
"A-Ahh, maaf, silakan lanjut menikmati makanan kalian." Ucap Haruka kepada semua pelanggan sehingga ia mengajak mereka semua menuju ruangan VIP untuk membahas pemberontakan itu.
"Baiklah... kita lanjut dari mana ini?" Tanya Haruka selagi menyilangkan kedua lengannya.
3 tahun lamanya, Haruka telah menjadi sesosok ibu yang begitu tegas sampai ia mengetahui apa yang terbaik untuk putrinya sendiri, intinya dia sudah bertanggung jawab dengan baik mengurusi Koizumi dan Touriverse.
"Sudah saatnya untuk membiarkan Koizumi melakukan pekerjaan seperti Legenda layak? Pemberontakan..." Ucap Arata yang mencoba untuk mengusap kepala Koizumi tetapi tangannya terus di tepis.
"Tidak mungkin... pemberontakan itu khusus Legenda yang berpengalaman dan Koizumi tidak memiliki pengalaman yang pas..."
"...jika saja melakukan pemberontakan itu mudah maka kau salah, sekali dia gagal maka apa yang ia dapatkan akan jauh lebih mengerikan di bandingkan harapanku."
"Aku memulai pemberontakan sejam umur 5 tahun, Koizumi masih berumur 3 tahun, dan dia juga sering melakukan latihan sesuai dengan kemauan dirinya." Arata memegang dagunya.
"Mungkin sudah saatnya untuk menaikkan semua itu ke tingkatan yang berbeda, Haruka."
"Dia belajar begitu cepat karena darahku, ia juga memiliki potensi untuk menjadi seorang Legenda yang hebat dalam melakukan pemberontakan."
Sejak Koizumi berumur 2 tahun, Arata mengingat jelas ketika ia melakukan latihan bersamanya bahwa ia sudah dapat menghancurkan apapun yang ia aku dengan kekuatannya itu.
Bahkan monster yang ia tangkap dan jadikan lawan untuk Koizumi tidak memiliki kesempatan sedetik apapun karena ia langsung menghabisinya sebelum menginjak satu detik.
Kemungkinan besar karena kekuatan waktu Koizumi, dia memang sudah berlatih sejak bayi menggunakan waktu tetapi mereka tidak menyadarinya.
Hanya saja potensial dan kekuatan asli Legenda bangkit ketika mereka ingin bekerja saja atau berusaha lebih keras untuk bertambah kuat tanpa merasa puas sekalipun.
"Lima tahun ya... umur seperti itu memang sudah cocok bagi Legenda melakukan pertarungan dengan bebas."
"Hanya saja, tiga tahun masih belum cukup karena Koizumi masih memerlukan beberapa pengalaman dan ilmu pengetahuan yang harus ia ketahui." Ucap Haruka dengan tatapan serius.
Koizumi hanya bisa diam karena ia menuruti perintah ibunya saja, ia sendiri mengetahui apa yang terbaik untuk dirinya sendiri karena setiap perkataan Haruka memberi dirinya harapan untuk terus bertambah kuat.
Koizumi tidak berani membantah perintahnya sedikit pun sehingga ia sangat menurut kepada Haruka, berbeda dengan Rokuro.
"Empat tahun saja, Ibu." Koizumi menatap Haruka, mereka semua langsung memasang tatapan yang terlihat kaget.
"Sejak aku berumur dua tahun... aku sudah mengalahkan berbagai macam monster dengan kekuatanku yang berhasil aku kendalikan melalui latihan."
"Satu tahun saja sudah cukup untuk memberikan diriku berbagai macam pengalaman agar aku bisa melakukan pemberontakan." Koizumi tersenyum kecil kepada Haruka.
Haruka ikut tersenyum karena ia tidak bisa melakukan apapun soal itu, darah Shimatsu dan Comi bersatu sampai ia bisa melihatnya dengan jelas dari Koizumi.
"Kamu belajar dan beradaptasi begitu cepat karena darahku... rasa untuk bertarung dan membantai sesuatu yang salah berasal dari Ayahmu." Haruka mengelus kepala Koizumi.
"Jika kamu mau berlatih dengan teratur dan mengetahui waktu istirahat maka Ibu izinkan..."
"...lagi pula, kamu akan meneruskan diriku dan keturunan Shimatsu bukan? Menjadi seorang Legenda pemberontak yang hebat." Haruka terkekeh.
"Ibu bisa andalkan diriku." Koizumi mengangguk dengan tatapan penuh tekad sampai membuat atmosfer di ruangan terasa begitu sejuk.
"Kalau begitu, aku akan sebisa mungkin meluangkan waktu untuk melatih dirimu lagi, Koizumi." Arata mencoba untuk mengelus kepala Koizumi tetapi lengannya langsung di raih olehnya.
"Ini yang terakhir, oke...?" Koizumi mengatakannya dengan pipi yang memerah karena ia baru saja mendapatkan izin dari Haruka bahkan sampai mendapatkan latihan lainnya dari Arata.
Koizumi menempati tapaknya di atas kepalanya, "Bukannya aku tidak suka dengan elusan... hanya saja aku bukan anak kecil lagi."
"Cucuku memang sangat imut ya... dingin dan serius di luar tetapi masih memiliki perasaan yang begitu lembut." Arata terus mengusap kepalanya sampai Koizumi menunduk.
"Sudah cukup...! Jangan lama-lama!" Seru Koizumi dengan tatapan serius tetapi pipinya terlihat merah.
"Sungguh mengejutkan, Koizumi. Aku tidak mengira kau akan menjadi seorang Legenda pemberontak lebih cepat yang aku kira." Haruki duduk di atas kursi selagi menikmati secangkir teh.
"Aku hanya bosan mendengar hasil dari pekerjaan seorang pemberontak... setidaknya aku ingin mencoba untuk melakukannya sendiri dan merasakannya secara langsung."
"Mengetahui era kerajaan ini sangat lah bodoh dan menyebalkan..."
"...mendengar raja Legenda sangat tidak adil membuat darahku bergejolak sampai aku merasa geram ingin menyiksa mereka!" Koizumi mengepalkan tinjunya.
"Hmm~ keturunanku akan terus berlanjut... ternyata cucuku memang mirip sepertiku." Ungkap Arata yang merasa sangat bangga.
"Aku tidak menyangka kau masih bisa menunjukkan sisi lembut itu, Arata." Kuro mulai berbicara.
"Bukan sisi lembut melainkan rasa bangga yang besar kepada keturunanku... Shimatsu Koizumi." Ungkap Arata.
__ADS_1
"Wah, wah, lihat siapa yang sedang marah..." Haruka terkekeh lalu ia mengambil sebuah mangkuk yang berisi kentang goreng.
"Koizumi, mau kentang goreng?" Tanya Haruka untuk memenangkan perasaan kesalnya itu terhadap raja.
"Tidak mau..." Koizumi menatap arah lain tetapi ia langsung menelan air salivanya karena kentang goreng itu adalah sumber kelemahan yang ia miliki.
"Wah, wah, sepertinya Ibu habiskan---"
"Satu saja..." Koizumi mengambil satu kentang goreng lalu memakannya dengan pelan, ia tidak bisa menahan perasaannya lagi sehingga mengambil mangkuk itu
"...satu yang aku maksud itu satu mangkuk penuh." Koizumi duduk di atas kursi sebelah Haruka lalu kepalanya mendapatkan sebuah elusan dari Haruka.
"Ngomong-ngomong, soal kerajaan Legetsu... sepertinya wilayah mereka bertambah lebih luas, aku sendiri tidak mengetahui dengan jelas apa yang sedang di oleh raja sialan itu." Kata Haruka.
"Regulus memiliki banyak bantuan yang besar... bantuan itu bahkan memiliki kekuatan yang jauh lebih mengerikan di bandingkan dirinya." Jawab Ophilia.
"Sampai sekarang yang menggangguku adalah Legenda dengan tanduk itu... aku belum pernah melihat dirinya, dan Kuro terus memintaku untuk menemuinya sebisa mungkin." Kata Arata.
"Kalau tidak salah... terdapat dua Ancient Legenda yang berbahaya, salah satunya adalah Legenda yang bertanduk itu dan satunya lagi adalah Legenda yang mengenakan topeng..."
"...identitasnya sangat tersembunyi bahkan aku sendiri tidak begitu mengetahui kekuatan dan kemampuan apa yang ia miliki." Kata Haruki.
Bag! Bag! Bag!
Terdengar suara ketukan di balik pintu ruangan VIP itu, "Permisi! Hei, permisi!"
"Hinoka, jangan terlalu keras..."
"Ugh, Hinoka..." Ucap Koizumi pelan dengan tatapan suram karena ia merasa tidak nyaman ketika melihat sepupunya yang aneh itu.
Haruka terkejut ketika mendengar suara Hinoka dan Honoka, sudah lama sekali mereka tidak bertemu karena terlalu sibuk mengurusi seorang putri dan situasi dari era kerajaan ini.
"Pintu tidak terkunci kok." Ucap Ophilia.
Honoka membuka pintu itu, mereka bisa melihat Hinoka yang berumur tiga tahun, penampilannya mirip seperti Koizumi tetapi gaya rambutnya memiliki dua ikatan di kedua sisinya dengan poni yang menghalangi mata kirinya.
Rambutnya merah tetapi memiliki satu helai yang berwarna oranye, Koizumi mencoba untuk melarikan diri tetapi Haruka mulai menahan dirinya karena ia ingin Koizumi menciptakan hubungan yang baik dengan sepupunya.
"Itu... tidak apa-apa... aku hanya takut saja." Koizumi menghabiskan semua kentang goreng itu karena ia bisa merasakan keberadaan Hinoka mulai mendekat.
"Koizumi! Koizumi! Koizumi! Ayo bermain...!!!" Hinoka mulai menarik lengan Koizumi sampai ia bisa merasakan keceriaannya itu membuat dirinya merasa mual.
"Hinoka... apa mau---"
Hinoka menyentuh dagu Koizumi, "Kamu tidak merindukan diriku...?"
"Tidak sama sekali, apa yang harus aku rindukan darimu?!"
"Koizumi, kamu dingin... dan aku menyukainya! Ciuman sambutan, chuuuuuu~" Hinoka mendekatkan wajahnya sampai Koizumi melebarkan matanya karena tidak bisa melakukan apapun kecuali menerima ciuman itu.
"Hohhhh... bagus, Hinoka, kamu memang putriku... menyambut seseorang yang dekat dengan sebuah ciuman." Honoka mengangguk selagi memegang dagunya.
"Apa yang kamu ajarkan kepada putrimu, Honoka?!" Tanya Haruka dengan tatapan kaget karena ia mulai mengingat Honoka sering sekali melakukan ha seperti itu kepadanya.
"Hentikan...!!! Menjijikkan!" Koizumi mendorong Hinoka pelan selagi menutup mulutnya, wajahnya terlihat merah karena ia diam-diam merasa nyaman ketika menerima sambutan itu.
"Hehehe, kamu pasti menyukainya bukan...? Apakah ciumanku jauh lebih nikmati dibandingkan kentang goreng?"
"Jangan bodoh, tidak ada di dunia ini yang dapat mengalahkan perasaanku kepada kentang goreng...!" Seru Koizumi
"Rasanya aneh juga..." Kata Haruki pelan karena ia tidak menyangka ciuman adalah sambutan bagi keturunan Comi.
"Kenapa kamu memasang tatapan suram seperti itu...?" Tanya Arata dengan ekspresi yang lebih suram karena ciuman tadi mengingatkan dirinya kepada adiknya yang tidak normal.
"Permisi." Terdengar suara seseorang yang tidak asing, mereka langsung menatap orang itu dengan tatapan yang terlihat senang.
"Ahh, Kou, sudah lama sekali aku tidak melihatmu. Kamu pasti sibuk menandakan beberapa kerajaan bukan?" Tanya Ophilia.
Mereka semua menyambut kedatangan Kou dengan hangat karena ia satu-satunya orang yang mengetahui semua informasi dari semua kerajaan yang terdapat di Yuusuatouri.
Semua informasi itu langsung ia berikan kepada Legenda pemberontak untuk menyelesaikan masalah itu dan mengakhiri semua kerajaan itu agar wilayah bisa di taklukkan oleh dirinya.
"Kalian terlihat sehat... syukurlah." Kou tersenyum, ia bisa melihat Honoka dan Haruka mengalami banyak perubahan, mereka terlihat seperti seorang ibu yang asli.
__ADS_1
"Hahhh... penampilan kalian semua mengalami beberapa perubahan tetapi aku tetap sama, kecil seperti ini." Kou menghela nafasnya pelan karena fisiknya akan tetap seperti itu untuk selamanya.
"Ohh!?" Hinoka melebarkan kedua matanya ketika ia melihat sepupu lainnya sedang bersembunyi di belakang Kou selagi mengintip.
Mereka semua menyadari keberadaan putri Kou yang sedang bersembunyi di belakangnya selagi mengintip, Puri Kou yang bernama Shinobu memiliki kepribadian yang membuat dirinya merasa malu dan ketakutan ketika berinteraksi..
Shinobu terlihat lebih mirip dengan Kou, masih belum terlihat tanda dari Shuan, memungkinkan besar cara bertarungnya dan perjuangannya akan sama seperti dirinya.
"Uwah~ ternyata versi Korrina yang lebih kecil telah datang juga." Ophilia bisa melihat Shinobu terus bersembunyi di belakang Kou.
"Cucu Shira ya..." Haruki tersenyum ketika melihat Shira.
"Namanya adalah... Shinobu kalau tidak salah ya? Kemari Shinobu, bagaimana jika kamu bermain dengan kedua sepupumu itu?" Tanya Arata.
"... ..." Shinobu hanya bisa diam dengan tatapan yang terlihat malu dan ketakutan karena ia sangat sulit untuk berteman dengan siapa pun bahkan sepupunya sendiri.
Koizumi terus memperhatikan Shinobu dengan tatapan serius, "Shinobu... kemari."
Shinobu menggelengkan kepalanya, "... ..."
"Shinobu~" Hinoka mencoba untuk mendekat tetapi Koizumi menarik lengannya sampai ia menjauhkan Hinoka dari Shinobu karena ia terlalu berbahaya untuknya.
"Jangan melakukan sesuatu yang buruk kepada Shinobu, aku tidak akan memaafkanmu loh." Peringat Koizumi karena Hinoka sering sekali membuat Shinobu menangis karena sambutannya itu.
Kou mulai mengusap kepala Shinobu, "Bagaimana, nak? Sudah berani untuk menyambut kedua sepupumu?"
"Anuuu... mmm..." Shinobu menggelengkan kepalanya dengan ekspresi yang terlihat gugup sehingga Kou memberikan sedikit dorongan.
Kou meraih lengan Shinobu lalu membuat dirinya berjalan ke depan sampai ia menahan pintu di belakangnya sehingga Shinobu terkejut ketika ia tidak bisa bersembunyi di belakang Kou.
"F-Fuuueehhhh...?!" Shinobu langsung panik ketika dirinya dapat di lihat dengan jelas oleh mereka semua.
Mereka semua memiliki rasa berbelas kasihan yang begitu besar kepada Shinobu, sejak dirinya lahir ia tidak memiliki lengan dan kaki bahkan tidak mempunyai mata kiri juga.
Semua itu berhasil Kou perbaiki dengan memberikan dirinya lengan dan kaki yang terbuat dari teknologi, matanya juga sama sehingga Shinobu dapat melakukan apapun layaknya seperti Legenda biasa.
Di pandangan mereka, Shinobu terlihat seperti Legenda setengah robot karena lengan, kaki dan mata kirinya itu yang terbuat dari teknologi canggih, setidaknya ia tetap berjuang untuk hidup dengan kondisi seperti itu.
"Shinobu!!!" Hinoka memeluk Shinobu erat sampai wajahnya mulai memerah.
"Anuuuu...! Anuuu...! Hino... ka...?" Shinobu mencoba untuk memberanikan dirinya dalam berbicara dengan sepupunya.
"Hm! Aku Hinoka, dan perempuan di belakangku ini adalah Koizumi! Kita adalah sepupu loh!"
"Anuuuu..."
Koizumi mulai menarik Hinoka, "Jangan membuat Shinobu ketakutan seperti itu, Hinoka!"
"Hehhhh... aku tidak bisa membiarkan sepupu kecilku yang imut ini tanpa sambutan apapun." Hinoka mulai mendekati Shinobu lalu mendekati wajahnya.
Shinobu terlihat ketakutan sampai ia tidak bisa melakukan apapun, bibir mereka saling bertemu sehingga pipi Shinobu bertambah semakin merah.
"Fuuueehhhh!?"
"Ciuman sambutan~"
"Anuuu..." Shinobu mulai menatap Koizumi dan Hinoka dengan tatapan panik.
"Hwehhhh... aku tidak bisa...! Mamaaaa..." Shinobu melarikan diri kepada Kou karena ia tidak bisa memberanikan diri untuk berbicara dan melakukan sesuatu yang menyenangkan dengan mereka.
"Hehehe~ sudah, sudah, yang penting kamu telah berkembang berinteraksi dengan mereka." Kou menggendong Shinobu lalu mengusap kepalanya agar ia bisa berhenti menangis.
"Jangan sekali-kali membuat Shinobu menangis lagi...!" Koizumi menyentil dahi Hinoka.
"Aw! Sakit!"
"Koizumi jahat!"
Haruka, Honoka, dan Kou menatap satu sama lain sehingga mereka terkekeh pelan karena hubungan ketiga sepupu itu setidaknya berjalan dengan lancar seperti hubungan saudara mereka.
"Rasanya cukup menenangkan hati melihat ketiga sepupu saling bertemu dan akrab seperti itu..." Arata tersenyum, perasaannya bertambah lebih tenang sekarang.
"...kau benar."
__ADS_1