
"Terima kasih, tante, karena sudah membiarkan makan di sini." Hinoka terkekeh selagi menikmati makanan daging panggang yang di sediakan oleh Haruka.
"Tidak perlu berterima kasih, kamu bebas untuk datang kapan pun kok... di rumah pasti kamu selalu di sediakan makanan cepat saji oleh Papamu ya...?" Tanya Haruka.
"Mm! Hampir setiap aku makan sereal..." Hinoka menikmati makanannya dengan tatapan yang begitu ceria sampai meninggalkan sebuah luka di dalam hati Haruka.
Mungkin Hinoka tidak bisa menikmati makanan seenak ini karena Honoka yang tidak lagi bersama dirinya, dia masih bisa bersikap kuat dan menerima makanan apapun tanpa pilih-pilih.
Koizumi hanya bisa diam selagi memperhatikan Hinoka yang begitu bahagia, ia juga memiliki rasa malang untuk sepupunya yang di tinggal oleh seorang Ibu, sesosok orang tua yang seharusnya menjaga putrinya sampai besar.
"Koizumi, kenapa kamu melamun?" Tanya Hinoka.
"A-Ahh... tidak apa-apa, hanya memikirkan sesuatu yang tidak begitu penting." Koizumi kembali mengangkat mangkuk berisi kentang goreng lalu memakannya pelan-pelan.
Satu per satu selagi memikirkan kondisi Hinoka yang begitu malang, Hinoka hanya bisa tersenyum di sebelah Koizumi selagi menikmati makanan yang baru ia rasakan akhir-akhir ini.
"Koizumi! Makan sayuran dan nasimu itu...!" Perintah Haruka dengan tegas, ia melihat Koizumi terus memakan kentang gorengnya sedangkan makanan yang lain di biarkan begitu saja.
"Ahh iya..." Koizumi mulai mengambil sendok lalu memakan nasi dan daging panggang itu.
"Koizumi di marahi." Hinoka terkekeh.
"Berisik." Koizumi melihat pipi dan bibirnya dipenuhi dengan sisa nasi bahkan ia juga melihat bibirnya dipenuhi dengan saus pedas.
"Hei, kamu makan sampai blepotan seperti itu, astaga..." Koizumi mengambil sebuah tisu lalu mengusap bibir Hinoka selagi mengambil sisa nasi itu untuk ia makan.
Haruka tersenyum lembut melihat kedua sepupu di hadapannya selalu akur dan bersikap manis melebihi gula sampai hatinya tidak bisa menahannya.
"Seharusnya kau lebih memperhatikan tentang dirimu itu, dasar bodoh." Koizumi mengatakannya dengan pipi yang memerah lalu ia menyelesaikan makan siangnya.
"Setelah ini, ayo kita mengajak yang lainnya... aku tidak memiliki niat untuk berlatih lagi karena tubuh yang masih terasa pegal." Koizumi menggerakkan leher dan lengannya beberapa kali.
"Ayooo~"
***
"Hati-hati~ Jangan pulang terlalu malam ya!" Haruka melambaikan tangannya kepada Koizumi dan Hinoka yang berjalan pergi untuk mengunjungi kabin Kou.
"Apakah kamu sudah memikirkan sesuatu?" Tanya Koizumi.
"Hmm... main apa ya..." Hinoka mulai berpikir selagi memegang dagunya itu.
"Jangan terlalu memaksakan dirimu sendiri... kepalamu bisa saja pusing jika tidak bisa memikirkan sesuatu yang kau inginkan." Koizumi mulai menahan tubuh Hinoka karena ia melihat beberapa kesatria mulai bergerak dengan kuda yang mereka tunggangi.
"Oh lihat! Kuda!" Hinoka menunjuk kuda yang melewati dirinya.
"Aku sudah melihatnya..."
"Mari kita menunggangi kuda!"
"Memangnya kamu memiliki seekor kuda yang mau untuk mengangkat tubuh kecilmu ini?"
"Kamu kudanya---" Koizumi menepuk kepala Hinoka pelan.
"Mustahil."
"Hehehe, kamu pasti sebenarnya ingin bukan? Terdapat keinginan yang besar di dalam hati itu..." Hinoka tersenyum dengan jahil sehingga Koizumi mulai menyentuh keningnya.
"Aku tidak begitu tertarik menunggangi kuda, lebih baik terbang dan melihat langit-langit dari jarak yang begitu dekat..."
"Enaknya... Koizumi bisa terbangkan sedangkan diriku tidak bisa, padahal aku ingin melihat langit-langit yang begitu biru dari jarak dekat." Hinoka menatap ke atas langit lalu mengulurkan kedua lengannya ke atas.
"Sayang sekali ya... mungkin aku akan mengajari dirimu cara untuk terbang."
"Sekarang?!"
"Tunda dulu, punggungku hari ini terasa begitu pegal."
"Buuuuu..."
"Buuu... apanya? Bisakah kau bersikap lebih sabar lagi?" Koizumi mulai meraih tangan Hinoka untuk melewati hutan di hadapannya yang dipenuhi dengan pepohonan.
Koizumi mencoba untuk memegang tangannya agar Hinoka tidak tersesat, ia hampir setiap hari berkeliaran tanpa jeda apapun, diam saja tidak bisa.
__ADS_1
"Kalau tidak salah, kamu pernah melompat cukup tinggi dengan mengeluarkan ledakan melalui tapak tanganmu itu bukan?" Tanya Koizumi.
"Oh itu! Yup, jika saja Mamamu tadi menyediakan lebih banyak cabai maka kekuatanku akan bertambah lebih kuat lagi sampai bisa menyebabkan diriku terlempar ke atas langit dengan ledakan itu."
"Cabai...? Kau bertambah kuat hanya dengan memakan hal pedas seperti itu?"
"Tidak~ Aku hanya menyukai cabai, terasa begitu pedas tetapi bagi perutku itu terasa begitu hangat."
Koizumi memasang tatapan yang terlihat kaget, setiap keturunan Comi pasti akan memiliki kesukaan terhadap sebuah makanan tetapi Hinoka memiliki selera yang sangat aneh untuk menyukai cabai terlalu berlebihan.
"Apakah kamu tidak sakit perut ketika memakan cabai terlalu berlebihan...?" Tanya Koizumi.
"Tidak, justru tubuhku terasa hangat ketika memakannya. Mungkin aku ini memang terlalu beda dan imut~ Te-he~" Hinoka melakukan gaya damai di hadapan Koizumi.
"Kau pede banget ya..." Jawab Koizumi dengan tatapan datar.
"Buuuuu...! Ekspresi apa itu?! Kamu pasti mengejek diriku secara tidak langsung bukan...!?" Hinoka mengembungkan pipinya sehingga Koizumi mulai mencubitnya.
"Ayolah, jika kita terlalu lama di hutan ini bisa saja monster yang muncul akan menderita." Seru Koizumi yang mulai melanjutkan perjalanannya bersama Hinoka.
"Siap, kapten!"
***
Koizumi dan Hinoka baru saja sampai di hadapan kabin yang terlihat begitu tua, mereka sempat melihat Kou yang sedang menanam beberapa tumbuhan di luar selagi memberi makan hewan ternak.
""Permisi!""
Kou mendengar suara mereka, ia menoleh ke belakang lalu tersenyum melihat kedua pengunjung itu ternyata sepupu Shinobu yang datang untuk melihatnya.
"Wah, wah, selamat datang~ Apakah kalian datang untuk mengunjungi Koneko?" Kou mendekati mereka.
"Hm! Apakah Koneko kecil ada?!" Tanya Hinoka.
"Tentunya ada, dia selalu menghabiskan waktunya di dalam ruangan bawah tanah, ayo, biar Tante antar." Kou menghampiri kabinnya.
"Tinggimu sudah setingkat dengan Tante Kou loh..." Kata Hinoka yang sempat melihat tinggi Kou dan Koizumi terlihat begitu sama sehingga Koizumi bisa saja menyusul dirinya di umur 6 tahun.
"Oi! Kamu terlalu keras...!" Koizumi menyentil kening Hinoka.
"Tante, tolong maafkan sepupuku ini karena sudah mengatakan sesuatu yang tidak pantas!" Kata Koizumi selagi menatap Kou yang tertawa.
"Aku tidak keberatan kok, justru hebat untukmu, Koizumi. Sebentar lagi kamu akan tumbuh tinggi seperti Ayahmu." Kou membuka pintu kabin.
"Ahh... iya, kemungkinan besar aku mendapatkan keturunan dari Ayah soal ketinggian." Koizumi menatap kedua tapaknya.
"Hinoka, ternyata cabai itu juga membuat mulutmu terasa begitu pedas secara tidak langsung." Kata Koizumi dengan tatapan datar.
"Te-he~"
"Aku tidak memuji dirimu, bodoh." Koizumi terkekeh pelan ketika melihat wajah konyol Hinoka.
Mereka berdua melihat Kou menekan sebuah tombol yang menyediakan tangga menuju ruangan bawah tanah, "Silakan, Tante ingin mengurusi hewan ternak itu ya."
"Tante! Tante! Apakah sapi tadi sudah siap mengeluarkan susu?!" Tanya Hinoka.
"Belum, kalau sudah menghasilkan susu segar, nanti Tante berikan kok." Kou mengelus kepala mereka lalu ia berjalan pergi untuk memberi makan semua hewan ternaknya.
Mereka dikejutkan dengan banyak sekali teknologi canggih di sekelilingnya ruangan bawah tanah bahkan Koizumi melihat banyak sekali buku dan kertas berserakan.
"Tempat ini berantakan sekali... sepertinya Koneko kesulitan untuk menulis jurnal itu." Koizumi mulai mengambil kertas yang sudah kotor itu, ia sempat melihat tulisan Koneko yang begitu rapi.
"Koneko! Koneko! Koneko! Ayo bermain...!!!" Seru Hinoka keras sampai Shinobu yang sedang membaca langsung kaget dan panik ketika mendengar suara Hinoka.
Shinobu mulai bersembunyi di balik kipas angin, Koizumi merasakan keberadaan Shinobu yang berada di perpustakaan, mereka masuk ke dalam ruangan itu lalu melihat banyak sekali tumpukan buku.
"Banyak sekali buku..." Koizumi melihat tumpukan buku itu berjumlah sebanyak 20.
"Bagaimana bisa Shinobu menata semuanya begitu rapi? Tubuhnya bahkan lebih kecil darimu..."
"Aku tidak kecil!"
"Ya, terserah... kecil." Koizumi tersenyum jahil.
__ADS_1
"Buuuuu...!"
Mereka mencoba untuk mencari Shinobu yang sedang sembunyi, Koizumi sudah melihatnya tetapi ia membiarkan Hinoka untuk mencari dirinya agar Shinobu bisa bersikap biasa saja di hadapan Hinoka.
Shinobu masih merasa takut dan malu di hadapan Hinoka yang terlalu bersemangat, mungkin hanya Koizumi yang ia anggap nyaman bagi dirinya sampai Shinobu hampir berbicara sedikit normal dengannya.
"Aku menemukan dirimu! Konekooo~" Hinoka menunjuk Shinobu yang bersembunyi di balik kipas angin.
"Eeeppp...!" Shinobu mengeluarkan suara imut ketika terkejut.
"Aku sungguh terkejut melihat dirimu dapat menemukannya, biasanya kau akan melakukan tebakan salah." Kata Koizumi.
"Te-he~ Jangan meremehkan diriku, Koizumi! Mata ini... mata ini melihat keimutan yang tidak dapat di kalahkan oleh siapa pun!" Hinoka menyipitkan kedua matanya untuk melihat Shinobu yang mulai berdiri.
"H-Halo..." Shinobu mulai menyambut mereka dengan ekspresi yang gugup.
"Imut sekali...!!! Aku ingin cubit!!!" Hinoka mendekati Shinobu tetapi Koizumi mulai menahannya karena ia bisa saja menjerit keras karena menerima serangan pelukan mendadak.
"Koneko, apa yang sedang kamu lakukan akhir-akhir ini? Belajar?" Tanya Koizumi.
"Hm! Belajar... berlatih... menciptakan... banyak sekali...! Aku bahkan sudah menciptakan kedua lengan baru ini!" Shinobu menunjukkan kedua lengan barunya itu yang terlihat begitu mengilat.
"Hebat, kerja bagus, Koneko." Koizumi tersenyum.
Hinoka mendekat sedikit demi sedikit sampai Shinobu merasakan sebuah bahaya mendekat, ia melihat Hinoka berada di jarak yang begitu dekat selagi mengeluarkan sesuatu dari dalam roknya.
"Koneko~ Mau~?" Tanya Hinoka selagi menawarkan sebuah manisan yang bernama karamel dan marshmallow.
Ekspresi Shinobu berubah drastis seketika, wajahnya dipenuhi rasa kebahagiaan bahkan mata buatannya menunjukkan lambang hati yang berbinar-binar bahwa ia sangat menyukai kedua manisan itu.
"Wah..." Shinobu mendekati Hinoka, umpan seperti itu ternyata cukup efektif untuk menghilangkan rasa takut, gugup, dan malu Shinobu agar bisa mendekat.
"Jika seperti ini gawat jadinya... seorang pedofil dapat memancing Shinobu dengan mudah menggunakan karamel dan marshmallow." Ungkap Koizumi dengan tatapan serius.
Shinobu mencoba untuk mengambil kedua manisan itu tetapi Hinoka mundur untuk memancing dirinya lebih dekat.
"Muuuu..." Shinobu mengembungkan kedua pipinya lalu ia mendekati Hinoka untuk mengambil kedua manisan itu.
"Sini~ sini~ kucing kecil~" Hinoka terus memancing Shinobu sampai Koizumi bisa melihat dirinya sudah berada di jarak yang begitu dekat.
"Eeeppp!" Shinobu hampir saja menangkap manisan itu tetapi Hinoka terus mundur ke belakang agar sepupu kecilnya itu bisa mendekat lebih dekat lagi
Hinoka sudah melihat celah yang begitu besar di tubuh Shinobu sampai ia menyerang dirinya dengan sebuah pelukan itu.
"Koneko~" Hinoka mengeratkan pelukannya.
"Uwah!" Shinobu mencoba untuk melarikan diri dari pelukan itu.
Hinoka langsung menyuapi dirinya dengan marshmallow dengan campuran karamel sampai Shinobu berhenti melawan lalu menikmati manisan itu dengan ekspresi yang senang.
"T-Terima kasih, Kak Hinoka..." Shinobu tersenyum lembut sampai membuat Hinoka memasang tatapan yang terlihat tergoda sampai ia mulai menggigit pipinya.
"Dia bukan makanan!!!" Seru Koizumi yang mulai memisahkan Hinoka dari Shinobu karena ia hampir saja memakan dirinya.
Beberapa menit kemudian, Shinobu terkekeh pelan melihat dirinya memiliki tanda gigitan Hinoka di bagian pipinya, Koizumi mulai mengusapnya beberapa kali.
"Hehehe~ Maaf, tapi aku berhasil membuat Koneko mendekati diriku... Koneko, kamu menyayangi Kak Hinoka kan?!"
"Mm!" Shinobu tersenyum lalu mengangguk selagi mengunyah marshmallow itu.
"Selamat datang... kenapa Kak Koizumi dan Hinoka datang? Apa membutuhkan sesuatu...?" Tanya Shinobu selagi menyentuh jarinya dengan jari lainnya.
"Kami datang untuk bermain... mungkin kamu memiliki sebuah ide." Koizumi duduk di atas kursi kerja Shinobu yang dipenuhi dengan kertas robek bahkan jurnal yang sudah bagian ke lima.
"Bermain ya..." Shinobu mulai berpikir selagi melihat ruangan yang berada di paling ujung, isinya itu dipenuhi dengan permainan virtual seperti video game.
"Wah! Kamu sedang menulis bagian ke enam ya, boleh dong aku melihatnya." Hinoka merebut jurnal ke enam Shinobu yang masih berada di halaman tengah.
"EEEEEPPPPP!!!" Shinobu menjerit keras sehingga ia lari menuju Hinoka lalu merebut jurnal tersebut karena ia tidak ingin seseorang mengetahui isi dari jurnalnya sebelum ia berhasil mencetaknya.
"Tidak boleeeehhhhhh!!!"
"Te-he~ Maaf~ aku bodoh~" Hinoka menepuk kepalanya sendiri selagi menjulur lidahnya.
__ADS_1
"Emang." Koizumi menyentil dahi Hinoka.
"Aw!"