Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 734 - Latihlah Mereka untuk Menjadi Legenda yang Layak


__ADS_3

"Akhirnya~ Sampai juga...! Aku tidak sabar untuk mengikuti tantangan itu!" Hinoka masuk ke dalam restoran itu yang dipenuhi oleh banyak sekali pelanggan yang sedang menikmati hidangan mereka.


"Aku ingin mengikuti tantangan pedas itu...!!! Cepat keluarkan hidangan pedas apapun tanpa harus menahan diri...!!!" Seru Hinoka yang terlihat begitu ceria dan semangat.


Mendengar dirinya yang ingin mengikuti tantangan pedas itu membuat beberapa kesatria tertawa bahwa gadis kecil seperti dirinya sudah memiliki khayalan yang begitu tinggi.


Mereka juga bahkan tidak bisa melakukan tantangan itu karena satu suapan dari hidangan pedas menyebabkan lidah mereka terbakar seketika bahkan para gadis yang menyukai pedas juga tidak mampu menghabiskannya.


"Imut sekali..."


"Oi, oi, gadis kecil seperti dirinya ingin mencoba tantangan pedas itu?"


Hinoka menyebabkan keributan kecil yang membuat semua Legenda itu merasa penasaran tentang tantangan itu, Ophilia mulai melihat Hinoka yang mencoba untuk mengambil brosur tantangan itu.


"Hinoka, aku mengeluarkan suara sekeras tadi, kamu mengganggu pelanggan yang lain loh..." Kata Ophilia yang mulai memberikan brosur itu kepada dirinya.


"Aku ingin mengikutinya!" Hinoka menunjukkan brosur itu sampai Ophilia memasang tatapan yang terlihat kaget.


"Biarkan si bodoh ini mengikuti tantangan pedas itu, Nenek. Aku yakin dirinya akan menyerah dan menangis ketika mencoba satu suapan..." Kata Koizumi.


"Ahh... anak-anak, kalian di sini ya." Ophilia tersenyum melihat mereka semua berkumpul untuk menikmati hidangan dari restoran Shimatsu.


"Kami ingin makan di sini..." Kata Koizumi.


"Baik, pergi duluan saja ke ruangan VIP. Biarkan Nenek mengurusi Hinoka yang ingin mengikuti tantangan pedas." Kata Ophilia.


Mereka semua berjalan pergi menuju ruangan VIP untuk melihat-lihat makanan, Koizumi baru saja ingat tentang kening Shinobu yang masih terluka, ia turun dari kursinya untuk mencari Ophilia.


"Kalau begitu... kami akan menahan diri soal tantangan itu, khusus untuk anak-anak seperti dirimu, mungkin kamu hanya perlu menyelesaikan satu makanan pedas---"


"Ukuran besar...! Jika kecil maka perutku tidak akan mengerti apa arti dari kepuasan terhadap makanan yang begitu pedas!" Seru Hinoka dengan ekspresi yang bersemangat.


"Ba-Baik..." Ophilia mengangguk lalu melihat Hinoka berjalan pergi menuju ruangan VIP, tantangan pedas seperti itu kemungkinan besar tidak akan mempengaruhi perut seorang Legenda seperti Hinoka.


"Kalau tidak salah... seingatku... sejak bayi, Honoka pernah memberikan cabai...?" Ophilia berjalan pergi untuk menemui Arata.


"Arata, satu tantangan pedas, gunakan satu hidangan saja... seperti ayam pedas di dalam mangkuk ekstra besar." Kata Ophilia.


"Baiklah..." Arata mulai mengurusi hidangan tersebut.


Ophilia pergi menghampiri ruangan VIP untuk menulis pesanan yang mereka inginkan, tidak lama kemudian ia bisa menyadari Shinobu sedang menahan keningnya selagi memegang sapu tangan.


"Aku lupa mengatakan sesuatu, nenek... tolong sembuhkan kening Shinobu..." Kata Koizumi yang mulai mengambil sapu tangannya itu sampai Ophilia terkejut ketika melihat kening Shinobu yang terluka.


"Shinobu... apakah mereka mengganggu dirimu lagi...? Malangnya, jadi inilah kenapa kamu jarang datang ya..." Ophilia mulai menyentuh kening Shinobu lalu menyembuhkannya dengan sihir.


"Te-Terima kasih..." Shinobu menundukkan kepalanya kepada Ophilia, ia merasa lebih baik sekarang di bagian keningnya.


"Lain kali kamu harus berhati-hati berkeliaran sambil menunjukkan ekor dan telinga itu... banyak sekali Legenda yang sensitif dengan bangsa Neko Legenda." Ucap Ophilia.


Mereka semua mulai menatap Shinobu seketika sampai ia mulai tersipu lalu tersembunyi di balik Koizumi karena tidak ingin menjadi pusat perhatian di hadapan mereka.


"Sudahlah... jangan membahas tentang hal itu lagi, kita sudah mengetahuinya beberapa kali. Nenek, aku memesan kentang goreng dengan variasi saus yang berbeda."


"Kalau aku memesan sesuatu yang selalu Ibuku sukai." Kata Konomi.


"A-Aku juga..." Ucap Ako.


"M-Marshmallow... dengan saus karamel dan madu..."


"Aku memesan mi pedas ekstra besar dengan minuman susu soda!!!" Hinoka mengatakannya sampai menepuk meja karena ia tidak bisa menunggu hidangan pedas itu lebih lama lagi.


"Oi, jangan rusuh seperti itu!" Koizumi menyentil kening Hinoka sampai Ophilia hanya bisa terkekeh pelan dan berpikir bahwa Hinoka memiliki selera hidangan pedas yang cukup mengerikan.


"Baiklah, tunggu sebentar ya." Ophilia berjalan pergi untuk mengambil pesanan mereka.


Beberapa menit kemudian, hidangan Hinoka yang terlebih dahulu datang, tantangan yang harus ia selesaikan demi mendapatkan kupon untuk makan sepuasnya, melihatnya saja membuat perutnya bersuara lagi.

__ADS_1


"Aromanya... Mmmm~" Hinoka menghirup aroma yang begitu menyengat sampai tenggorokannya bahkan seluruh teman dan sepupunya langsung menutup hidung mereka karena aroma dari hidangan itu.


"Uhugh! Uhugh...! Aromanya...! Kenapa aromanya sampai menyengat ke dalam tenggorokan..." Kata Koizumi yang mulai menutup hidungnya.


Shinobu hanya bisa diam lalu mengeluarkan sebuah penutup mulut seperti masker yang terbuat dari besi menggunakan lengannya sendiri sehingga ia membuatkannya juga untuk Koizumi dan kedua temannya.


"Hinoka, jika kamu merasa tidak kuat mencoba suapan pertama maka menyerah adalah pilihan yang baik..."


"...ayam goreng itu ditaburi oleh berbagai jenis cabai pedas termasuk bumbu yang mengandung banyak sekali cabai, kau pasti tidak akan bisa bertahan--- Heh!? Kau memakannya dengan cepat...!?"


Ophilia tercengang ketika melihat Hinoka memakan ayam goreng itu dengan cepat menggunakan kedua tangannya saja, setiap ayam goreng yang ia makan hanya menyisakan tulangnya saja bahkan bibir dan pipinya sampai blepotan karena saus itu.


Hal yang mengejutkan lainnya adalah Hinoka terlihat biasa saja sampai wajahnya menunjukkan ekspresi yang begitu bahagia karena hidangan Shimatsu tidak pernah mengecewakan.


Koizumi memasang tatapan datar melihat Hinoka memakan ayamnya seperti monster yang kelaparan, aroma yang menyengat itu sudah hilang karena keluar melalui jendela yang terbuka lebar di belakang.


"Silakan, hidangan kalian sudah datang." Kata Ophilia yang menempati semua hidangan itu sampai ia dikejutkan dengan mangkok Hinoka yang sudah kosong.


"Pedas ini tidak ada artinya...!!! Te-he~ Hinoka yang imut sudah berhasil mengalahkan tantangan mudah~" Hinoka tersenyum selagi melakukan pose damai.


"Kau memang... monster cabai ya... sungguh mengerikan." Kata Konomi, mencium aromanya saja sudah membuat dirinya ingin pergi ke dalam toilet.


"H-Hinoka, apakah kamu baik-baik saja...?" Tanya Ako.


"Aku jauh lebih baik karena perut yang terisi setengah, masih membutuhkan lebih banyak asupan pedas...!" Hinoka mulai mencuci kedua tangannya yang kotor di dalam mangkuk penuh air.


"Aku menantikan dirimu pergi ke dalam toilet, Hinoka. Beritahu aku seberapa lama kamu menghabiskan waktu di dalam sana." Kata Koizumi yang masih memasang tatapan kaget.


"Tidak akan~ Justru aku masih siap mengikuti tantangan lainnya... apa hanya hidangan itu saja, Chef Ophilia?!" Tanya Hinoka.


"Y-Ya... s-selamat!" Ophilia menekan sebuah tombol merah yang ia selalu bawa di dalam sakunya untuk memperingati kemenangan seseorang yang berhasil menyelesaikan tantangan pedas.


Semua pelanggan tercengang seketika mengetahui Hinoka baru saja menyelesaikan hidangan pedas itu tanpa menunjukkan rasa ingin buang air besar, wajahnya bahkan terlihat ceria seperti biasanya.


Arata segera mendatangi pemenangan itu sehingga dikejutkan dengan Hinoka yang mengangkat mangkuk besar itu, "Aku menang...!!!"


"Ya..."


"Sesuai janji kalian...! Mana...! Mana...!!! Sesuatu yang selalu aku inginkan sejak awal yaitu kupon makan sepuasnya untuk memesan lebih banyak hidangan pedas!"


Ketika Hinoka mengatakannya dengan suara keras, mereka semua dikejutkan lebih besar lagi sampai Koizumi menepuk wajahnya sendiri, tidak mengerti kenapa Hinoka bisa bertahan memakan hidangan pedas itu.


Arata mengeluarkan kupon itu melalui sakunya lalu ia memberikannya kepada Hinoka, "Selamat... aku tidak menyangka gadis kecil seperti dirimu bisa menyelesaikan tantangan pedas yang sulit untuk diselesaikan."


"Ternyata kau cukup berpotensi juga untuk menjadi seorang Legenda layak yang dapat menahan rasa pedas itu." Arata mulai memuji Hinoka.


"Fufufu~ Terus lah puji diriku, te-he~" Hinoka mengipas dirinya sendiri menggunakan kupon yang ia dapatkan, kupon tersebut bertahan selama satu bulan.


"Chef Arata...! Aku siap untuk menerima tantangan pedas lainnya agar bisa mendapatkan kupon lainnya di bulan depan...!" Hinoka menunjuk Arata dengan penuh semangat.


"Baiklah... kalau begitu, kau perlu menyelesaikan dua hidangan pedas!"


"Aku menerimanya...!"


"H-Hebat ya... Hinoka... semoga saja dia merasa baik-baik saja setelahnya..."


"Akan sangat lucu jika dia seharian diam di toilet, membuang semua bom yang ia makan." Kata Koizumi.


"E-Ehh?!" Shinobu terkejut seketika mendengarnya.


"Mungkin hanya aku yang merasa kasihan dengan toiletnya itu... bisa saja meledak." Konomi terkekeh.


Mereka semua mulai menikmati makan siang itu bersama-sama, ketika matahari sudah mulai terbenam, terpaksa mereka harus pulang agar tidak terjatuh ke dalam masalah lainnya.


Malam hari adalah malam yang cukup mengerikan untuk seluruh Legenda yang tidak berniat untuk bertarung, terdapat banyak sekali pemberontak dan kesatria berkeliaran untuk membunuh satu sama lain.


Koizumi sendiri bahkan mendapatkan tugas dari Arata untuk mengunjungi suatu istana, kebetulan istana itu berada di dalam kerajaan Lezento, itu artinya ia bisa menyingkirkan semua poster tentang pemburuan Kou dan Shinobu.

__ADS_1


***


Shinobu memegang erat tangan Kou yang menjemput dirinya, mereka berjalan pulang melewati rute yang lebih aman agar tidak berpapasan dengan Legenda lain.


"Apakah kamu bersenang-senang hari ini, Koneko?" Tanya Kou.


"Mm...! Mereka semua... sangat menyenangkan..." Shinobu mengangguk lalu tersenyum bahwa hari ini ia dipenuhi dengan rasa bahagia.


Keningnya yang terluka itu bukan peristiwa biasa lagi bagi dirinya melainkan sesuatu yang sudah harus terjadi sehingga dirinya harus menerimanya sebagai hal yang biasa karena sudah terbiasa di lempar batu oleh Legenda lain.


"Keningmu masih sakit?"


"Ehh...? M-Mama tahu...?"


"Tentu saja... Mama akan mengetahui semuanya darimu kok."


"Tidak apa-apa kok... tidak sakit... mereka juga berada di dekatku." Jawab Shinobu.


Shinobu mengatakannya dengan perasaan sedih, Kou bisa membacanya dengan jelas melalui pikirannya tetapi semua perasaan negatif itu dapat Shinobu timpa dengan kebahagiaan dan pengalaman yang ia rasakan hari ini.


Kou menggendong tubuh kecil Shinobu, "Hari ini... mau makan marshmallow?"


"Mm...!" Shinobu mengangguk selagi tersenyum dan menggerakkan ekornya.


***


Haruka duduk di atas sofa selagi menikmati vodkanya, pikirannya saat ini dipenuhi dengan permintaan terakhir Kou sebelum ia menyusul Honoka.


Rasa sedih Haruka sudah ia lampiaskan di hadapan Kou dengan menangis selagi memeluknya, ia bisa menerimanya sekarang bahkan takdir kematian memang seharusnya terjadi untuk siapa pun.


Haruka melihat Koizumi baru saja selesai melakukan persiapan untuk melaksanakannya tugasnya, "Tunggu, Koizumi."


Koizumi mendengar Haruka memanggil dirinya, "Ada apa, Ibu?"


"Bisakah aku berbicara denganmu sebentar...?" Tanya Haruka yang mulai menepuk sofa di sebelahnya.


Koizumi duduk di sebelahnya, "Apakah pembahasan yang penting...? Waktuku lumayan padat---"


Koizumi melihat Haruka menghentikan waktu seluruh dunia untuk melakukan perbincangan sebentar dengan Koizumi yang benar-benar sibuk.


"Dengar ya..." Haruka menghela nafasnya pelan lalu ia mengingat perkataan Kou seketika.


"Aku tidak mau mati... sebelum melihat Shinobu bisa bersikap mandiri sehingga ia juga dapat melindungi dirinya sendiri..." Kata Kou.


"Maukah kamu... besok atau lusa nanti melatih Koneko dan teman-temanmu yang lainnya...?"


"Sudah saatnya mereka juga menjadi sesosok Legenda seperti dirimu."


"Legenda yang mampu bersikap mandiri, bertarung untuk melakukan kewajiban... aku ingin kamu bisa melatih mereka dengan baik dan benar agar mereka dapat di pilih sebagai Legenda pemberontak juga."


"Tidak perlu menjadi pemberontak saja karena itu pilihan mereka sendiri... aku hanya ingin menjadi Legenda layak yang mau bertarung untuk melindungi diri mereka sendiri."


"Lebih utama lagi... aku ingin kamu melatih Koneko tentang sihir dan pengendalian Lenergy karena Kou tidak bisa melakukannya..."


"...ia sendiri tidak memiliki Lenergy atau sihir, aku hanya bisa mengandalkan dirimu soal pelatihan itu, Koizumi."


"Apakah kamu mau?" Tanya Haruka.


Mendengarnya saja membuat Koizumi berpikir bahwa kedua teman dan sepupunya memang memerlukan latihan khusus karena kejadian yang ia lihat sejak di kuburan tadi.


Tidak ada rasa penolakan apapun di dalam dirinya sehingga ia mulai memasang tatapan serius, "Baiklah..."


"...aku akan melatih mereka menjadi seorang Legenda yang layak!"


"Terima kasih..." Haruka tersenyum lalu memberikan putrinya sebuah kecupan di kening.


"...semangat!"

__ADS_1


__ADS_2