
Shinobu menyentuh wajahnya sendiri yang dipenuhi dengan darah campuran mereka semua, ia langsung mengepalkan tinjunya sampai menumbuhkan banyak sekali tumbuhan kecil dari dalam daratan.
"Semoga kalian bisa hidup tenang... di sana..." Shinobu menjentikkan jarinya sampai menumbuhkan banyak sekali daun emas di sekeliling hutan itu untuk membungkus bekas mayat.
Semuanya terbungkus dengan rapi sampai noda darah itu mulai kembali bersih karena disinari oleh cahaya yang mampu menyucikannya menjadi partikel-partikel emas yang mengelilingi tubuhnya.
"Apa yang harus aku lakukan..." Tanya Shinobu yang terlihat bingung, pikirannya tetap seperti anak kecil berusia enam tahun karena ia tidak tahu harus apa kan semua mayat itu.
Jumlahnya melebihi seratus, jika ia menguburnya secara terang-terangan maka kemungkinan para Legenda yang lewat akan menggali kuburan itu demi bisa menjual semua mayat Neko Legenda yang menghasilkan banyak uang.
Shinobu tidak bisa menjaganya secara terang-terangan juga karena ia saat ini tidak bisa melindungi dirinya sendiri karena risiko yang masih ia rasakan ketika menggunakan kekuatan dahsyat untuk melawan Aerith.
Setidaknya dia perlu mencari lokasi yang aman untuk dijadikan sebagai tempat istirahat terlahir, semua bungkusan itu mulai ia jajarkan dengan rapi sehingga ia sempat berlutut di hadapan mereka untuk merenung.
"Nenek... berikanlah mereka tempat yang aman walaupun sudah melakukan tindakan dosa dengan bunuh diri..."
"...pindahkan semua dosa itu kepada diriku karena aku sedia menampung semuanya." Shinobu mulai memohon kepada Korrina, tidak ada jawaban atau tanda apapun tetapi ia terus merenung dengan tatapan kecewa.
"Kakek... apakah pilihan ini benar...?" Tanya Shinobu yang mulai menatap ke atas langit lalu memejamkan kedua matanya untuk beristirahat sampai besok.
***
Keesokan harinya, Shinobu sempat mengunjungi beberapa orang yang ia kenal dan percayai untuk memberitahu berita buruk bawah bangsa Neko Legenda sekarang hanya tersisa dua orang yaitu dirinya bersama Megumi.
Reaksi yang mereka tunjukkan sudah pasti kaget dan kesal ketika mendengarnya, mereka juga tidak percaya dengan apa yang Shinobu katakan soal dirinya yang membunuh mereka demi bisa meraih kedamaian tanpa menanggung dosa bunuh diri.
Seperti biasanya, Hinoka sudah merencanakan hari untuk menikmati hal-hal yang menyenangkan tetapi ia mendapatkan sebuah tolakan dari Shinobu karena satu bulan ini akan sibuk menjaga makam mereka.
Mereka membiarkan dirinya pergi, mencoba untuk menemani dirinya juga percuma karena Shinobu pasti akan menolaknya. Ia ingin mereka mengurusi hidup mereka masing-masing dengan bersenang-senang.
"Apakah dia akan seperti itu untuk selamanya? Setiap orang mati, menunggu satu bulan...?" Tanya Koizumi yang baru saja melihat Shinobu terbang tinggi.
"Itulah kenapa Koneko adalah gadis jenius yang tidak tertebak, entah apa yang ia coba pikirkan atau rencanakan... kita pasti tidak bisa menangkapnya." Kata Hinoka.
"Cukup mengejutkan untuk mendengarmu berbicara seperti itu, Hinoka." Kata Konomi.
"Hehehe~ selama ini aku juga memang pintar~"
"Tunggu...! Kenapa kalian meninggalkan diriku tanpa mendengar sedikit perkataan bijak lainku...!" Tanya Hinoka yang melihat teman-temannya pergi.
...
...
Shinobu melihat Anastasia terbang bersebelahan dengan dirinya menggunakan sapunya itu, "Wah, wah, kamu terlihat begitu murung hari ini..."
"...apakah sesuatu yang buruk terjadi, kucing kecil?"
"Kakak... sepertinya Kakak tidak begitu mengetahui tentang Neko Legenda ya."
"Tentunya aku tahu, mereka yang masih hidup dalam pertempuran melawan adikku itu kau pindahkan ke tempat yang aman bukan?"
"Ya, aku membunuh mereka." Kata Shinobu.
Anastasia melebarkan matanya sampai memasang tatapan yang terlihat begitu kaget karena ia tidak menyangka Shinobu yang begitu polos akan membunuh mereka seperti itu.
Kewaspadaannya bertambah besar seketika, Anastasia sadar bahwa dirinya juga harus tetap menjaga pertahanannya karena Shinobu bisa di bilang berbahaya karena tidak mudah ditebak oleh ekspresi, pikiran, dan perasaannya.
"Begitu ya... kenapa kamu membunuh mereka...?"
"Mereka menginginkan kedamaian abadi... kematian adalah jalan lain menuju kedamaian, sebenarnya mereka semua sudah mati dan menyesal untuk dihidupkan kembali."
"Begitu ya... sayang sekali, awalnya aku ingin bertemu dan berbicara dengan mereka." Kata Anastasia selagi memegang kalung berbentuk hati.
"Pikiran dan pandangan terhadap seseorang bisa berubah... aku tidak mengatur kehidupan siapa pun tetapi bebas untuk Kakak memandangku seperti apa." Ucap Shinobu.
"Aku masih memiliki urusan lain... sampai jumpa." Shinobu terbang tinggi ke atas langit lalu meluncur cepat menuju suatu tempat karena ia ingin memberitahu berita itu kepada seseorang yang baru saja pulang.
"Shinobu Koneko... ternyata aku memang salah." Anastasia memegang dagunya sendiri selagi memasang tatapan serius ketika mengetahui Neko Legenda sudah bisa di bilang setengah punah.
__ADS_1
***
"Nenek." Shinobu langsung melakukan telepati dengan Megumi.
"Kamu tidak perlu memberitahu berita itu... kami juga sudah tahu karena merasakan keberadaan arwah mereka pergi jauh." Kata Megumi yang sudah tahu sejak awal.
Tatapannya terlihat biasa saja karena ia sendiri tidak bisa menyelamatkan mereka dari dunia yang kejam ini, kehidupannya saat ini bisa di bilang tenang selama Shira bersama dirinya karena mereka sudah jelas tidak berani melawan dirinya.
Shira yang berada di belakang Megumi mulai mengangguk, "Kau sudah melakukan pilihan yang terbaik, Shinobu..."
"...hal tersebut tidaklah salah melainkan kau mencegah sesuatu yang kemungkinan besar berkaitan dengan peperangan antar saudara."
"Beast Neko Legenda ketika menerima ratusan persen amarah maka mereka bisa di bilang tak terkalahkan... yang mereka pikirkan hanya kemenangan dalam perang."
"Kerja bagus." Kata Shira.
Shinobu hanya diam lalu menjawab mereka sesingkat mungkin karena ia baru saja melihat seseorang yang ia cari di hadapannya, "Kalau begitu... aku permisi terlebih dahulu."
Megumi menurunkan kedua telinganya karena merasa sangat khawatir kepada Shinobu yang pasti merasa trauma karena sudah melihat banyak sekali hal mengerikan yang memperburuk masa kecilnya.
"Shira... apakah kamu yakin ingin seperti ini...?" Tanya Megumi.
"Dia bisa saja berubah menjadi sesuatu... sesuatu yang aku takutkan. Cahaya yang bersinar hitam putih, dia masih kecil... dan Kou menginginkan dia menjadi sinar harapan untuk segalanya."
"Itulah kenapa dia perlu menerima banyak ujian. Harapan memang tidak selalu cerah atau positif di pandangan orang lain tetapi... jika Shinobu pikir itu baik dan bagus untuk ke depannya maka sudah cukup."
"Jika dunia keras kepada dirinya maka dia harus bisa jauh lebih keras dan kejam, aku ingin mengubahnya seperti itu."
"Perjuangan Minami dan Korrina untuk membangunkan semesta yang lebih baik sudah dipandang buta bagi mereka maka aku ingin Shinobu melakukan hal kebalikannya."
"Hm... aku mempercayai pilihanmu. Tidak pernah salah."
***
"Apa yang kau ingin bicarakan, Shinobu?" Tanya seseorang yang Shinobu cari selama ini sebelum memulai penguburan.
"Kakak Hana... sebenarnya aku ingin berbicara tentang sesuatu, aku harap kamu... anu... tetap tenang menghadapi situasi buruk ini."
"Kau... kau membunuh mereka...?" Tanya Hana yang mulai mengepalkan kedua tinjunya cukup keras sampai berdarah karena ia merasa kesal.
Kekesalannya masih bisa ia tahan, menyalahkan Shinobu bukanlah hal yang benar karena dia memiliki alasan tertentu untuk melakukan semua itu demi bisa memberi kedamaian untuk mereka.
"Terus... apa yang akan kau lakukan...?" Tanya Hana dengan tatapan tenang tetapi amarahnya sudah menumpuk besar di dalam dirinya.
"Aku akan mengubur mereka tentunya... semuanya terjaga dengan aman oleh diriku karena aku akan menunggu selama satu bulan penuh."
"Begitu ya... semoga beruntung..." Hana langsung menyentuh kepala Shinobu lalu memberi dirinya sebuah usapan di kepala dengan tatapan tenang.
Shinobu bisa merasakan mental Hana bertambah semakin hancur, ia juga melihat kedua tatapannya dipenuhi dengan kehancuran dan penderitaan sampai ia tidak bisa mengatakan apapun kecuali diam.
Tidak lama kemudian, Shinobu sudah memberitahu mereka semua tentang berita buruk itu, sekarang adalah waktunya ia pergi mengunjungi kembali hutan tersebut lalu mencari posisi yang pas untuk dijadikan sebagai pemakaman.
Shinobu sempat menyatukan kedua tapaknya untuk memohon kepada Ibu surga agar mereka menerima tempat kedamaian yang baik agar jiwa mereka bisa merasakan ketenangan abadi.
Shinobu mengeluarkan sebuah kacamata yang hancur dari dalam sakunya lalu ia menatapnya, "Sistem juga memiliki sebuah perasaan... aku ingin mengubur dirimu juga, Tech."
"Aku mencintaimu..."
Shinobu memberi sebuah kecupan kepada kacamata yang rusak itu lalu ia menempatinya di atas batu yang sudah dirinya pahat dengan tulisan 'Tech - Sistem juga memiliki perasaan'.
Shinobu mulai mengubah kedua tapak tangannya menjadi sekop, ia segera menggali kuburan dengan rapi dan tidak lupa untuk dijajar karena ia juga perlu memahat nama mereka di batu nisan yang sudah tersedia.
Shinobu terus menggali banyak sekali lubang menggunakan kedua sekop tangannya demi bisa menyediakan tempat istirahat terakhir mereka, cuacanya cukup tidak mendukung karena suhu yang diberikan terasa sangat dingin.
Musim sejuk sebentar lagi akan tiba, angin menghembus begitu cepat sampai terasa seperti udara es yang menabrak tubuh Shinobu, ia tidak memedulikan hal tersebut dan terus menggali.
Untungnya ia sudah mengenakan pakaian yang pas untuk menahan semua suhu dingin itu, di malam yang gelap ini Shinobu bisa menebak bahwa hujan akan turun tidak lama lagi karena sinar bulan yang terhalang oleh awan mendung.

__ADS_1
"... ..." Shinobu terus menggali dengan tatapan yang terlihat murung dan bersalah karena dirinya adalah dalang di balik pembunuhan semua Neko Legenda itu.
Setelah selesai menggali kuburan yang cukup untuk memasukkan semua mayat itu, Shinobu mulai menggunakan kekuatannya untuk memasukkannya mereka semua ke dalam lubang kuburan itu pelan-pelan.
Semuanya ia lakukan dengan proses, ia sudah menyiapkan semuanya selama berjam-jam sampai ia tidak kenal dengan namanya lelah. Semua mayat itu sudah ia masukkan dan kebetulan tidak ada pengurangan apapun.
Shinobu mulai memasukkan kembali semua tanah yang ia gali tetapi wajahnya menerima sebuah embusan angin kencang yang menjatuhkan jubahnya sampai hujan deras mulai turun.
Hujan yang sangat besar tanpa aba-aba seperti hujan kecil, hujan badai mulai terjadi di malam yang begitu dingin ini sampai tubuh Shinobu langsung basah karena menerima semua tetesan hujan itu.
Shinobu memasang kepala jubah penutup kepalanya lalu memasukkan kembali semua tanah itu ke dalam lubang kuburan dan menutupnya rapat.
Setelah menyelesaikan semua itu, ia langsung memancarkan sinar matahari yang begitu cerah sampai menumbuhkan banyak sekali bunga di atas kuburan itu, terlihat sangat indah dan menenangkan.
Pekerjaan Shinobu sudah selesai, sekarang ia hanya perlu menunggumu selama satu bulan penuh dan menjaganya agar tidak ada satu pun Legenda yang rakus mengambil mayat-mayat itu.
Shinobu duduk di hadapan batu nisan Tech lalu ia memeluk kedua kakinya karena merasa sangat kesepian dan berjalan, ekspresinya terlihat murung bahkan banyak sekali tetesan hujan di kepala serta wajahnya.
"Kenapa... kenapa semuanya harus berakhir seperti ini...?"
"Dunia begitu kejam..."
"...rasanya sepi sekali..."

Hujan bertambah semakin deras sehingga membasahi tubuh Shinobu terus menerus, ia duduk dengan tenang sendirian selagi memeluk kedua kakinya dan melihat-lihat semua kuburan itu.
"Sebenarnya mereka memiliki salah apa kepada bangsa Legenda sampai harus di benci seperti itu..."
"...aku tidak mengerti... kenapa kepercayaan sungguh sulit untuk di gapai bagi Koneko dan Neko Legenda lainnya..."
"...rasanya menyakitkan... kesepian... penuh dengan penderitaan... mereka sampai tidak tahan menahannya... memilih untuk bunuh diri." Tubuh Shinobu bergetar penuh dengan rasa ketakutan dan kesedihan.
Awan hitam terus berkumpul sampai cahaya yang ia lihat turun menurun sampai hutan itu bertambah semakin gelap sampai membuat Shinobu terasa begitu kesepian sehingga mata kanannya sempat berkaca-kaca.
Dirinya sudah tidak bisa bersikap kuat terus, rasanya ia ingin menangis tetapi tidak bisa karena dirinya sudah berjanji kepada Kou untuk tidak pernah menangis sama sekali kecuali di hadapan orang tuannya.
Hanya air mata yang terlihat melalui matanya sampai ia melihat Tech lalu mengingat dirinya bersikap sangat baik kepadanya sampai hari-harinya yang begitu menyakitkan terasa seperti biasa saja.

"Tech... rasanya aku sesepian tanpa dirimu..."
"...sungguh menyakitkan."
Shinobu memejamkan kedua matanya untuk tidur dan melewati hari yang sepi ini, hujan terus turun dengan deras sampai pukul tiga pagi.
Awan mendung itu sudah hilang sampai Shinobu bisa tidur dengan nyenyak sekarang.
Namun, kedua telinganya sempat bergerak untuk memberi dirinya sebuah peringatan bahwa seseorang telah datang dari arah yang berbeda, entah itu siapa tetapi niatnya bisa Shinobu rasakan yaitu 'kerakusan'.
"Kalau tidak salah dia mengubur mayat itu di sini! Aku bisa merasakannya...!" Seru salah satu Kesatria yang sedang memejamkan kedua matanya.
"Apakah kau yakin sihir penanda dirimu masih belum hilang...?" Tanya seorang pemimpin.
"Kapten! Aku melihatnya...!!!" Seru kesatria lainnya yang menunjuk banyak sekali batu nisan di bawahnya, ia juga melihat Shinobu yang sedang tertidur.
"Shinobu Koneko di sana..."
"Ssshhh... jangan berurusan dengannya, kalian perlu waspada dengan dirinya yang sudah membunuh penyihir gila itu."
"Kau benar... mari kita gali pelan-pelan dan mendapatkan penghasilan besar kita." Kata seorang kesatria yang mendarat di belakang Shinobu lalu pelan-pelan menghampiri kuburan.
Semua pasukan melakukan hal yang sama, membiarkan Shinobu tertidur dengan damai.
"Jika dunia memang sekejam ini... apakah aku bisa lebih kejam...?" Ungkap Shinobu yang mulai membuka kedua mata merahnya.

__ADS_1
""HWAAAAAAAAGGGGGHHHH!!!""