Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 1014 - Sadarkan Dirimu... Sebab...


__ADS_3

Seisi ruangan istana terdengar begitu sunyi karena mereka masih merasakan ketakutan ketika mendengar penjelasan Ragnarok dari Korrina yang saat ini mencoba untuk menenangkan diri juga.


Entah kenapa waktu terasa seperti berjalan begitu lambat bahkan tubuh mereka merasakan beban yang sangat berat sehingga menyebabkan mereka untuk tetap diam dan tidak melakukan apapun.


Suara yang dapat di dengar oleh mereka hanyalah gemuruh angin serta asap dari rokok, tidak ada satu pun dari mereka yang ingin memulai topik pembicaraan apapun.


Ekspresi yang dapat dilihat hanyalah ketakutan dan kekhawatiran akan perang Ragnarok yang sudah pasti akan menjatuhkan banyak korban di kedua pihak.


Korrina mulai menatap semua teman-temannya yang terlihat murung sampai salah satu dari mereka tidak menggerakkan satu pun anggota tubuh seperti tangan dan kaki.


"... ..." Korrina berpikir tentang ketakutan dan kekhawatiran hanyalah sebuah hambatan yang besar ketika perang Ragnarok dimulai.


Korrina menghancurkan keheningan itu dengan menepuk tangannya beberapa kali sampai menarik perhatian mereka semua, "Sudah-sudah."


"Solusi seperti ini tidak akan membawa kita kemana-mana, sebagai bangsa Legenda seharusnya kita mempersiapkan segalanya dengan sebuah latihan intens!"


Korrina mencoba untuk membakar semangat seluruh Legenda yang berada di dalam ruangan itu, "Kalian pikir kita ini sebenarnya siapa, hah...?!"


"Kita adalah petarung bar-bar, bangsa Legenda yang bertugas untuk mencatat sejarah tak terhitung demi bisa melanjutkan kehidupan dengan bertahan melewati semua masalah yang diberikan Endless Cycle!"


"Hanya mendengar sebuah peperangan sudah membuat kita ketakutan seperti ini...!? Memangnya kita ini siapa?! Kita adalah bangsa Legenda yang seharusnya siap dalam keadaan apapun!"


Mereka memasang ekspresi penuh positif lagi ketika mendengar perkataan Korrina yang pernah ia ucapkan sebelumnya di hadapan seluruh penghuni Touriverse sebelum menghadapi Zangetsu.


"Sudah cukup! Tidak ada lagi yang namanya depresi, putus asa, pasrah, dan semua hal yang dapat menunjukkan keburukan kita sebagai bangsa Legenda...!"


"Masalah sebesar apapun itu, kita sudah pasti bisa menemukan solusinya jika kita semua berjuang bersama sebagai bangsa Legenda yang sebenarnya!" Korrina turun dari atas jendela lalu ia mendekati mereka.


"Sekarang aku telah pulang dengan sepenuhnya, tidak akan ada lagi masalah di hadapan pandanganku saat ini karena kita akan memulai revolusi baru demi bisa menghentikan takdir!"


"Kita bukanlah budak atau pion yang dapat dipermainkan oleh Zephyra atau Endless Cycle...!"


"Kita semua sama derajat...! Walaupun kau memiliki kekuasaan yang lebih hebat dari bangsa Legenda, kita tetap akan menghentikannya berdasarkan perjuangan!"


Korrina langsung menarik mereka semua satu per satu lalu saling mengangkat lengan ke atas bahu untuk menciptakan sebuah lingkaran seperti ingin membicarakan formasi.


"Kita bersama bisa berjuang dalam Ragnarok untuk bertahan hidup serta bertarung demi masa depan yang baru..."


"...masa depan untuk menghentikan Zephyra dan batu takdir yang mencantumkan Endless Cycle."


"Bangsa Legenda seharusnya tetap fokus dengan satu tujuan yang sama yaitu perjuangan demi bisa mengubah apapun dalam pandangan mereka sendiri."


"Jika kita terus bersedih dan merasa ketakutan akan Ragnarok maka semua itu hanya akan menghambat kita untuk memuncak menuju tingkatan yang lebih tinggi dan baru lagi."


"Sang Legenda tidak akan pernah mati..."


"...ketika dunia memanggilmu..."


"...dapatkah kau mendengar mereka yang meneriakkan namamu..."


"...Legenda tidak pernah mati..."


"...mereka akan menjadi bagian dari dirimu..."


"...setiap waktu kau berdarah untuk mencapai kemenangan..."


"...tanpa henti kau berjuang..."


"...mereka tak pernah kehilangan harapan ketika segalanya menjauh mereka tetap berjuang..."


"...jauh di dalam tulangnya, mereka akan membara saat api itu dahsyat..."


"...ohh, sadarkan dirimu... sebab..."


"Legends Never Dies...!"


"Ketika dunia memanggilmu...!"


"Dapatkah kau mendengar mereka yang meneriakkan namamu...!"


"Legends Never Dies...!"


"Mereka akan menjadi bagian dari dirimu...!"


"Setiap waktu kau berdarah untuk mencapai kemenangan...!"


"Legends Never Dies...!"


"Mereka diciptakan dalam keabadian..."


"...namun kau tidak akan pernah melihat nilainya, bekas luka yang dikumpulkan selama hidupnya..."


"...ketika kehilangan segala sesuatu, mereka menyemangati diri dan membalas kekalahan...!"


"Sebelum segalanya dimulai..."


"...mereka menderita lalui rintangan hanya untuk menggapai sebuah mimpi..."


Mereka kembali terbakar dengan semangat akan perjuangan untuk tetap bertahan hidup dan memperjuangkan kembali Touriverse berkat perkataan Korrina yang terdengar lembut.

__ADS_1


"...ohh, sadarkan dirimu... sebab..."


"Legends Never Dies...!"


"Ketika dunia memanggilmu...!"


"Dapatkah kau mendengar mereka yang meneriakkan namamu...!"


"Legends Never Dies...!"


"Mereka akan menjadi bagian dari dirimu...!"


"Setiap waktu kau berdarah untuk mencapai kejayaan...!"


"Legends Never Dies...!"


"Ketika dunia meneriakkan namamu..."


"...mengharapkan kau untuk bertarung..."


"...sadarkan dirimu sekali lagi..."


"...sadarkan dirimu, sebab---"


"LEGENDS NEVER DIES!!!" Shira seketika melepaskan teriakan yang begitu keras sampai mengejutkan mereka semua karena kemurnian dari semangatnya itu.


Semangat yang belum pernah ia perlihatkan dalam waktu lama, dulu sekali ia memiliki semangat seperti seorang anak muda tetapi sekarang ia sudah tumbuh besar.


Semangat Shira yang bergejolak tinggi mampu memberikan mereka semua tawa kecil dan kebahagiaan karena mengingat kembali masa lalu dimana mereka selalu bersama sebagai satu keluarga.


Semangat untuk terus berjuang sebagai bangsa Legenda dan tentunya memenuhi harga diri mereka telah kembali sampai mereka mencoba untuk berpikir Ragnarok sampai masalah sulit yang perlu mereka selesaikan.


Api berkobar besar di dalam hati mereka sampai melupakan semua rasa ketakutan dan kecemasan soal Ragnarok yang hanya akan menghambat mereka semua.


Korrina dapat melihat semua temannya kembali memiliki semangat yang selalu ia lihat ketika mereka masih muda, perkataan 'Legends Never Dies' terus terdengar dengan penuh semangat.


Melihat ketiga Legenda legendaris yang kembali bersemangat dalam era sekarang bisa dibilang perasaan yang cukup memuaskan, "Hahaha!"


Korrina langsung menepuk punggung mereka bertiga, "Setidaknya kita kembali sebagai satu tim dan keluarga sekarang, itu artinya kita akan bertarung bersama seperti biasanya..."


"Ya, sudah lama sekali kita tidak seperti ini... terutama lagi tanpa kepimpinan dirimu kita perlu mengikuti apa yang anakmu katakan."


"Kou ternyata berhasil menjadi ratu Touriverse yang kedua ya, bagaimana kepemimpinan dirinya?" Tanya Korrina.


Mereka memulai topik pembicaraan biasa agar bisa menyingkirkan semua perasaan negatif yang ada, proses itu dibutuhkan jadi mereka kembali akrab dengan membahas hal lain.


"...dia memang mirip sekali dengan dirimu, Korrina."


"Ahh, ngomong-ngomong soal ratu Touriverse... apakah kamu mengetahui siapa yang mewarisi takhta Kou?" Tanya Shira.


"Ehh? Ada yang ketiga?"


"Ya, kamu pasti akan terkejut ketika mendengarnya karena ratu Touriverse yang ketiga adalah cucu kita yang bernama Shinobu Koneko."


"Shinobu Koneko... hmm... cucuku..." Korrina memegang dagunya sendiri sampai rasa bersalah mulai muncul karena ia masih belum memberanikan dirinya untuk berhadapan dengan ketiga cucunya itu.


"Kau memang sudah pergi terlalu lama ya sampai banyak perubahan yang terjadi, kita juga memiliki cucu yang bernama Shimatsu Koizumi..."


"Shimatsu Koizumi..."


"Dan Shizukaze Hinoka."


"Shizukaze Hinoka..."


Dari setiap nama yang ia dengar dan sebutkan kembali benar-benar mengingatkan dirinya kepada ketiga anaknya sampai ia hanya bisa tersenyum ikhlas, "Aku senang untuk mendengar cucu..."


"...aku hanya tidak menyangka diriku pulang akan disuguhi oleh banyak sekali berita baik dan buruk, rasanya mendengar diriku memiliki seorang cucu terasa mustahil." Korrina terkekeh pelan.


"Mereka itu kuat loh... sejak berumur empat tahun saja sudah bertugas untuk memberontak sebuah kerajaan sampai mereka pulang dengan hasil yang memuaskan."


"Mereka adalah generasi yang baik, terutama lagi sekarang mereka sudah berusia dewasa dan menyelesaikan berbagai macam masalah."


"Salah satunya adalah membunuh semua Dewa elemen dan menyelesaikan masalah dari penghapusan konsep itu..."


Mendengarnya saja sudah menumbuhkan rasa bangga di dalam dirinya kepada ketiga cucunya itu yang sudah mencapai banyak sekali dalam umur yang masih muda sampai ia ingin bertemu dengan mereka.


"Hebat sekali ya... aku penasaran dengan ketiga cucuku yang pastinya imut." Hanya saja dia masih belum berani bertemu dengan mereka bertiga..


"Apakah kau mau bertemu dengan mereka sekarang...? Mungkin cucumu juga penasaran dengan sesosok nenek legendaris yang pernah memegang Touriverse."


"Nenek ya... aneh sekali..."


"Kau memang nenek yang sangat tua, nenek mo---" Kepala Shira menerima satu pukulan dari Korrina dengan senyuman mengerikan.


"Senang sekali untuk bisa dipuji oleh dirimu, Shira~"


"Ka-Kau memang sudah kembali ya..." Kata Shira selagi mengusap kepalanya.


"Ngomong-ngomong, Korrina..." Arata mulai berbicara dengan raut wajah serius sekarang kepada dirinya.

__ADS_1


"Apakah kau yakin tidak ingin bertemu dengan mereka secepat mungkin?"


"Memangnya aku memiliki sebuah alasan untuk bertemu mereka secara langsung...? Lagi pula mereka hanya akan menanggapi diriku sebagai orang asing dan egois."


"Keegoisan diriku telah membuatku kehilangan banyak hal di dalam Touriverse sampai meninggalkan ketiga anakku..."


"...aku kembali kepada titik nol di Touriverse ketika mengetahui semua perubahan yang dikatakan Ophilia." Korrina menghela nafasnya lalu ia menyalakan rokok lagi.


"Mereka pasti akan membenci diriku, dan berpikir bahwa diriku hanyalah nenek egois yang tidak bertanggung jawab sama sekali." Korrina menghembus asap rokok keluar dengan ekspresi bersalah.


"Itu tidak benar kok, kalau begitu kami bisa memanggil mereka untuk datang secepatnya agar bisa menemui dirimu..."


"...kau juga perlu mengetahui kehebatan dari Shinobu Koneko." Shira mulai membanggakan cucunya sendiri sampai Korrina menatap dirinya.


"Koneko adalah anak dari Kou Comi ya?"


"Itu benar... dia adalah kebanggaan dari Kou dan Shuan, Shinobu berhasil menguasai cahaya dan The Mind sejak kecil sampai membawa dirinya menuju puncak lebih tinggi."


"The Mind... sudah lama sekali aku tidak mendengar nama itu, apakah dia memiliki kutukan dari ibu mereka?" Tanya Korrina.


"Shinobu berhasil melawan kutukan itu dengan menciptakan lengan dan kaki buatan, dulunya dia lahir tanpa memikirkan tangan, kaki, dan mata kiri."


Korrina memasang ekspresi kaget ketika mendengarnya karena ia bisa membayangkannya, "Menyedihkan sekali... gadis yang malang."


"Dia juga mewarisi tinggi anakmu."


"Wajar sih... Kou setengah Astral jadi umurnya tidak akan meningkat bersama dengan fisiknya, mungkin Koneko juga sama."


"Tetapi dia lebih tinggi dari Kou, dan imutnya lagi mereka berdua sama-sama memasang tatapan yang begitu polos." Shira terkekeh.


"Polos ya..."


"Jangan tertipu dengan kepolosan itu, Korrina." Haruki mula berbicara.


"Dia benar..."


"Ehh?" Korrina memasang ekspresi bingung lalu ia menatap Shira yang tadinya terlihat senang sekarang berubah menjadi serius.


"Sepolos-polosnya cucu kita... dia menyimpan sebuah kunci akan tekad dan pilihan yang kuat..."


"...apakah kau tahu, Korrina?"


"Tahu apa...?"


"Shinobu Koneko dibenci oleh dunia karena penampilan dan riwayat dirinya sebagai Neko Legenda serta putri dari Kou Comi."


"Aku tahu itu..."


"Dia terpaksa menerima kehidupan pahit itu tanpa daya apapun, tetapi semakin lama dia semakin berkembang sehingga menjadi gadis dengan pikiran terbuka..."


"...kita tidak pernah mengetahui apa yang coba ia pikirkan karena kepolosannya itu."


"Populasi Legenda pernah berkurang drastis ketika Kou menciptakan sebuah buku dimana mereka yang membacanya akan melakukan bunuh diri."


Korrina melebarkan matanya ketika mendengar berita yang belum pernah ia dengar dari Ophilia sebelumnya, "D-Dia memanfaatkan The Mind..."


"Dia tidak seperti Kou Comi yang memiliki batasan besar terhadap The Mind, bahkan dirinya kadang tidak pernah menunjukkan rasa ampun atau belas kasihan."


"Dia juga rela mengikuti apa yang semua Neko Legenda inginkan yaitu akhir dari kehidupan..."


"...Neko Legenda sudah punah sampai menyisakan Megumi dan Shinobu saja."


"Itu mengerikan sekali..."


"Dan kau tahu dengan takdir yang dimiliki oleh umat Manusia dan alam semestanya sendiri?" Tanya Arata.


"Ya... hancur... punah..."


"Sekali saja kesabaran Shinobu pecah sampai matanya berubah merah..."


"...itu adalah sebuah tanda keseriusan darinya dimana ia berubah menjadi mesin pembunuh dan seorang Legenda yang perlu diwaspadai..."


"...dia berhasil memusnahkan umat Manusia sampai punah bersama dengan alam semestanya hanya karena kepercayaan yang ia berikan di sia-siakan."


"Berbeda sekali ya dengan Kou... itu artinya dia mewariskan keseriusan itu dari Shiratori dan kemungkinan dariku yang dulu ingin memusnahkan para Dewa..."


"Shinobu Koneko..."


"...aku jadi ingin bertemu dengannya sekarang."


***


"Chiw...! Chiw...!" Shinobu bersin sebanyak dua kali sampai mengejutkan Shinji yang sedang menenangkan pikirannya dari Ragnarok.


"Ada apa?" Tanya Shinji.


 


"Fueh? Ti-Tidak apa-apa..."

__ADS_1


__ADS_2