Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 51 - Base Hunting and Survival


__ADS_3

Korrina tergeletak di atas lava dengan ekspresi yang terlihat lelah, "Hah... Hah... Hah..." Korrina tersenyum kecil sehingga ia berubah kembali menjadi wujud biasa-nya, mata kirinya yang tadi berwarna Crimson langsung berubah menjadi warna biru lautan lagi, "Aku berhasil... Alvin..." Mata kiri Korrina mulai mengeluarkan darah yang berwarna merah dan hitam.


Arata mendarat di depan Korrina sehingga pedang God-Slayernya mulai menghilang lalu masuk ke dalam tubuhnya, "... ..." Arata mulai menatap Korrina dengan ekspresi yang lelah juga, "Sepertinya kita berhasil." Ucap Arata yang mulai menghela nafasnya pelan lalu ia membantu Korrina berdiri.


Korrina mulai melihat sekeliling dimana ia melihat banyak sekali penghuni wilayah api, Korrina sadar bahwa ia sudah tidak bisa lagi merasakan keberadaan seorang dewa kehancuran, Obelisk sudah bisa disebut hancur karena berkat kerja sama dari kelas tiga. Untungnya mereka semua tidak kehilangan satu korban melainkan mereka kehilangan banyak sekali korban dari kelas satu, dua, empat, dan lima. Keempat kelas itu terbantai habis oleh Obelisk menggunakan sihir kehancuran dan Vanish-nya.


Catherine mulai membuka portal menuju akademi dan ia juga tidak lupa untuk membawa Korrina dan Arata pulang, mereka berlima tersenyum lebar karena sudah berhasil dengan selamat dalam menyelesaikan tantangan kedua yaitu mengalahkan dewa kehancuran. Mereka semua tiba di atas atap selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat senang dan Morgan menyaksikan kehadiran mereka dengan sebuah senyuman juga, "Kerja bagus, kelas tiga. Kalian berlima sudah siap untuk langsung masuk ke dalam Tournament of Solicitation. Selamat dan aku merasa senang melihat kalian kembali dengan selamat juga mengalahkan dewa kehancuran Obelisk." Morgan mulai menundukkan kepalanya kepada mereka.


Arata berjalan pergi meninggalkan mereka karena ia tidak memiliki urusan apapun dengan mereka lagi, tugasnya untuk membunuh dewa kehancuran Obelisk telah selesai dan juga kondisinya sudah kembali pulih karena Korrina sudah pasti akan menyembuhkan mereka semua dengan rambut atau sihir penyembuhan-nya. Korrina hanya menatap Arata dengan ekspresi yang terlihat serius, "Apakah kau akan berlatih?" Tanya Korrina.


"Tentu saja."


"Bukannya kau membutuhkan sedikit istirahat...?" Tanya Korrina, "Aku tidak membutuhkannya." Jawab Arata sehingga ia menghilang dan meninggalkan mereka semua. Korrina hanya bisa tersenyum kecil dan ia sadar bahwa berlatih secara berlebihan itu tidak baik, Agfi dan Catherine berjalan pergi, "Kalian mau kemana?" Tanya Korrina.


"Kami akan beristirahat dan mungkin makan siang." Jawab mereka bersamaan, Agfi menatap Korrina lalu ia melambaikan tangannya, "Dadah, Mama" Agfi tersenyum dan senyuman itu membuat Korrina bangga bahwa ia benar-benar membantu kelas tiga dalam melawan Obelisk, ia bisa merasakan bahwa racun Agfi bekerja seratus persen untuk mengefek seluruh tubuh Obelisk, di setiap pukulan atau tebasan yang Korrina lakukan ia merasakan bahwa tulang Obelisk terasa rapuh layaknya seketika ia menebas tulang-nya, ia seperti menggunting kertas menggunakan gunting.


Morgan mulai menatap mereka, "Sepertinya kau telah merawat anakmu dengan baik, Korrina." Ucap Morgan, Korrina hanya bisa mengangguk, "Dia lebih dominan terhadap darah Alvin sih." Korrina terkekeh lalu ia menatap Shira yang sedang menatap lengan kiri-nya, "Apa yang akan kau lakukan sekarang, Shiratori Shira?"


"Aku akan menunggu kehadiran Megumi dalam menyelesaikan tantangan ketiga. Apa yang terjadi jika semua tantangan telah selesai?" Tanya Shira kepada Morgan, "Kalian semua akan belajar seperti biasa lalu kemampuan kalian juga akan diuji karena beberapa murid yang tidak mengikuti turnamen akan diuji agar mereka bisa lolos dalam seleksi Tournament of Solicitaiton." Ucap Morgan, "Beberapa bulan lagi, turnamen akan dimulai jadi kalian persiapkan diri saja." Morgan berjalan pergi meninggalkan mereka.


Shira mengangguk lalu ia mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat menang, "Aku akan menang!" Shira mengepalkan tinju kanannya.

__ADS_1


***


Beberapa jam yang lalu dimana semua peserta yang mengikuti tantangan ketiga berkumpul, mereka semua mulai menatap Lina, seorang pemandu untuk tantangan ketiga, "Base hunting... Kalian mulai dari sekarang harus bertahan di wilayah itu selama satu minggu penuh, tiga hari itu tidak cukup dan terlalu mudah bagi kalian peserta yang pasti memiliki sihir suci atau pemulihan racun. Satu minggu saja dan kalian aman, jika markas kalian hancur maka kalian akan di diskualifikasi dan dikeluarkan." Ucap Lina.


"Peraturan-nya sangat mudah, kalian harus bertahan hidup serta menjaga markas inti kalian dari segala bahaya seperti serangan monster atau serangan dari peserta lain. Semua fasilitas akan datang ketika satu jam telah terlalui, sebuah kubus yang berisi fasilitas yang kalian butuhkan berada di dalamnya seperti tenda, makanan, dan topeng untuk bisa bertahan dalam menghirup udara yang beracun." Ucap Lina, tantangan ketiga itu intinya semua peserta yang mengikuti diwajibkan untuk bertahan dan menjaga markas inti mereka agar tidak hancur. Semua peserta yang mengikuti tantangan ketiga akan dipindahkan ke wilayah yang bernama Realm of Poison dimana tempat itu sangat beracun, Lina sendiri mampu mengendalikan racun itu di wilayah tersebut karena ia sudah menciptakan sebuah pulau untuk mereka melakukan tantangan ketiga itu dan sudah pasti bahwa pulau itu akan terlindungi dengan barrier yang menghalang racun dari wilayah tersebut.


"Tantangan kalian akan berjalan di pulau besar yang sangat terpencil, tempat itu tidak racun kok, tetapi tempat itu akan beracun jika aku membuka barrier itu atau memasukkan sedikit racun yang menyebar ke dalam barrier yang melindungi pulau tersebut. Lima kelas akan memiliki inti markas mereka masing-masing yang berbentuk seperti kristal, setiap kristal memiliki warna yang berbeda di mulai dari satu yaitu kuning, dua itu biru, tiga itu merah, empat itu hijau, dan yang terakhir adalah lima yaitu putih." Lina menjelaskan tentang inti markas yang berbentuk kristal, jika kristal itu hancur maka mereka semua akan tereliminasi.


"Warna merah ya..." Ungkap Megumi, "Kristal itu bisa kalian bawa jika kalian memiliki sebuah barang yang kalian temukan melalui fasilitas... Markas inti kalian bisa kalian pindahkan menggunakan Shrink Button, dimana tombal itu mampu membuat kristal itu mengecil lalu kalian bisa menyimpannya di saku kalian. Ingat... Kristal yang kecil itu akan membesar beberapa saat ketika beberapa menit telah terlewati, kalian memiliki satu menit saja." Lina mengacungkan jarinya selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat, "Satu menit ya... Itu artinya kita tidak boleh menyia-nyiakan satu menit itu." Ucap Akina.


"Kristal itu akan melayang dan akan terus melayang, jika kristal itu hancur maka kristal tersebut akan pecah menjadi beberapa bagian sehingga menciptakan sebuah portal di bawah kalian semua lalu mengeliminasi kalian. Tantangan ini juga... Kalian tidak bisa terbang dan kalian bebas untuk membunuh siapapun, tanggung jawab tentunya berada di kedua tangan kalian." Lina tersenyum sinis dan membuat mereka semua langsung menunjukkan ekspresi yang terlihat serius, "Sepertinya akan susah..." Ucap Ophilia dengan nada yang pelan.


"Setiap hari yang terlewati maka barrier akan mengecil yang mengartikan bahwa kalian harus bergerak, barrier akan mengecil dan jika seseorang menyentuhnya maka mereka akan terbakar atau tersengat racun yang berbahaya. Ditambah juga, kalian harus menjaga kristal itu dengan aman." Ucap Lina, sepertinya tantangan tiga ini cukup sulit karena mereka semua harus mengangkat atau memindahkan kristal yang melayang itu.


"Bukan hanya itu. Di pulau itu... Terdapat beberapa kristal kecil yang dapat menciptakan sebuah rumah atau tempat untuk beristirahat. Kristal kecil itu bisa disebut sebagai kristal cadangan, jika kalian menemukannya terus menggunakannya maka markas inti kalian tidak akan bisa hancur sebelum kristal cadangan itu hancur. Kalian juga mampu memindahkan kristal cadangan itu." Semua peserta langsung membulatkan kedua mata mereka karena sepertinya tantangan ketiga harus benar-benar berusaha dan jangan sekali kali untuk meremehkan, kerja sama juga penting.


"Jangan hanya fokus tentang markas atau bertahan. Fokus kalian juga harus kepada serangan terhadap markas musuh kalian dan juga untuk berhati-hati jika wabah racun dari wilayah itu muncul. Lebih cepat lebih bagus bukan?" Tanya Lina dan mereka semua langsung mengangguk, "Tantangan tiga memiliki seorang pemimpin dan satu-satunya orang yang mampu memindahkan kristal atau mengecilkan kristal hanyalah seorang pemimpin. Pemimpin kalian tidak akan bisa diganti kecuali dengan alasan yang logis, kalian bisa mengganti pemimpin menggunakan barang dari fasilitas juga."


Penjelasan Lina makin maju makin sulit untuk dirancang karena semuanya terdengar rumit bagi semua peserta, "Pemimpin ya...? Kristal itu berat bukan?" Ucap Asuka selagi mengacungkan tangan kanannya, "Ya... Urus tentang pemindahan kristal itu sendiri, gunakanlah otak dan rencana kalian." Jawab Lina.


"Jika seorang pemimpin mati atau terkalahkan duluan maka kelas itu akan gugur lalu kalah. Ingatlah, pulau itu memiliki banyak monster, ancaman, dan jebakan. Kalian hanya harus mempersiapkan mental kalian semua." Lina tersenyum lalu ia mulai menjentikkan jarinya sehingga portal besar muncul di atas semua peserta lalu menghisap semua peserta itu masuk ke dalam portal.

__ADS_1


Beberapa detik kemudian, sebuah portal muncul di atas tanah yang berwarna hijau lalu semua peserta mendarat di atas tanah itu selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat kebingungan, "E-Ehh...? Jadi inikah...?" Tanya Akina sehingga seluruh tubuhnya mulai merinding karena ia bisa merasakan banyak sekali racun dari luar barrier yang ia lihat di belakang, "Tempat ini menyengat... Banyak sekali racun." Mirai menghela nafasnya.


Lina muncul di depan mereka berdua, semua peserta sudah berbaris di tempat yang disediakan seperti peserta kelas satu berbaris di tempat kelas satu, semua peserta melihat sebuah kubus besar di depan mereka, "Sebentar lagi... Tantangan ketiga akan dimulai, jadi aku sudah menyediakan kalian semua baju yang akan kalian gunakan selama satu minggu ini." Ucap Lina, semua peserta itu bergerak menuju arah kubus itu lalu mereka mulai membukanya sehingga isi dari kubus tersebut adalah sebuah jaket atau baju training dengan warna yang sama dengan kristal mereka masing-masing, "Jaket berwarna merah..." Rexa mulai memegang erat jaket tersebut lalu semua peserta mulai memakai jaket mereka masing-masing, terdapat sebuah angka di punggung mereka. Angka itu menandakan kelas yang mereka wakili.


"Hei, Akina, terdapat angka tiga di belakang jaket-mu." Ucap Megumi yang mulai menyentuh punggung Akina, "Ehh...? Iyakah...?" Tanya Akina.


Shua mulai memegang dagu-nya, "Sepertinya menipu peserta lain akan sulit juga jika kita harus menggunakan jaket ini..." Ucap Shua, "Jaket itu diwajibkan untuk dipakai setiap hari sampai tantangan selesai, bukan hanya jaket saja. Kalian juga harus menggunakan jam yang tersedia di dalam kubus tersebut." Suruh Lina, Mirai mengambilnya lalu ia menatap jam tersebut yang mulai mengeluarkan hologram angka tiga.


"Kegunaan jam tersebut itu sangat berguna, jam itu dapat memberitahu kalian tentang fasilitas yang akan jatuh atau mendarat. Jam itu juga dapat mendeteksi wabah racun yang akan datang, jadi kalian harus berhati-hati ya, jam itu juga menunjukkan sebuah peta dan juga barrier yang akan mengecil di setiap satu hari yang telah terlewati, jangan sampai kalian kehilangan jam tersebut dan jam itu harus kalian pakai setiap hari." Suruh Lina dan semua peserta langsung mengangguk, Lina mengacungkan kedua lengannya sehingga sebuah dinding muncul dan menghalang semua kelas, "Selanjutnya adalah pemilihan pemimpin, di dalam kubus itu juga terdapat sebuah kartu kecil yang terisi data hanya untuk pemimpin, ambil kartu itu lalu masukkan kartu itu ke dalam jam tangan kalian dan kalian sudah resmi menjadi pemimpin kelas kalian. Dinding yang aku munculkan ini aku lakukan dengan sengaja agar kalian tidak bisa melihat langsung siapa pemimpinnya, itu bisa disebut sebagai curang." Ucap Shua.


Megumi mengambil kartu kecil yang berwarna merah, kartu itu mulai mengkilat, "Baiklah, semua. Kita harus memilih pemimpin yang terlihat tidak mencolok sama sekali." Ucap Megumi, Akina mulai menunjuk Mirai, satu-satunya laki-laki yang dari kelas tiga yang berpartisipasi di tantangan tiga, "Jika pemimpin-nya aku maka itu cukup masuk akal, laki-laki itu seorang pemimpin dan aku satu-satunya laki-laki yang mengikuti tantangan tiga ini. Lebih baik pilih pemimpin lain selain diriku." Tolak Mirai karena jika dia dipilih menjadi pemimpin maka semua kelas pasti akan mengetahui jelas bahwa Mirai adalah pemimpin dari kelas tiga dan ia sudah pasti akan diincar oleh mereka semua.


"Kalau begitu, mari kita memilih Shua." Ucap Asuka yang mulai menunjuk Shua yang terlihat seperti merancang sebuah rencana, "Ehh...? Aku?" Mereka semua mulai menatap Shua dengan ekspresi yang terlihat serius sehingga mereka mulai menunjukkan senyuman mereka karena Shua itu terlihat tidak terlalu mencolok karena dia ini pendiam dan juga keren, dia menjalankan apapun dengan sangat santai sehingga tidak banyak peserta mengenal Shua, "Sepertinya Shua cocok juga untuk dipilih menjadi seorang pemimpin." Ucap Megumi yang mulai menggerakkan ekor-nya.


"Heh...? Aku...? T-Tidak mungkin!" Shua mencoba untuk menolak, tetapi Ophilia mulai memegang kedua tangan Shua selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat memohon, "Aku mohon, Shua, kau adalah satu-satunya gadis yang terlihat tidak mencolok." Ucap Ophilia.


"Yahh... Dada-ku kecil sih, jadi aku tidak terlalu mencolok." Balas Shua dengan nada yang terdengar pelan, "Jika kau keberatan maka aku saja yang menjadi pemimpin." Rexa mulai mengacungkan tangan kanannya, tetapi Shua langsung menunjukkan ekspresi yang terlihat seperti mengancam, "Hiiii!!! Apa-apaan ekspresi itu!?" Tanya Rexa yang mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat ketakutan.


"Aku saja!!!" Shua merebut kartu kecil itu dari Megumi lalu ia mulai memasukkan kartu kecil itu ke dalam jam tangannya sehingga jam tangannya mulai bersinar lalu memunculkan hologram yang mengatakan, "Pemimpin." Shua mulai tersenyum lebar merasa bangga terhadap dirinya sendiri ketika ia melihat kata pemimpin, "Aku akan melakukan yang terbaik!" Ucap Shua dengan nada yang terdengar bersemangat.


"Kami juga!" Jawab mereka semua. Beberapa menit kemudian, "Sepertinya kalian semua sudah siap untuk menjalankan tantangan ini. Bersiaplah karena tantangan akan dimulai." Ucap Lina, Shua mulai menatap rekan-rekannya, "Mari kita lakukan yang terbaik teman-teman!" Shua bersama dengan rekan-rekannya mulai membuat sebuah lingkaran lalu mereka menepatkan tangan mereka di depan, "Kelas tiga...!!! AYOOOO!!!" Mereka semua mulai mengacungkan tangan mereka semua.

__ADS_1


"Kalian akan melakukan teleportasi dalam satu... dua... tiga...!!!" Lina menjentikkan jari-nya sehingga mereka semua langsung menghilang. Shua dan teman-temannya muncul tepat di depan kristal merah yang melayang, "Sepertinya sudah dimulai." Ucap Megumi yang mulai menatap kristal yang memiliki ukuran yang lumayan besar.


"Semuanya dimulai dari sekarang!" Ucap Shua yang mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat serius. Mereka semua langsung mengangguk, "Ayo!!!"


__ADS_2