Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 512 - Rasa Rindu yang Tak Tertahan


__ADS_3

Sebelum turnamen dan pemilihan peserta di mulai, seluruh peserta mengalami hari yang begitu menenangkan juga menyenangkan karena dapat menghabiskan waktu bersama keluarga.


Menikmati makanan yang begitu banyak sambil melihat pemandangan yang sangat indah tiada bandingannya, Rokuro dan Hana melihat Ophilia bersama Arata baru saja datang membawa banyak makanan lezat.


"Hana, Rokuro, kalian terlihat lebih dewasa sekarang." Ophilia menghampiri kedua anaknya sehingga ia menerima sebuah pelukan dari Hana.


"Mama, aku sangat merindukan dirimu!" Ucap Hana dengan penuh semangat, membuat Ophilia terkekeh lalu menepuk punggung putrinya.


Arata dan Rokuro mulai saling menatap satu sama lain dengan tatapan yang terlihat datar, dengan satu adu pukulan saja sudah cukup bahwa mereka saling merindukan satu sama lain.


"Seberapa banyak pencapaian yang kau dapat?" Tanya Arata.


"Tentunya banyak..."


"Kalau begitu, mari menikmati makanan ini." Arata menunjukkan beberapa makanan restoran yang ia buat untuk kedua anaknya agar isi perut mereka tidak dapat menghambat pertarungan apapun.


Rokuro mulai menghampar sebuah karpet sehingga mereka semua langsung duduk di atas, mempersiapkan semua makanan itu.


"Ingat anak-anak, apapun yang terjadi jangan sampai lengah dan lawan apapun terutama lagi, sekuat apapun musuh yang kalian lawan. Tetaplah berjuang untuk mengalahkannya."


Arata seperti biasanya selalu mengingatkan dan memperingati kedua anaknya untuk tetap fokus serta waspada dalam pertarungan apapun terutama turnamen ini.


"Setiap peserta dari berbagai macam alam semesta datang untuk bersaing, lebih penting lagi jangan sampai lawanmu atau kekuatannya membuat pikiran kalian stres."


""Baik!""


"Sudah-sudah, lebih baik kalian menikmati waktu-waktu tenang ini dengan memakan apel emas yang Mama temukan." Ophilia memberi Rokuro dan Hana sebuah apel emas.


"Aku kira apel ini mengandung sesuatu di dalamnya tetapi tidak ada apapun... Hanya apel dengan warna emas?" Tanya Hana.


"Sekarang sedang musim apel emas di Yuusuatouri jadi banyak sekali yang berjatuhan di depan rumah kita..." Kata Ophilia sambil memakan apel emasnya.


"Mama akan selalu mendukung kalian ketika pertandingan di mulai, kalah atau menang adalah hal biasa, intinya kalian masih mendapatkan hal yang paling penting yaitu pengalaman." Perkataan Ophilia langsung terdengar jelas oleh Rokuro dan Hana.


***


Asriel melihat Chloe bersama Haruki datang, kedatangan Haruki membuat Asriel tercengang karena ia akhirnya bisa melihat Ayahnya yang sudah pergi lama sekali hanya untuk mengurusi Eldritch di Zuutouri.


"Ayah... Kau pulang...?" Asriel menunjukkan ekspresi yang terlihat tidak percaya, wajahnya memperlihatkan rasa senang dan rindu kepada Haruki.


"Tentu saja, sekarang adalah hari spesial untukmu bukan? Aku harus menonton anakku di turnamen yang pernah aku ikuti sebelumnya..." Haruki mulai menepuk kepala Asriel pelan-pelan.


"Syukurlah kau bisa pulang dan melihat pertandingan putramu di turnamen ini, lebih penting lagi, Asriel." Chloe menatap Asriel yang terlihat sangat senang ketika bertemu Haruki.


"Ayah untuk sekarang akan tetap tinggal dan beristirahat dari pekerjaannya, jadi kamu tahu apa yang harus kamu lakukan bukan?" Tanya Chloe dengan sebuah senyuman.


Asriel mengangguk, "Berjuang sekeras mungkin untuk meriah kemenangan, aku akan mencoba untuk tidak mengecewakan dirimu, Ayah."


"Tidak, jangan seperti itu, tidak ada hal yang harus kamu kecewakan dalam pertandingan seperti ini. Intinya bersenang-senang lah dan mengumpulkan sebanyak-banyaknya kekuatan." Haruki mengacungkan jempolnya.


Ia melihat Arata dan Shira datang mendekat hanya untuk menyambut teman lama yang tidak pernah pulang sama sekali.


"Lihat siapa yang akhirnya menunjukkan dirinya dalam waktu yang cukup lama." Ucap Arata.


"Yo, Haruki, kau terlihat lebih kuat sepertinya. Aku bisa merasakannya... Memburu Eldritch bukan lah hal yang buruk sepertinya." Kata Shira.


"Arata, Shira, sudah lama sekali. Kalian terlihat begitu berbeda dan sehat sepertinya, aku merasa bersyukur untuk memiliki kesempatan melihat putraku bertanding dan tentunya kalian."


Haruki bersama kedua temannya mulai melakukan sebuah jotos tinju, setelah itu Arata mulai menepuk punggungnya.


"Lihatlah apa yang terjadi jika Rokuro dan Asriel bertanding, apakah sejarah akan terulang kembali?"


"Ahh... Pertandingan kita sejak itu ya? Hasilnya malah seri dan itu cukup menyebalkan..."

__ADS_1


"Ehh, kalian pernah bertanding di ronde yang sama dalam turnamen permohonan?" Tanya Asriel selagi menatap Arata dan Haruki.


"Ya, hasilnya seri... Dan jika kau bertemu dengan salah satu anak Arata maka jangan mengulang hasil yang sama yaitu seri, mengerti?" Kata Haruki kepada Asriel.


"Y-Ya... Tentu saja..."


Shira melihat Shizen saat ini sedang adu jotos juga bersama putranya, kalau tidak salah kekuatan yang mereka miliki sangat membantu dan menyusahkan karena berdasarkan melalui ledakan.


"Bakuzen, apapun yang terjadi tetap gunakan ledakan sebagai solusi dalam pertandingan. Arena itu adalah hal yang biasa dan ledakanmu sudah pasti dapat menjatuhkan musuh...!" Kata Shizen.


"Ya, musuh apapun itu, mereka akan merasakan arti dari ledakan yang sebenarnya. Intinya aku ingin bisa memperlihatkan sihir ledakan kepada semua orang termasuk penonton..." Bakuzen mengepalkan kedua tinjunya.


Shizen kebetulan melihat Haruki datang menghampiri dirinya, "Seperti biasanya kau tidak akan bisa menghindari kekuatan dan kemampuan ledakan ya."


"Ohh, Haruki, kemana saja kau akhir-akhir ini? Dunia yang sudah damai ini seharusnya kau nikmati dengan menghabiskan waktu bersama keluarga." Kata Shizen.


"Aku tidak memiliki waktu untuk beristirahat karena Eldritch sendiri bisa saja menjadi ancaman alam semesta, untuk sekarang aku akan tetap di Yuusuatouri untuk beristirahat." Haruki mengangguk.


"Kapan-kapan, ajak aku untuk memburu Eldritch." Kata Arata.


"Tentu saja."


"Kita seperti mengalami perkumpulan saja ya, padahal awal kita hanya untuk menyemangati anak-anak kita." Kata Shira, ia mulai menatap Yuuna yang baru saja datang dan memberikan sebuah bekal untuk Mitsuki.


"Mitsuki, jangan sampai menyusahkan dirimu sendiri di turnamen ya, tujuan dari turnamen hanya untuk bersaing biasa dan menunjukkan kemampuan yang kamu miliki kepada seluruh penonton." Yuuna mulai mengusap kepala Mitsuki.


"Baiklah, Mama, walaupun banyak sekali lawanku yang begitu kuat. Setidaknya aku akan mencoba menggunakan sihirku untuk mengalahkan mereka..."


"...akan lebih baik lagi jika lawanku adalah teman-temanku sendiri karena sudah lama sekali aku ingin bertarung bersama mereka semua!" Mitsuki tersenyum serius.


Yuuna melihat seluruh teman-temannya saat ini sedang berkumpul, ia mulai menghampiri mereka semua lalu menyambut Haruki.


"Bagaimana perjalananmu di Zuutouri?"


Di tempat ini, mereka semua telah berkumpul dan saling berbicara seperti dulu, hanya saja mereka sudah pasti merasakan suatu kekurangan.


"Walaupun kita semua berkumpul seperti ini... Aku merasakan sebuah kekurangan." Kata Shira.


"Ahh... Dia belum pulang?" Tanya Haruki dengan tatapan terkejut.


"Korrina Comi ya...? Sepertinya belum, entah perjalanan panjang apa yang ia lakukan tetapi dia tidak pernah sekalipun memberi kabar." Kata Arata.


"Hahhhh... Semoga saja dia bisa pulang secepatnya, terasa begitu kurang tanpa seorang Legenda yang selalu membuat rencana dalam segi apapun." Ucap Shira sehingga ia kembali menuju keluarganya sendiri.


Semua orang mulai bubar untuk menghabiskan waktu bersama keluarga seperti menikmati makanan dengan pemandangan indah, bisa terlihat dari jalan masuk bahkan jalan itu sekarang telah di tutup dengan gerbang emas.


Kou yang sejak awal menantikan kedatangan Korrina mulai melihat-lihat sekitar sedangkan kedua kakaknya pergi entah kemana, mungkin mempersiapkan makanan dan piknik juga.


"... ..." Kou bisa melihat semua peserta sedang bersenang-senang bersama keluarganya terutama lagi membagi kasih sayang bersama Ayah dan Ibu.


Kebanyakan semuanya terlihat begitu indah dan menyenangkan bahkan sampai memunculkan perasaan yang begitu bahagia di dalam tubuh, Kou tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang Ayah jadi ia mencoba untuk membiarkannya saja.


Sekarang adalah waktu yang di tunggu-tunggu yaitu turnamen, sebelum di mulai Kou sudah menantikan semangat dan kasih sayang dari Korrina.


Dari pagi ia bangun awal hanya untuk bertemu dengan Korrina yang sudah bertahun-tahun tidak memberi kabar sama sekali.


Namun, setiap tempat sudah Kou periksa dan ia tidak melihat kedatangan orang tua lainnya melainkan mereka semua sudah berkumpul dengan keluarganya masing-masing.


"Mama pasti pulang kan... Hari seperti ini." Kou tersenyum polos, ia berjalan pergi mengunjungi gerbang untuk menanyakan soal Korrina.


"Permisi..." Kou mencoba untuk berbicara dengan penjaga yang saat ini sedang melihat layar virtual di hadapannya, karena Kou kecil dan memiliki suara yang pelan, penjaga itu tidak bisa mendengarnya.


Kou mulai mengendalikan pikirannya untuk melihat ke jendela sehingga penjaga itu langsung membuka pintu dan menghampiri Kou.

__ADS_1


"Ada apa, Kou Comi? Bisa ku bantu?" Tanya penjaga itu.


"Apa masih ada orang lain yang datang?" Tanya Kou dengan sebuah senyuman.


"Ahh... Bisa di lihat melalui gerbang yang sudah di tutup, semua penonton dari seluruh alam semesta telah datang dan sekarang hanya perlu menunggu sampai turnamen di mulai."


Kou terkejut ketika mendengar perkataan tersebut, itu artinya Korrina memang tidak pulang walaupun di hari pertandingan seperti ini tetapi Kou masih memiliki rasa positif di dalam dirinya.


"Umm... Mamaku, Korrina Comi... Apa tadi Mama masuk...?" Tanya Kou.


"Korrina Comi ya... Sayang sekali, awalnya aku sudah memperhatikan semua wajah penonton yang datang dan aku tidak melihat dirinya." Penjaga itu mulai mengeluarkan sebuah baju.


"Padahal aku sudah membawa baju untuk di tanda tangani oleh dirinya..." Penjaga itu menghela nafasnya, membuat hati Kou hancur seketika sehingga ia mulai merasa sangat sedih.


"Oh..." Kou yang tadinya bersemangat dan dipenuhi rasa bahagia serta senyuman penuh harapan hilang seketika menjadi kesedihan dan rasa rindu.


"Hm, kalau begitu terima kasih ya, paman..." Kou memaksa untuk tersenyum di hadapan penjaga itu lalu ia berjalan pergi menuju taman untuk mencari lagi.


"Dia kenapa...? Ahh, sudah lah." Penjaga itu menutup kembali pintu lalu melanjutkan pekerjaannya.


Kou mulai mencari Korrina lebih lanjut lagi sehingga ia terbawa suasana dengan pandangan yang dipenuhi oleh keluarga yang sedang bersenang-senang.


Dengan seorang Ayah terutama Ibu, semuanya bersama di tempat yang sama. Membuat Kou berkaca-kaca sehingga dadanya terasa sakit seketika karena tidak akan bisa merasakan hal yang sama seperti mereka.


"Mama..."


""Kou"" Terdengar suara Haruka dan Honoka dari belakang, Kou langsung mencoba kuat dan ceria seperti biasanya.


Ketika Kou menatap kedua kakaknya, ia bisa melihat Honoka sudah menghampar sebuah karpet dan menyediakan beberapa makanan juga madu untuk dirinya.


"Kakak..." Kou tiba-tiba tidak bisa tersenyum ketika melihat Haruka dan Honoka yang tersenyum khawatir kepada Kou.


"Mama tidak bisa pulang... mungkin Mama masih sibuk." Jawab Haruka, ia sudah mengetahuinya bersama Honoka sejak gerbang sudah tertutup.


Tidak ada lagi harapan, Kou langsung mencoba untuk tersenyum tetapi tidak bisa sehingga ekspresinya terlihat sangat sedih.


Tidak bisa menerimanya lagi, bertahun-tahun di tinggal dan sampai sekarang masih belum pulang, Haruka hanya bisa tersenyum melihat Kou yang mencoba sekuat mungkin untuk tetap kuat.


Tidak ada lagi pertahanan dan kekuatan untuk menahan rasa rindu itu, Kou mulai berkaca-kaca.


"Hiks..." Tidak bisa menahannya lagi Kou menangis keras dan berlari ke arah Haruka lalu memeluk dirinya sangat erat.


"HWAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHH...!!! AKU MERINDUKAN MAMAAAA....!!!" Kou terus menangis begitu keras seperti anak kecil, sebagai seorang Kakak Haruka langsung memeluk dirinya dan memberi Kou sebuah usapan di kepala.


"Sshhhh... Mama pasti pulang kok nanti, ingat lah Mama selalu berada di dalam diri kita masing-masing, menjaga..." Kedua pendengaran Haruka hanya bisa mendengar suara tangisan Kou.


"Kita masih bisa beristirahat seperti keluarga kok, kita juga sebagai kakakmu, keluarga juga." Haruka menempati dagunya di atas kepala Kou lalu ikut menangis.


Honoka mulai menghampiri Haruka dan Kou lalu memberi mereka pelukan juga, Honoka dan Haruka lebih khawatir ketika Kou terus menangis dan tidak pernah berhenti.


Suara tangisannya malah bertambah besar dan tidak terdengar oleh orang lain karena taman itu terlalu ramai, dipenuhi dengan suara kesenangan.


"Aaaaahhhhhhhhhh... Hiks.... Hwaaaahhhhhh..."


"...mamaaaaa."


"Aaaahhhhhhhhh.... Hiks... Aaaaahhhhhhhhhh...." Kou tidak bisa berhenti sama sekali.


"Kakak akan selalu di sini kok, Kou. Menemanimu..." Haruka mengeratkan pelukan.


"Kakak juga, Kou... Jadi, ayo kita makan..." Kata Honoka.


""...sebagai keluarga.""

__ADS_1


__ADS_2