
"Pagi yang cerah ya..." Kata Ako selagi menikmati secangkir teh.
"Matahari yang sangat cerah di awal musim semi ya... sungguh menyegarkan sampai aku ingin melakukan sebuah kegiatan dengan kalian semua." Kata Konomi sambil mengocek tehnya.
"Um... musim kelahiran ibuku... ngantuk sekali... bukannya musim semi adalah musim yang cocok untuk mengistirahatkan semua tubuh kita yang sudah menahan beban...?" Tanya Koizumi selagi menempati wajahnya di atas meja.
"Kakak, ayo kita lakukan sesuatu... musim semu ini adalah musim yang sangat cocok untuk menjelajahi alam, Koneko ingin melihat banyak bunga-bunga..." Shinobu mulai menggerakkan tubuh Koizumi.
"Aku masih mengantuk..." Jawab Koizumi dengan suara yang lemas, Ako baru sadar bahwa mereka sekarang hanya berjumlah empat karena kekurangannya Hinoka di tempat itu.
"Ngomong-ngomong, Nobu... Hinoka dimana ya? Biasanya dia yang paling berisik di pagi hari seperti ini." Tanya Ako.
"Ahh... Kak Hinoka kemarin malam terlalu sibuk nyanyi, sungguh menyenangkan untuk bisa mendengar Kak Hinoka menyanyikan lagu yang baru." Kata Shinobu yang sempat melewati kamar Hinoka.
"Ohh...? Bukannya itu cukup beruntung? Apakah kamu masih mengingat lirik apa yang dia nyanyikan sejak itu?" Tanya Konomi.
Shinobu mulai mengingatnya kembali selagi menyentuh bibirnya, ia mengingat liriknya tetapi nada yang keluar lumayan rumit sampai ia tidak tahu bagaimana cara untuk menyanyikannya karena suaranya tidak sama dengan Hinoka.
"Kamu tidak perlu menyanyikannya kok, jelaskan saja liriknya seperti apa karena lagu yang selalu Hinoka nyanyikan memiliki arti yang kuat..."
"...contohnya seperti cinta bagaikan ledakan yang artinya kelebihan romansa akan menyebabkan tubuhmu meledak dengan rasa malu."
"Aku yakin bukti itu yang dia maksud... aku yakin si bodoh itu hanya membuat lirik sesuai dengan kesenangannya..." Kata Koizumi yang sudah setengah tidur tetapi ia mendengar percakapan mereka.
"Anu... awalnya kalau tidak salah di mulai dengan..." Tatapan polos Shinobu membuat Konomi dan Ako yakin bahwa lirik yang ia keluarkan bisa saja berkaitan positif.
"Ahh... Ahh... Ahh... Sungguh nikmat... jadi inilah cinta... sebuah cinta yang melebihi kenikmatan... ahh... ahh... ahh..." Dengan polosnya Shinobu mengatakan sesuatu yang langsung membuat pikiran ketiga gadis itu hancur karena Hinoka sebenarnya tidak menyanyi.
Shinobu juga mengatakannya dengan pelan selagi memegang bibirnya dengan jari, mencoba untuk mengingat lirik apa saja yang Hinoka sebutkan sampai menyebutkannya serta per satu dengan tatapan polos.
"Ahhhh... aku akan muncrat... getaran cinta ini... aku tidak bisa menahan---" Koizumi langsung menutup bibir Shinobu seketika selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat mual.
Konomi dan Ako juga menyembur teh yang baru saja mereka minum karena ia tidak tahu kebenaran di balik lirik itu sehingga Shinobu mulai memiringkan kepalanya.
"Itu... itu bukan lagu, Shinobu... tidak pantas dijadikan sebagai lagu..." Kata Koizumi.
"Fueh? Koneko sudah suka dengan bagian awalan yang ah itu... tetapi opini dan selera orang berbeda-beda sih." Kata Shinobu yang mulai meminta Cyber untuk membersihkan meja yang basah.
"Kenapa Konomi dan Ako juga terlihat kaget?"
"Tidak apa-apa... kami hanya kaget dengan..." Konomi mulai melihat Ako yang sedang memberikan dirinya kode untuk tidak mengatakan Shinobu yang mengaitkan dirinya dengan anak kecil atau ia akan menangis.
Konomi juga bisa melihat Koizumi menggelengkan kepalanya, "Ahh... mungkin lagu itu memang tidak bisa aku terima dengan mudah, aku kurang menyukainya."
__ADS_1
"Hehh... begitu ya---"
"Selamat pagi~" Teriak Hinoka keras yang mulai menyambut mereka dengan beberapa tarian sampai mengejutkan mereka semua kecuali Shinobu yang langsung bertepuk tangan.
"Wahh~ acara di pagi hari ya~"
"Hinoka...!!! Pakaianmu itu...!" Kata Konomi selagi menutup kedua matanya karena dirinya dengan tubuh telanjang masuk ke dalam ruang tamu dengan melakukan tarian.
"Ya~ aku telanjang~ di musim semi seperti ini rasanya sangat panas sampai aku tidak bisa tidur mengenakan piamaku sendiri~"
"Kau tidak memiliki pendirian 'kah? Aku tahu kita ini sesama jenis tetapi telanjang bulat seperti itu di hadapan kita menunjukkan urat malumu yang sudah putus!" Ucap Ako.
"Dia memang sudah seperti ini sejak kecil... apa mungkin memang tidak memiliki urat malu sampai sikapnya sangat menyebalkan." Kata Koizumi yang langsung menyerang kening Hinoka menggunakan karet.
"Awwwweee... tidak perlu malu untuk telanjang bulat, kalian ini bersikap terlalu kekanak-kanakan sampai Koneko sendiri terlihat seperti menikmatinya~" Hinoka mengulurkan kedua lengannya kepada Shinobu.
Shinobu awalnya terlihat senang ketika Hinoka menari tetapi hidungnya langsung mencium aroma yang kuat, hampir mirip seperti air kencing sehingga kedua tangannya secara refleks menutup hidung dan mulutnya sendiri.
"Kakak... bau sekali..." Kata Shinobu sambil memasang tatapan yang tidak suka.
"Hehhhh!? Kenapa Koneko jadi kejam seperti itu...?!"
"Habisnya Kakak bau... bau air kencing... Kakak tidak kencing selagi tidur 'kan?" Tanya Shinobu yang kembali memasang tatapan polos sehingga ketiga gadis lainnya memasang tatapan kaget.
Menggabungkan bau yang ia maksud tadi amis serta dengan lirik baru yang Shinobu sebutkan ternyata adalah kesalahan, Koizumi langsung bangkit dari kursi lalu memegang erat kedua bahunya.
"Aku lupa Koneko bisa mencium apapun dengan penciuman kuat itu... seharusnya aku tidak datang sebelum mandi." Hinoka terkekeh lalu mendorong Koizumi mundur untuk lari ke dalam kamar mandi.
"Si bodoh itu...!!!" Koizumi memegang erat kedua tinjunya selagi memasang tatapan kesal karena sepupunya memang bisa disebut sangat mesum di masa pubertasnya.
"Hehhh... Koneko tidak mengerti dengan musim semi, kenapa kalian bertingkah aneh?" Tanya Shinobu yang mulai mencicipi camilan selagi mengagetkan ekornya.
"Ma... mari kita bahas yang lain saja..." Konomi mencoba untuk membahas topik lain agar masalah soal Hinoka bisa dilupakan secepat mungkin oleh Shinobu yang mudah merasa penasaran.
***
"Kemah? Di atas gunung...? Uhh~ sepertinya menarik~" Ucap Hinoka yang menyetujui rencana Konomi dan Ako soal kemah di atas gunung yang tinggi agar bisa menikmati pemandangan.
"Benarkan? Musim semi seperti ini kita pasti bisa melihat banyak sekali bunga bermekaran dengan matahari yang terbit dari timur!" Kata Konomi.
"Kita juga bisa menikmati secangkir teh hangat pada pukul lima pagi untuk melihat terbitnya matahari!"
"Mm~ Koneko setuju, ayo kita ke gunung~ hari libur di musim semi sangat cocok untuk dihabiskan dengan sesuatu yang menyenangkan dan menghibur seperti kemah!"
__ADS_1
"Kalian terlihat senang seperti itu... aku jadi merasa bersalah jika menolak begitu saja..." Kata Koizumi yang masih menutup wajahnya di atas bantal.
"Siapa yang mau ikut ke atas gunung dan melakukan kemah!?" Tanya Konomi sehingga mereka semua mengacung lalu merencanakan berkemah pada siang hari besok agar sekarang mereka bisa mempersiapkan semuanya.
"Mungkin untuk membuat semuanya menarik... bagaimana kalau kita menanjak gunung secara alam tanpa mengandalkan yang namanya kekuatan atau terbang?"
"Hoh~ menarik...! Koneko ingin hidup layaknya seperti manusia bertahan hidup dalam keadaan apapun!" Seru Shinobu selagi mengacungkan kedua lengannya.
"Yah, aku tidak perlu protes sih... lagi pula hal seperti itu memang akan membuat semuanya lebih menyenangkan terutama lagi membuat api unggun tanpa kekuatan." Ucap Konomi.
"Kalau begitu kita hanya perlu bersenang-senang bersama dan membuat sebanyak-banyaknya kenangan ya~"
"Kalau begitu ayo kita mempersiapkan semuanya sekarang untuk berkemah!!!" Seru Hinoka keras dengan penuh semangat sampai mereka setuju tetapi Koizumi tidak membalas karena sudah tertidur.
Mereka semua merancang rencana pendek yang cukup untuk dimengerti, intinya mereka semua memiliki peraturan tersendiri untuk tidak mengandalkan yang namanya Lenergy atau kekuatan.
Untuk membuat semuanya terasa menyenangkan, mereka ingin bisa bertahan hidup secara alami agar bisa mendapatkan perasaan baru berkemah di gunung dengan usaha sendiri tanpa yang namanya sihir atau tenaga.
Shinobu sudah merencanakan lokasinya, dan ternyata mereka cukup terkejut karena gunung di Yuusuatouri lumayan kecil dan rata-rata sudah hancur sehingga sebagiannya juga penuh dengan monster.
"Bagaimana kalau di bumi...? Banyak sekali gunung yang aman di planet bumi bukan?" Tanya Shinobu sampai mereka mengacungkan jempolnya bahwa berkemah di tempat manusia mungkin akan berjalan baik.
"Indonesia?" Saran Hinoka.
"Indonesia?" Shinobu memiringkan kepalanya sampai ia mengerti apa yang Hinoka coba maksud.
"Ahh! Kak Hinoka juga menginginkan hal yang misteri, mistis, dan menyeramkan dalam kemah kita ya?"
"Heh? Apa maksudnya itu?" Tanya Konomi.
"Gunung-gunung di negara Indonesia katanya penuh dengan misteri dan hal mistis sampai banyak sekali dongeng Legenda di dalamnya..."
"...kalau Koneko sih ingin-ingin saja asalkan kita semua bersama-sama~" Shinobu tersenyum cukup cerah sampai menyebabkan Konomi dan Ako langsung menutup kepala mereka.
Tidak bisa menolak lokasi kemah itu selain menerimanya ketika melihat Hinoka dan Shinobu mulai melakukan tepukan tapak sedangkan Koizumi yang masih tertidur dan membiarkan mereka merencanakannya sendiri.
Dalam satu hari mereka sudah membeli banyak sekali peralatan untuk berkemah dan menanjak gunung di Indonesia.
Satu hari kemudian, mereka semua berkumpul di hadapan gunung yang sangat tinggi dengan pemandangan indah, "Aku baru saja sadar soal Indonesia..."
"Ahh, soal itu mungkin kita harus menggunakan jalan pintas yaitu sihir tumbuhanku." Kata Shinobu selagi menunjukkan jarinya yang bersinar emas.
"Apa-apaan ini... kita akan berkemah di atas gunung Indonesia, memangnya itu pilihan yang baik?" Tanya Koizumi yang melihat Shinobu sedang memegang erat beliung selagi mengenakan pakaian untuk menanjak gunung.
__ADS_1
"Ayo kita menanjak!!!" Seru Hinoka keras.
""Ayo...!!!""