
Hari seperti biasanya yang terjadi di akademi, tidak ada lagi yang namanya masalah dan konflik datang secara tiba-tiba melainkan murid-murid yang menikmati waktu mereka di dalam kota permohonan yang baru.
"Dimana, Minami?" Tanya Hana kepada Shuan yang kebetulan lewat di hadapannya.
"Kakak...? Ahh, Dia sedang di kamarnya, ia bilang ingin beristirahat sebentar. Aku sarankan jangan kunjungi dia dulu..." Ucap Shuan karena Minami terlihat mudah lelah akhir-akhir ini mungkin karena terlalu banyak kerja keras.
"Jika Minami beristirahat kenapa kau juga tidak diam di kamar atau semacamnya?" Hana yang awalnya ingin mengunjungi Minami mulai mengikuti Shuan yang akan pergi menuju sebuah Mansion.
"Untuk sekarang, aku baik-baik saja. Sepertinya kau tadi ingin mengunjungi Kakak ya, bagaimana jika kau ikut denganku menemui ketiga saudara itu?" Tanya Shuan karena ia baru saja di undang oleh Haruka datang.
"Heh? Tiga saudara Comi?"
"Ya... Soal Kou, sepertinya ia baru saja mendapatkan beberapa kertas informasi dari Yuusuatouri, dia sekarang sudah resmi menjadi penerus Comi's Corporation dan ia sudah mulai bekerja sekarang."
Hana terkejut ketika mendengarnya, saudara yang paling kecil ternyata di pilih sebagai penerus dari perusahaan yang Korrina buat, ia sendiri merasa khawatir tentang Kou karena kondisinya itu.
Beberapa menit kemudian, mereka masuk ke dalam Mansion yang cukup besar bahkan Hana bisa melihat Haruka membelinya sebagai tempat tinggal sementara di kota permohonan ini.
Karena konflik yang terjadi kemarin, Morgan menginginkan semua murid untuk belajar di tempat istirahat mereka untuk beristirahat agar bisa mengurangi tekanan dan stres yang di rasakan kemarin.
Mansion yang berada di hadapan mereka itu Haruka gunakan sebagai tempat bekerja Kou dan latihannya karena ia sejak kemarin memaksa kepada kedua kakaknya agar bisa berusaha.
"Kalian akhirnya sampai juga..." Haruka menyambut mereka dari lantai atas sedang menikmati satu cangkir teh bersama Rokuro.
"Ternyata ada Rokuro ya..." Ungkap Shuan.
"Selamat datang di tempat istirahat kita, teman-teman. Ini mungkin akan menjadi tempat tinggal kita sampai waktu turnamen tiba..." Honoka melompat dari lantai dua lalu mendarat di hadapan mereka.
"Ehh... Aku tidak tahu soal ini sebelumnya..." Kata Hana, ia sendiri tidak bisa berkata-kata ketika melihat isi dari Mansion yang begitu indah dan tertata sangat rapi.
"Hebat sekali ya... Apakah semua orang tahu soal ini?" Tanya Hana.
"Sebagian sih tetapi mereka juga pasti akan tahu... Terutama Minami yang saat ini masih mengurung diri di kamarnya, melakukan hibernasi layaknya seperti hewan." Honoka mulai mendekati Hana.
"Hana, mari menikmati buah-buahan dan satu cangkir teh bersama-sama, melepaskan semua stres dan tekanan yang kita rasakan kemarin itu." Honoka menarik lengan Hana lalu ia menggendongnya seperti seorang putri.
"H-Honoka..."
Shuan hanya bisa menatap datar melihat Honoka seperti biasanya sangat buas dengan gadis yang ia temui, ia mulai menatap ke atas dan melihat Haruka menunjuk sebuah ruangan di hadapannya.
"Tolong bantu ya~"
"Ya..." Shuan bergerak maju ke depan lalu mengetuk pintu di hadapannya untuk menunjukkan rasa sopan agar tidak masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu.
__ADS_1
"Kou...? Kamu di sana?"
"Ahh.... Iya..."
Suaranya begitu kecil sehingga Shuan menunggu sebentar dan mendengar suara Kou di dalam pikirannya, meminta dirinya untuk masuk ke dalam ruangan itu.
Shuan membuka pintu di hadapannya lalu mendapatkan sebuah kejutan dengan kertas dan buku yang menumpuk sampai menyentuh atap, pekerjaan Kou terlihat sangat banyak.
"A-Apa ini...?"
"Ahh... Ini pekerjaanku semua... Harus selesai sampai malam nanti..." Kou tersenyum selagi menunjukkan beberapa kertas yang baru saja ia cap sebagai tanda di terima.
"Semua ini dalam satu hari...? Itu sangat gila, apakah kedua kakakmu tidak membantu!?"
"Hm, tidak apa, aku meminta mereka untuk menyerahkan semuanya kepadaku... Aku harus bisa melakukan apa yang Mamaku bisa." Kou mengepalkan kedua tinjunya lalu mengangguk penuh dengan rasa tekad.
Melihat Kou yang bersemangat dan dipenuhi tekad seperti itu membuat Shuan merasa penasaran apa yang terjadi dengan dirinya akhir-akhir ini.
Sikapnya yang kadang lembut dan malu mampu menunjukkan semangat besar dan tekad yang kuat untuk meneruskan pekerjaan Ibunya bahkan Shuan sendiri sempat merasa khawatir dan penasaran.
"Kenapa kau menjadi seperti itu...? Akhir-akhir ini...? Kepalamu baik-baik saja?" Shuan mulai mengelus kepalanya sehingga Kou mengembung kan kedua pipinya.
"Padahal aku sudah bersemangat untuk berusaha tetapi kamu malah tidak percaya... Shuan, kamu jahat..." Kou mengalihkan pandangannya, melanjutkan pekerjaan untuk melakukan cap di seluruh kertas itu.
Tubuhnya dipenuhi keringat karena sudah bekerja dari pagi untuk mengisi semua kertas itu, kertas yang berasal dari berbagai macam semesta termasuk luar inti semesta.
Meminta bantuan Comi's Corporation soal bahan pokok dan utama, intinya perusahaan itu menyediakan apapun untuk membantu mereka yang tidak mampu atau mereka yang sangat membutuhkannya.
"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya... Setelah menyelesaikan semua ini?" Tanya Shuan, ia mengambil satu kertas.
Kertas itu menunjukkan informasi tentang kemiskinan rakyat yang tidak mampu bertahan hidup dalam melawan monster dan makanan yang terus berkurang.
"Aku memberikannya kepada Tech, sisanya ia akan serahkan kepada seluruh pekerja yang saat ini sedang menjaga Co. Corp..." Kata Kou.
Shuan benar-benar merasakan sesuatu yang berbeda dari Kou, jarang sekali ia melihatnya dirinya dengan sebuah kacamata bahkan ekspresi yang dipasang terlihat begitu serius.
Motivasi apa yang dapat mengubah dirinya menjadi seperti itu, Shuan mulai menempati kembali kertas itu di tempat asalnya lalu ia melihat beberapa kertas yang melayang sendiri.
"A-Apa itu...?" Shuan menunjuk kepada kertas yang melayang.
"Mmm...?" Kou memiringkan kepalanya, ia menoleh ke belakang dan melihat seseorang membantu pekerjaan dirinya.
"Kouko..." Kou tersenyum.
__ADS_1
"Siapa...?"
"Kutukan Eternalku... Dia tidak bisa berbicara atau berkomunikasi, dia akan terus berada di sisiku selagi menjaga dan membantuku..." Kou tersenyum lalu mengusap pipi Kouko yang masih tidak menampakkan diri.
"Dia lumayan pemalu sepertiku sih... Intinya dia berbeda dengan Kuharu... Sangat baik dan selalu terjaga di sisiku..." Kou meminta Kouko untuk menampakkan dirinya melalui pikirannya.
Kouko langsung menampakkan dirinya sampai mengejutkan Shuan karena ia terlihat sangat mirip dengan Kou tetapi rambutnya lebih panjang serta tubuhnya terlihat tembus pandang.
"Sudah kan? Ngomong-ngomong kenapa kamu datang ke sini...?" Kou berhenti menulis lalu ia menatap Shuan.
"Kakakmu itu, meminta diriku untuk menjagamu." Shuan duduk di sebelahnya dan berusaha membantu dirinya tetapi Kou meraih tangannya.
"Tidak boleh... Jangan membantu..."
"Kalau begitu menjaga saja...?" Tanya Shuan, Kou menjawabnya dengan anggukan lalu ia kembali bekerja.
Shuan mengeluarkan sebuah sapu tangan lalu ia menghapus semua keringat yang mengalir di wajah Kou, Kou tersenyum dan berterima kasih kepadanya.
"Aku penasaran... Apa yang terjadi denganmu akhir-akhir ini? Kedua kakakmu mengatakan sesuatu kepadamu?" Tanya Shuan selagi mengipas tubuhnya dengan buku tipis.
Kou tersenyum dan tersipu, "Uhh... Umm..."
"...mungkin karena pertarunganmu sejak itu? Terutama usaha dan kebangkitan yang selalu menjatuhkan dirimu, aku ingin berubah..."
"Aku ingin merasakan apa yang kamu rasakan... Melihat cahaya yang kamu lepaskan ketika melawan Oskadon... Benar-benar membuat hatiku terasa hangat... memaksa diriku untuk berusaha juga..."
"Aku sendiri sadar... aku tidak pernah bangkit atau berusaha melawan batasan itu sendiri... Penyakit dan kutukanku, kali ini aku ingin melawannya dan menghancurkan..."
"Dengan tekad... semangat... serta berusaha sekuat mungkin agar aku bisa menjaga sehebat Mama..." Kou mengatakannya dengan pipi yang merah.
Ingatannya mulai menunjukkan kembali kejadian kemarin dimana Shuan sering merasakan kekalahan tetapi ia berhasil mengubah dirinya sendiri karena usaha dan latihan dengan Minami.
Kou merasa terinspirasi, ia sampai ingin mencobanya sendiri tetapi dengan cara yang pelan karena jika memaksa begitu tinggi maka demamnya akan muncul kembali tetapi lebih parah.
"Begitu ya... Kalau begitu, aku akan menjaga dan melihatmu sampai kau bisa mendapatkan hasil yang kau inginkan." Shuan mengangguk.
Kou tersenyum senang, ia mendekati wajahnya dengan Shuan, mencoba untuk memberi dirinya kecupan tetapi terganggu dengan kedatangan Haruka dan Rokuro yang mengetuk pintu.
"Kou! Shuan! Waktunya makan..."
Shuan menghela nafasnya, ia tidak bisa merasakan keamanan dan ketenangan ketika bersama teman-temannya terutama lagi kedua saudara itu yang selalu mengganggu waktu berduanya.
"Ya..."
__ADS_1