Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 855 - Para Saint Turun Tangan


__ADS_3

"Jadi begitu ceritanya." Kata Hinoka yang sempat menceritakan seluruh kejadian pertarungan yang ia alami bersama kandidat api itu.


Kemampuan dan kekuatan yang menguntungkan bagi dirinya sudah ia ceritakan kepada mereka semua sampai Shinobu mencatatnya di dalam catatan kecil berisi informasi semua musuh yang pernah ia lawan.


Semua catatan itu sangat berguna untuk mereka yang mungkin bisa membacanya kembali, bagi dirinya ia sudah menghafal dan mengetahui semuanya sampai sisi kekurangan serta keuntungannya.


"Tiga Grimoire sudah hancur, kita masih memiliki empat yang berkeliaran entah itu dimana." Kata Konomi.


"Kita sudah bersatu kembali, aku harap merebut satu Grimoire sudah cukup karena hasrat untuk melawan dan menyiksa mereka sampai mati sudah besar." Ucap Koizumi selagi melakukan pemanasan kecil.


"Selanjutnya kalau tidak salah aku lempar ke dalam semesta Xuutouri, aku masih ingat dimana saja diriku melempar semua Grimoire itu." Kata Ako sampai ia bisa merasakan empat Grimoire yang ia lempar.


"Berkat Ako yang sudah menyentuh Grimoire itu maka indera perasa yang ia miliki akan sangat tajam soal Grimoire yang sudah dipegang atau lihat bahkan sampai dirasakan." Kata Anastasia.


"Kalau begitu, kita harus pergi secepat mungkin sebelum pada kandidat menghentikan kita semua." Shinobu mengeluarkan dua tangan robotnya yang menyelimuti kedua lengannya seperti zirah.


Dirinya langsung melesat secepat cahaya menuju alam semesta selanjutnya, Koizumi mencoba untuk mengejar Shinobu dengan tujuan untuk mengalahkan dirinya dalam segi kecepatan.


"Dengan jumlah kita saat ini, enam orang... aku yakin melawan satu kandidat saja sudah lebih dari cukup karena kita dapat merebut Grimoire itu." Ucap Konomi yang melesat menuju semesta Xuutouri.


Ako mulai mengikuti Kakaknya sedangkan Anastasia hanya bisa diam, ia mengeluarkan kristal abu dari dalam sakunya lalu melihat banyak sekali kekacauan yang diserap oleh kristal tersebut.


"Semakin banyak maka semakin sempurna proses itu... aku sangat menantikannya, mungkin menjadi teman bagi mereka adalah ide yang baik karena rasa kepercayaan sudah muncul."


Anastasia menjentikkan jarinya untuk memunculkan sapu terbang dimana ia duduk di atasnya, ia memasukkan kristal itu ke dalam belahannya sebagai simpanan aman karena ia akan melihat kekacauan lainnya seperti pertarungan antar kandidat dewa dan pemberontak.


***


Ketika mereka memasuki semesta Elf itu, Ako menunjuk sebuah planet yang cukup besar dengan banyak sekali kota modern di dalamnya, Grimoire itu berada pada kota itu sampai mereka perlu merebutnya dengan cepat.


Ketika Shinobu dan Koizumi masuk ke dalam planet itu, mereka bisa melihat hujan kecil sedang terjadi sampai menyebabkan daratan penuh dengan genangan air yang menenggelamkan semua kota itu.


"Kalian datang juga, para pemberontak." Terdengar suara seseorang dari depan mereka, Shinobu menatap ke depan lalu melihat seorang gadis dengan Kisetsu hitam berlambang tanah yang ia kenakan.


"Sial... para Saint ya." Kata Koizumi yang mulai mengepalkan kedua tinjunya, mungkin ia bisa mendapatkan kesempatan untuk menikmati pertarungan kematian ini dengan mereka.


"Jumlah mereka empat... Saint Earth, Ice, Fire, dan Thunder." Ucap Konomi yang mengamati musuhnya sendiri, mereka terlibat seperti tidak mengurusi Grimoire yang terbawa arus oleh banjir di bawah mereka.


"Kalian bawa Grimoire itu... aku akan menahan mereka." Shinobu memunculkan aura emasnya lalu ia menatap Saint Earth itu yang bernama Demetra selagi menunjukkan kuda-kuda bertarungnya.


Mereka semua melakukan hal yang sama yaitu melepaskan aura sihir mereka untuk meningkatkan Lenergy dan kekuatan murni yang terdapat di dalam diri mereka masing-masing.


Hinoka mempercepat pergerakannya menuju arah Saint Ice yang bernama Lumi karena ia terlihat cukup menarik untuk dihajar oleh sihir ledakan dan tentunya pukulan yang akan menghasilkan ledakan.


"Hinoka! Jangan rusuh seperti itu...!" Peringat Koizumi yang melihat dirinya maju duluan sampai ia melihat Andou menghalang dirinya dengan melepaskan pukulan listrik.


Koizumi berhasil menahannya menggunakan tangan kanannya, "Kalian ada musuh abadi bagi semua kepercayaan... pemberontak seperti kalian tidak akan bisa menyelesaikan masa dunia ini!"


Koizumi mengerutkan dahinya karena ia tidak memiliki waktu bertarung dengan seorang Saint kurus yang menerima kekuatan dari Dewa tanpa usaha apapun, ia menghantam wajahnya dengan satu pukulan.


Setelah itu melemparnya ke arah lain karena tujuan utamanya adalah melawan Demetra yang saat ini berhadapan dengan Shinobu satu lawan satu.


Andou melepaskan singa petir melalui kedua tapaknya tetapi Ako muncul tepat di belakang Koizumi dengan memunculkan pertahanan yang berhasil menahannya.


Aidan, seorang Saint Fire mencoba untuk melepaskan embusan api melalui mulutnya tetapi tubuhnya menerima satu tebasan dari Konomi sampai ia terkejut ketika bekas luka itu terbakar.


"Koizumi! Kamu urus saja Saint Ice itu bersama Hinoka!" Peringat Konomi yang melihat Hinoka kesulitan karena suhu dingin yang dilepaskan Lumi berhasil menahan ledakan itu.


Koizumi pergi untuk membantu Hinoka, Aidan dan Andou langsung menatap Konomi dan Ako yang mencoba untuk melawan pertarungan dua lawan dua yang mengaitkan kerja sama.


"Semoga kalian dapat menghibur diriku, aku dengan Tuan Pyro sangat marah besar karena kau menghancurkan Grimoire itu!" Aidan menunjuk Ako yang sedang mempersiapkan busur serta pedangnya untuk menyerang dari jarak berbeda.

__ADS_1


Aidan melesat maju menuju arah Ako lalu melancarkan pukulan api dimana semua api itu dapat ia manipulasi sampai membentuk tali yang mencoba untuk mencekik dirinya.


Untungnya Ako berhasil menangkap tali itu menggunakan pedang tersebut, ia memutarnya sampai tali itu menarik tubuh Aidan menuju tebasan pedang yang mendorong dirinya ke belakang.


Konomi melempar tombak yang ia pegang menuju arah Andou tetapi tubuhnya berubah menjadi petir hitam yang bergerak mengelilingi tubuh Konomi.


"Mereka memiliki God Lenergy... pengubahan bentuk menjadi sihir yang sangat alami, tidak salah lagi diciptakan oleh God Lenergy!" Peringat Konomi yang langsung menunduk untuk menghindari tendangan Andou.


"Hwaggghh...!" Shinobu tertarik dengan pembentukan batu dari atas tanah yang diciptakan oleh Demetra, tapak kirinya yang mengeluarkan seperti debu coklat yang mengelilinginya seperti aura, ia mencoba untuk menindih tubuhnya.


Shinobu merapatkan giginya lalu ia melepaskan pembakaran besar melalui kedua tapak kakinya yang sudah terselimuti dengan zirah teknologi, Demetra bisa melihat tubuhnya berhasil lepas dari genggaman tangan batu itu tetapi ia tetap membentuk tangan batu lainnya yang mencoba untuk menangkap dirinya seperti nyamuk.


"Nrggghhh...!!!" Shinobu menerima tekanan yang sangat besar ketika tangan itu mendapatkan dirinya sampai ia mulai menyelimuti tubuhnya dengan cahaya untuk menahan tekanan yang bisa menghancurkan tubuh kecilnya.


Aidan dan Andou yang mengepung kedua saudara disambut dengan dua naga yang tercipta dari api dan listrik, kedua makhluk itu bersatu sampai menciptakan individu besar yang menghasilkan banyak ledakan.


"Mereka menggabungkan naga itu... apakah kita harus melawan bawahan mereka terlebih dahulu atau langsung saja tuan mereka, Kakak?" Tanya Ako yang mengubah pedangnya menjadi busur.


"Jika kamu bisa menghindari naga itu maka tidak ada kesulitan yang harus ditanggung untuk menghajar kedua lelaki sialan itu." Konomi mengubah tombaknya menjadi Railgun yang ia bidik ke arah kedua Saint itu.


"Grrrggghhhh...!!!" Shinobu memasang tatapan mengancam kepada Demetra ketika tubuhnya terus menerima tindihan dari kedua tangan batu itu yang mencoba untuk memipih tubuhnya.


"Waktu yang pas, bukannya begitu, Shinobu Koneko?" Tanya Demetra yang langsung mengeluarkan tanah liat yang membentuk zirah tarung untuk dirinya.


Kepala zirah itu terbuka untuk dirinya karena ia menjamin bahwa Shinobu tidak bisa mengenai serangan apapun kepada dirinya yang ingin menikmati pertarungan tinju dengan Shinobu.


"Walaupun kalian sudah berhasil menghancurkan tiga Grimoire... aku yakin ini akan menjadi yang terakhir kalian melihat para Saint menghukum kalian semua!" Demetra melakukan sedikit pemanasan.


Shinobu melepaskan dorongan dengan tekanan Lenergy besar di sekitar tubuhnya sampai menghancurkan tanah berbentuk tangan itu, ia melayang ke atas langit dengan tatapan serius karena tidak sabar untuk menyiksa dirinya karena sudah memperlakukan dirinya seperti nyamuk yang tidak berdaya.


Demetra langsung muncul tepat di hadapan Shinobu dengan ratusan pukulan yang sudah ia lempar kepada Shinobu, untungnya ia dapat merasakannya dengan insting semua hewannya sampai ia berhasil menahannya.


"ROOOAAARRRRR!!!" Shinobu melepaskan raungan Beast yang sangat keras sampai Demetra terpental ke belakang dengan zirah yang mulai retak.


"Kekuatan murni yang besar itu... tidak salah lagi, Neko Legenda memiliki peningkatan dari wujud monster mereka." Demetra mengerutkan dahinya ketika melihat aura emas Shinobu bertambah semakin besar.


Tubuhnya melepaskan gelombang cahaya yang besar ke atas langit sampai matahari menerimanya lalu memberikannya kekuatan yang lebih besar sampai Demetra menerima dorongan yang harus ia tahan dengan kedua lengannya.


Demetra memasang tatapan tertarik ketika melihat dirinya meningkat cukup pesat karena wujud monster itu, hanya saja ia merasa janggal bahwa Shinobu masih berada di wujud Legenda tetapi memiliki kekuatan yang sama dengan wujud Beast.


"Apakah ini evolusi yang kau ciptakan dan temukan, Shinobu...? Menggunakan wujud monster dari Beast Neko Legenda dalam tubuh biasa itu." Demetra melihat Shinobu yang sedang mengangkat kepalanya ke atas.


Shinobu langsung menatap Demetra dengan kedua mata tertutup lalu membukanya sampai ia dikejutkan dengan kedua pupil merah darah serta bola mata yang menghitam.


"Aku benar selama ini... aku tidak menyangka melihat wujud Monster bisa digunakan dalam wujud biasa." Demetra menunjukkan kuda-kuda bertarungnya.


Shinobu dan Demetra melesat menuju arah satu sama lain lalu melangkah satu serangan menggunakan sikut mereka yang langsung beradu sampai menyebabkan dorongan di sekitarnya.


Setiap pukulan dan tendangan yang mereka lepaskan terus beradu sampai kedua gadis itu dapat melihat pergerakan satu sama lain, semuanya dapat di tahan sampai serangan terus beradu tanpa henti.


Kecepatan mereka juga bahkan setara, Demetra yaitu seorang Saint Earth memiliki kecepatan mengimbangi cahaya yang sama seperti Shinobu, semua itu disebabkan karena tubuhnya yang terasa ringan.


Semua itu karena Shinobu yang sengaja menyeimbangkan kecepatannya untuk melakukan sedikit percobaan terhadap Demetra yang sudah merasa percaya diri dengan kekuatan tanah itu untuk menghentikan kekuatan elemen berbeda dari bumi yaitu cahaya.


Shinobu melancarkan satu pukulan yang berhasil Demetra hindari, ia menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan tinju kanannya yang berbentuk sangat besar karena bantuan dari pembentukan tanah liat tepat di punggungnya sampai ia terpental ke depan lalu menabrak banyak sekali bangunan.


Shinobu melepaskan banyak sekali tembakan cahaya melalui Golden Repulsor menuju arah Demetra tetapi ia menghentikan semua sihir itu dengan melapisinya dengan tanah liat.


Semua sihir Shinobu telah menjadi tanah liat yang Demetra berikan kembali kepada dirinya dengan melepaskan ratusan pukulan di langit sampai mendorong semua sihir itu kembali kepada Shinobu.


Shinobu maju ke depan sampai tubuhnya menerima lindungan dari partikel dan aura emas yang membentuk emas, menghancurkan semua tanah liat itu sampai ia berhasil memukul Demetra yang berada diposisi pertahanan.

__ADS_1


Mereka langsung melancarkan serangan terus beradu sampai menyebabkan guncangan serta kehancuran di sekeliling kota itu.


"Apakah kau merasa puas...!?"


"Tidak cukup...!" Shinobu melancarkan satu tendangan yang berhasil Demetra tahan lalu ia menghantam wajahnya.


Shinobu menggigit bibirnya sampai berdarah lalu ia melancarkan satu pukulan tetapi Demetra menunduk sampai ia berhasil menyentuh wajahnya dengan tapak kiri yang membentuk tanah liat kecil sampai satu pukulan besar mengenai bukan hanya wajahnya saja tetapi seluruh tubuh kecilnya itu.


Shinobu langsung terpental ke belakang tetapi ia berhasil menyeimbangkan tubuhnya dengan mengeluarkan kembali auranya sampai bangunan di sebelahnya menumbuhkan daun besar yang berhasil ia genggam.


"Kamu masih menahan diri... apakah lucu begitu untuk menahan diri melawan Neko Legenda yang sedang berada di wujud amarah itu?" Tanya Shinobu dengan tatapan mengancam.


"Kau juga sama..."


“Kalau begitu... Koneko akan berjuang.” Shinobu menunjukkan kuda-kuda bertarungnya.


Shinobu tersenyum serius lalu melihat Demetra mengangkat kedua lengannya sampai mengubah langit-langit menjadi coklat lalu mengeluarkan banyak meteor dengan ukuran berbeda.


Satu meteor kecil ia lempar kepada Shinobu yang berhasil menghancurkannya dengan hanya satu tatapan tajam yang melepaskan cahaya tajam melebihi pedang.


Tubuh Shinobu melepaskan banyak sekali daun emas yang mulai ia injak dan melompati semua itu untuk menghindari lemparan meteornya itu.


Shinobu menendang semua daun emas itu menggunakan kedua kakinya sampai setiap daun berputar menuju arah meteor yang melewati tubuhnya lalu menghancurkannya tanpa sisa.


Shinobu melepaskan pembakaran besar melalui kedua tapak dan kakinya untuk terbang mundur meninggalkan semua meteor yang bergerak menuju arah dirinya dengan kecepatan yang mencoba untuk mengimbangi.


Shinobu melakukan backflip di atas langit dengan tambahan salto yang mengenai daun emasnya sampai semua serangan daun itu berhasil menghancurkan meteor-meteor itu.


Shinobu melihat meteor kecil yang melesat ke arah dirinya tetapi tubuhnya mulai ia ubah menjadi cahaya sampai meteor itu menembus tubuh cahaya yang sementara.


Shinobu melihat Demetra melempar meteor yang paling besar ke arah, itu adalah sebuah kesempatan yang Shinobu selama ini tunggu karena ia langsung menghampiri meteor itu lalu menangkapnya.


Kedua tapaknya yang bercahaya ketika menyentuh meteor tersebut, ia berhasil mengubahnya menjadi matahari dimana meteor itu langsung menghasilkan cahaya cerah yang membutakan penglihatan Demetra.


Shinobu melempar matahari itu menuju arah Demetra sampai menabrak tubuhnya lalu membakar zirah itu, ketika ia membuka kedua matanya Shinobu sudah berada di depan dengan satu pukulan yang mengenai perutnya.


Pukulan itu sudah cukup untuk melemahkan Demetra karena punggungnya mengeluarkan cahaya laser setiap pukulan Shinobu mengenai tubuhnya itu.


Shinobu menghantam wajah Demetra dengan tinju kanan lalu menghantam lehernya menggunakan tinju kiri sampai cahaya laser terlepas keluar dari belakangnya, memberikan efek luka yang fatal.


Shinobu menghantam pinggang Demetra lalu melanjutkan tendangan itu dengan mengarahkannya kepada perut sampai ia menyatukan kedua tapaknya lalu menghantam puncak kepalanya sampai ia terpental menuju daratan.


Semua luka itu menghentikan pergerakannya sampai ia melihat banyak sekali tumbuhan kecil yang menghasilkan daun emas tumbuh dari tubuhnya sendiri.


Shinobu muncul di bawah Demetra dengan kecepatan cahaya itu lalu ia menendang punggungnya dengan satu tendangan yang melempar dirinya ke atas langit sampai melewati langit yang berbeda.


Shinobu dengan kecepatan cahayanya terbang melewati Demetra dengan pipi yang ia kembung kan sampai mulutnya terbuka dan mencipta bola emas kecil yang mengandung banyak Lenergy kemurnian cahaya dan alam.


"Shining...!!!" Bola emas di dalam mulutnya memancarkan cahaya yang melebihi kecerahan matahari.


"Justice!!!" Shinobu melepaskan gelombang emas besar dan tebal melalui mulutnya menuju arah Demetra sampai mengenai tubuhnya lalu membawanya menuju daratan.


Shinobu baru saja menggunakan kemampuan yang selalu Minami gunakan, gelombang itu mengenai daratan sampai menjalar luas ke depan menciptakan ledakan emas yang berhasil memulihkan kembali kehancuran kota.


Setiap serangan Shinobu dapat berakhir dengan kehancuran dan perbaikan semau dirinya karena kekuatan cahaya emasnya yaitu Golden Sunshine, mampu untuk memulihkan dan menghancurkan dalam segi apapun.


"Fuhhh..." Shinobu menghela nafasnya pelan sampai wujud Beast menghilang dari tubuhnya, wajahnya kembali terlihat polos.


"Koneko..." Shinobu mengangkat lengan kanannya ke atas.


"...sudah berjuang!"

__ADS_1


__ADS_2