Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 131 - Tidak ada Cara Lain


__ADS_3

Beberapa hari telah terlewati, situasi mulai memburuk dimana Rxeonal bersama pasukan-nya sudah menaklukkan beberapa planet yang ada di semesta Touri, pasukan mereka juga terus berkembang dan terus bertambah kuat. Banyak sekali korban yang berjatuhan dan juga korban yang dikutuk untuk bekerja demi Rxeonal. Perang antar semesta akan dimulai dalam waktu yang dekat karena rencana Rxeonal sudah sepenuh-nya berhasil.


Ras Malaikat, Legenda, Manusia, Vampire, dan Elf terus berkurang dan berubah menjadi Iblis karena perbuatan Rxeonal. Korrina juga dengar bahwa Mortem telah melepaskan beberapa pasukan dari dimensi sihir yang berbeda, tidak ada lagi rencana yang muncul di dalam pikiran-nya karena dia sudah benar-benar lelah.


Shira bersama seluruh rekan-rekannya berpencar dan mencoba untuk melindungi korban-korban yang diserang oleh pasukan Rxeonal, mereka juga mencoba sebisa mungkin untuk mengumpulkan korban yang terluka dan selamat. Haruka sudah menemukan tempat persembunyian yang baru dimana seluruh korban selamat akan berlindung di dalam ruang tanpa waktu.


"... ..." Kedua mata Korrina terlihat putus asa dan mati ketika melihat banyak sekali mayat yang berserakan di depan-nya, sepertinya Haruka mengumpulkan mereka semua di satu tempat untuk dibakar dengan api suci agar mereka semua bisa hidup dengan damai di dunia kematian.


Korrina membakar jari telunjuk-nya menggunakan api Sacred lalu ia menghampiri semua mayat-mayat yang ada di depan-nya, "Haruka... Mama tidak kuat... Mama tidak bisa memenuhi tujuan Papa..." Ucap Korrina, ia segera membakar semua mayat itu sampai arwah mereka keluar dari dalam tubuh tersebut lalu menghilang.


"Si sialan itu memang sudah bertindak melampaui batasan... Apa yang akan dia coba lakukan sekarang!?" Haruka mengepalkan kedua tinju-nya dengan sangat erat.


Kedua telinga Korrina mulai mendengar suara teriakan dan tangisan dari seluruh korban yang terbunuh oleh pasukan iblis itu termasuk dengan beberapa makhluk hidup yang berubah menjadi iblis, mereka semua menderita dan berteriak sekeras mungkin, mencoba untuk mencari pertolongan tetapi tidak bisa.


Korrina menundukkan kepala-nya lalu ia berlutut dan mencoba sekuat mungkin untuk tidak menangis, dirinya harus bisa terus bertahan kuat karena seorang Legenda tidak menangis ketika melihat seseorang yang penting gugur, Haruka segera menghampiri dirinya dan mulai memberikan-nya pelukan hangat.


"Aku... tidak bisa melindungi Touri..." Air mata mengalir keluar dari kedua mata-nya.


"Setidaknya Mama tidak pernah menyerah untuk mencoba melindungi Touri, setiap kegagalan pasti akan membuka sebuah kemungkinan besar untuk dirimu menang, Mama... Bangkitlah dan lawanlah rasa kegagalan-mu itu dengan semangatmu yang membara...!" Bisik Haruka.


"Sepertinya sebentar lagi Touri akan berada di ambang kehancuran karena perbuatan dari Rxeonal dan Mortem... Pasukan mereka sangatlah kuat dan juga tidak bisa dikalahkan dengan mudah, tidak ada cara lain selain menghadapi takdir kekalahan kita..."


"Sepertinya rencana mereka itu jauh lebih hebat dari rencana-ku sendiri... Apa yang aku harapkan dari Rxeonal seorang iblis yang dominan terhadap peperangan dan rencana untuk memulai perang serta Mortem yang dapat mengunjungi berbagai dimensi untuk merekrut pasukan yang memiliki keberadaan dewa..."


"Haruka...! Siapa yang harus kita lindungi...!?" Tanya Korrina dimana ia mulai menatap Haruka dengan tatapan yang sangat tajam.


"Apa yang harus diriku dan dirimu perjuangkan...!? Untuk apa jika kita terus selalu jatuh ke dalam jurang kekalahan...!?"


"Kita adalah Legenda! Legenda tidak akan pernah menyerah!" Jawab Haruka dengan ekspresi yang terlihat serius.


"Lihatlah bagaimana cara keadilan bekerja, Mama!"

__ADS_1


"Keadilan...? Tentu saja, dimana aku bisa menemukan keadilan itu di dunia pedih seperti ini...!? Beritahu aku!!!" Tanya Korrina.


"Dengarkan aku, Mama... Bukannya kau ini memiliki hubungan ketat dengan nenek...? Jika Mama mencoba untuk mengunjungi Kamitouri dan meminta bantuan kepada dewa-dewi maka kita bisa saja memiliki kesempatan lain untuk memenangkan perang antar semesta ini...!"


"Itu mustahil...! Aku membenci dewa dan dewi, aku tidak ingin meminta bantuan mereka...! Lihatlah apa yang terjadi ketika diriku menikah dengan seorang dewa yaitu Papa-mu...!? Penderitaan hanya akan terus melanda diriku...!" Haruka bisa melihat wajah Korrina yang terlihat lelah, sepertinya dia benar-benar membutuhkan istirahat penuh setelah perang antar semesta selesai.


"Kita bertarung dengan kesempatan terakhir kita yaitu para dewa dan dewi yang Mama kenal...! Kita bahkan bisa meminta bantuan Nenek dan bibi! Bukan hanya mereka tetapi dewa dan dewi lainnya yang mengenali dirimu yang legendaris dan Papa...!"


"Ini semua bukan tentang amarah atau kebencian..."


"Sangat menjengkelkan sekali untuk memiliki takdir seperti ini yang sudah tercantum di dalam batu takdir..." Ucap Korrina pelan.


"Walaupun takdir kita saat ini sedang buruk dan menyebalkan... tidak ada salahnya untuk mencoba dan meminta bantuan kepada para dewa dan dewi bukan!?"


Korrina bangkit dari atas tanah dan ia mulai melirik ke atas langit lalu menunjukkan ekspresi yang terlihat serius, semangat-nya mulai kembali karena kesempatan terakhir-nya... Dia tidak perlu menyerah dengan cepat karena Alvin tidak pernah melakukan perbuatan lemah seperti itu, Korrina mulai mengangkat kedua lengan-nya ke atas udara.


"Terima kasih, sayang..." Korrina mulai menggendong Haruka, "Mari kita pergi secepat mungkin...! Kita harus meminta bantuan kepada para dewa dan dewi!"


Sebuah gelombang biru tua mulai menyelimuti mereka berdua, Korrina bersama Haruka segera melesat ke atas langit dan meninggalkan semesta Yuusuatouri untuk mengunjungi semesta Kamitouri. Kesempatan dan harapan terakhir mereka jatuh di tangan para dewa dan dewi yang ingin membantu mereka, Haruka berharap bahwa yang lainnya memiliki rencana yang baik.


Harapan bukan hanya terdapat di para dewa dan dewi tetapi Shira dan rekan-rekannya jika pikiran mereka mampu untuk memikirkan sebuah rencana yang hebat. Gelombang biru tua itu mampu membawa Korrina dan Haruka ke semesta Kamitouri, semesta dimana para dewa dan dewi tinggal untuk melakukan pekerjaan mereka masing-masing.


Menghabiskan lima menit untuk mereka tiba di sebuah wilayah yang memiliki suhu dingin, Korrina mulai merasa tidak nyaman ketika ia masuk ke dalam semesta Kamitouri dimana semesta itu hanya bisa dikunjungi ketika seseorang memiliki keberadaan seorang dewa atau memiliki energi yang berjulukan [God].


"Mama... Kita harus berpisah." Haruka mulai berbicara.


"Ehh...? Kenapa?"


"Aku juga memiliki rencana lain, aku ingin mengunjungi wilayah dimana disana terdapat sebuah air terjun yang memiliki air suci yang sangat hebat! Air suci itu mampu memulihkan kembali diriku sampai aku dapat mengakses kembali wujud dewasa-ku, dengan aku kembali ke wujud dewasa-ku maka aku akan mengembalikan waktu ke waktu dimana semua korban masih hidup!" 


"Ahh...!" Korrina sontak kaget ketika mendengar itu.

__ADS_1


"Jika kita mampu mengembalikan populasi Touri seperti semula maka Mama harus membagi beberapa tugas penting untuk Shira dan yang lainnya, kumpulkan sebanyak-banyaknya pasukan yang ingin berpartisipasi di perang antar semesta ini...! Lebih kita memulai perang antar semesta ini terlebih dahulu!" Tatap Haruka serius.


"Aku mengerti...! Ayo lakukan!" Korrina mengangguk, mereka berdua mulai saling memberi kecupan lalu berpisah untuk mengurusi tugas mereka.


Korrina segera terbang menuju wilayah dimana ibu-nya berada bersama kedua adik dan kakak-nya, sebenarnya dia masih memiliki rasa dendam kepada mereka tetapi tidak ada cara lain selain meminta bantuan mereka sebelum terlambat, Haruka terbang secepat mungkin dan tiba di depan air terjun itu.


"Baiklah... Aku akan mengerahkan seluruh sihir waktu-ku untuk mengembalikan situasi! Aku pasti bisa...!" Haruka melompat ke depan dan masuk ke dalam sungai suci tersebut.


***


Shira saat ini sedang melindungi planet Legendarius dan sudah mengumpulkan beberapa korban yang ia selamatkan, kali ini ia diserang oleh pasukan Giblis yang terus menghalangi dirinya.


"Bangsa Giblis sialan...!!!" Shira melepaskan gelombang cahaya yang besar ke depan-nya sampai mengubah seluruh Giblis yang terkena gelombang itu menjadi partikel emas.


Shira sudah bertarung selama berjam-jam tetapi dirinya tidak mengenal lelah karena cahaya yang menyinarinya mampu mengisi kembali tenaga-nya. Walaupun dia tidak pernah merasa lelah, seluruh pasukan Giblis tidak ada habisnya sampai mengepung Shira dan mencoba untuk memakan-nya.


"Cih...!!! Kenapa aku tidak pergi bersama manusia yang memegang alat musik itu saja!?" Shira mulai menyesal karena seluruh pasukan Giblis itu sempat membuat dirinya kewalahan sampai seorang pemimpin pasukan itu muncul di udara.


"Sekarang kau akan menjadi salah satu dari kita...!!! Shira...!!!" Seru pemimpin tersebut dimana ia memegang sebuah buku sihir yang diselimuti dengan partikel kegelapan.


Pemimpin itu membuka lebar buku tersebut sampai melepaskan sebuah gelombang kutukan yang mampu mengubah Shira menjadi iblis, seluruh pasukan Giblis itu mulai menahan Shira agar ia tidak bisa menghindar.


Shira mencoba untuk menggunakan sihir yang dapat mengubah pasukan Giblis itu menjadi partikel cahaya tetapi tidak bisa karena mereka sudah sepenuhnya beradaptasi dengan sihir Shira.


"S-Sial...!" Shira melebarkan matanya dan ia segera menyerang gelombang kutukan itu menggunakan serangan cahaya-nya tetapi tidak mempan.


"... ...!" Shira mulai mencoba untuk menghalang gelombang itu menggunakan kedua lengan-nya yang diselimuti dengan cahaya emas.


"Maaf, aku terlambat..." Tiba-tiba seorang gadis muncul di depan Shira lalu menjadi dirinya sebagai tumbal agar gelombang kutukan itu mengenai dirinya.


"A-Ahhh...!?"

__ADS_1


__ADS_2