
"Me-Megumi...? Apakah itu dirimu?" Tanya Ophilia dengan tatapan kaget karena ia bisa merasakan sesuatu yang begitu berbeda di dalam tubuhnya.
"Iya... bertahun-tahun aku berlatih untuk mengembalikan semangat bertarungku, akhirnya aku telah kembali menjadi seorang petarung." Megumi mengepalkan kedua tinjunya.
"Ngomong-ngomong... aku ketinggalan apa...? Sesuatu yang buruk terjadi?" Tanya Megumi karena ia bisa melihat ekspresi mereka terlihat begitu murka dan murung.
"Begini, Megumi..."
Mereka mulai menjelaskan tentang insiden kematian Honoka yang di serang oleh seorang Legenda bertanduk, untuk sekarang identitas mereka masih belum di ketahui tetapi Honoka sempat memberikan sebuah tanda [666].
Megumi mendengar semua cerita itu sampai tamat, ia terlihat begitu kaget karena teman baik Minami telah gugur juga sehingga dirinya merasa bersalah karena tidak datang dalam waktu yang begitu tepat untuk menghentikan kerajaan Legetsu.
"Maaf..." Megumi mengatakannya dengan tatapan yang begitu sedih sampai ia menyimpan rasa dendam yang begitu besar juga kepada setiap raja Legenda.
"Kamu tidak perlu meminta maaf, Megumi. Kita juga tidak sempat datang untuk menyelamatkan, Honoka." Jawab Arata.
"Itu benar... semuanya sedang sibuk mengurusi pekerjaannya sebagai seorang pemberontak dalam membasmi bangsa Legenda yang mencoba untuk merugikan satu sama lain." Kata Haruki.
"Jika kita tadi sempat datang secara bersamaan, kemungkinan besar Legenda bertanduk itu bisa saja membunuh kita dalam waktu yang dekat..." Ucap Shizen.
Megumi berjalan melewati mereka untuk makam Honoka, ia sempat melihat ketiga sepupu sedang memetik beberapa bunga untuk kuburan Honoka yang saat ini dipenuhi kelopak bunga Crimson.
Shinobu melihat Megumi, dan ia langsung tersenyum ketika melihat Neneknya telah keluar dari kuil cahaya itu, "Ne-Nenek!"
"Shinobu..." Megumi berlutut di atas tanah lalu melebarkan kedua lengannya sehingga Shinobu melompat kepada dirinya lalu memeluknya erat.
"Kamu sudah tumbuh lumayan besar ya... aku tidak menyangka tinggimu juga sudah setinggi ini." Megumi mengelus kepala Shinobu, dan ia bisa melihat ukuran tubuhnya akan menandingi dirinya.
"Neneknya Shinobu ya...? Selamat siang!" Hinoka menghampiri Megumi lalu ia menundukkan kepalanya, memperlakukan Megumi seperti ratu.
"Hehehe, kamu tidak perlu menundukkan kepalamu seperti itu jika ingin menyambut diriku." Megumi mengelus kepala Hinoka.
"Selamat siang, Megumi... apakah proses latihan di dalam kuil cahaya itu cukup menyenangkan?" Tanya Koizumi yang mengetahui dirinya sebagai istri dari sang Legenda legendaris Shira.
"Ohh~ Koizumi, kamu juga sudah tumbuh sepertinya bersama Hinoka." Megumi berdiri lalu ia mulai mendekati kuburan Honoka untuk memberi rasa hormatnya.
"Terima kasih karena sudah berjuang selama kehidupanmu berjalan, Honoka... aku harap kamu bisa menyampaikan pesanku kepada Minami bahwa aku menyayangi dirinya." Megumi menundukkan kepalanya lalu ia mengubah pir di atas batu nisan itu menjadi pir emas
Megumi menatap Hinoka, "Mari kita menikmati manisan."
Hinoka dan Shinobu memasang tatapan yang terlihat sangat senang karena mereka mendapatkan izin untuk memakan manisan yang berjumlah banyak oleh Megumi.
""Ayo!!!""
Koizumi hanya bisa memasang tatapan datar karena ia tidak begitu suka dengan manisan, mungkin sudah terbiasa memakan sesuatu yang asin seperti kentang goreng.
"Ahh... kalau tidak salah kamu sangat menyukainya kentang goreng ya, Koizumi? Kalau begitu mau kentang goreng panjang dengan saus keju?!"
"Heh!? Boleh...!" Kata Koizumi dengan tatapan yang terlihat senang bahkan bibirnya mulai berliur ketika mendengar kentang goreng di campur dengan saus keju.
"Hahaha, Koizumi memang tidak jauh dari kentang goreng... Itulah kenapa kamu selalu bersikap asin." Hinoka mulai menertawai Koizumi.
"Apa maksudnya itu...? Sikap asin...?" Tanya Shinobu selagi memiringkan kepalanya.
"Jangan dengarkan sepupumu yang aneh ini, Koneko. Nanti kamu akan mengatakan hal yang aneh sepertinya..." Jawab Koizumi sambil menarik lengan Shinobu.
"Hehhhhh! Tuhkan, asin! Sikapnya asin!" Hinoka menunjuk Koizumi.
Megumi tersenyum melihat ketiga sepupu itu saling membagi kebahagiaan mereka masing-masing di masa kerajaan seperti ini yang dipenuhi dengan peperangan dan darah yang berjatuhan.
Untuk sekarang, biarkanlah mereka merasakan masa kecil yang dipenuhi rasa bahagia. Dalam waktu beberapa tahun yang akan datang, mereka akan menjadi Legenda pemberontak selanjutnya.
__ADS_1
***
Megumi bersama yang lainnya mulai berkumpul di dalam restoran Shimatsu yang saat ini tutup karena mengadakan rapat penting soal Legenda bertanduk itu dengan pesan yang Honoka maksud.
"Tadi aku sempat melihat angka 666 di sebelah Honoka... ia menulisnya menggunakannya darahnya sendiri sebagai pesan." Ucap Haruka.
"Angka 666...? Apa yang ia coba maksud...?" Tanya Haruka selagi memegang dagunya.
"Jika kerajaan Legetsu sudah merugikan beberapa pihak dengan melakukan serangan mendadak seperti itu maka hari ini... hari ini dan sekarang juga, kita hancurkan!" Seru Shizen dengan tatapan kesal.
"Kita harus menahannya dulu, Shizen! Tiga Ancient Legenda saja sudah cukup menyulitkan untuk kita lawan... jika kita menyerang langsung maka apa yang kita dapatkan hanya kematian." Jawab Arata.
"Arwah sudah mulai beterbangan lagi dari arah timur dan barat..." Peringat Yuuna yang bisa mendengarkan jeritan bangsa Legenda yang mati.
"Mereka sudah pasti turun tangan lagi, sialan...!" Rokuro menghantam meja dengan tatapan kesal, pemberontakan yang ia lakukan bersama temannya masih belum cukup.
"Masalah yang sebenarnya adalah... bukan hanya kerajaan Legetsu yang menjadi masalah, masih banyak kerajaan dan ras lain yang menganggap kita sebagai inti masalah." Megumi mulai berbicara.
Mereka menatap dirinya, "Apa yang kamu ketahui soal ras lain yang menganggap Legenda seperti itu?"
"Sejak aku kecil... Legenda memang di anggap sebagai inti dari masalah karena bangsa kita tidak akan pernah bisa melanjutkan kehidupan jika tidak mencatat sejarah atau mitos yang baru."
"Itulah kenapa kita di namakan sebagai ras Legenda... seorang petarung bertampang manusia dengan kemampuan yang tak terbatas untuk menciptakan mitos dan sejarah..."
"...semua itu akan tetap di tulis karena kita bangsa Legenda memang tidak bisa mati karena generasi ke generasi akan terus maju sampai seluruh alam semesta dan Origin itu sendiri hancur."
""Origin?""
"Origin adalah inti dari semua dunia dan dimensi.. jika Origin hancur maka semua hal akan hilang termasuk dunia paralel yang berbeda-beda." Jawab Haruka.
"Origin tidak bisa hancur... karena sudah di lindungi oleh sesuatu yang begitu tebal bahkan aku sendiri tidak tahu apa."
"Legenda yang bisa melakukan apapun jika mereka mau berusaha dan mencari jalan yang mereka inginkan..." Haruka memunculkan beberapa kubus waktu untuk menjelaskan sesuatu.
"Legenda sudah berada di setiap dunia paralel, dimensi, masa alternatif, dan lain-lain." Haruka mulai mengangkat kubus waktu yang besar di paling tengah.
"Misalnya ini adalah inti dari dunia kita yang asli---"
"Haruka, bisakah aku memotong pembicaraanmu sebentar?" Tanya Haruki yang mulai mengacungkan tangannya.
"Apa ada yang perlu kau pertanyakan?" Tanya Haruka.
"Masa alternatif itu... bukankah yang kau maksud ketika kita misalnya mengubah masa lalu maka masa lalu itu akan memiliki masa depan yang berbeda?"
"Itu benar... jadi seperti ini, kita ambil saja kubus yang berada di inti kubus atau inti semesta kita." Haruka mengambil kubus kecil ini.
"Coba kita ingatkan kembali yang terjadi pada masa lalu... semisalnya jika Mamaku tidak pergi menuju dunia yang begitu jauh."
"Ini adalah masanya... masa alternatif dimana Mamaku tidak pergi sama sekali, apa takdir yang dimiliki di dalamnya? Penuh dengan kebahagiaan di awal."
Mereka semua terkejut ketika mendengarnya, ternyata masih banyak dunia, dimensi, dan masa yang belum pernah mereka ketahui sampai pengetahuan mereka bertambah semakin luas.
"Apakah ada masa dimana hanya terdapat kebahagiaan saja?" Tanya Yuuna.
"Ada... dan masa itu bisa bilang sebagai masa kebahagiaan yang tidak menyebabkan konflik apapun, hanya saja itu tidak seimbang."
"Biasanya jika terus seperti itu maka konflik yang lebih besar akan datang sampai mereka tidak sanggup untuk menandinginya." Haruka mulai menyentuh inti kubus itu yang menunjukkan setengah cahaya dan kegelapan.
"Dunia ini disebut sebagai dunia asli... inti dari segalanya, bukan termasuk palsu atau alternatif karena keseimbangan antara kebaikan dan keburukan bahkan sang pencipta terus melirik dunia kita."
"Apa yang terjadi jika dunia asli atau inti itu hancur?" Tanya Shizen.
__ADS_1
"Hancur sudah... tanpa menyisakan apapun sehingga julukan dari dunia asli itu akan berpindah ke dunia yang berbeda seperti alternatif dan palsu."
Mereka semua tercengang ketika mendengarnya, "Kalian harus tahu bahwa masa dan dimensi akan terus menciptakan sesuatu yang baru... satu hari saja sudah menciptakan jutaan dimensi dan dunia yang berbeda!"
"Intinya... semuanya tak terbatas, itulah kenapa kita harus bersyukur hidup di dunia asli yang masih kita lindungi dari kehancuran atau kita yang akan di hapus dari eksistensi." Haruka menghilangkan semua kubus itu.
"Dunia begitu luas... memang tidak terbatas, aku sudah mengetahuinya tetapi mendapatkan penjelasan seperti itu... membuatku merasa sedikit ketakutan." Kata Arata.
"Ehem... apakah aku bisa mengganggu sebentar soal pembahasan dunia yang tak terbatas itu?" Kuro mulai mengambil alih tubuh Arata.
"Suara itu... Kuro ya...?" Haruki sudah mengetahui suaranya karena pernah seharian berada di dalam perut Bamushigaru.
"Sepertinya kau memang sudah terbiasa dengan suaraku, kalah begitu langsung saja kepada intinya soal angka itu." Ucap Kuro dengan tatapan yang terlihat serius karena ia sudah mengetahui arti di balik angka tersebut.
"Dulu sekali... aku memiliki seseorang yang ku kenal dekat, dia sangat kuat bahkan tidak ada siapa pun yang mengalahkan dirinya kecuali seorang Legenda dengan sihir cahayanya itu."
Mereka semua tercengang ketika mendengar, jika berkaitan dengan cahaya maka keturunan Shiratori pasti penyebab dari kekalahan orang yang di maksud oleh Kuro.
"Angka 666 itu cukup terkutuk... khusus untuk Iblis, aku sendiri tidak menyangka kenapa dia bisa hidup di era seperti ini..."
"...Legenda bertanduk yang membunuh Honoka Comi adalah..."
"...raja iblis..."
"...Diablo."
Perkataan Kuro mengejutkan mereka semua bahkan Haruka sendiri langsung memasang tatapan yang terlihat ketakutan karena ia mengenal jelas siapa Diablo sebenarnya.
Tidak ada satu pun orang di dalam ruangan itu memasang tatapan serius melainkan ketakutan dan kaget bahkan tubuh mereka sampai bergetar sedikit oleh namanya saja.
"D-Diablo...? Bagaimana bisa dia hidup kembali...?! Lebih buruknya lagi... dia bahkan memiliki tubuh Ancient Legend."
"Aku juga sama terkejut dan takutnya seperti kalian." Kata Kuro karena ia juga mengenal Diablo cukup dekat sampai iblis mengerikan seperti darinya telah bangkit kembali.
"Haruka, kau sendiri bahkan terlihat ketakutan... itu cukup langka." Rokuro melihat wajah istrinya terlihat begitu ketakutan.
"Ya, itu karena Diablo memiliki senjata yang mengabaikan alasan apapun, dengan tongkat yang bernama Founder's Origin dia dapat mengakhiri apapun dalam sekejap."
"Tubuh Mortal ini tentunya akan merasa ketakutan... tetapi jika aku adukan dengan Heaven, aku tidak begitu mengetahui alasannya dengan jelas." Kata Haruka yang terlihat khawatir.
"Founder's Origin...?" Tanya Haruki.
"Apakah lebih kuat dari Omni-Slayer?"
"Omni-Slayer sama kuatnya, hanya saja memerlukan perlakuan khusus yang layak untuk memegang senjata tersebut." Haruka mengalihkan pandangannya kepada Kou.
"Omni-Slayer yang aku miliki telah di hancurkan untuk menciptakan Keris yang mendapatkan gabungan dari semua senjata itu..."
Kou menatap Haruka lalu ia mengangkat lengan kanannya untuk menarik Keris itu yang langsung ia genggam dengan erat, "Potensi dari Keris ini masih belum aku ketahui..."
"...hanya saja, luka yang di sebabkan akan berakhir fatal sampai tidak bisa di sembuhkan atas niat pengguna." Kou menusuk dirinya dengan Keris itu tetapi ia tidak mendapatkan luka apapun.
"Masih membutuhkan proses yang cukup panjang karena fisikku yang lemah ini, itulah kenapa ketika Shinobu sudah besar, aku akan mewariskannya." Kou memasukkan Keris itu ke dalam sarungnya.
"Terus... apa yang harus kita lakukan sekarang? Melakukan serangan?" Tanya Arata dengan tatapan serius.
Mereka semua langsung menatap Kou karena hanya dirinya saja yang dapat merancang rencana dengan baik dan sempurna, "Untuk sekarang..."
"...kita hindari dulu iblis yang bernama..."
"...Diablo."
__ADS_1