
"Baiklah, kameranya sudah nyala... apa yang ingin kamu katakan, nak?" Tanya Kou selagi memegang kamera yang mengarah kepada Koneko.
"Ehh... Anu... aku... aku..." Shinobu mulai menyentuh jarinya selagi menatap arah lain, awalnya ia sudah bersiap untuk berbicara di hadapan kamera itu.
Shinobu berencana untuk memberanikan diri berbicara di hadapan kamera agar ia bisa menunjukkan semua teknologi dan alat yang ia ciptakan demi bisa menjadi seorang penemu.
Bisa di bilang penemu hanya sekedar tujuan sampingan sedangkan apa yang ia inginkan adalah menjadi seorang jurnalis hebat yang mampu menarik perhatian semua ketika membaca buku hariannya.
Buku harian yang di isi dengan berbagai macam informasi untuk membantu menumbuhkan ilmu pengetahuan, ia juga ingin menciptakan berbagai macam buku yang dapat membantu pembaca untuk bisa berinovasi, bekerja keras, belajar, dan hal positif lainnya.
"Anu... namaku adalah... namaku..." Wajah Shinobu mulai memerah sampai ia langsung menutup wajahnya selagi menggelengkan kepalanya cepat.
"Tidak bisaaaa...! Koneko tidak bisa...!" Shinobu melarikan diri lalu sembunyi di balik lemari karena ia tidak dapat mengumpulkan keberanian untuk memperkenalkan diri sebagai calon jurnalis di hadapan kamera itu.
"Hehehe... kamu sudah berumur 4 tahun sekarang, kenapa masih tidak berani berbicara di hadapan kamera?" Kou terkekeh lalu ia mendekati Shinobu yang bersembunyi di tempat biasa.
"Rasanya menakutkan... aku tidak bisa melakukannya, Mama, dengan ini aku gagal menjadi seorang jurnalis." Kata Shinobu sambil menurunkan kedua telinganya.
Kou tersenyum lalu ia duduk di sebelahnya selagi mengusap kepalanya, "Tidak ada salahnya jika melakukan sesuatu yang positif... setiap kebaikan yang kamu lakukan tidak perlu di tambahkan dengan rasa malu."
"Justru... kamu harus merasa malu jika melakukan sesuatu yang berakhir negatif dan merugikan, jika kamu terus bersikap malu maka Koneko tidak akan bisa menjadi Legenda yang layak." Kou mencubit kedua pipi Shinobu.
Shinobu mendapatkan motivasi yang besar dari perkataannya itu, yang paling utama ternyata memang menjadi Legenda yang layak sedangkan tujuan sampingan seperti menjadi jurnalis dan penemu bisa ia lakukan di saat waktu yang bebas.
Hobi Shinobu itu membacanya dan setiap informasi serta ilmu pengetahuan yang terkandung di dalamnya memberikan dirinya sebuah pengalaman luas untuk berjuang menjadi Legenda layak.
Suatu saat nanti ketika ia sudah siap untuk menjadi Legenda yang berkeliaran seperti pengembara dan petualang maka ia akan menemukan banyak hal yang baru, cocok untuk dimasukkan ke dalam buku harian yang akan ia jadikan sebagai buku pengetahuan.
Semua informasi dan ilmu pengetahuan yang ia baca akan ia rancang lebih pendek dan jelas agar semua orang bisa mengerti isi dari buku itu lebih cepat.
Seorang penemu, karena Shinobu setiap hari selalu menyempatkan waktu untuk menciptakan teknologi, sistem, dan alat baru. Ia ingin semua ciptaan itu dapat di lihat oleh semua orang agar bisa membantu dalam kehidupan sehari-hari.
Tetapi untuk sekarang, Shinobu terlalu fokus menciptakan kedua lengan dan kaki yang dapat membantu dirinya bertarung seperti Legenda biasa sampai ia setiap akan terus berusaha untuk bekerja tanpa henti.
"Mau coba sekali lagi...?" Tanya Kou.
"Mm!" Shinobu mengangguk lalu ia bangkit dari atas lantai untuk mendekati ruangan percobaan.
Kou mulai menyiapkan kamera yang sudah merekam Shinobu, "Kamera menyala...!"
"Anuu... namaku adalah... Shinobu Koneko... salam kenal... aku berumur empat tahun... sebentar lagi akan menginjak 5 tahun..." Shinobu mengatakannya dengan nada yang pelan selagi menyentuh jarinya.
"Aku ingin... menjadi seorang Legenda yang dapat membantu semua orang ketika... menghadapi masalah... aku juga ingin menjadi sesosok Legenda yang kuat seperti Papaku..."
"...bahkan jika bisa... melampaui Kakekku...! Walaupun aku sendiri tahu... mustahil... karena tubuh ini... karena kaki dan lengan buatan seperti robot..."
"...aku ingin terus berjuang... belajar... berlatih... menciptakan... semua yang akan aku lakukan itu... semuanya akan ku ceritakan kepada... semua orang melalui rekaman... dan buku..."
"...membaca... menulis... berinovasi untuk menciptakan sesuatu... melalui teknologi adalah hobiku... hobi yang aku harap... bisa menguntungkan untuk semua orang..."
"...sebisa mungkin... aku ingin membantu orang yang tidak mampu... aku juga ingin menjadi... Legenda... pemberontak seperti sepupuku... Kak Koizumi..."
"...dan gadis sebaik serta seceria Hinoka..." Shinobu masih tetap berbicara walaupun ekspresinya terlihat seperti menahan rasa malu yang masih tertahan dengan kumpulan dari keberanian itu.
Kou tersenyum bangga melihat Shinobu masih melanjutkan pembicaraannya, ia terlihat seperti berbicara dengan seorang selagi menahan semua rasa malu itu agar ia bisa berbicara dengan mudah.
Tetapi, melihat Shinobu terus merasa malu sampai ketakutan ketika melihat seseorang yang tidak di kenal kelihatan imut bagi Kou sampai ia menahan tawanya melihat putrinya terus mencoba sampai tidak ingin menyerah sama sekali walaupun sudah mengatakan tidak dan mustahil.
"Aku harap... mereka yang mau membaca dan melihat rekaman itu... bisa menerima ilmu pengetahuan... yang mungkin bisa di gunakan... nanti..."
"...Koneko..."
"...akan berjuang!" Shinobu mengatakannya selagi mengepalkan tinju kanannya sampai ia sadar bahwa dirinya telah terbawa suasana dengan mengatakan perkataan mengandung semua keceriaan yang terlepas.
"Ahhh...! Anuuu...! Anuuu...! Mmmm...!!! Matikan...!" Shinobu mulai berkaca-kaca selagi mendekati Kou yang mendapatkan rekaman memalukan itu.
"Ehhh~ kenapa? Mama mendapatkan rekaman yang pasti akan menarik banyak perhatian orang-orang." Kou terkekeh selagi mengangkat kamera itu ke atas.
"Hapus... Uhhhh..." Shinobu mulai memeluk erat tubuh Kou agar ia tidak bisa bergerak dari posisi untuk memperlihatkan rekaman tersebut kepada seseorang.
"Baiklah-baiklah, akan Mama hapus bagian itu." Kata Kou selagi mengelus kepalanya lalu ia memberi dirinya sebuah kecupan di kening.
"Kamu sudah menciptakan proses yang begitu baik, Koneko. Kamu mampu menghabiskan semua perkataan itu tanpa mengatakan anuu dan mustahil... hehehe..."
"Ehh...? Benarkah...? Aku tidak mengingatnya..." Kata Shinobu selagi menyentuh kedua jarinya itu.
"Hm~ Kamu memang hebat~ perkembangan yang begitu cepat..."
"Dua tahun itu lama..."
"Menurut Mama cepat kok~"
__ADS_1
Perut Shinobu mulai bersuara sampai ia secara refleks menyentuh perutnya selagi memegang rok pendeknya dengan tangan lain, "Anuuu..."
"Sudah waktunya istirahat ya...? Kamu hari ini melanggar peraturan Mama soal bekerja selama dua jam saja, setelahnya beristirahat..." Kou mencubit pipi Shinobu pelan.
"Anuu... M-Maaf, Mama... jangan kurang kan waktu bekerja dan berlatih ku..." Shinobu mulai menundukkan kepalanya.
"Jangan di pikirkan... kamu sudah menyadari kesalahanmu, lagi pula... kamu mau kan menghabiskan sup wortel?" Tanya Kou.
"Anu... baiklah..." Shinobu mengangkat dengan tatapan yang terlihat tidak suka karena ia sangat membenci sayuran seperti wortel.
Kou mulai menggenggam tangan Shinobu lalu berjalan ke depan, di hadapannya terlihat sebuah tangga mulai muncul sampai membawa mereka ke atas.
Ruangan latihan yang berada di bawah tanah itu khusus untuk belajar, berlatih, dan menulis. Shinobu menghabiskan berjam-jam di ruangan bawah tanah sampai melupakan waktu.
"Mama..."
"Mm?"
"Apakah Kak Koizumi akan baik-baik saja di biarkan melaksanakan misi itu sendirian...? Kalau tidak salah umurnya sekarang sudah lima tahun bukan..."
"Ahh, kamu penasaran soal itu ya... Koizumi adalah sepupumu yang begitu kuat dan tangguh karena sejak kecil sudah mendapatkan latihan berbeda dari Ayahnya "
"Aku yakin dia dapat mengurus misinya itu, kamu harus mempercayai sepupumu itu yang bisa di bilang sebagai Kakak untukmu." Kou terkekeh.
"Kak Koizumi adalah seseorang yang harus aku turuti 'kan...?"
"Itu benar, kamu harus menuruti Mama paling utama sedangkan jika Mama tidak ada maka kamu harus menuruti sepupumu itu..."
"...jika tidak ada Koizumi maka Hinoka juga pasti akan menjaga dirimu dengan baik." Kou pergi menghampiri dapur untuk mengambil panci yang berisi sup wortel.
"Mama, Kak Koizumi, dan Kak Hinoka... lalu Tech dan Bam Bam bagaimana?" Tanya Kou sampai mengejutkan Tech yang sedang dalam mode tidur.
"Anggap saja saya seperti pembantumu, putri kecil... saya tidak memiliki data untuk menjadi pengasuh yang hebat seperti Ibu dan kedua sepupumu."
"Ehh... tapi Tech selalu memperhatikan diriku melakukan tes lengan buatan itu bukan?" Shinobu menatap Tech dengan polos sampai wajahnya itu mulai menunjukkan ekspresi panik.
"Anggap saja saya pembantu, putri kecil... saya mohon."
"Ba-Baiklah... anuu... Tech... bolehkah... aku meminta... sesuatu...?"
"Silakan, putri kecil."
"Dengan senang hati saya akan menjaga dan melihat..." Jawab Tech.
"Koneko... apa yang kamu rahasiakan dari Mama?" Tanya Kou yang mulai menempati sebuah mangkuk berisi sup di hadapan Shinobu.
"Ehh...! A-Anu... Um... sedikit tes... tangan..." Jawab Shinobu selagi menyentuh jarinya, kepalannya juga tertunduk agar ia dapat mengubah pikiran Kou.
Kou terkekeh, "Astaga... kamu tidak bisa menjaga rahasia ya... imut sekali."
"Boleh kok, asalkan Tech memperhatikan dirimu, semuanya akan baik-baik saja." Kou mulai mengambil sebuah sendok lalu memejamkan kedua matanya.
""Selamat makan!"" Mereka langsung mencicipi sup wortel itu dengan pelan agar bisa menikmati rasanya.
"Setelah makan, Mama memiliki urusan kecil... kamu sendirian dulu sebentar ya, tidak lama kok." Kou mulai berbicara ketika ia selesai menelan makanan itu.
"Baiklah... aku tidak merasa kesepian kok, ada Tech... dan Bam Bam." Shinobu menatap peliharaannya yang sedang tidur di atas kasur kecil.
Beberapa menit kemudian, setelah mereka menyelesaikan makan siang itu, Kou mulai mencuci piring sebentar lalu ia melihat Shinobu yang sedang duduk di meja makan selagi menyempurnakan tangan baru itu.
Sebuah layar hitam besar yang terus ia sentuh menggunakan semua jarinya sampai mengeluarkan beberapa hologram yang memunculkan tangan buatan barunya.
Tech duduk di hadapan Kou untuk memeriksa kendala dan kesalahan agar ia bisa memperingati Shinobu untuk memperbaiki semuanya, Shinobu mulai menghilang semua hologram itu lalu fokus kepada layar untuk melakukan sentuhan akhir.
Kou baru saja selesai cuci piring, ia mulai mengeringkan kedua lengannya menggunakan sapu tangan lalu duduk di sebelahnya selagi memegang lengan kanan Shinobu.
"Kamu bekerja cukup keras ya... kalau tidak salah tangan baru ini menghabiskan waktu selama satu tahun karena sering mengalami kesalahan." Kou mulai mengangkat tubuh putrinya untuk menempatinya di pangkuannya.
"Mm... sekarang adalah waktunya... aku berhasil, Mama..." Shinobu tersenyum selagi menyentuh layar itu menggunakan jarinya
"Koneko... sudah berjuang!" Shinobu mengatakannya dengan penuh semangat sampai ekornya terus bergerak.
Kou tersenyum bangga lalu ia mendekati kepalanya sampai menyentuh putrinya, "Aku bangga kepadamu, putri kecilku..."

"Sudah berhasil...! Mama, a-aku berhasil...!" Seru Shinobu dengan suara yang masih terdengar kecil karena dirinya merasa lelah mengurusi sentuhan terakhir itu.
"Wah~ selamat~" Kou mulai bertepuk tangan selagi melihat sebuah layar hologram muncul di hadapan mereka bahwa lengan buatan Shinobu telah tercipta dengan sempurna.
"Aku akan mencobanya..." Kata Shinobu dengan ekspresi gugup karena merayakannya lebih awal bisa saja membangkitkan sebuah kesalahan.
__ADS_1
Kou melihat jam dinding di hadapannya mulai menunjukkan pukul 1 pas sampai ia harus mengunjungi kerajaan Ghisaru untuk mengurusi sesuatu.
"Koneko... Mama tinggal sebentar ya..." Kou bangkit lalu memberikan putrinya sebuah kecupan di keningnya.
"Mm! Hati-hati, Mama..." Shinobu melambaikan tangannya kepada Kou yang berjalan keluar dari kabin itu untuk pergi mengunjungi kerajaan Ghisaru.
Tech melihat Shinobu bergegas mengunjungi ruangan bawah tanah lalu masuk ke dalam ruangan pertama untuk melihat mesin yang sudah menyelesaikan model dari lengan buatan itu.
"Lihat, Tech... a-aku berhasil... model pertama yang berhasil... aku ciptakan dengan usahaku..." Shinobu menatap kedua lengan barunya yang terlihat begitu indah.
"Sepertinya Anda memang berhasil, seratus persen... jika terus di tingkatkan maka Anda akan mendapatkan perkembangan lainnya."
Tech melihat Shinobu mengalami kesulitan ketika melepaskan kedua lengannya itu, ia mulai mendekati dirinya untuk membantu Shinobu memasang lengan barunya.
Tidak menghabiskan waktu yang cukup lama, Shinobu telah mengenakan kedua lengan barunya itu yang terasa lebih enteng dan nyaman bagi dirinya untuk digerakkan seperti lengan asli.
"Uwahh... aku berhasil... a-aku berhasil...!" Shinobu mulai melompat-lompat sampai ia mengambil kacamata milik Kou lalu memakainya.
Kacamata itu menunjukkan dirinya tentang durabilitas dari kedua lengan itu, energi yang di simpan juga termasuk sampai ia bisa melihat kedua lengannya tidak menampung Lenergy apapun karena ia masih belum mempelajari sihir.
"Apakah sudah saatnya untuk melakukan tes, putri kecil?" Tanya Tech.
"A-Ayo...!" Jawab Shinobu dengan ekspresi gugup, ia pergi menuju ruangan sebelah yang di jadikan sebagai tempat latihan untuk dirinya bertarung serta mencoba alat barunya.
"Aku sudah merancang model lengan ini untuk menerima cahaya matahari... menyerapnya sampai mengubahnya menjadi sumber Lenergy sementara untukku."
"Tubuhku sudah mempelajari cara untuk menyerap sinar matahari... hanya saja aku masih belum bisa melakukan sihir..." Kata Shinobu dengan tatapan sedih karena rasanya sulit sekali tanpa seorang pembantu.
"Tech, tolong buka atapnya..." Suruh Shinobu sampai Tech menekan sebuah tombol yang mampu membuka atap ruangan itu sampai sinar matahari mulai masuk ke dalam.
Shinobu memejamkan kedua matanya lalu menyerap sinar itu sedikit demi sedikit sampai ia mendapatkan hasil yang mengejutkan, kedua lengannya telah terisi penuh dengan Lenergy dan cahaya.
"Seratus persen Lenergy sudah terkumpul, putri kecil..."
"Mm! Semoga saja... tembakan ini berhasil..." Shinobu mencoba untuk melakukan serangan tembakan sihir cahaya melalui lengan kanannya dengan mengulurkannya ke depan.
"... ..." Shinobu menghela nafas pelan lalu ia melepaskan satu serangan sihir cahaya besar yang mampu menghancurkan tembok di hadapannya dengan gelombang emas kecil.
BAAMMMM!!!
Shinobu terpental ke belakang sampai kepalanya mengenai tembok secara tidak sengaja, tubuhnya tidak dapat menampung dorongan dari tembakan sihir tadi sampai ia merasa sakit di bagian kepalanya.
"Putri kecil...! Apakah Anda baik-baik saja!?" Tech mendekati Shinobu lalu membantu dirinya untuk duduk sampai ia bisa merasakan benjolan kecil di kepalanya.
Shinobu menunjukkan ekspresi sakit yang sedikit tetapi ia tidak menangis melainkan menunjukkan ekspresi kaget yang dipenuhi rasa lega.
"Tech...! L-Lihat tadi...! Aku...! Aku...! Berhasil...! Aku melepaskan sihir cahaya yang aku serap sampai seperti... menggunakan sihir...!" Kata Shinobu selagi tersenyum senang.
"Anda benar-benar berhasil... selamat..." Tech tersenyum, melihat Shinobu bangkit lalu menatap tembok lain lalu menembaknya lagi.
Kali ini kedua kakinya menginjak daratan cukup keras untuk menahan tubuhnya agar tidak terpental, Shinobu menembak sihir cahaya ke depan lalu ia menoleh ke belakang untuk menembaknya lagi.
Ia mengakhiri serangan dengan menembak ke depan menggunakan kedua lengannya sampai ia terdorong ke belakang dengan punggung yang mengenai tembok.
"Hah... Hah... Hah..." Shinobu merasa lelah karena ia sudah menggunakan semua tenaga dan Lenergy kecilnya itu untuk melakukan serangan tadi.
"Lelahnya... t-tapi...! Aku berhasil... Koneko berhasil...!" Shinobu tersenyum puas sampai ia duduk di atas lantai untuk melihat semua kehancuran itu.
"Mama marah tidak ya..."
***
Setelah melakukan tes yang berjalan memuaskannya, Shinobu tidak lupa untuk menulis beberapa pengalaman dan keberhasilan dari ciptaannya itu di dalam buku jurnal khusus teknologi dan ciptaan yang kelima.
Shinobu menulis selagi membaca buku yang belum pernah ia baca sebelumnya sehingga dirinya jatuh tertidur karena menghabiskan siang harinya dengan penuh kelelahan.
Kou kembali pada pukul dua siang, ia bisa melihat Shinobu sudah tidak ada di kabin itu, Kou mulai mencari Shinobu yang saat ini sedang tertidur di ruang perpustakaan.
"Koneko? Kamu di sini---" Kou masuk ke ruang perpustakaan lalu ia melihat Koneko tertidur di atas meja selagi memegang pensil.
Tech sedang menjaganya di sebelah selagi dalam mode istirahat, melihatnya saja membuat Kou merasa bahagia bahwa Shinobu terus bekerja keras demi menikmati hobi dan mimpinya untuk menjadi Legenda yang bisa bertarung untuk memberontak dan mengembara.
Kou pergi untuk mengambil sebuah selimut lalu ia kembali dan memasangkannya pada tubuh Shinobu agar ia bisa tidur lebih nyenyak.
Shinobu tersenyum sampai ia berbicara di dalam tidurnya, "Koneko..."
"...akan... berjuang..."
Kou tersenyum lalu mencium pipinya, "Hm~"
"Mama akan terus memperhatikan perjuangan itu..."
__ADS_1