
Mereka entah kenapa merasa sesuatu yang kurang dan tidak enak ketika mencoba untuk mendekati kamar Haruka, entah kenapa rasa sedih mulai melanda perasaan mereka sehingga Rokuro dan Asriel bisa merasakannya karena mereka juga merindukan seorang teman yang selalu saja bercanda dan mempermainkan waktu dengan mudah. Okaho bisa melihat ekspresi mereka yang tiba-tiba berubah, mereka sepertinya masih belum terbiasa dengan situasi seperti ini.
"Jika kalian memaksakan diri kalian seperti itu lebih baik kita batalkan saja semua ini, aku tahu kalian merindukan Kakak... setidaknya tunjukkan ekspresi yang terlihat biasa dan jangan bersedih seperti itu karena Kakak pasti tidak akan menyukai perasaan sedih di hadapannya." Kata Okaho selagi memegang erat gagang pintu di hadapannya.
Mereka semua masih tidak mau mengakuinya sehingga mereka bersikap seolah kuat tetapi tubuh dan perasaan mereka sedang menahan perasaan sedih dan rindu dalam waktu yang sama. Okaho tidak memiliki pilihan lain selain membuka pintu kamar Haruka, ia bersama Kou tidak bisa menunjukkan perasaan sedih lagi karena Korrina sendiri yang memberitahu mereka bahwa perasaan sedih hanya akan membuat kondisi Haruka semakin memburuk.
Walaupun dia terdiam seperti itu dan tidak bisa melakukan apa-apa, ia masih bisa mendengar semua perkataan di sekitar mereka terutama perasaan sedih juga bisa ia rasakan sehingga membuat dirinya terasa semakin suram dan mati di dalam dirinya terutama kedua matanya itu. Mereka sontak kaget ketika melihat Haruka yang sedang duduk di atas kursi roda selagi menatap lantai dengan ekspresi yang datar.
"Haruru!!!" Seru Hana keras karena ia tidak bisa menahan rasa sedihnya lagi, ia mencoba untuk memeluk Haruka tetapi Minami sudah memeluknya terlebih dahulu dengan kedua mata yang mengalirkan air mata deras seperti air terjun. Ketika mereka masuk ke dalam ruangan itu, air mata mulai mengalir melalui kedua mata mereka bahkan Okaho sendiri bisa melihat Rokuro dan Asriel yang mencoba sekuat mungkin untuk tidak meneteskan air mata.
Hana dan Minami memeluk Haruka erat, pelukan dan suara tangisan mereka mampu membuat kedua jarum jam mata Haruka bergerak sedikit demi sedikit terutama jari-jarinya mulai bergerak sendiri tetapi ia tidak sadarkan diri. Okaho bisa melihatnya dan itu adalah peristiwa biasa yang selalu ia lakukan ketika dipeluk oleh seseorang yang mengenal dirinya tetapi Okaho sontak kaget ketika melihat air mata yang mengalir keluar melalui mata kanannya.
Haruka benar-benar sadar tetapi ia tidak bisa menunjukkan kesadaran itu, seolah-olah jiwanya masih berada di dalam tubuh tetapi ia tidak dapat menggerakkan tubuhnya dan menunjukkan perasaannya seperti seorang Legenda biasa. Resiko kehancuran Limiter benar-benar mengerikan bahwa Okaho terpaksa untuk mendekati Haruka dan mengelus kepalanya agar ia bisa tetap tenang dan tidak bersedih seperti itu ketika bertemu dengan teman-temannya.
"Haruru... hiks... aku berjanji akan mencari cara untuk mengembalikan dirimu ke awal mulu... kamu harus bertahan... kamu harus menyapa kita semua seperti biasa... kamu harus bermain dengan kita... kita berjanji dan memutuskan... untuk mencari cara agar bisa mengembalikan dirimu kembali." Kata Hana, perkataannya terdengar cukup mengejutkan bagi Okaho karena ia sendiri ingin sekali mengetahui maksud dari perkataan Hana. Jika Korrina sendirian mencari cara untuk mengembalikan Haruka maka sekarang waktunya ia membantu juga bersama dengan teman-temannya.
"Haruka... kamu memang sialan, nyaa... selalu membuatku bingung seperti ini... entah apa yang mengalir keluar dari mataku... tetapi kau harus mengganti rugi, nyaa..." Minami masih tidak ingin mengakui tentang perasaan sedihnya.
Asriel dan Rokuro duduk di atas kursi dekat dengan kursi roda Haruka lalu mereka menatap Haruka dengan ekspresi yang khawatir, walaupun Haruka kadang bersikap menyebalkan kepada mereka setidaknya ia masih bisa disebut sebagai teman masa kecil mereka. Kou menatap mereka berdua dengan ekspresi yang penasaran lalu ia menghampiri mereka sehingga mereka bisa melihat Kou yang melambaikan tangan.
"A-Ah... Kenapa, Kou?"
"... ..." Kou mulai memberi contoh cara untuk menangis karena ia bisa membaca perasaan yang mereka tahan yaitu kesedihan dan rasa ingin menangis, mereka terkejut ketika melihatnya bahkan Kou menggerakkan jari-jarinya dan memberitahu mereka bahwa perasaan sedih yang ditahan akan terasa lebih menyakitkan, ia sendiri menulisnya di layar virtual yang ia keluarkan.
__ADS_1
"Walaupun Haruka menyebalkan dan lelucon-nya terkadang tidak lucu, setidaknya dia adalah teman yang baik untukku." Kata Asriel, ia tidak bisa lagi menahannya sehingga ia meneteskan sedikit air matanya, ia harus tetap kuat sebagai seorang laki-laki dan mencoba sekuat mungkin untuk tidak membuat Haruka khawatir.
Kou menatap Rokuro yang terlihat dingin dan tidak menghiraukan Kou sama sekali, ia mencoba untuk mengalihkan pandangannya ke arah lain tetapi ia tidak bisa melihat arah lain kecuali Haruka, ia juga bahkan bisa melihat Kou di sebelahnya sedang tertawa sambil menutup mulutnya bahwa Rokuro bersikap sangat lucu dan imut bagi Kou, ia sampai menulis 'Tidak bisa menunjukkan perasaan ya? Atau Kak Rokuro adalah seorang pria yang terus bersikap kuat.'
"Aku tidak peduli..." Kata Rokuro.
"Ayolah, Rokuro, hanya hari ini saja... perasaan sedih yang di pendam hanya akan bertambah buruk, itu yang Kou coba katakan." Kata Asriel sehingga Kou mengangguk lalu mengacungkan kedua jempolnya.
"Aku tidak ingin mengulangi perkataan-ku, aku tidak peduli... perasaan sedih yang aku rasakan ini bukan urusan kalian semua." Kata Rokuro.
Okaho dan Kou menatap Rokuro dengan ekspresi yang terlihat datar karena Rokuro memang selalu bersikap seperti itu, tidak peduli dan semacamnya tetapi di dalam diri dan ekspresinya itu terdapat rasa peduli yang besar. Kou pergi meninggalkan ruangan itu untuk mengambil beberapa camilan dan makanan agar mood yang berada di ruangan itu bisa bertambah lebih bagus.
"Ayo, Hana, Minami... jangan terlalu lama menangis seperti itu, kalian hanya membuat Kakak bertambah sedih." Kata Okaho sambil menepuk bahu mereka, setelah itu mereka duduk di atas karpet sambil menatap Haruka, mereka mulai membicarakan tentang sesuatu yang menyenangkan dan berita terkini agar mood ruangan itu bisa kembali seperti semula.
"Hana, yang kau maksud mencari cara agar mengembalikan Haruka itu apa?" Tanya Okaho.
"Ahh... ijin dari orang tua ya?"
"Begitulah, sekarang kita sudah cukup besar untuk mengunjungi berbagai tempat bahkan orang tuaku sudah mengijinkan diriku untuk pergi ke luar semesta karena mereka sekarang sedang mengurusi sebuah restoran yang cukup mewah di Yuusuatouri."
"Uwahh, apakah yang kamu maksud itu restoran yang sangat enak di seluruh dunia!? Bukan hanya di Yuusuatouri tetapi makanan yang Ayah-mu buat itu sangat lezat... sangat gurih... sangat nikmat..." Kata Minami sampai mulutnya mulai berliur karena ia ingin sekali makan makanan yang dibuat oleh Arata.
"Kalau begitu... aku juga ingin ikut, Hana. Biarkan aku merencanakan sesuatu juga untuk bisa mengembalikan Kakak, aku akan mengumpul informasi dari Mama dengan berhati-hati karena ia mengetahui banyak tentang informasi di seluruh semesta... ia sendiri saat ini sedang memesan sebuah mesin pemulihan untuk Haruka."
__ADS_1
""Mesin pemulihan?""
Okaho mulai menyuruh Tech untuk menunjukkan mesin pemulihan yang ia maksud sehingga layar virtual muncul di hadapan mereka semua dan menunjukkan sebuah mesin yang sangat besar, di tengahnya terdapat tabung besar yang berisi air suci di campur dengan air tangisan para dewa. Terlihat sangat mahal bahkan mereka menanyakan Tech soal mesin itu tetapi ia hanya menjawab bahwa mesin ini sangat eksklusif dan hanya terdapat di inti semesta Reaoum.
"Ini adalah mesin pemulihan yang sangat canggih, Mama memesan mesin ini di Reaoum dan sekarang orang-orang yang sedang mengembangkan mesin ini masih belum menyelesaikannya. Sudah tiga tahun tetapi Mama bilang bahwa mesin itu masih belum selesai, kemungkinan beberapa hari lagi... intinya mesin pemulihan ini cukup hebat terutama air di dalam tabung itu sangat spesial... pas untuk Haruka yang selalu mandi di Kamitouri dan mendapatkan kembali kekuatannya." Kata Okaho.
"Air suci dan air tangis dewa katamu? Kenapa tidak menggunakan cara yang lebih mudah saja, seperti mengumpulkan air suci dan air tangis lalu beri dia minum." Kata Rokuro.
"Mudah untukmu berbicara seperti itu tetapi Haruka sudah lima tahun belum makan dan minum sama sekali."
"Bagaimana kalau kita siram dengan air itu, nya?" Tanya Minami.
"Kau saja yang aku siram ya, Minami." Jawab Okaho.
"Intinya mesin pemulihan ini memiliki beberapa alat yang berguna, Mama bilang bahwa kesempatan untuk mengambilkan Haruka kembali itu sebanyak 50 persen menggunakan mesin ini. Jika 50 persen sudah kita dapatkan maka kita harus mencari 50 persen lainnya." Mereka semua langsung mengangguk ketika mendengar perkataan itu dan mencoba untuk memikirkan rencana tetapi Okaho melompat lalu berbaring di atas kasur.
"Intinya kita harus menunggu... kita harus bersantai dulu..."
"Kenapa kamu berpikir seperti itu!?" Tanya Hana.
"Aku sudah menemukan rencananya tetapi sekarang bukan waktunya..."
"Bukan waktunya...?"
__ADS_1
"Kita harus menunggu lagi dan lagi sampai mesin pemulihan itu datang, intinya kalian tidak perlu mengkhawatirkan Kakak. Dia aman bersama kita dan aku yakin dia akan terus bersama kita..."
"...kehidupannya tidak terbatas jadi kita harus mempersiapkannya."