
"Sialan... sakit anjing!" Adit mengangkat lengannya yang memiliki luka karena Shinobu tidak sengaja menggunakan sedikit kekuatan untuk menahan beban yang ia berikan.
"Adit...! Maaf-maaf... sepertinya aku terlalu kasar padamu, biarkan aku menyembuhkannya..." Shinobu meraih tapak kanan Adit lalu meniupnya beberapa kali sampai ia merasakan embusan angin yang lembut.
"... ...!" Adit dapat menghirup aroma tubuh Shinobu yang memiliki aroma seperti matahari di pagi hari salah satunya adalah wangi dari bunga matahari sampai ia mulai menatap arah lain.
"Apakah kalian memiliki perban atau semacamnya...? Adu panco tadi sepertinya melukai Adit secara tidak sengaja." Kata Shinobu sambil menunjukkan ekspresi bersalah, ia melihat salah satu remaja memberi dirinya perban yang bisa ditempel.
"Terima kasih~" Shinobu mengambil perban itu lalu menempelkan kepada luka Adit sehingga ia bisa merasakan perilaku lembut dari gadis kecil di hadapannya yang ternyata tidak buruk juga.
"Kau pasti sedang membayangkan yang lain... sadarlah, dia tidak memiliki tubuh semontok tante-tante." Bisik Indera sampai mengejutkan Adit seketika.
"Diam... sekarang aku menyadari apa yang salah satu temanku maksud bahwa fisik bukanlah apapun, tetapi hatinya itu... Indera, di sini." Adit menyentuh dadanya sendiri lalu ia mencoba untuk menyentuh dada Indera tetapi tangannya langsung ditepis oleh Indera.
"Tidak mau, kesannya malah jadi homo."
"Buset---" Adit bisa merasakan sebuah bibir yang begitu lembut di bagian tapaknya karena ia melihat Shinobu baru saja memberikan kecupan kepada perban itu untuk memberikan keefektifan.
"Beres, maafkan aku ya... Koneko tidak sengaja, kecupan tadi sudah pasti akan menyembuhkan Adit!" Koneko dengan polos tersenyum lebar lalu menghadapi semua pasukan remaja STM itu.
"Jika aku memenangkan adu panco itu maka aku yang akan memutuskan...! Mulai dari sekarang sampai kemenangan kita melawan pemerintah, Adit akan tetap menjadi seseorang yang memegang anak STM!"
"Aku hanya akan menumpang saja dan melihat-lihat apa yang selalu kalian lakukan..." Shinobu mulai mendorong Adit ke depan sampai ia mulai menatap mereka semua dengan tatapan canggung.
"Uhh... kita mulai dari mana tadi?"
"Menaklukkan SMA yang membuatmu kesal? Tetapi sekarang dengan bantuan gadis sakti itu maka---"
"Tidak, tujuan kita yang sebenarnya adalah tawuran dengan pelajarnya... bukan menghancurkan semuanya karena gadis yang bernama Shino ini pasti akan menghancurkan segalanya dengan kesaktian itu."
"Kau ada benarnya juga, bos. Kalau begitu kita minum-minum dulu sebelum memulai tawuran itu?" Tanya remaja itu yang mulai memberikan anggur merah kepada Adit.
"Ya, ayo...! Kita berpesta untuk melupakan soal pemerintah busuk itu karena yang lebih penting adalah kesuksesan untuk kita di masa depan...!!!"
"Tidak peduli seberapa bodohnya kita anak STM, yang paling penting bisa sukses dan mengikuti pekerja kita semua...!!!" Seru Adit keras selagi mengangkat botol anggur merah itu.
""Ya!!!"" Mereka semua melakukan hal yang sama dengan mengangkat semua minuman keras itu termasuk bungkus rokok sampai Shinobu memiringkan kepalanya karena penasaran.
Beberapa menit kemudian, Shinobu memilih untuk tetap diam bersama mereka semua sampai tengah malam, melihat lelucon yang mereka berikan serta melakukan hal konyol lainnya karena tawuran akan dimulai pada pukul dua malam untuk menghindari polisi.
Melihat Adit yang terus merokok sampai menghabiskan satu bungkus membuat Shinobu penasaran dengan apa yang ia hisap sampai mengeluarkan asap hampir seperti sihir.
"Itu apa...?"
"Ini, rokok... jika kau menghisapnya maka semua kenikmatan yang ada di dunia ini terasa seperti dicampur lalu menghasilkan asap ketika dihembuskan."
"Koneko ingin mencoba."
__ADS_1
"Tidak boleh... rokok ini khusus digunakan oleh laki-laki saja, lebih baik kau tidak melakukan apa yang mereka lakukan saat ini agar masa depanmu bisa membaik."
"Fuehhh... padahal aku ingin mengetahui rasanya seperti apa..." Shinobu menurunkan kedua telinganya, ia melihat Indera mengulurkan lengannya selagi memegang sebuah puntung rokok melalui jarinya.
"Mau di coba?"
"Boleh~"
Adit langsung merampas rokok itu lalu menginjaknya karena ia tidak ingin gadis sekecil Shinobu untuk menghisap sebuah rokok karena itu mengingatkan dirinya kepada generasi anak sekarang di Indonesia yang sudah merokok.
"Sudah lah, lebih baik kita bergerak sekarang." Adit bangkit dari atas tanah lalu ia menatap Shinobu untuk membantunya berdiri.
"Terima kasih." Shinobu tersenyum polos lalu ia meraih tangan Adit untuk berdiri.
"Apakah kau yakin ingin ikut tawuran?"
"Koneko ingin melihat~!"
"Baiklah, ayo!"
***
Pagi hari telah tiba, Aditya sudah menerima banyak sekali pesan dari para warga dan tentara bahwa pasukan pemerintah sudah bergerak untuk mencuri sumber daya alam dari kota lain.
Salah satunya adalah Papua, ketika membicarakan soal sumber daya alam, maka Papua merupakan salah satu surganya.
Aditya, Wilhelm, dan Andrian sudah bergegas menuju Papua bersama Indera dan Adit yang mengendarai helikopter untuk mendukung dari atas langit.
Shinobu saat ini tidak berniat untuk ikut karena dirinya akan fokus membantu persenjataan Indonesia bersama Yuffie dan Ako karena mereka semua membutuhkan peningkatan yang sangat besar agar bisa bertahan.
Sebuah pesawat luar angkasa yang berbentuk kucing mendarat di depan Koizumi ketika ia menyentuh tombol hijau di kuncinya itu, "Kalau begitu, aku akan kembali secepat mungkin dengan para pasukan Rusia."
"Mm~ semoga beruntung, pasukan Rusia sangatlah kuat karena persenjataan mereka... dan tentunya nuklir yang bisa saja mengakhiri planet bumi dalam sekejap."
"Terdengar sangat mengerikan... kita memang membutuhkan kekuatan negara Rusia untuk menaikkan kemungkinan ketika melawan pasukan pemerintah itu." Kata Konomi.
"Soal tank, kapal selam, kapan tempur, dan senjata mesin bisa diserahkan kepada mereka semua..."
"...mungkin aku dan Yuffie akan memperkuatnya agar kita bisa menyadarkan kembali umat manusia dan tentunya membuat mereka berpikir lebih tinggi lagi." Ucap Shinobu sampai mereka semua mengangguk.
"Kalau begitu ayo~ sesudah pergi mengunjungi Rusia maka aku juga memiliki sebuah ide cemerlang yang mungkin akan membantu kita semua untuk mengembangkan tim kita." Kata Hinoka.
"Aku harap ide yang aku pikirkan benar-benar bagus... jika tidak maka kami terpaksa akan menjatuhkan dirimu ke dalam lautan terdekat menggunakan pesawat itu." Ancam Koizumi.
"Kejam sekali...! Ketika aku serius semaunya berjalan dengan baik loh...! Buuuuuuu....!"
"Iya-iya, ayo kita pergi sekarang juga sebelum semuanya terlambat." Jawab Koizumi yang mulai masuk ke dalam pesawat itu bersama Konomi dan Hinoka lalu ia mengenakan sebuah kacamata pemberian Shinobu.
__ADS_1
"Hati-hati di jalan... Cyber, tolong jaga pesawat itu dan singkirkan semua serangan yang mencoba untuk menghancurkannya." Peringat Shinobu.
"Akan saya laksanakan, putri kecil." Cyber menyalakan keamanan tingkat paling atas lalu ia bisa mendengar perintah Koizumi untuk membawa mereka semua menuju negara Rusia secepat mungkin.
Pesawat itu terbang begitu cepat sampai membutuhkan waktu selama sepuluh menit untuk tiba di negara tersebut karena Koizumi yang meminta Cyber untuk mempercepatnya.
Tidak lama kemudian, pesawat itu tiba di pusat militer Rusia dimana Cyber langsung memperingati Koizumi bahwa seluruh tentara Rusia sudah mengarahkan banyak sekali senapan rudal kepada pesawat itu.
"Tahan...!" Seru salah satu tentara yang mulai menghentikan semua pasukan itu untuk menarik pelatuk yang dapat meluncurkan rudal yang cukup untuk menghancurkan pesawat itu.
Pesawat itu mulai mendarat di tempat yang tersedia, semua tentara Rusia sudah menunggu di depan pintu pesawat itu dengan banyak sekali senapan yang membidik ke arah pintu.
Ketika pintu itu terbuka lalu menunjukkan Koizumi bersama yang lainnya mendarat di atas langit, tentara yang menghentikan mereka untuk menebak terkejut ketika melihat Koizumi dengan rambut berwarna merah serta pin waktu di rambutnya.
"Mereka adalah bangsa Legenda...! Turunkan senjata kalian dan berikan mereka semua kehormatan karena sudah menyelamatkan kita semua dari ancaman para iblis!" Seru tentara itu yang mulai hormat kepada Koizumi.
Semua tentara melakukan hal yang sama sampai Koizumi menatap Konomi dan Hinoka dengan tatapan serius, "Apakah kita harus maju sekarang...? Sepertinya kehormatan yang mereka berikan kepada kita terlihat bisa dipercayai."
"Selamat datang kembali, bangsa Legenda... rambut merah itu tidak akan pernah kami lupakan terutama lagi pin yang kau gunakan." Ucap seorang tentara yang mendekati dirinya.
Koizumi bisa melihat tentara itu terlihat tua karena janggutnya yang berwarna putih tetapi wajahnya terlihat awet muda, "Apakah kalian datang untuk membahas soal pemerintah itu?"
"Itu benar... kami membutuhkan kekuatan kalian semua untuk bisa membantu negara Indonesia dan seluruh bangsa asing untuk menghentikan pemerintah itu."
"Sebelum kita memulainya... apakah kalian semua mengenal seorang Legenda yang bernama Haruka Comi?" Tanya Koizumi untuk memastikan sampai tentara di depannya mulai melepas baretnya.
"Nama itu... sudah lama sekali aku tidak mendengar nama tersebut, dia adalah gadis yang begitu bijak dan hebat sampai bisa memimpin pasukan Rusia menuju puncak kemenangan."
"Terakhir kali aku melihatnya ketika ia sudah tumbuh remaja, tetapi sekarang kemungkinan dia sudah memiliki seorang anak atau menikah dengan seorang pria yang sama hebatnya."
"Aku ingin memberikan pesan baik dan buruk... kau mau memulainya dari mana?" Tanya Koizumi.
"Tentu aja baik terlebih dahulu..."
"Aku adalah putri dari Haruka Comi." Perkataan Koizumi langsung mengejutkan semua pasukan itu termasuk dengan tentara di hadapannya yang terlihat begitu senang.
"Itu artinya...!!! Pesta Vodka akan di mulai sekarang...!!! Uraaaaa!!!"
""Uraaaaaaaa!!!""
"Berita buruknya adalah... ibuku... Haruka Comi sudah meninggal." Ucap Koizumi dengan tatapan yang terlihat tidak tega untuk mengatakannya karena ia masih belum bisa merelakan kepergian ibunya.
Berita tersebut menyebabkan keheningan yang begitu kuat sampai tentara di depannya langsung berlutut di atas tanah dengan air mata yang mengalir deras melalui kedua matanya.
"Me..."
"...meninggal?"
__ADS_1