
Tubuh Mortem yang berserakan mulai menghilang seketika karena dirinya sempat untuk menggunakan tubuh ilusi yang menyelamatkan dirinya dari maut. Hikari mulai mengerutkan kedua dahi-nya ketika merasakan keberadaan Mortem yang berada di belakangnya.
Tiba-tiba saja Hikari menyilaukan penglihatan Mortem sampai ia tidak bisa melihat dan merasakan keberadaan Hikari, ia menggunakan kesempatan emas itu dengan melancarkan beberapa serangan sampai seluruh tubuh Mortem mulai terluka, ia mengakhiri serangan kombinasi itu dengan melepaskan gelombang cahaya dari telapak tangan-nya yang mampu melempar Mortem ribuan meter ke belakang.
Mereka terus bertarung tanpa henti dan kecederaan nya juga semakin bertambah setiap kali mereka bertarung, Mortem mencoba untuk mengambil kesempatan untuk memulihkan dirinya ketika Hikari sedang tidak menyerang-nya, tetapi ia tidak pernah memberi Mortem kesempatan untuk melakukannya.
Setiap serangan Mortem bahkan tidak mempan kepada Hikari karena setiap serangan yang mengenai tubuhnya terasa seperti debu mengenai tubuhnya, tidak ada cara lain selain membunuh pasukan Malaikat secara keseluruhan tetapi Hikari menghentikannya dengan beberapa serangan yang bertubi-tubi.
Hikari menciptakan sebuah tombak besar dan panjang, satu tebasan melintas hampir mengenai kepala Mortem. Beberapa helai rambut Mortem terpotong hampir mengenai telinganya. Mortem sempat mengelak dengan pantas, dia juga terkejut dengan serangan daripada gadis itu. Serangan-nya adalah tebasan tombak yang bertambah kuat setiap musuh memiliki hati yang jahat.
"Final Shine Attack!" Mortem mundur ke belakang dan meluncurkan gelombang Final Shine Attack ke arah Hikari.
Hikari dengan mudah membelah gelombang tersebut menggunakan tombak yang ia pegang, tetapi ia melihat beberapa celah kenyataan yang terbuka di sekitarnya sampai Mortem mengepalkan kedua tangan-nya agar semua celah itu mengeluarkan pedang tajam yang dapat menusuk seluruh tubuh Hikari.
"Kena kau---" Mortem melebarkan matanya ketika melihat tubuh Hikari yang menembus ketika terkena oleh serangan-serangan itu, dia tidak merasakan keberadaan ilusi di dalam diri Hikari dan itu mustahil jika dia benar-benar kebal dengan serangan seseorang yang berhati jahat.
"Serangan yang kau lakukan kepada-ku itu percuma... Tubuhku sudah berada di tingkat kesucian yang sangat tinggi dimana seseorang dengan hati jahat tidak akan bisa melukai-ku." Kata Hikari.
"Jangan sombong dulu, mortal sialan!" Mortem melompat salto ke belakang menghindari ayunan tombak yang secara mendatar mengarah pada kaki-nya.
"Ini benar-benar tidak mungkin... Bagaimana kau bisa mendapatkan kekuatan sebesar ini...!? Bukan hanya jutaan keberadaan malaikat yang aku rasakan tetapi lebih...!" Kata Mortem ketika merasakan keberadaan Hikari yang terasa seperti malaikat tidak terhingga berada di dalam dirinya.
"Jawaban-nya mudah... Anak itu benar-benar cahaya untuk semesta Touri." Hikari mulai menunjuk Shira yang saat ini sedang membasmi seluruh pasukan Giblis dan Oather secara bersamaan, di tambah lagi ia bertarung melawan Yusa bersama tiga pemimpin pasukan lainnya sendirian.
Mortem mengubah raut wajah-nya jadi kesal ketika melihat Shira yang membantu dirinya dengan kemampuan esensi cahaya yang sudah sempurna. Tanpa basa-basi lagi Mortem segera menciptakan sabit Crimson lalu melesat menuju arah Hikari dimana mereka mulai saling bertukar serangan.
Mortem mundur ke belakang dan menciptakan beberapa celah dimensi yang mengeluarkan pedang-pedang besar, Hikari muncul di belakang Mortem dimana ia berhasil melancarkan sebuah serangan yang mampu mendorong dirinya ke depan. Hikari memutar tombak-nya dan ia segera melempar tombak itu ke depan.
__ADS_1
Mortem menangkis tombak itu ke atas dan ia melebarkan matanya ketika melihat Hikari yang muncul tepat di depannya, Mortem berhasil mengubah dirinya menjadi aura sampai serangan Hikari yang mengarah menuju vital Mortem gagal. Mortem muncul di sekitar Hikari dengan sihir ilusi yang mampu membuat Hikari hanya bisa diam karena kedua matanya sudah mendeteksi mana yang asli.
Hikari menunjuk sesosok Mortem yang asli menggunakan jari telunjuk-nya, ia melepaskan serpihan cahaya panjang yang mampu melukai bahu kanan Mortem sampai mengeluarkan darah yang cukup banyak sekali. Mortem sontak kaget ketika Hikari dapat menebak sesosok dirinya yang asli, dia melanjutkan serangan itu dengan menebas perut-nya sampai meninggalkan luka yang besar.
"Hueggghhh!!!" Mortem terlempar ke belakang dengan mulut yang dipenuhi darah segar.
Hikari muncul di belakangnya dan segera melancarkan serangan dahsyat yang mampu menghancurkan tulang-tulangnya, ketika Mortem mencoba untuk menggunakan sihir ilusinya, Hikari segera memegang wajah Mortem sambil menunjukkan ekspresi yang terlihat mematikan.
"Kau tidak akan bisa kabur dari takdir kematian... Itu adalah mutlak...! Virtues Authority!" Hikari menggunakan sihir terkuat-nya yang bernama [Virtues Authority] dimana ia segera mengambil alih sihir ilusi Mortem serta mengambil seluruh kesucian yang ada di dalam dirinya yaitu sihir Sacred.
Tubuh Hikari melepaskan aura Sacred yang besar bahkan sampai membuat Mortem tercengang karena dirinya mulai merasakan api-api yang terbakar di sekitar tubuhnya serta serangan bertubi-tubi yang mampu melukai tubuhnya berkali-kali. Hikari mencekik leher Mortem dan ia segera melesat menuju arah planet yang tidak berpenghuni.
"Melawan diriku dengan hati yang jahat seperti itu sama saja dengan bunuh diri... Kau lebih pantas melawan seseorang yang tidak berjulukan dengan [Seven Heavenly Virtues] dan [Seven Deadly Sins]!"
Hikari muncul tepat di atas Mortem sambil melayangkan satu pukulan keras berkekuatan penuh yang ditahan oleh Mortem menggunakan celah kenyataan yang ia buka. Planet yang terpijak oleh dirinya retak menjalar luas hingga ribuan meter akibat menahan satu pukulan berkekuatan dahsyat tersebut, bahkan tubuh Mortem terpendam ke dalam tanah.
"Mudah sekali, aku menyegel seluruh sihir yang memiliki tipe suci di dalam dirimu dan memindahkannya ke dalam diriku untuk sementara agar aku bisa bertambah kuat... Lebih kuat dari sebelumnya!" Jawab Hikari dengan kedua mata yang terbakar dengan api Sacred.
"Mari kita coba sekali lagi...! Aku akan menyucikan dirimu yang sesat...!" Kedua telapak tangan Hikari mulai terbakar dengan api Sacred yang memancarkan cahaya suci.
Mortem segera melancarkan beberapa tebasan cepat yang sulit dijangkau oleh mata, Hikari hanya bisa diam sambil menunjukkan ekspresi yang datar karena semua serangannya tidak mampu memberi efek apapun kepada Hikari bahkan melukai dan memberi dirinya rasa geli sedikitpun tidak ada.
"Percuma untuk melawan balik---"
Mortem segera menghilang dan muncul di belakang-nya, ia segera melarikan diri dari Hikari karena sepertinya kekuatannya sudah tidak bisa lagi disebut setara dengan dirinya. Hikari mengejarnya dengan kecepatan penuh sampai Mortem mulai panik lalu meluncurkan beberapa gelombang Crimson tetapi semua gelombang itu tidak mampu melukai Hikari.
"Setiap serangan yang kau keluarkan... Terasa niat jahat di dalamnya, hati-mu benar-benar tidak murni...! Sangat mengecewakan sekali ras Eternal sepertimu akan jatuh ke dalam jurang yang dipenuhi dengan kejahatan!" Hikari tiba-tiba muncul di depan Mortem sampai mengejutkan dirinya karena ia segera mencekik lehernya dengan sangat erat.
__ADS_1
"K... Kau... Dasar sialan...! Kekuatan seperti ini... Ini tidak mungkin ada---"
"Aggggggghhhhhhh...!!!" Mortem menjerit kesakitan ketika Hikari mencekik-nya semakin dalam.
Hikari segera membanting tubuh Mortem di atas planet yang tidak berpenghuni itu, hasilnya planet itu terbelah menjadi dua sampai punggung Mortem mulai bersandar di sebuah tembok suci yang diciptakan oleh Hikari. Dengan tatapan sadis-nya Mortem sampai berkeringat karena ia bisa merasakan hawa panas yang menyelimuti tubuhnya.
Hikari segera menginjak-injak tubuh Mortem beberapa kali untuk memulai ritual penyucian sampai suara tulang retak bisa terdengar dimana-mana, di mata orang lain ini bukan terlihat seperti ritual penyucian melainkan mutilasi dengan cara yang pelan dimana Hikari mencabut kedua lengan Mortem pelan-pelan sampai ia menjerit kesakitan.
"Kau benar-benar membuat kesabaran-ku habis...!!!" Hikari memasukkan tangan kanannya ke dalam perut Mortem, ia segera mengeluarkan isi perut Mortem sampai ia terus meneriakkan suara keras yang bisa terdengar di seluruh alam semesta termasuk Korrina yang sedang bertarung melawan Shinku.
Seluruh tubuh Mortem sudah dipisahkan satu-satu oleh Hikari dengan hasil nyawa Mortem masih terdapat di dalam dirinya, ia juga masih mampu bertahan dari semua penyiksaan yang sadis itu. Tetapi semua penderitaan Mortem langsung diakhiri dengan sebuah telapak tangan kanan Hikari yang mengarah kepada dirinya.
"Hmph... Lihatlah dirimu, DEWI! Apakah kau berada di tingkat yang lebih tinggi dari para Mortal...? Jangan membuatku tertawa." Hikari segera mengangkat tubuh Mortem dan melemparnya keluar dari semesta Xuusuatouri.
"Urus saja perang antar semesta itu sendirian tanpa-ku, aku hanya ingin menjaga semesta ini." Kata Hikari dimana ia segera pergi menuju planet yang terdapat sebuah pemandian air panas suci.
"Kau... Kau berani-beraninya... Mortal sepertimu... menganggap diriku...!? Anak dari keluarga Ghifari...!? Anak sang dewa dan mortal terkuat...!? Kau berani meremehkan diriku...!?" Seru Mortem keras dimana ia segera membuka mulutnya lebar lalu meluncurkan gelombang Crimson yang sangat besar menuju arah Hikari.
"Hah....!?" Hikari melirik ke belakang dan ia segera merapatkan giginya ketika melihat Mortem yang bersikap keras kepala ingin sekali mati oleh tangan-nya.
"Dasar *****...!!!" Teriak Hikari keras, ia meluncurkan [Virtues Exorcism] lagi sampai gelombang Crimson itu terserap habis lalu gelombang emas yang ia lepaskan mengenai seluruh tubuh Mortem sampai ia menjerit lebih keras dan perlahan-lahan suaranya mulai hilang karena gelombang itu perlahan-lahan merubah dirinya menjadi debu.
Baaaaaaammmmmm....!!!!
Sihir itu kali ini menimbulkan asap emas yang besar di luar angkasa sampai ia tidak bisa lagi melihat Mortem, merasakan keberadaan-nya saja sudah tidak bisa karena dia benar-benar menghilang dan kemungkinan besar terbunuh karena sihir mematikan Hikari tadi.
"... ..." Hikari menghela nafasnya panjang dan ia segera pergi melanjutkan perjalanan-nya.
__ADS_1