisa-bisa dia meningkat lebih tinggi lagi dibandingkan dirimu jadi aku menyarankan dirimu untuk berhati-hati ketika menghadapi dirinya lagi..."
"...mengerti?"
Minami mengangguk, "Dia ingin mengajukan sebuah perang lagi..."
"Sekarang, apa yang akan kau lakukan selanjutnya, Minami? Kau baru saja mendengar seseorang yang menginginkan konflik besar lainnya yang bersangkut paut dengan peperangan."
"Pilihan apa yang akan kau pilih?"
"Tentunya aku akan mencegah dirinya sebelum semuanya terlambat... Aku akan mencobanya bersama Shucchi dan teman-teman lainnya." Minami mengangguk.
Diskusi mereka berakhir ketika Shira ingin beristirahat dengan tidur, "Kalau begitu, pembicaraan kita sudah selesai ya. Jika kamu menemukan informasi lainnya, segera hubungi Papa."
"Tentu saja... Papa mau tidur?"
"Ya... Hari ini cukup melelahkan juga karena Papa melakukan latihan sehari penuh di semesta Xuutouri."
"Ehh...? Berlatih dengan Elf?"
"Ya, latihan di semesta itu cukup baik juga karena terdapat banyak energi murni dan cahaya di dalamnya sampai aku nyaman menghabiskan seluruh tenaga dan Lenergyku."
"Kalau begitu, Papa akan tidur dulu. Kamu juga, Minami. Seorang Legenda membutuhkan istirahat yang cukup..." Shira tersenyum dan Minami mengangguk lalu menunjukkan ekspresi serius.
"Aku akan mencegahnya!"
"Jawaban yang bagus, selamat malam, nak."
"Selamat malam, Papa..." Minami tersenyum dan mereka memutuskan alat komunikasi itu, Minami menghela nafas panjang lalu menempati wajah nya di atas meja.
"Apa yang harus aku lakukan besok...? Banyak sekali jadwal yang harus aku penuhi." Minami menatap jam yang sekarang menunjukkan pukul 2 malam.
"Aku harus bisa mempercayai diriku sendiri bahwa aku dapat mencegah dirinya sebelum Papa turun tangan." Minami bangkit dari atas meja lalu ia menepuk wajahnya beberapa kali.
__ADS_1
"Baiklah...!" Minami melompat ke atas kasur.
"...sekarang istirahat."