
"Aku terkejut... sungguh terkejut bahwa kau akan mengerti tentang Pseudo God, mungkin karena bantuan dari kecerdasan Shinobu." Kata Erion yang sudah merasuki tubuh pengikutnya.
"Melihat Koizumi berhasil menghancurkan mesin waktu yang sekarang sudah menjebak Dewa Demetrio dan para kandidat..."
"...perbuatan kalian sudah tidak bisa dimaafkan lagi, dosa yang sudah kalian buat melampaui batasan itu sendiri sampai aku tidak bisa berkata-kata lagi."
"Dengan tubuh ini... wadah untuk para Dewa agar bisa melihat dunia Touriverse, kami dapat berpindah dan merasuki semua pengikut kami yang memberi berkah dari Dewa itu!"
Anastasia memasang tatapan kaget ketika bisa merasakan keberadaan yang sama dengan Erion, ia melihat seorang gadis dan pria muncul di sebelah mereka berdua.
"Dewa Ignatius... Dewa Dallas... lama sekali kalian ya." Erion menyilangkan kedua lengannya ketika melihat semua Dewa elemen akhirnya bisa melihat dunia ini dalam waktu yang sangat lama.
Esensial Dewa yang diterima oleh seluruh pengikut itu sudah sangat melekat sampai para Dewa sekarang bisa seenaknya merasuki mereka dan mengubah tubuhnya menjadi wadah yang digunakan untuk menghukum para pemberontak dan Legenda kerajaan.
"Sekarang kalian mengerti bahwa berurusan dengan masalah Dewa tidak akan memberikan kalian takdir yang cukup baik." Kata Ignatius.
"Hinoka!!! Semua yang kau lakukan kepada kandidatku...! Perbuatan yang lakukan tidak bisa dimaafkan begitu saja, sekarang kau akan menerima api dari neraka!!!"
Hinoka menatap Ignatius yang merasuki tubuh seorang pria, tubuh Legenda itu terbakar dengan api hitam yang melepaskan hawa panas sampai membuat dirinya berkeringat tanpa henti.
"Tenang saja, Hinoka... aku akan mendukung dirimu dari belakang, kita akan membasmi semua Legenda fanatik itu agar mereka bisa berhenti merasuki wadah-wadah itu." Anastasia memunculkan tongkat sihirnya.
Konomi dan Ako yang sedang menekan Saint Fire dan Plant mulai menerima serangan dari belakang, untungnya Ako berhasil menciptakan pelindung yang dapat melindungi mereka semua dari serangan kejutan.
"Apa sekarang...?!" Konomi menoleh ke belakang lalu ia memasang tatapan kaget ketika melihat seorang pria dengan mata biru muda serta rambut yang membeku mulai menunjuk dirinya sampai ia terpental ke belakang.
"Kakak---" Ako mencoba untuk mengejar Konomi tetapi Dewi agung air yang bernama Dallas langsung melepaskan ombak yang menarik Ako ke dalam lautan sehingga terdapat gurita di dalamnya yang menariknya lebih ke dasar laut.
Koizumi merasakan hawa yang tidak enak seketika, ia menoleh ke belakang lalu menghentikan waktu untuk menghindari serangan angin tipis yang hampir saja menembus keningnya itu.
"Aku sudah kecewa ketika mengetahui Demetrio dan para kandidat terjebak di dalam masa lalu..."
"...tetapi mengetahui para Dewa bisa merasuki pengikut mereka, mengubahnya menjadi Pseudo-God mungkin akan memberi diriku kepuasan yang selalu aku inginkan."
Waktu kembali berjalan, Erion mulai berhadapan dengan Koizumi yang sedang memasang tatapan serius, semua pengikut angin yang mencoba untuk menyerang dirinya dari belakang langsung mati menerima serangannya.
"Perintah seluruh pengikutmu untuk tetap diam, apakah kau mau bertarung dengan mortal sepertiku... satu lawan satu tanpa bantuan siapa pun...?" Tanya Koizumi dengan kedua matanya yang menunjukkan lambang waktu.
"Hmph... Shimatsu... dari nama keturunannya itu sudah aku tahu jelas bahwa kau adalah pemberontak kuat yang membenci para dewa." Erion memegang dagunya sendiri sampai memunculkan jubah warna hijau muda.
__ADS_1
"Pembantai para Dewa... pembantaian... mungkin dengan membunuh dirimu bisa saja aku akan dikenal sebagai seorang Dewa yang mempermalukan keturunan Shimatsu."
"Jangan banyak bicara! Cepat lawan diriku sekarang juga...!!!" Koizumi memasang tatapan kesal sehingga Erion mulai mengeluarkan banyak sekali angin melalui tubuhnya.
***
"Hah... Hah... Hah..." Shinobu berlutut di atas tanah dengan kedua lengannya yang menjatuhkan banyak sekali darah sampai ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya itu.
Salah satu sihir angin yang sudah dia lepaskan telah memasuki semua lubang luka itu sampai mencabik-cabik organnya, kecepatan Shinobu lebih unggul tetapi ia tidak bisa mengenai satu pun serangan kepada Keith.
Sekali saja dia menyerang tubuhnya yang terbentuk dari angin itu maka semua angin tersebut akan menyesuaikan kecepatan yang sama dengannya karena bantuan dari God Lenergy lalu menyerang dirinya.
Hanya memiliki dua nyawa tersisa, Shinobu sudah menerima banyak kematian dari Keith sampai ia tidak menyangka bahwa ia bisa saja kalah ketika melawan Saint Legenda dengan wujud tingkatan keempat bernama [Saint Beyond God].
"Apakah kau tidak mengerti, Shinobu Koneko?" Keith memasang tatapan yang terlihat mengancam sampai Shinobu langsung tertekan dengan daratan oleh angin yang terlepas dari atas langit.
"Kekuatan yang kau miliki sudah tidak tertandingi... inilah yang terjadi jika orang baik disakiti, mereka akan turun ke dalam medan perang dengan membalas dendam!" Keith melebarkan matanya.
Shinobu langsung memunculkan pohon emas besar di depannya yang berhasil menahan semua serangan angin, tidak lama kemudian pohon itu hancur sampai Shinobu menerima beberapa tebasan yang membuatnya menjerit kesakitan.
"Light of Hope... TINGKATKAN SERIBU!!!" Shinobu melesat maju ke depan lalu ia menghantam wajah Keith sampai ia membawa dirinya ke depan lalu menabrak banyak sekali berbatuan besar.
Tubuh Keith kembali terbentuk dengan angin sampai perutnya menerima satu tendangan lutut yang dibantu dengan pembakaran dari kedua tapak kakinya sampai punggungnya mengeluarkan banyak gelombang emas.
Shinobu melancarkan beberapa tendangan yang mengenai wajahnya beberapa kali sampai Keith tertekan, Keith mencoba untuk menyerang tetapi tubuh Shinobu langsung berubah menjadi cahaya untuk sekejap.
"Ck!!!" Keith langsung menerima satu tebasan di belakang punggungnya oleh Keris tersebut, ia terpental menuju daratan sampai menerima banyak tembakan cahaya yang keluar melalui senapan teknologi di kedua lengannya.
Keith melempar mundur semua tembakan emas itu menggunakan sihir anginnya lalu ia melepaskan pusaran bola angin ke depan dan melepaskan gelombang angin yang dapat menghancurkan apapun.
Shinobu melepaskan seluruh cahaya emasnya sampai menahan angin itu untuk tidak mengenai tubuhnya, setelah itu ia mulai melebarkan kedua lengannya lalu melepaskan gelombang cahaya melalui mulutnya.
Keith berhasil menghindari gelombang itu tetapi ia dikejutkan dengan keberadaan Shinobu yang muncul tepat di belakangnya selagi memasang tatapan tajam.
"Sampai jumpa...!!!" Shinobu melepaskan gelombang emas lainnya melalui mulut itu sampai serangan tersebut membawa Keith ke belakang dengan tubuh yang menerima luka bakar dari cahaya itu.
Untungnya Keith berhasil mengeluarkan pusaran angin yang menghisap semua cahaya itu lalu ia melepaskannya ke depan sampai Shinobu menangkisnya menggunakan Keris yang ia pegang di tangan kirinya.
Shinobu terbang ke atas langit bersama Keith lalu mereka bertarung dengan melancarkan beberapa serangan fisik dan sihir yang saling beradu sampai kekuatan mereka mulai imbang.
__ADS_1
Hanya saja kekuatan yang Keith peroleh bisa dibilang permanen dan bertahan cukup lama, berbeda dengan Shinobu yang menerima kekuatan peningkatan dan tumpukan dari Light of Hope.
Keith menendang dagu Shinobu menggunakan sikutnya lalu ia melewati tubuhnya dan menebas punggungnya sampai ia terpental menuju daratan.
Shinobu yang terpental ke belakang menyempatkan waktunya dengan mengumpulkan banyak Lenergy melalui mulutnya lalu melepaskan gelombang emas tebal menuju arah Keith sampai mengenai tubuhnya.
"ROAAARRRRR!!!" Shinobu melepaskan raungan keras yang memperbesar serangan gelombang itu sampai Keith menghilang dengan memisahkan tubuhnya menjadi angin.
Keith membentuk kembali di belakang Shinobu, ketika ia menoleh ke belakang dirinya langsung menerima satu pukulan angin yang menembus pinggangnya sampai mengeluarkan banyak darah.
"Hnggghhhh...!!!" Shinobu menutup luka itu dengan daun emas tetapi Keith mencoba untuk menyerang dirinya tetapi Shinobu berhasil melepaskan pembakaran melalui kedua tapak kaki dan tangannya sampai membakar tubuh Keith.
"Saint Beyond God... aku tidak menyangka kekuatan seperti ini masih bisa kau kendalikan, sungguh mengerikan sampai aku tidak bisa berkata-kata lagi..." Batin Shinobu.
"...sungguh menyebalkan, sepertinya Beval dan Erion terlalu memanjakan dirinya sampai mereka tahu bahwa potensi asli Keith adalah dirinya ketika mengamuk..."
"...aku bisa mengakuinya bahwa seseorang yang memiliki tujuan besar... terutama lagi berkaitan dengan pembalasan dendam maka tekad mereka untuk meraih kekuatan pasti besar."
"Reinkarnator seperti dirimu... aku tidak menyangka kau akan memperoleh semua ini, potensi asli dari seorang Saint Legenda ketika mengikuti jalan para Dewa!!!" Shinobu melepaskan cahaya yang besar melalui tubuhnya.
"Apa yang aku lakukan ini... semuanya karena kau... jika kau tidak menyakiti hatiku maka aku tidak bisa menerima semua kekuatan hebat ini!!!" Seru Keith.
"Siapa yang memberikan dirimu kewajiban untuk mengaku sebagai Dewa yang dapat membawakan kedamaian...? Maupun itu Dewa atau Mortal, masih belum tentu kedamaian abadi datang!"
"Aku tidak akan mendengarnya darimu, Shinobu... lebih baik gadis kerdil seperti dirimu diam saja, jangan banyak bicara karena aku masih belum puas membunuh dirimu!"
"Hanya tersisa dua nyawa tersisa... dan aku akan membunuh dirimu!!!" Keith mengeluarkan banyak sihir angin yang mengandung God Lenergy di dalamnya, semua itu berputar di kedua lengannya.
"Aku sudah menjawab tujuanku sebelumnya... aku akan mengubah dunia dengan caraku sendiri, mereka yang menghalangi akan menerima kesakitan dari anginku ini!"
Keith mengingat kembali kejadian soal Shinobu yang mengkhianati dirinya, ia yang begitu polos dan tidak berdosa dikhianat begitu saja oleh gadis kecil seperti dirinya yang berlagak baik.
"Topeng yang kau gunakan sejak itu...!!!"
"Brengsek...!!! Brengsek...!!! Brengsek...!!!" Keith merapatkan giginya cukup keras sampai ia mengepalkan kedua tinjunya lalu mengeluarkan banyak sekali angin.
Angin itu mulai menyerang Shinobu yang saat ini berada di kondisi sekarang karena menerima banyak luka dari dirinya, "Aku masih belum melihat celah..."
"...sayang sekali, ini mungkin akan menjadi akhir bagi diriku."
__ADS_1